Sunday, January 27, 2013

one fine day

Konon, seorang penulis yang saya lupa namanya pernah menulis bahwa revolusioner sejati adalah orang-orang pasar. Ya, orang-orang itu, aktor kacangan yang turut menggerakan panggung roda perekonomian manusia. Meski kacangan, kualitas aktingnya tak pernah meragukan. Mereka adalah roda gigi yang hampir saja berkarat dalam sebuah mesin raksasa. Di pasar, ada manusia yang berlagak gila hingga nenek tua yang bijaksana. Mulai dari kue yang dijual limu ribu dapat lima, sampai kaos kaki sepuluh ribu tiga. Ada yang menghampiri, ada yang pergi, ada yang kembali, ada yang datang, ada yang hilang di lorong-lorong kota yang sudah tak jelas milik siapa.

Saat hampir setengah manusia lainnya tertidur pulas atau meringkuk penuh takut dalam selimut kala langit memekat, mereka sudah bersiap jauh sebelum pukul empat. Dengan gagah berani selalu mencoba mendahului matahari, bersenjatakan sembilu sembari berlindung di balik kayu trembesi. Kalau kepingin sekali merubah nasibmu, cobalah belajar pada orang-orang pasar. Yang perutnya selalu gelisah tak berkesudah, yang selalu ramah pada mereka yang datang, para pemilik tawa paling lepas dalam alunan musik dangdut koplo yang diaransemen ulang. Mereka adalah orang-orang yang telah berkali jatuh, lalu bangkit lagi, terlatih untuk menatap ke depan dan berteriak lantang, "lalu apa sekarang?"

Untuk mereka yang terlalu sering menyerapah. Saya, misalnya. 

...