Sunday, January 25, 2015

secret garden resto - bandung


Banduuung! Pulang kampung kali ini aku mampir untuk makan siang ke Secret Garden Resto. Letaknya di daerah Ciumbuleuit. Untuk patokan mudahnya, dari Universitas Parahyangan, tinggal lurus terus ke atas, lalu belok ke kanan di sebelah Hotel Arjuna. Meski letaknya sebenarnya masih di tengah kota, namun tempat ini tidak ramai seperti kafe resto sejenis yang banyak bertebaran di daerah Riau atau Dago Pakar, and this what i like the most. :) Untuk makanannya sih standar lah. Mulai dari menu Indonesia sampai Eropa, lumayan bervariasi dan harganya mulai dari Rp. 20.000 - Rp. 80.000. Aku suka tempat ini selain karena sepi, sesuai namanya, kebun di restoran ini luasss sekali. Meski tidak bisa dipakai lari marathon, namun pemandangan seperti ini lumayan menyejukan mata. Interior serta eksterior designnya juga cukup unik, buat para banci tampil instagram pasti seneng banget ke tempat ini. As for me, this is a four star place, definitely will come back. So, tell me, how was your weekend? 


 ***

Friday, January 23, 2015

rafting di pangalengan


Tugas kantor yang menyenangkan. Minggu kemarin aku pergi ke Pangalengan dalam rangka mengajak teman-teman wartawan jalan-jalan. Tujuannya; Sungai Palayangan. Jaraknya sekitar dua jam dari kota Bandung. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, tapi karena jalannya kecil dan seringkali macet, maka waktu tempuh perjalannya memakan waktu hampir dua jam. Ide untuk rafting ini sudah lama terlontar di benakku. Awalnya aku menargetkan rafting di Sungai Citarik. Tapi di tengah musim hujan yang tak keruan, aku memutar haluan ke Sungai Palayangan. Selain itu, pacarku bilang jalan menuju Sukabumi sedang diperbaiki. Perjalanan untuk menuju ke sana bisa memakan waktu hampir 7 jam. Pangalengan sepertinya lebih tepat dan relatif lebih aman. 

Berangkat dari Jakarta hari Sabtu pukul 05.00 pagi, aku tiba di Bandung pukul 07.30, mampir sebentar di sebuah warung Sunda lalu tancap gas melanjutkan perjalanan ke Pangalengan. Cuaca memang sedang buruk. Tapi buatku, rafting di sungai lebih asyik ketika musim hujan sedang menggila. Kabut mulai turun, padahal matahari saja belum muncul. Cuaca dingin khas dataran tinggi yang sejuk, ditemani segelas kopi, aku mulai bersiap-siap memakai life vest dan helm, dua benda yang wajib dipakai ketika sedang rafting.

Meski jarak untuk rafting di Sungai Palayangan sangat pendek (menurutku), hanya 6 km saja, dan jeramnya tidak terlalu ekstrim, aku hitung hanya ada 11 jeram yang kami lewati, tapi pemandangannya sangat indah dan sungainya sangat bersih. Debit airnya pun cenderung stabil dibanding sungai sungai di sekitar Bogor. Sungai Palayangan dikelilingi oleh hutan pinus yang cantik, untuk alternatif wisata adrenalin yang dekat dari Jakarta, rafting disini ternyata tak kalah ciamik. :) 

"Ini dayungnya, mbak," Oh maaf.. aku ga pegang dayung, aku harus pegang tongsis. :P 


what's left from 2014


1. Mendaki Gunung Salak 


Dua hari setelah lebaran, aku pergi ke Gunung Salak. Setelah hampir dua bulan tidak mendaki gunung, ternyata 'sakaw' juga. Ingin menghirup udara di ketinggian. Meski mendapat bonus omelan dari mama, permit 'nyawalan' di gunung akhir keluar juga. Gunung pendek dengan ketinggian 2.211 mdpl, nyatanya, tanjakannya semacam tanjakan aborsi semua. Haha. Dan jalurnya sungguh melingkar kesana-kesini bukan main panjangnya. :) 


Matahari terbit di Gunung Salak 
2. Mendaki Gunung Guntur 

Awal September aku mendaki Gunung Guntur. Setelah penasaran hampir dua bulan, akhirnya aku sampai juga kesini. Berangkat dari Jakarta naik bus Primajasa, aku tiba di Garut tengah malam buta. Menumpang tidur di pelataran SPBU dan mendaki keesokan paginya. Gunung ini cocok untuk pendaki pemula. Tanjakannya tidak terlalu brutal, pemandangannya indah, dan puncaknya.. oh seriously this is the best part, tanah di puncaknya, entah mengandung apa, yang jelas, tanahnya mengeluarkan panas, sehingga tidak dibutuhkan jacket hangat berlapis dua di puncak gunung ini. 

Sarapan di Puncak Gunung Guntur 

3. ... oh and I met this guy


Di akhir Maret, ketika aku akan mendaki Gunung Sumbing, aku berkenalan dengan seorang pria yang sungguh sok tahu dan menyebalkan di sebuah tempat perbelanjaan. Tujuan kami sama; Gunung Sumbing. Dari awal pertemuan, aku sudah merasa dia ini tipikal pria yang rewel dan menyusahkan, totally not my type,  but why on earth it turned out to be a different story? :))

Kota tua, Jakarta, Agustus 2014 
***


Wednesday, January 21, 2015

catatan pendakian gunung dempo 3159 mdpl











Well, I am stubborn and wrong, but at least I know it. - Vanessa Carlton

Malam natal yang nestapa. Hari itu, di akhir Desember, aku dengan gegabah membeli tiket Jakarta – Palembang – Jakarta. Tujuannya satu; Pagar Alam. Jaraknya sekitar tujuh jam perjalanan darat dari kota Palembang, kata wikipedia. Nyatanya, aku menghabiskan hampir 10 jam untuk tiba disana. Aku ingin mendaki Gunung Dempo, aku ingin melihat Kawah Merapi yang cantik kehijauan dengan mata kepalaku sendiri. Aku ingin kembali menjelajahi gunung-gunung di tanah Sumatera dengan kontur yang sangat jauh berbeda dari gunung-gunung di Jawa. Dan lagi.. untuk seorang pekerja kantoran dengan status cuti nyaris habis, tanggal merah adalah anugerah. Apapunlah.. Intinya, aku ingin pergi. Titik.

Ibuku bilang, “Ini kan musim hujan..” tapi kepalaku terlalu besar. Sangat besar sampai menyentuh langit dan sulit menapak kembali ke bawah. Maka hari itu Rabu tanggal 23 Desember dini hari aku pergi seorang diri ke Bandara Soekarno Hatta. Menunggu sebentar di terminal keberangkatan dan lepas landas dengan pesawat yang membawaku ke Palembang. Sesampaiku disana, aku bergegas mencari taksi menuju ke Terminal Karya Jaya. Menunggu di warung nasi dengan seorang ibu tua yang ramah dan baik hati.

Pukul 15.30 aku berangkat menuju Pagar Alam. Langit sore itu cerah. Matahari tenggelam dengan warna oranye yang meriah. Its perfect. Ini adalah waktu yang baik untuk mendaki, pikirku. Aku tiba hampir pagi di Pagar Alam. Macet yang melanda semalaman serta tragedi ban pecah hingga dua kali membuat waktu yang sudah kuperkirakan molor hampir dua jam. Keesokan paginya aku bersiap untuk mendaki Gunung Dempo. Langit masih cerah, cenderung panas. Trek awal dibuka dengan kebun teh yang indah memanjang dan melingkar selaksa bukit barisan yang berbaris manis terlihat dari kejauhan di bawah sana.

Foto bersama ibu pemetik teh 
Hampir sore ketika aku tiba di shelter dua. Hujan mulai turun. Rintik-rintik.Kaki kiriku yang memang sedang tak fit benar mulai terasa ngilu. Gunung Dempo sebenarnya tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 3159 mdpl, tapi treknya lebih sulit dibanding gunung-gunung di Jawa. Sepanjang perjalanan ke shelter tiga hujan mulai deras. Jalur air yang juga jalur pendakian semakin licin. Pukul 7 malam aku tiba di Shelter tiga. Konon dari shelter tiga menuju ke puncak Dempo hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam. It should be easy, I said. It should be, an hour of hike is easy. Begitu yang terngiang-ngiang di kepalaku saat itu.

Maka kami tidak berhenti dan terus melaju menuju Puncak Dempo. We’re  almost there. Pukul 19.30 aku dikejutkan dengan angin super kencang yang menerpa badanku. Hujan semakin deras. Jalur air yang membawa air turun ke bawah pun semakin deras. Jas hujanku keok. Air mulai membasahi pakaianku. Lalu badai datang. Tenagaku hampir habis rasanya. Sebenarnya tak masalah jika pakaianku tidak basah, tapi bahkan pakaian  dalamku sudah kuyup. Angin menggigit, terasa nyeri di kulit. Cuaca gelap, pohon-pohon miring diterpa angin kencang, dan air masih terus mengalir di atas. Semakin deras.. semakin deras..

Aku mulai komat-kamit. Tidak ada sejengkalpun tanah datar untuk mendirikan tenda. Mau tidak mau aku harus jalan terus. Ya Tuhan, dinginnya.. Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja bibirku mengencang, hingga aku sulit sekali untuk bicara. Jari-jariku membengkak dan berwarna keunguan. Lalu sekujur tubuhku bergetar tanpa bisa kukendalikan. Aku menangis. Ya, menangis. Untuk pertama kalinya, aku.. menangis di atas gunung. Pukul 20.30 temanku menemukan sedikit tempat datar untuk mendirikan tenda. Tanpa pikir panjang, dengan tangan bergetar kami membongkar tenda. Hujan masih turun dengan deras dan angin masih bertiup sangat kencang. Dengan segera aku membongkar carrierku, menganti baju yang kuyup lalu mengunyah apa saja yang bisa dikunyah agar suhu tubuhku naik.

"Bertamu" ke tenda komunitas pecinta alam dari Palembang 





Pagi tiba dengan kabut pekat. Kawah Merapi yang kuincar sejak lama sama sekali tak terlihat. Aku berdiri dengan lesu di atas puncak Dempo, memegang plang besi bertulisan  Top Dempo yang dingin dibasahi oleh embun. Satu saat nanti mungkin aku harus kembali kesini. Ke kawah Merapi. Melihat hijaunya dengan cuaca yang cerah ditemani matahari. Ya, mungkin nanti. Lain kali. Tapi tidak hari ini.

Baiklah.. Mama, aku pulang.

Me at Top Dempo. Low quality photo, i know. 

Monday, January 12, 2015

hello 2015

Gunung Rinjani, Mei 2014

How did it get so late so soon? - Dr. Seuss

Betapa cepat waktu berlalu. Dalam film Interstellar, yang mulia Nolan menuliskan perihal dilatasi waktu yang didasari oleh teori relativitas Albert Einstein. Dalam jurnalnya, Einstein menuliskan bahwa waktu bersifat relatif berdasarkan acuan pengamatan. Satu-satunya kecepatan yang konstan dari pengamatan adalah kecepatan cahaya. Hal ini digambarkan oleh Nolan ketika para astronot tiba di Planet Miller. Diceritakan bahwa waktu 1 jam di Planet Miller = 7 tahun di bumi. Mengetahui bahwa kedatangan mereka di Planet Miller akan membuang begitu banyak waktu, maka para astronot pun panik, bergegas dan resah. 

Puluhan ribu kilometer dari Jakarta, di Sungai Tizsa, pinggiran Ukraina, hiduplah satu jenis spesies serangga purba, mereka dinamakan 'Tizsa's flower'.  Dari sekian jenis spesies yang hidup di bumi, mungkin merekalah yang hidupnya sangat singkat, hanya tiga jam saja. Sungai Tizsa adalah salah satu suaka terakhir dimana setiap tahun serangga tersebut muncul dalam jumlah besar. Selain dikaruniai (atau dikutuk?) waktu hidup yang pendek, Tizsa Flower juga tidak memiliki mulut, mungkin bicara atau bersuara tidak dianggap penting-penting amat dalam kehidupan yang singkat. Ketika seorang manusia mengetahui dirinya tidak akan hidup dalam waktu lama, setelah sampai di fase rela untuk menerima, biasanya dia pun akan tidak banyak bicara, yang dilakukannya hanyalah memeluk, tersenyum, menatap, atau mungkin menangis tanpa suara.

Bagi manusia, waktu hidup selama tiga jam akan terasa sangat singkat. Tapi bagi Tizsa Flower, tiga jam adalah waktu maksimal bagi mereka dapat bertahan hidup, tiga jam adalah serupa seperti perjalanan hidup manusia yang rata-rata memakan waktu puluhan tahun. Tiga jam adalah serupa satu sesi kehidupan yang panjang. Jika saja mereka tahu, mungkin mereka akan mengagumi atau berdecak iri pada manusia yang mampu berleha-leha, hidup membuang-buang waktu dengan seenaknya. Maka tak heran para serangga Tisza Flower mempergunakan waktu singkat tersebut dengan sepenuhnya. Di bulan Juni yang cerah, meraka akan berubah dari larva menjadi serangga, mengepakan sayap mereka, menari di atas air sungai Tisza, kawin dengan jenisnya, lalu punah hanya dalam waktu tiga jam saja. 

***

Tahun 2014 terasa sangat singkat. Orang bilang, karena aku begitu menikmati setiap waktunya, sehingga semua terasa sangat cepat. Betapa tidak? Ya aku menikmati setiap menitnya, setiap detailnya. Aku mendaki begitu banyak gunung, aku pergi ke begitu banyak tempat, mendapat banyak sekali teman, meski begitu aku lupa, ada banyak hal yang aku tinggalkan. Aku lupa, waktu berlalu begitu cepat, dan aku mulai kalap. Hal-hal sederhana yang membuatku abai, membuatku lena. Betapa banyak hal yang seharusnya aku bagi, aku beri, hal-hal yang seharusnya kututupi, hal-hal yang seharusnya kusudahi, yang seharusnya kumulai, betapa banyak kesalahan yang sudah aku buat, dan hal-hal yang tak semestinya terucap.

Jakarta. Pagi, ketika aku berangkat kerja. Betapa anehnya, kita tidur terlalu lama, bermalas-malasan, pergi dengan tergesa-gesa, lalu memaki semua yang ada di jalan raya. The trouble is we always think we have time. Aku melihat bayanganku di cermin, sekelebat, sungguh bukan bayangan yang ingin kulihat. Jamku berdetak, pertengahan Januari 2015. Dan ya.. aku masih diam di tempat. 

***

Because no, honey, we dont have forever.. We dont.