Monday, August 12, 2013

Friday, July 12, 2013

bad thought(s)

-- And when that person has ugly thoughts every day, every week, every year, the face gets uglier and uglier until it gets so ugly you can hardly bear to look at it. - Roald Dahl

How many bad thoughts do you have to string together to end up having a bad day? Aku sering. Rasanya aku memang punya masalah dengan pikiran buruk. Ralat. Bukan masalah, malah. Yang benar, aku berteman akrab dengannya. Berarti bisa dibilang, aku tidak pernah punya masalah dengannya. Pikiran buruk adalah pelindungku. Seorang teman yang selalu jujur, menamparku keras, menendangku kencang, sampai aku megap-megap sesak napas. Tapi aku suka -- setidaknya dia tidak pernah berbohong. Eh, tapi sebenarnya seringnya malah dia berbohong sih, karena yang terjadi pada kenyataannya seringnya sih tidak seburuk yang dia gambarkan. Tapi aku tetap suka, setidaknya dia tidak pernah menawarkan racun berlumur gula.

Suatu ketika aku sedang berpetualang dengan seorang teman. Di atas sebuah air terjun yang cukup tinggi dia menantangku untuk terjun bebas. "Berani?" katanya dengan mata mengilat. Kubilang, "Sudah gila ya? Apa kau tahu di bawah sana ada apa saja? Berapa kedalaman airnya? Semua tertutup air. Bagaimana ketika kau terjun, batu keras sudah menunggumu? Hancurlah kepalamu. Bisa jadi di bawah sana ada buaya yang sedang tertidur, lalu ketika kau jatuh bebas, terbangunlah ia. Dan segara ini akan segera berubah jadi merah. Oleh darahmu. Tahu kau?" Seperti biasa dia akan menatapku dengan tatapan aneh. Pada akhirnya temanku terjun bebas. Dan dia baik-baik saja. Tidak ada batu keras, tidak ada buaya.    

Atau -- ketika aku diputuskan oleh pacarku. Saat itu yang langsung terpikirkan olehku adalah sebuah skenario tentang hidup seorang diri sampai umur 63. Kenapa 63? Entahlah, aku tidak suka angka 70. Lalu kepalaku langsung menampilkan berbagai macam varian anjing atau kucing yang lucu. Mungkin aku akan membeli husky, atau retriever. Lalu hidup bahagia bersamanya sampai aku tua, sakit-sakitan dan menyebalkan. Ya, begitu saja.

Rasanya aku lebih nyaman berpikir tentang hal-hal terburuk yang akan menimpaku. Karena kupikir harapan itu mematikan. Aku sudah kapok. Setiap aku membayangkan yang indah-indah, kupikir Tuhan akan menertawakanku. "Haha maunyee.." mungkin begitu komentarnya. Tapi malam ini kupikir-pikir lagi sebelum aku pergi tidur. Kau tahu? Situasi dimana kau terlalu sering dituduh yang bukan-bukan, sampai akhirnya kau mencapai klimaks kekesalan dan akhirnya dengan sengaja malah melakukan yang dituduhkan?

Nah, aku sedang takut Tuhan mulai mencapai klimaksnya.  
 

...

Saturday, June 15, 2013

hey june

Haloo pembaca (macam banyak yang baca), it's been quite a while since i wrote my last post. Lots of thing happened in a month, i got a new job, i am now wearing an earring haha, still couldn't find a proper boyfriend haha lagi deh, breaking up with apple and bought myself an android smart phone, which i kinda regret it, ya udah lah ya. Daan.. bisa berlibur satu minggu di Bandung. Sebenarnya sayang sih, ada waktu satu minggu sebelum mulai kerja di tempat baru tapi cuma diem di Bandung. Rencana hanya jadi wacana, rupanya. Mulai dari daki Slamet, Semeru, sampai berniat ke Pulau Kangean, akhirnya mentok juga. Hiks. Well, next time perhaps..

The new job. 
After dealing with filthy politicians :-P i am now working at some non profit organization whose areas of focus include education, poverty reduction, healthcare and disaster relief in Sumatera area. My boss is one super smart woman, i can tell from the beginning. I hope i could learn a lot from her. My super boss is a Singaporean, i got to prep my ear as they often talk in a singlish accent. Actually i still can't believe they hired me. I have no experience working at NGO. But i do hope i could learn fast and maximize my potential and ability. Its been a week since i work there, i haven't had the chance to visit the remote area we currently working on, but soon ill pay a visit.

A week in Bandung. 
I gained 3 kilos. Hahaha. Found two new favorite culinary spots in Bandung. A week in Bandung is such a foodgasm experience. The first one called Harukaze, located in Jl. Cimanuk 12 A, it's a Japanese restaurant. They served super delicio ramen and tasty low calorie cream cheese cake, but not so much on the sushi though. They said they have the best curry in town, but curry is not my cup of tea. Oh, green tea frappe nya juga enak sekali. Restoran kedua termasuk salah satu yang sedang ngeheeittss di Bandung. Namanya Sugarush. Menu andalan mereka sebenarnya cake, macaroons, it's all about sugar. Karena aku tidak terlalu suka yang manis-manis -kecuali kamu Ryan Gosling- maka aku skip kue-kuenya and.... pick wagyu tenderloin instead. Tebak? Harganya cuma IDR 75.000! Haha. Senangnya. Rasanya mirip lah sama Holycow, tapi mashed potatonya enakkk sekali. Sayurnya juga lebih bervariasi daripada steak holycow. 

Life, recently. 
Is weird. Kalau di kantor dulu aku bisa masuk jam 10 -asal kerjaan kelar- and spent my work hour with youtube and movie streaming :-P   di yang sekarang... hmm.. they have like an extremely slow internet connection. But that won't be a problem after all, karena di kantor baru ternyata pekerjaannya banyak sekali hahaha. Masuk harus tepat jam delapan pagi teng juga ternyata cukup jadi masalah. I am totally not a morning person since i moved to Jakarta. Bangun pagi sih masih bisa dengan bantuan alarm dan weker yang super kencang, tapi kenyataannya adalah, my brain is not working very well in the morning. Hahaha. Well, i am still working on that now. Wish me luck. 

And seriously. I wanna go to the beach..
Thats it.

 



Tuesday, April 30, 2013

how was your weekend? pt three



Sebagai bujing (tante dalam bahasa batak) yang baik, harus sering-sering mengajak keponakan jalan-jalan supaya jika kelak mereka besar, gampang disuruh-suruh. (Petuah) 

...


Monday, April 22, 2013

funny that way

"Normal is getting dressed in clothes that you buy for work and driving through traffic in a car that you are still paying for -- in order to get the job you need to pay for the clothes and the car. And the house you leave vacant all day so you can afford to live in it," Ellen Goodman, Journalist  




...

Sunday, April 21, 2013

oh this is so stupid

I think i just had the worst interview ever. Like seriously. I don't know what went wrong. The guy that interviewed me was the senior lecturer from University of Indonesia. I googled him a night  before the interview and i am feeling kinda nervous. He was actually very nice and kind. But i got this stupid butterfly that wanna go berserk in my stomach, not in a good way of course. I remember the last time i had this stupid butterfly was two years ago when i am about to facing my thesis examiner. It feels like shit. I feel like shit. 

So there he was, sitting politely in front of me, throwing a lot of question and i don't know why i can't think of anything and answer those damn easy questions. I suddenly ran out of vocabulary. I don't even know how to say "Perusahaan ini berdiri sejak.." in english. What? What the fuck is wrong with me? Well, i do realize it's been a while since i write in English, or even have a proper and polite long conversation in English. Man, i feel stupid. It was a very good opportunity, a very interesting challenging job, and i know that i could learn a lot of things in that company. Now. I blew it off. 

Great job, Galuh. Great job.

...

naik commuter line

Hari ini untuk pertama kalinya naik alat transportasi yang sering digunjingkan di twitter. Hihi. Yups, namanya commuter line. Rencananya saya akan mengunjungi teman saya Sofia di Serpong yang baru melahirkan. Naik dari stasiun Tanah Abang yang ternyata 'bronx' sekali. Kayanya saya ga perlu jauh-jauh ke Arab, cukup disuruh tawaf di Tanah Abang, rasanya beneran kepingin tobat. Sabtu siang, ternyata Tanah Abang macet total. Sempat nyasar karena sama sekali tidak ada petunjuk ke arah stasiun dan akhirnya nanya sama abang-abang yang jadi pak ogah di pertigaan. Pas ditanya, dia malah diam saja, memandangi muka saya dengan seksama lalu meracau. Setelah beberapa saat, saya baru sadar kalau doi giting. Alamak. Siang-siang udah teler.. Bedebah.

Akhirnya berhasil sampai ke stasiun. Sibuk cari jadwal comline yang berangkat ke arah Serpong, tertulis pukul 16.15 alamak bagian kedua. Buset, lama amat nunggunya. Eh ternyata pas nanya ke penjual tiket, ada yang berangkat saat itu juga. Aduh kacau deh. Ga kebayang kalau turis asing yang mau naik commuter line, pasti bingung setengah mati. Informasinya tidak jelas, banyak preman, kotor pula. Tiketnya tidak terlalu mahal, untuk jurusan Serpong dibanderol Rp. 8.000,- pakai AC pula. Adem. Akhirnya berangkatlah saya menuju Serpong. Berdiri dekat pintu karena tidak kebagian tempat duduk. Sampai dua stasiun berikutnya banyak penumpang turun dan saya dapat duduk.

Di setengah perjalanan, menelpon teman saya Sofia supaya dia bersiap jemput saya di stasiun Serpong. Tapi dia malah menyuruh saya turun di stasiun Rawa Buntu karena ternyata lebih dekat dari rumahnya. Eh tapi.. ternyata saya malah turun di staisun Serpong. Mengomelah dia karena ternyata ke stasiun Serpong itu jauh sekali.. dan macet. Tapi akhirnya mau juga dia jemput saya. Hihi. Anaknya lucu sekali, namanya Malika. Makan gudeg, lalu makan pizza, lalu bergosip sampai sakit perut, akhirnya selepas magrib saya diantar lagi ke stasiun Rawa Buntu. Tidak menunggu lama, cuma 15 menit, comline datang dan saya kembali ke tanah menyeramkan. Tanah Abang. Hahaa. Seru juga naik comline. 

Dari Tanah Abang ke Serpong cuma memakan waktu kira-kira 30 menit. Daripada macet-macet naik mobil ternyata lebih enak naik comline. Asal jangan weekday sih, karena ternyata kalau weekday penuhnya minta ampun. Terima kasih PT. KAI untuk comlinenya yang nyaman dan meski ga secepat naik MRT, lumayan lah, kurang diteken aja itu pedal gasnya sama Pak Masinis. :) 


Thursday, April 18, 2013

pseudo

Malam itu aku melebur di macetnya Jakarta. Bertemu seorang teman yang baru saja pulang dari perjalanan singkatnya ke Eropa. Aku tidak minta oleh-oleh. Tapi aku suka foto. Yang bercerita, terutama. Diperlihatkannya padaku beberapa foto dalam perangkat digital canggih miliknya. Mulai dari Menara Eiffel, Arc de Triomphe, Notre Dame, Muzium Louvre, hingga lanskap Sungai Seine di malam hari lengkap dengan deretan lampu yang gemerlap. Memukau. Megah. Mewah. Paris, kota yang acap menjadi simbol kemewahan. 

Aku menatap dengan bosan. 

Gemerlap kemewahan tak pernah jadi hal yang menarik buatku. Artifisial. Seperti Jakarta dalam kartu pos yang dijual dua ribu rupiah. Megah. Gedung-gedung tinggi yang tertata indah, tapi tak pernah cukup indah buatku. Tak pernah. Atau seperti sosialita yang mengenakan sepasang Louboutin dengan lipstik berwarna semangka. Kulihat kepalanya resah, meski senyumnya mengembang ke segala arah. Menurutku itu lucu. Jakarta malam hari selalu terlihat lebih meriah. Deretan lampunya yang memukau, sementara sudut-sudut kumuhnya menghilang dengan sendirinya dalam gelap, memasrah. Ketika semua lampu menyala, aku tahu ada banyak rahasia yang harus dijaga. 

Gempita ini seperti fantasi. Indah sesaat, lalu perlahan memudar dalam tungkai yang gontai, punggung yang pegal, mata yang setengah melayang, tangan yang tak tergenggam, kesepian. Yang terlalu menyala tak pernah selamanya. Euforia. Seperti larik sebuah percakapan dan tawa jenaka. Kembang api yang membuncah di angkasa lalu larut seketika ditelan gulita. Huru-hara gembira dalam renyahnya dosa. Melukis pelangi dengan saturasi menyala diiringi pekik genit penyanyi berpayudara raksasa. Bahagia?

Ah, tidak juga. 

...

Monday, April 8, 2013

epoche

"Gott ist tot!," pekik Nietzsche, lantang. Aku tak terlalu setuju dengannya, jadi aku diam saja. Meski aku mengamini Marx yang menasbihkan manusia adalah makhluk yang harus bekerja -- bukan meminta-- aku pikir, Tuhan masih memegang kendali yang cukup besar di semesta ini. Entah Tuhan yang mana pula yang dia maksud. Karena sampai saat ini saja kurasa sudah banyak sekali Tuhan yang disembah manusia. Aku punya satu. Hanya satu. Itupun aku masih kerepotan untuk berkomunikasi dengannya. Mungkin dia sibuk. Atau aku yang sibuk. Entahlah.

Aku sedang senang marah-marah.


Deepak Chopra pernah bilang, setan menyukai amarah sama seperti manusia menyukai musik. Dalam hal ini, berarti bisa dibilang aku sedang menjadi groupis bodoh sebuah band yang tak bagus-bagus amat. Setiap hari aku ikuti kemana musik itu pergi. Overrated anxiety yang aku bawa sampai bertahun-tahun lamanya. Melelahkan, sungguh. Tapi marah adalah cara paling mudah -- daripada bersedih. Ada orang tolol yang bilang marahlah agar kau tak diinjak dan dibilang lemah. Maka aku marah. Merampang, meradang, gusar, semakin kasar semakin baik. Kupikir aku sudah cukup kuat, hebat. Marahku menggila, aku perkasa. Nyatanya aku salah kaprah. Semakin marah, aku semakin lemah. Ternyata. 


Sedih ya sedih saja. Tak perlu marah. 

...

Tuesday, April 2, 2013

a little propane, a little firewood

 To mountain Arjuno we go. (10.955 ft)

“You never know what's around the corner. It could be everything. Or it could be nothing. You keep putting one foot in front of the other, and then one day you look back and you've climbed a mountain.” - Hiddleston

...  




Thought of being utterly useless within the forest, facing the never ending rugged track, a monstrous darkness and frostily weather state completely scares the hell out of me, but as the wind's whistles have stopped being blown, surprisingly I become useful, at last.. to myself. It is not the mountain i conquer. But hell yes, It's me. It's me.

While listening to: 


Iron and Wine - Sunset Soon Forgotten 

Iron an Wine - Naked as We Came
One Republic - Good Life 
Edward Sharpe & The Magnetic Zeros - Om Nashi Me 
Benjamin Francis Leftwich - Box of Stones 
Red Hot Chili Peppers - Scar Tissue 
Radical Face - Wandering 
We Are Trees - Sunrise Sunset 
Greg Laswell - Comes and Goes 
Ingrid Michaelson - Keep Breathing
Lucia - Silence
Sepultura - Ratamahatta 
Snow Patrol - You Could be Happy
Nina Simone - I Put a Spell on You 

...

Photos taken by Maulana Marjuki, Bayu Adhi, Ivo Nofian, Zudha & Me
 

Thursday, March 21, 2013

speaking in silence

Seorang teman pernah berkisah, katanya, bila kita benar-benar menginginkan sesuatu, lebih baik lupakan saja. Expectation hurts. Always. Jadi, jangan terlalu berharap. Meski kita sangat sangat sangat menginginkannya. Triple sangat, bisa dibayangkan 'sangat' macam apa yang aku maksud? Berbanding terbalik dengan teori konspirasi semesta Sir Coelho, ketika kita melepaskan sesuatu yang sangat kita inginkan, sesuatu itu justru akan datang menghampirimu dengan sukarela. No Sir Coelho, the universe doesn't give a damn about what i want. About what we want. 

Entahlah. Tapi kupikir ada benarnya juga. Sepanjang hidupku, ketika aku sangat berharap seringnya malah kecewa. Maybe the universe hates me or maybe.. its even allergic to me. Rasanya lebih tepat mengaplikasikan teori yang levelnya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang suci. Namanya teori ikhlas. Cuma enam huruf, tapi melakukannya lebih sulit dari mengeja Floccinaucinihilipilification. Sulitnya bukan main. Seringnya sih begitu. Intinya, harus berani melepaskan untuk mendapatkan. But then again, what's the point if i don't want it anymore? 

"God, hello, still there?"

"Beep beep beep"


You see, even God hung up on me.


...