Tuesday, November 10, 2020

mengapa aku berkebun? aku ngapain? aku kenapa?


One two three four, close the door! 

Sounds familiar? Jika ya, selamat, kamu termasuk yang kebanyakan bengong nonton youtube selama pandemic. Hampir 8 bulan di rumah aja, kebetulan saya termasuk yang dapet full WFH. Alhamdulillah, tentu saja. Ga perlu berjibaku ke kantor tiap pagi dan was-was setiap berinteraksi sama orang-orang. Oleh karena itu gua benar-benar menghargai rejeki gua (berupa dapet full WFH) dengan benar-benar engga kemana-mana. Ya udah disuruh di rumah, tokh? Kenapa malah pergi liburan? *uhm..

Tuesday, July 14, 2020

requiescat in pace


Between life and death.. 

There is a minuscule gap, a gap of a moment
The previous moment you are there,
And the next you are gone

Wednesday, July 8, 2020

tempat camping ramah anak


Alkisah, setelah 3 bulan dokem di rumah aja, kok rasanya mulai bosan ya? Padahal kurva lagi naik terus-terusan, dan sejujurnya makin serem aja keluar rumah, tapi di rumah juga suntuk, gimana dong? 

But anyway, also thanks to corona, karena corona, si mbak di rumah tiba-tiba ngibrit balik ke kampungnya di Pacitan karena takut ga bisa lebaranan di kampungnya, dan karena ku bingung harus WFH tapi anak ga ada yang pegang, akhirnya kami sekeluarga pun ngungsi ke rumah orangtua di Bandung. Mau cari ART baru tapi kok lagi situasi kaya gini agak serem juga ya narik orang baru dari luar. Pertimbangan selanjutnya juga adalah karena di rumah Bandung ART nya masih ada dan sehat. So, ok, Bandung here we go! 

Tuesday, May 19, 2020

ramadan paling menyedihkan (sekaligus paling benar)

Sebenarnya tidak sedang ingin menulis, tapi kepala ini rasanya sudah sangat suntuk. Empat hari lagi lebaran.  Sedang tidak ingin menulis yang runut dan indah, jadi seadanya saja. 

1. Agak kurang suka dengan kultur kirim-kiriman hampers di hari raya dan mempostingnya di instagram. Sungguh riya. Sekaligus menyebalkan bagi orang yang mungkin tidak ada yang mengirim. Plus.. kalau buatku pribadi, agak merepotkan ketika seseorang mengirimiku hampers, lalu atas unsur tidak enak, maka aku akan mengiriminya hampers juga, mending kalau sekota, kalau beda kota. Sungguh repot. Tidak bisa ya kalau ucapannya via whatsapp saja? Uang biaya hampers kasi aja ke orang miskin. Lebih banyak gunanya.