Wednesday, November 13, 2013

suatu waktu di prau


Apa tujuanmu naik gunung? Ke puncak?
Ya,
Lalu? Supaya bisa posting foto di path, instagram, facebook? Begitu?
Bukan, jawabku, sedikit kasar. Aku suka melihat matahari terbit -- atau terbenam. Di pantai, mungkin kamu bisa dengan mudahnya melihat matahari terbenam ataupun terbit, cukup berbekal bangun pagi buta, ataupun duduk santai sembari minum soda menunggu senja tiba. Tapi di gunung? Beda persoalan. Kamu harus mendaki dulu sekian jam, bersusah-susah, dan lalu – terpukau kemudian. Itu indah. Sudah cukup. Itu saja. Indah.
***
Aku paling suka memandang matahari terbit dari ketinggian, maaf lagi-lagi aku ulang. Jonsi menyebutnya Glosoli (Glowing Sun), kalau Tuhan aku menyebutnya Dhuha (The Glorious Morning Light). Setiap naik gunung, sebenarnya aku tidak melulu hanya mengejar puncak, tapi menurutku, matahari terbit ya paling indah dilihat dari puncak. Maka itulah, kalau memang waktunya aku rasa memungkinkan, aku selalu ngotot mendaki sampai ke Puncak. Karena itu pula aku sedikit kesal ketika tiga hari lalu aku pergi ke Wonosobo untuk mendaki Gunung Prau.
Hari itu, Jumat di awal November, aku terpaksa izin pulang lebih cepat dari kantorku demi mengejar bis ke Wonosobo dari terminal Rawamangun. Seperti biasa aku belum kenal siapapun yang akan menjadi teman pendakianku, cukuplah bertemu di terminal, berkenalan, lalu bercakap-cakap agar kami tidak lagi berjarak dan bisa mendaki bersama dengan nyaman. Dijadwalkan bis Malino Putra jurusan Wonosobo akan bertolak dari Rawamangun pukul 6, namun sampai jam 8 malam, aku dan teman-teman baruku masih juga terdampar di terminal Rawamangun dengan baunya yang khas; percampuran antara kuah bakso malang, asap bakaran sate padang, dan aroma pesing manusia-manusia yang terlalu malas untuk menyiram hajatnya sendiri.
Hampir pukul 21.00 akhirnya aku jatuh tertidur di bangku panjang terminal. Badanku kebetulan sedang demam, sepertinya gejala flu, sungguh sial. Maka itu sedari sore aku sudah menenggak dua butir vitamin dan obat penurun panas, otomatis aku langsung diserang rasa kantuk yang tidak tertahan. Pukul 22.00 suara riuh dan mesin knalpot bus yang khas membangunkanku. Bus kami datang juga akhirnya. Hari jumat plus bonus hujan deras sedari siang membuat Jakarta macet bukan kepalang, bus kami ternyata terjebak dan akhirnya terlambat.
Pada mulanya direncanakan kami akan mulai mendaki pukul 2 siang dari Dieng. Namun karena bus kami terlambat datang lalu juga ada beberapa temanku yang memakai jasa porter dan harus packing ulang, waktu pendakian terpaksa molor hingga pukul 3. Gunung Prau terkenal dengan keindahan sunset dan sunrisenya. Aku belum pernah menemukan sunset indah di Gunung, karena itu aku terlalu bersemangat mendaki gunung ini, meski sebenarnya aku sedang sakit, sengaja kupaksakan demi melihat sunsetnya yang (konon) fenomenal. Gunung Prau tidak terlalu tinggi, durasi normal pendakian hanya berkisar 3-4 jam sampai ke Puncak.
"Sunset di Prau muncul pukul 17.30", kata guide yang mengantar kami. Selesai berdoa bersama, langsung kukebut langkahku mendahului teman-teman yang lain demi mengejar matahari tenggelam. Aku tidak mau ketinggalan sunset.  Seorang teman pernah bilang aku egois karena sering berjalan terlalu cepat, apa  mungkin memang benar aku egois? Entahlah. Yang jelas aku luar biasa kecewa ketika sesampainya di atas, aku hanya menemukan kabut. Ya, kabut. Sunset yang menawan memang sempat muncul ke permukaan selama kurang-lebih dua puluh detik. Ya, dua puluh detik saja. Sampai akhirnya blasss.. kabut semakin menebal, jarak pandangku mungkin hanya berkisar kurang dari satu meter saja. Bersama rombongan tim porter aku duduk termenung di puncak gunung Prau.
Beberapa temanku terpisah jauh di belakang, kabut semakin tebal, sudah dipastikan mereka akan kesulitan berjalan lebih cepat. Cuaca semakin memburuk. Angin pun semakin kencang. Menurut para porter, cuaca saat ini sebenernya tidak terlalu dingin dibandingkan musim kemarau, tapi aku sudah mengigil kedinginan karena demam yang belum juga hilang.
Sambil menunggu teman-temanku, aku duduk meluruskan kaki sembari menyalakan sebatang rokok. Aku ingin push up atau joget caesar sekalian, badanku kedinginan. Sedih rasanya tidak bisa menyaksikan sunset, tapi tak apalah, masih ada sunrise, aku mulai menghibur diri. Mentalku harus aku panaskan lagi, kalau tidak aku bisa mati payah dikalahkan demam menyebalkan ini. Sekitar pukul 22.00 malam aku baru masuk ke dalam tenda dan akhirnya tertidur. Badai pun datang menerjang puncak Prau. Tendaku terus bergoyang-goyang padahal tidak ada pasangan pengantin baru disini. Aku menggigil di dalam sleeping bagku. Meringkuk di sudut berharap pagi segera tiba dan badai mereda.
Pukul 04.00 subuh aku terbangun dengan kepala berat. Hidungku terasa mampat, kubuka resleting tendaku dan byarrr.. kabut tebal masih belum juga hilang. Belum hilang harapan, aku bergegas mengenakan headlamp dan mencari senter tambahan. Bbbrrrrr.. dinginnya Prau. Kupaksakan keluar dari tenda, seorang teman juga ternyata sudah bangun. Aku duduk sebentar didekat kompor, mencari kehangatan meski hanya mampir di telapak tangan sembari berpikir, “Kira-kira apa doa yang pas untuk menghalau kabut?” Sialnya aku nggak tahu. Mau googling dulu, tapi jangankan berinternet ria, menelpon saja sulit.
Pukul 04.30 aku dan seorang teman berjalan menyusuri puncak Prau, berharap sunrise mau muncul meski sebentar saja. Mulai banyak pendaki-pendaki lain yang keluar dari tendanya dan bersama-sama menunggu sunrise. Namun sayangnya hanya sekitar dua menit saja langit mau bermurah hati memperlihatkan warna jingganya dan kemudian dilunturkan oleh kabut yang datang tanpa ampun. Hatiku mencelos. Sial, sungguh sial. Kupikir ini pendakian tersialku, ini adalah pendakian yang paling tidak sukses. Padahal kalau menurut orang waras, pendakian sukses itu adalah ketika kita pergi mendaki dan sampai di rumah kembali dengan selamat. Tapi orang yang sedang kesal, tentu tak pernah bisa diharapkan jadi waras.
Langit masih saja pekat. Aku kesal, ingin sekali teriak. Langkahku semakin lunglai, sembari menyusuri puncak untuk kembali ke tenda, ,telingaku sedikit terusik oleh suara tawa dan celoteh pendaki lain, aku menoleh kearah mereka. Sebagian tertawa, sebagian tersenyum, sebagian ada juga yang melamun, tapi tak ada yang cemberut, kecuali – aku. Ya, kecuali – aku. There’s gotta be something, why people would climb the mountain, why people would hike for an hours? There must be something, other than the beauty scenery of glowing sunrise or sunset, right? Right? 
Aku mendadak teringat percakapan tentang jenis-jenis manusia yang gemar naik gunung dengan senior di kantorku. Dengan gamblang dia langsung melabeli aku sebagai “pendaki gunung” bukan “pecinta alam”. Kenapa? Karena aku adalah tipikal mereka yang senang beradu kuat hingga ke puncak. Pejalan cepat yang ambisius, bukan mereka yang berjalan pelan dan bersenang-senang. Itu kata dia. Kalo kata aku, apa gunanya berjalan tanpa tujuan? Cuma untuk bersenang-senang? Aku perlu tujuan. Aku butuh puncak, atau minimal aku harus mendapatkan sesuatu yang bisa kulihat atas  hasil jerih payahku sendiri.
Puncak Prau, pukul tujuh pagi. Teman-temanku berhamburan entah kemana, sebagian sibuk berfoto-foto ria, sebagian lagi sibuk membuat mie, aku sendiri sudah tidak bernafsu memegang kameraku. Aku bahkan sudah tidak bernafsu untuk mengobrol atau sedikit berbasa-basi.  Aku berjalan sendiri menjauh sedikit dari keramaian. Ketika sedang kesal begini, aku cuma kepingin sendiri. Ditemani sebatang rokok dan segelas teh tarik panas aku merebahkan diriku di rerumputan savana gunung Prau. Carrier di belakangku beralih fungsi menjadi bantal penyokong punggungku.
Demamku mereda, tapi kepalaku masih saja terasa panas. Aku sedang banyak pekerjaan di Jakarta, kalau tahu begini, aku menyesal pergi. Kuraih MP3 player di saku jaketku, Jonsi bersenandung. Hoppipola. “Smiling.. spinning in circles.. holding hands, the world is a blur..” Langit begitu sendu. Kuamati dengan mata lelah yang menyipit. Seekor serangga mendarat di ujung sepatuku. Di kejauhan, tenda berwarna-warni terlihat begitu kecil, puncak Prau membentang seperti permadani yang dijahit dari helai-helai yang begitu rapi. Pohon-pohon cemara berbaris di sisi perbatasan bukit-bukit savanna, dua elang jawa menukik lalu mengabur di angkasa. Bunga-bunga kecil entah jenis apa mengisi celah yang kosong dengan warnanya yang jenaka meski matahari menghilang entah kemana. 
Aku tercekat. Kedua mataku merekam sebuah lansekap raksasa yang tertata dalam keteraturan yang begitu absurd di luar nalar manusia. Semua elemen yang hidup di depanku ini kenapa bisa terlihat begitu liar sekaligus santun ketika bersinggungan? Seperti saling mengisi meski dalam ritmenya sendiri. Semua terlihat begitu tertib, begitu saling menghormati, seperti saling bersinergi meski tak ada matahari. Dan dalam lima detik saja aku merasa betapa hidupku sungguh berantakan. Aku tersentak. Apakah mungkin ini yang dicari mereka yang dilabeli pecinta alam oleh seniorku?

Aku merasa sepenuhnya sebagai manusia kota. Kau tahu? Mereka yang selalu silau oleh kilau, yang nadinya tak berintonasi karena terlalu sesak dengan ambisi. Begitu terburunya aku berlari mengejar matahari, aku lupa bahwa ada begitu banyak hal untuk dinikmati. Angin kencang meniup bandana biruku, gelasku jatuh terhuyung, setengah teh tarikku tumpah ke tanah, seperti ingin menamparku, mengingatkanku untuk bersyukur untuk semua yang masih aku punya, untuk hal-hal yang tak akan selamanya ada. Ketenangan, kesendirian, kesederhanaan, dan sebagai bonusnya, kalau kamu beruntung -- sebuah perasaan yang tidak pernah bisa diterjemahkan dalam kata, pemandangan yang tidak akan pernah kamu lihat di brosur wisata, atau di post instagram double filter dari iPhone lima. 
  
Dan marahku menguap sudah.
***

Wednesday, October 16, 2013

setelah amuk reda



Ibuku protes. "Sering-sering amat ke gunung," katanya. Dia masih tidak terima dengan alasan saya, "Supaya waras, Ma" menurutnya justru orang yang ke gunung itu adalah orang-orang waras yang menjadi tidak waras. Yang banyak orang tidak pahami, mungkin, ke gunung untuk saya adalah untuk membuat segala sesuatunya menjadi sederhana. Kepala saya ini, kadang isinya terlalu banyak kutu busuk.

Bau asap knalpot Damri yang khas serta bau keringat calo kepanasan bercampur garam filter menyambutku malam itu di terminal dua bandara Soekarno Hatta. Ada dua kota yang akan kusambangi minggu ini. Pertama, Medan, untuk urusan pekerjaan, lalu secepatnya kembali ke Jakarta dan berputar haluan ke Yogyakarta. Aku sudah punya janji dengan Merapi minggu ini. 

Kulihat messengermu melulu online. Senang ya berbalas-balasan pesan dengan perempuan yang kau suka? Apakah kau sibuk? karena aku juga, bedanya, aku masih sempat mengecek apa kau masih hidup atau tidak. Namun dengan semangat empat lima, aku masih juga bergegas mengejar pagi di Yogyakarta. Tas kerjaku sudah berganti dengan carrier yang baru kubeli minggu lalu. Berat, tapi aku memanggulnya dengan riang. 

Jumat yang terlalu cepat. Aku tiba di Yogyakarta ketika matahari sudah hampir saja pulang ke rumahnya. Perutku bergejolak, menandingi mas-mas Jawa yang tergelak-gelak oleh bahasa yang tak kupahami maknanya. Kota ini hangat. Sama seperti semangkuk soto yang kupesan lengkap dengan telur asinnya. Malam ini aku harus kuat. 

Pukul dua pagi, aku baru tiba di gerbang Merapi. Langit pekat menangkup Merapi, si ancala yang rupawan, terpaksa kurusak dengan sorotan lampu yang kutaruh di atas kepalaku. Dari tujuh orang yang mendaki bersamaku, dua orang harus gugur sebelum bertanding. Pacarnya muntah-muntah di sepuluh menit pertama pendakian. Dua jam setelah pendakian, giliran seorang teman lagi yang wajahnya memucat. "Aku lihat penampakan," katanya. Komat-kamit aku tiba-tiba menjadi soleh, doa terus kurapal dalam hati.

Aku heran. Setiap mereka yang mengatakan gunung adalah tempatnya para makhluk gaib, dipikiranku, pastilah yang gaib-gaib itu malaikat. Bukankah kitab menceritakan mereka senang bermukim di tempat yang indah-indah? Lalu mengapa temanku mengatakan sebaliknya?

Pukul lima pagi, satu orang teman tumbang lagi sebelum mencapai Pasar Bubrah. Pos terakhir sebelum puncak. Satu orang lagi akhirnya menemani yang tumbang, alhasil tinggal saya dan dua orang lagi yang melanjutkan perjalanan ke puncak. Matahari tiba-tiba muncul sebelum protokolernya menebarkan jala keperakan di garis horizon yang melepas, luas. Kukebut kakiku, aku harus segera tiba di Bubrah. Merbabu yang anggun terus membayangiku di belakang, savananya menatap, nyalang. Bubrah, sebentar lagi. 

Aku butuh hampir satu jam untuk tiba di Puncak setelah Bubrah. Lelah, sumpah. Matahari sudah tinggi, tapi tak masalah. Kedatangannya di Bubrah sudah cukup indah. Vegetasi seketika lenyap, lanskap bebatuan menyergap. Kerikil-kerikil kecil mempermainkan pijakanku. Pasir-pasir berwarna abu terus-menerus menggelincir seperti arus, siap menumbangkan mereka yang hasratnya tak konstan. 

Baru kusadari, bahkan kakiku sendiri tak bisa kupercayai. Betapa mudahnya untuk tak percaya diri, betapa mudahnya untuk merutuk dalam hati. Disini tak ada yang sintetis, tak ada satupun yang buatan manusia, apalagi buatan Cina. Semua berupa pahatan murni yang tergores begitu sejati.Tungkai kakiku mengendur, nafasku tak teratur. Betapa gampang untuk patah arang, lunglai,lalu berbalik arah pulang. Untungnya naluriku tidak mengatakan demikian.

Ini dia gunung yang meletus dua kali dalam lima tahun. Salah satu bad ass mountain yang amukannya membuat banyak orang resah. Markas besar Panembahan Senopati yang membuat Berthomier, seorang ahli geologi Perancis, mati penasaran. Puncak Garuda pun terbang sudah, setelah berkali-kali dia menggelegar, penuh marah. Tidak seperti yang dikoar-koarkan para kuli surat kabar, Merapi sebetulnya tidak pernah mengeluarkan ledakan, dia hanya mendesis. Meski demikian amunisinya sangat mematikan. Dari atas puncaknya kulihat kawahnya yang hijau kelam, mengaggumkan sekaligus mengerikan. Hari ini, dia nampak tenang, seperti mempersilakanku untuk menaiki kepalanya yang curam. Satu demi satu, batu demi batu. Nafasku menggeram, kelelahan, kakiku terasa kencang. Ini pasti salah satu tempat kesukaan Tuhan. Siapapun yang berada di atas sini sudah seharusnya bersyukur pada kehidupan. 














Friday, September 6, 2013

ancala

Orang Tibet percaya, semakin tinggi dataran tempat mereka berdoa, maka semakin besar pula kemungkinan doa mereka akan di dengar oleh yang kuasa. Bagi mereka mayapada adalah segala, partikel yang menghidupi buana, mereka menyebut Everest sebagai sumber jagat raya. Maka para Lamaisme banyak yang melakukan perjalanan demi sebuah ketenangan spritiual. Mereka menyusuri Himalaya, melewati Annapurna, singgah di Pokhara, lalu mengunjungi Awalokiteswara di Potalaka.

Aku sedang punya banyak permintaan. Maka dari setahun lalu, aku sudah merencanakan perjalanan di hari ulang tahunku. Aku pergi ke Bromo, lalu ke pulau Sempu dan berakhir dengan mendaki Semeru. Aku bahkan sudah merancang kerangka doa yang akan kulontarkan, kupikir, akan bagus sekali kalau nanti di atas sana aku bisa meneriakan doaku sekeras mungkin, atau mungkin dalam hati saja. Tapi entah kenapa, sesampainya di atas sana, bodohnya aku malah tidak ingat sama sekali permintaan-permintaanku yang banyak itu. Aku tidak berdoa. Seingatku, satu-satunya doa yang kupanjatkan adalah aku minta agar perjalanananku ini dilindungi dan aku tidak celaka karena agenda perjalananku cukup gila. Aku cuma punya waktu tiga hari untuk tiga tempat ini. Di bandara sesampaiku di Jakarta, aku baru teringat kemana perginya permintaanku yang banyak itu?

Jadi dengan merasa sangat goblok, aku merunut kembali cerita perjalanan ulangtahunku kemarin, kenapa aku bisa sampai lupa tujuan utama aku pergi kesana. Karena bersama teman-teman, tertawa sepanjang jalan, menatap megahnya deret pegunungan, memandang ribuan bintang berwarna perak yang berserakan di pekatnya bumantara, samudera Indonesia dengan arusnya yang mengamuk perkasa, birunya lanskap hingga ke titik terjauh yang kupandang dari seberang, dibuatkan sereal jahe oleh orang yang baru saja aku kenal di dinginnya suhu pintu semeru yang menusuk tulang, letih karena otot kaki terasa menegang sepanjang pendakian, lalu melihat semburat sinar matahari terbit yang memecah gagah semua spektrum warna di cakrawala. Alasannya ternyata singkat saja. Bahagia. Dan ketika kita bahagia, entah kenapa semua terasa cukup, semua terasa genap. Tiba-tiba saja aku tidak ingin apa-apa.  


...

Monday, August 12, 2013

Friday, July 12, 2013

bad thought(s)

-- And when that person has ugly thoughts every day, every week, every year, the face gets uglier and uglier until it gets so ugly you can hardly bear to look at it. - Roald Dahl

How many bad thoughts do you have to string together to end up having a bad day? Aku sering. Rasanya aku memang punya masalah dengan pikiran buruk. Ralat. Bukan masalah, malah. Yang benar, aku berteman akrab dengannya. Berarti bisa dibilang, aku tidak pernah punya masalah dengannya. Pikiran buruk adalah pelindungku. Seorang teman yang selalu jujur, menamparku keras, menendangku kencang, sampai aku megap-megap sesak napas. Tapi aku suka -- setidaknya dia tidak pernah berbohong. Eh, tapi sebenarnya seringnya malah dia berbohong sih, karena yang terjadi pada kenyataannya seringnya sih tidak seburuk yang dia gambarkan. Tapi aku tetap suka, setidaknya dia tidak pernah menawarkan racun berlumur gula.

Suatu ketika aku sedang berpetualang dengan seorang teman. Di atas sebuah air terjun yang cukup tinggi dia menantangku untuk terjun bebas. "Berani?" katanya dengan mata mengilat. Kubilang, "Sudah gila ya? Apa kau tahu di bawah sana ada apa saja? Berapa kedalaman airnya? Semua tertutup air. Bagaimana ketika kau terjun, batu keras sudah menunggumu? Hancurlah kepalamu. Bisa jadi di bawah sana ada buaya yang sedang tertidur, lalu ketika kau jatuh bebas, terbangunlah ia. Dan segara ini akan segera berubah jadi merah. Oleh darahmu. Tahu kau?" Seperti biasa dia akan menatapku dengan tatapan aneh. Pada akhirnya temanku terjun bebas. Dan dia baik-baik saja. Tidak ada batu keras, tidak ada buaya.    

Atau -- ketika aku diputuskan oleh pacarku. Saat itu yang langsung terpikirkan olehku adalah sebuah skenario tentang hidup seorang diri sampai umur 63. Kenapa 63? Entahlah, aku tidak suka angka 70. Lalu kepalaku langsung menampilkan berbagai macam varian anjing atau kucing yang lucu. Mungkin aku akan membeli husky, atau retriever. Lalu hidup bahagia bersamanya sampai aku tua, sakit-sakitan dan menyebalkan. Ya, begitu saja.

Rasanya aku lebih nyaman berpikir tentang hal-hal terburuk yang akan menimpaku. Karena kupikir harapan itu mematikan. Aku sudah kapok. Setiap aku membayangkan yang indah-indah, kupikir Tuhan akan menertawakanku. "Haha maunyee.." mungkin begitu komentarnya. Tapi malam ini kupikir-pikir lagi sebelum aku pergi tidur. Kau tahu? Situasi dimana kau terlalu sering dituduh yang bukan-bukan, sampai akhirnya kau mencapai klimaks kekesalan dan akhirnya dengan sengaja malah melakukan yang dituduhkan?

Nah, aku sedang takut Tuhan mulai mencapai klimaksnya.  
 

...

Saturday, June 15, 2013

hey june

Haloo pembaca (macam banyak yang baca), it's been quite a while since i wrote my last post. Lots of thing happened in a month, i got a new job, i am now wearing an earring haha, still couldn't find a proper boyfriend haha lagi deh, breaking up with apple and bought myself an android smart phone, which i kinda regret it, ya udah lah ya. Daan.. bisa berlibur satu minggu di Bandung. Sebenarnya sayang sih, ada waktu satu minggu sebelum mulai kerja di tempat baru tapi cuma diem di Bandung. Rencana hanya jadi wacana, rupanya. Mulai dari daki Slamet, Semeru, sampai berniat ke Pulau Kangean, akhirnya mentok juga. Hiks. Well, next time perhaps..

The new job. 
After dealing with filthy politicians :-P i am now working at some non profit organization whose areas of focus include education, poverty reduction, healthcare and disaster relief in Sumatera area. My boss is one super smart woman, i can tell from the beginning. I hope i could learn a lot from her. My super boss is a Singaporean, i got to prep my ear as they often talk in a singlish accent. Actually i still can't believe they hired me. I have no experience working at NGO. But i do hope i could learn fast and maximize my potential and ability. Its been a week since i work there, i haven't had the chance to visit the remote area we currently working on, but soon ill pay a visit.

A week in Bandung. 
I gained 3 kilos. Hahaha. Found two new favorite culinary spots in Bandung. A week in Bandung is such a foodgasm experience. The first one called Harukaze, located in Jl. Cimanuk 12 A, it's a Japanese restaurant. They served super delicio ramen and tasty low calorie cream cheese cake, but not so much on the sushi though. They said they have the best curry in town, but curry is not my cup of tea. Oh, green tea frappe nya juga enak sekali. Restoran kedua termasuk salah satu yang sedang ngeheeittss di Bandung. Namanya Sugarush. Menu andalan mereka sebenarnya cake, macaroons, it's all about sugar. Karena aku tidak terlalu suka yang manis-manis -kecuali kamu Ryan Gosling- maka aku skip kue-kuenya and.... pick wagyu tenderloin instead. Tebak? Harganya cuma IDR 75.000! Haha. Senangnya. Rasanya mirip lah sama Holycow, tapi mashed potatonya enakkk sekali. Sayurnya juga lebih bervariasi daripada steak holycow. 

Life, recently. 
Is weird. Kalau di kantor dulu aku bisa masuk jam 10 -asal kerjaan kelar- and spent my work hour with youtube and movie streaming :-P   di yang sekarang... hmm.. they have like an extremely slow internet connection. But that won't be a problem after all, karena di kantor baru ternyata pekerjaannya banyak sekali hahaha. Masuk harus tepat jam delapan pagi teng juga ternyata cukup jadi masalah. I am totally not a morning person since i moved to Jakarta. Bangun pagi sih masih bisa dengan bantuan alarm dan weker yang super kencang, tapi kenyataannya adalah, my brain is not working very well in the morning. Hahaha. Well, i am still working on that now. Wish me luck. 

And seriously. I wanna go to the beach..
Thats it.