Wednesday, January 21, 2015

catatan pendakian gunung dempo 3159 mdpl











Well, I am stubborn and wrong, but at least I know it. - Vanessa Carlton

Malam natal yang nestapa. Hari itu, di akhir Desember, aku dengan gegabah membeli tiket Jakarta – Palembang – Jakarta. Tujuannya satu; Pagar Alam. Jaraknya sekitar tujuh jam perjalanan darat dari kota Palembang, kata wikipedia. Nyatanya, aku menghabiskan hampir 10 jam untuk tiba disana. Aku ingin mendaki Gunung Dempo, aku ingin melihat Kawah Merapi yang cantik kehijauan dengan mata kepalaku sendiri. Aku ingin kembali menjelajahi gunung-gunung di tanah Sumatera dengan kontur yang sangat jauh berbeda dari gunung-gunung di Jawa. Dan lagi.. untuk seorang pekerja kantoran dengan status cuti nyaris habis, tanggal merah adalah anugerah. Apapunlah.. Intinya, aku ingin pergi. Titik.


Ibuku bilang, “Ini kan musim hujan..” tapi kepalaku terlalu besar. Sangat besar sampai menyentuh langit dan sulit menapak kembali ke bawah. Maka hari itu Rabu tanggal 23 Desember dini hari aku pergi seorang diri ke Bandara Soekarno Hatta. Menunggu sebentar di terminal keberangkatan dan lepas landas dengan pesawat yang membawaku ke Palembang. Sesampaiku disana, aku bergegas mencari taksi menuju ke Terminal Karya Jaya. Menunggu di warung nasi dengan seorang ibu tua yang ramah dan baik hati.

Pukul 15.30 aku berangkat menuju Pagar Alam. Langit sore itu cerah. Matahari tenggelam dengan warna oranye yang meriah. Its perfect. Ini adalah waktu yang baik untuk mendaki, pikirku. Aku tiba hampir pagi di Pagar Alam. Macet yang melanda semalaman serta tragedi ban pecah hingga dua kali membuat waktu yang sudah kuperkirakan molor hampir dua jam. Keesokan paginya aku bersiap untuk mendaki Gunung Dempo. Langit masih cerah, cenderung panas. Trek awal dibuka dengan kebun teh yang indah memanjang dan melingkar selaksa bukit barisan yang berbaris manis terlihat dari kejauhan di bawah sana.

Foto bersama ibu pemetik teh 
Hampir sore ketika aku tiba di shelter dua. Hujan mulai turun. Rintik-rintik.Kaki kiriku yang memang sedang tak fit benar mulai terasa ngilu. Gunung Dempo sebenarnya tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 3159 mdpl, tapi treknya lebih sulit dibanding gunung-gunung di Jawa. Sepanjang perjalanan ke shelter tiga hujan mulai deras. Jalur air yang juga jalur pendakian semakin licin. Pukul 7 malam aku tiba di Shelter tiga. Konon dari shelter tiga menuju ke puncak Dempo hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam. It should be easy, I said. It should be, an hour of hike is easy. Begitu yang terngiang-ngiang di kepalaku saat itu.

Maka kami tidak berhenti dan terus melaju menuju Puncak Dempo. We’re  almost there. Pukul 19.30 aku dikejutkan dengan angin super kencang yang menerpa badanku. Hujan semakin deras. Jalur air yang membawa air turun ke bawah pun semakin deras. Jas hujanku keok. Air mulai membasahi pakaianku. Lalu badai datang. Tenagaku hampir habis rasanya. Sebenarnya tak masalah jika pakaianku tidak basah, tapi bahkan pakaian  dalamku sudah kuyup. Angin menggigit, terasa nyeri di kulit. Cuaca gelap, pohon-pohon miring diterpa angin kencang, dan air masih terus mengalir di atas. Semakin deras.. semakin deras..

Aku mulai komat-kamit. Tidak ada sejengkalpun tanah datar untuk mendirikan tenda. Mau tidak mau aku harus jalan terus. Ya Tuhan, dinginnya.. Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja bibirku mengencang, hingga aku sulit sekali untuk bicara. Jari-jariku membengkak dan berwarna keunguan. Lalu sekujur tubuhku bergetar tanpa bisa kukendalikan. Aku menangis. Ya, menangis. Untuk pertama kalinya, aku.. menangis di atas gunung. Pukul 20.30 temanku menemukan sedikit tempat datar untuk mendirikan tenda. Tanpa pikir panjang, dengan tangan bergetar kami membongkar tenda. Hujan masih turun dengan deras dan angin masih bertiup sangat kencang. Dengan segera aku membongkar carrierku, menganti baju yang kuyup lalu mengunyah apa saja yang bisa dikunyah agar suhu tubuhku naik.

"Bertamu" ke tenda komunitas pecinta alam dari Palembang 





Pagi tiba dengan kabut pekat. Kawah Merapi yang kuincar sejak lama sama sekali tak terlihat. Aku berdiri dengan lesu di atas puncak Dempo, memegang plang besi bertulisan  Top Dempo yang dingin dibasahi oleh embun. Satu saat nanti mungkin aku harus kembali kesini. Ke kawah Merapi. Melihat hijaunya dengan cuaca yang cerah ditemani matahari. Ya, mungkin nanti. Lain kali. Tapi tidak hari ini.

Baiklah.. Mama, aku pulang.

Me at Top Dempo. Low quality photo, i know. 

No comments:

Post a Comment