Showing posts with label daily story. Show all posts
Showing posts with label daily story. Show all posts

Friday, October 29, 2021

appreciation post...to my blog!

“Semua harus ditulis, apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna”


Pada suatu sore, kalimat itu pernah keluar dari mulut seorang Pramudya Ananta Toer. Aku tidak pernah mengirimkan naskahku ke penerbit, pun belum pernah terbersit ingin jadi penulis. Tapi aku tetap suka menulis. Dan aku baru paham, ketika Papa meninggal, sungguh sangat menyenangkan membaca tulisan-tulisanku dahulu tentang Papa. Benar saja, suatu saat pasti berguna. 

Dulu pernah terbersit ingin menutup blog ini. Alasannya karena aku merasa banyak tulisan sampah hahaha. Masa muda, lagi galau, nulis, lagi sakit hati, nulis, eh tapi lagi happy juga aku nulis. Dan ternyata tulisan-tulisan itu menjadi memori-memori menyenangkan dari hal-hal kecil yang ga akan pernah balik lagi. 

Ada banyak sekali tulisan yang sekarang rasanya berharga sekali untuk dibaca, tentang betapa senangnya aku ketika pulang ke Bandung,  bertemu Papa, Mama, suara air mancur dari kolam ikan Papa yang menurut orang lain berisik sekali, sampai betapa enaknya tidur di tempat tidur orangtuaku di Bandung yang seprainya ditarik sangat kencang dan selimutnya licin, lalu gorden dari jendela kamar yang melambai-lambai ditiup angin. 

Sekarang aku sudah tidak tinggal di Bandung. Aku sudah punya keluarga sendiri. Sudah punya rumah sendiri. Tapi tentu saja,  aku tidak ingin pernah lupa perasaan itu. Perasaan paling nyaman di kamar di Bandung, ketika Papaku masih ada.

Terima kasih blog ku tersayang, untuk menyimpan semua tulisan itu dengan rapi. 

***

Sunday, September 19, 2021

something i learned today... oh and papa, you are so right!

Being in grief.. makes me realize. Orang itu banyak sekali macamnya. Ada yang baik ada yang brengsek, ada juga yang pura-pura baik, tapi brengsek, ada juga yang pura-pura brengsek tapi ternyata baik. Hahaha. 

Ketika Papa meninggal kemarin, tiba-tiba banyak sekali teman yang muncul dan mengucapkan belasungkawa, padahal kami sudah lama tidak bertegur sapa. Ada juga yang jauh-jauh datang dari luar kota cuma untuk memberikan dukungan moril sekaligus materiil. Ada juga yang tiba-tiba muncul di whatsapp dan memberikan uang duka, padahal, again, kami sudah lama tidak bertegur sapa. Kiriman makanan dan bunga? Jangan tanya, luar biasa banyaknya dan baiknya. Semoga Allah membalas kebaikan kalian. 

Mungkin karena ini adalah pengalaman pertamaku ditinggal orang terdekat, aku baru paham rasanya. Karena itu juga, aku belajar, how to give someone an empathy kepada orang yang mendapat musibah ini. Ku baru tahu, betapa berharganya setiap doa"semoga husnul khatimah" yang terlontar keluar dari teman-teman. Ku juga baru sadar betapa thoughtful nya seseorang yang menuliskan doa lengkap dengan nama lengkap dan bin atau bintinya. Ada juga yang menjapri hanya untuk bertanya, "Are you okay?" Ada juga seorang teman yang sudah lama tidak bertemu karena dia tinggal di luar negeri tapi tetap mengirim karangan bunga untuk aku. 

They keep me in their thought, and for that, I am so touched, grateful, and thankful forever. Orang-orang ini pula yang membuatku terinspirasi, aku janji akan meneruskan kebaikan ini kepada orang lain. 

Monday, September 13, 2021

maaf banda neira, kali ini yang patah tidak akan tumbuh lagi dan tak akan pernah terganti

Di dalam blog ini, ada beberapa postingan yang khusus aku dedikasikan untuk Papa. Beberapa cerita lucu, beberapa puitis, tapi ketika Papa meninggal, anehnya aku malah tidak tahu harus menulis apa. Aku pikir menulis obiturari untuk seseorang yang kita cintai akan sangat mudah, tapi ternyata malah lebih susah.

Rabu 1 September 2021, Rabu yang akan aku ingat seumur hidupku. 

"Keluarga Bapak Zulkifli?" satpam yang menjaga pintu ruang ICU tiba-tiba berteriak memecah keheningan di ruang tunggu. Dari raut mukanya aku sudah tahu, malaikat Izrail malam itu akan bertamu ke ruang ICU. 

*

Di tangga rumah sakit Advent pukul 21.35 malam, aku terduduk sendiri, lemas, melongo, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi. Lorong gelap rumah sakit yang sepi dengan jejeran tabung gas tinggi yang terkesan suram, tak ada seorang pun di sana. Loket-loket kosong, hospital bed tak berpenghuni dan toilet yang terbuka pintunya. Normalnya mungkin aku akan takut duduk di situ sendirian. Tapi malam itu, hal yang paling aku takutkan dalam hidupku baru saja terjadi. Tidak ada ketakutan-ketakutan lain yang bisa menandingi. 

Wednesday, August 4, 2021

hardwork (does not) always pays off

Siapa yang merinding melihat kesuksesan Greysia Polii sama Apriyani? Aku! Siapa yang engga terharu lihat kisahnya yang jatuh bangun mulai dari Olympic di London dimana dia diskualifikasi dan dapat kartu hitam sampe akhirnya bisa dapat emas di Olympic Tokyo 2020? Sure it is a heartwarming story, inspiration, tapi pada faktanya engga semua kerja keras berbuah manis. 

Aku yakin banyak atlet bulutangkis yang even try harder than Polii or Apri, tapi ya engga kemana-kemana, di situ aja. Cerita-cerita yang jarang tersentuh, cerita-cerita yang jarang jadi headline, karena ya kurang menarik, kurang seksi, cerita kegagalan mana enak didengar? Cerita orang-orang yang santai aja ketika gagal adalah cerita yang paling susah dicari. Figur-figur terlupakan yang sebenarnya punya banyak kekuatan. 

Dan sekarang aku lagi nyari itu. 

Friday, November 8, 2019

tiga tahun di serpong lagoon

Well.. sudah hampir tiga tahun sejak beli rumah, saya baru sadar bahwa anggapan banyak orang yang bilang bahwa millenial ga sanggup beli rumah itu salah besar. 

Karena sesungguhnya yang benar adalah: Millenial ga sanggup beli rumah..... 

yang ada ruang tamunya. Hahahaha *laugh in poverty*

Ini beneran, rumah-rumah minimalis yang sekarang banyak dijual, rata-rata ya rumahnya beneran strategis alias deket banget bu kalau mau kemana-mana, ke kamar mandi deket, ke dapur deket. *garing

Satu ruangan beneran multifungsi, ya ruang keluarga, ya ruang tamu, ya ruang leyeh-leyeh. Sekarang saya baru sadar bahwa rumah yang punya ruang tamu itu mewah bener yaa hahaha.. 

Wednesday, October 10, 2018

tentang charlie hebdo dan khabib nurmagomedov: tidak ada seorang pun yang berhak untuk marah


Paris, 7 Januari 2015 gempar. Kantor sebuah majalah satire bernama Charlie Hebdo diserang dua penembak brutal. 12 orang meninggal dalam kejadian itu, apa pasal? Majalah Charlie Hebdo adalah majalah kontroversial yang kerap memuat kartun-kartun satir, laporan, polemik hingga lelucon. Media tersebut dikenal anti-agama dan sayap kiri. Terhitung sejak diterbitkan perdana di tahun 1969, entah sudah berapa kali Charlie Hebdo memasang kartun Nabi Muhammad sebagai covernya. Tak hanya Islam, tim redaksi Charlie Hebdo juga pernah mengejek Paus dan skandal seks di gereja. 

Sesaat setelah berita penembakan ini naik di berbagai media sosial. Aku termasuk yang mengamininya. Meski sebagian besar orang menentang tegas penembakan itu dengan memasang tagar #JeSuisCharlie (yang artinya I am Charlie), aku tidak sedikitpun ingin menyalahkan si penembak. Alasannya? Pertama, well.. sebenarnya aku pun tidak bisa dikategorikan muslimah yang taat, tapi realitanya, Charlie Hebdo sangat keterlaluan dan luar biasa menyebalkan. Kedua, sedari dulu, aku tidak pernah paham (baca: tidak setuju) dengan konsep Kebebasan Berekspresi. Konsep ini cenderung bias dan karena ehm.. aku adalah Sartre groupie (untuk pemahaman mengenai teori kebebasan Sartre, silakan gunakan Google). 

Tuesday, October 3, 2017

punya bayi, apa yang harus dibeli?



Ketika newbie belanja untuk si newborn.. 
Finally hit the 38 weeks! Woohooo! 

Karena sudah dekat waktunya bongkar muat, beberapa teman menyarankan saya untuk mulai mencicil membeli perlengkapan bayi. Apa saja? Banyak, gila. Terus apa sih yang pertama kali harus dibeli? 

JAWABNYA: SEPATU 

Tapi itu kalo saya. 
Dan saya adalah contoh yang salah. 
Jangan ditiru, ya. 
Uhm..
  

Tuesday, August 8, 2017

this time last year

Mulai kangen pelesir.. 

Tahun lalu, di tanggal segini, saya lagi rusuh banget. Dua minggu menjelang nikahan dan saya malah lagi asyik sendiri sama tim hockey saya di Johor, Malaysia. Sebenarnya sih kalau dipikir-pikir enggak asyik-asyik banget. Pertama, tiap turun main, saya kebat-kebit, takut ada bola atau stick kena muka. Ga lucu kan kalau muka saya lebam atau biru-biru pas jadi penganten? Takut disangka ini penganten belum-belum udah KDRT, kan kasian suami saya?

Kedua, tentunya MUKA AKU JELEQUE, HITAM DAN DEQIL, AH KEXAL LAAH! Ini beneran deh, ga sempet banget yang namanya treatment, luluran, pijat-pijat manja, ratus vagina apalah apalah... Di Johor pun, ada waktu luang bukannya pake buat perawatan, tetapi aku malah ke Johor Premium Outlet (JPO). Btw, aslik itu tempat heaven banget! Bukannya belanja lingerie buat malam pertama sama suami, tentunya saya malah beli dua set sports bra Adidas dan celana training. Aslik, murah bangeet! Udah lupa sih harga tepatnya, tapi hampir setengah harga di Indonesia. 

Thursday, June 15, 2017

ibu hamil naik krl

Udah pada tau ini? 

Si Shafira. Cewek yang ngomel di status Facebooknya perihal ngasi kursi ke ibu hamil? 

Kalau liat berita-beritanya sih, kayanya udah banyak banget netizen yang menanggapi alias ngebully si Shafira di kolom komentar statusnya. Facebooknya sendiri saat ini sudah deactivate, mungkin doi stress nanggepin makian para netizen Indo yang ganas luar biasa. 

Tapi ya gaes, sebenarnya kalau kita maki-maki si Shafira itu apa untungnya, sih? Truth is, dia ga akan berubah kok meski dimaki-maki. Ya mungkin berubah sih, mungkin dia akan lebih bijak dan berhati-hati di medsos, tapi kan pointnya bukan itu? Pointnya adalah gimana cara mengubah pandangan dia tentang adab memberikan kursi untuk yang lebih membutuhkan. 

Oleh karena itu.. saya sih sebagai ukhtie-sholeha-wannabe memilih untuk ga memaki-memaki dia. Apalagi di bulan Ramadan kaya gini. Dosa, lho ngebully orang. Ga deh, saya ga akan ikut komen di statusnya dengan kata-kata makian. Saya lebih pilih untuk mendoakan dia dalam hati saja. Ya Allah, semoga kelak dia hamil kembar lima, naik KRL, ga dapet tempat duduk, lalu kakinya kram, lalu tiap 10 menit pingin pipis, dan pas lagi kebelet pipis banget, perjalanan masih jauh, dan bayi di dalem perut malah ikut nendang-nendang kandung kemih lu! Rasaaainnnn, lu, monyeeet! 

Tuesday, October 20, 2015

nonton bola untuk pemula

Hari minggu kemarin saya nonton grand final Piala Presiden di Gelora Bung Karno (GBK). Jujurnya, saya bukan penggemar berat Persib, I don’t even like bobotoh, tapi cuma karena ada tawaran tiket, saya dengan murahnya langsung bilang, “Oke deh, ikut” hahaha.. Saya tidak bawa kamera karena saya takut ribet dan kemudian saya agak menyesal huhu.. I should've brought my wide lense. Ahh... sayang sekali.  

Ini pengalaman pertama saya nonton Persib langsung di GBK, pas final pula. Saya bukan orang yang suka keramaian, nonton konser aja males, apalagi nonton final bola yang supporternya sudah bisa dipastikan mencapai puluhan ribu. Dan yang lebih seru lagi (eh, kok seru ya?) supporter Persib dan supporter Persija ini punya unfinished business kalo bahasa kerennya. Mirip mantan gengsian yang masih pengen balikan;  kalo ketemu berantem muluk, kalo ga ketemu? Dicariin muluk. Padahal pertandingan final ini bukan antara Persib vs Persija, tapi Persib vs Sriwijaya FC. Aneh kan? “Kalau ga tau soal rifalitas kita, ga usah banyak omong.” Komentar salah seorang anggota Jakmania yang saya baca di media sosial. Rifalitas, pake f. Jadi, ya sudahlah, tidak usah didebat. :))

Thursday, July 30, 2015

selfie dan memento mori

It is such a good day.. But you're too busy. Collecting memories, on your smartphone. 

Dulu sekali, lupa tepatnya, saya pernah baca quote dari Robert Frank, isinya kira-kira begini, "There are too many images, too many camera now. It gets sillier and sillier. As if all action is meaningful. Nothing is really all that special. It's just life. If all moments are recorded, then nothing is beautiful." 

Kasarnya sih, Kakek Frank mungkin mau bilang, "Gila lu semua, selfie wefie muluk, ga bosen apa liat muka lu sendiri?" uhm. Mungkin bukan begitu juga maksudnya. Intinya adalah apa mungkin kita semua terlalu terobsesi dengan media perekam? Kita takut sekali kehilangan moment, kita takut tidak bisa mengingat kembali hal-hal yang pernah kita lalui, kita takut tidak bisa melihat lagi hal-hal yang kita lihat saat ini? Tapi menyimak pernyataan Kakek Frank, saya merasakan sendiri apa yang dia bilang. 

Dulu sekali kamera SLR pertama saya adalah Nikon FM10. Lagi giat-giatnya belajar fotografi, belajar atur diafragma, masih ga pede motret tanpa light meter, semua orang saya foto, disuruh pose, sampai gigi mereka kering, giliran dicetak,  foto yang gagal hampir satu rol, DANG! Kemudian datanglah serangan digital. Seperti layaknya ABG yang hijrah dari naik sepeda ke naik motor, rasanya girang bukan main, inginnya kebut-kebutan dan pergi ke tempat yang jauh. Well, me too. Ketika pertama kali punya kamera  SLR digital, rasanya ingin mengeksplore berbagai macam object. Hampir tiap weekend saya berangkat hunting foto; portrait, landscape, dan tentu saja... MUKA SAYA SENDIRI, man.. foto muka sendiri itu kok rasanya senang betul, ya?  

Tapi kemudian waktu berlalu, sekarang saya punya Canon G12, Nikon D90 dan action cam Go Pro. Oh ya plus ditambah kamera smartphone yang lumayan mumpuni untuk selfie dengan perubahan hasil foto yang super instan (baca: kulit langsung mulus kaya artis korea).  Harusnya saya makin semangat dong ya, foto-foto? Eh, engga tuh. Malah makin malas. -___-  

Sekarang ini saya malah bawa kamera cuma ketika sedang travelling saja. Pun yang saya bawa hanya G12 atau GoPro. Ketika travelling pun, kadang saya malas keluarin kamera, cuma karena kebutuhan posting di Instagram atau blog post aja buat pamer sama orang-orang teman-teman saya yang heboh, "foto dong Luh, foto dong!" Padahal dulu saya termasuk orang yang kemana-mana selalu ada kamera di tas saya, its like my important gun, seriously, can't leave home without it. 

Omong-omong soal betapa adiktifnya manusia saat ini pada kamera, saya kok jadi inget post mortem photography. Ada satu masa dimana foto adalah sebuah barang yang sangat mewah. Di abad 19 sampai ke awal abad 20, the morbid era, sangking mewahnya fotografi, banyak orang hanya menggunakan jasa fotografer untuk hal-hal yang betul-betul penting seperti kejadian yang hanya terjadi sekali dalam hidup, misalnya... kematian. Yaa atau mungkin semacam memento mori, ya? Jadi, karena pada saat itu tingkat kematian sangat tinggi, banyak orang memotret anggota keluarga mereka yang meninggal tapi dalam pose seakan-akan orang itu masih hidup. Mereka mendandani jenazah dan memfoto jenazah dengan berbagai properti yang mengesankan orang itu sedang beraktifitas layaknya orang hidup. 

The only daughter that got sick and died. Ga kaya jenazah ya yang tengah? What do yo think?
Plus properti mainan kesayangan waktu si bocah masih hidup 
Mother and Daughter 
Family Portrait 
Yang dibelakang warna hitam itu apa, ya? Makin ngeri ga sih liatnya? -___-
Yang sebelah kiri udah pasti jenazah, yang kanan agak meragukan. Tapi sepengamatan saya sih pose jenazah di post mortem photo banyak yang tangannya tertekuk semacam tangan anak yang kanan, atau berpose seperti sedang memegang sesuatu. 
Nah kira-kira kayak gini pose tangannya. (Note: yang tengah itu jenazah dan matanya sebenarnya tertutup tapi lalu digambar pupil mata agar terlihat 'hidup')  

The newlywed
The broken heart fathers. (kiri: anaknya meninggal karena sakit keras. Kanan: anaknya down syndrome)
Oh and you do realize they also standing and pose like a living creature right? 

here's the secret! 

Photo source: maafkan saya lupa karena koleksi foto-foto ini sudah tersimpan lama di laptop saya. Haha, aneh ya simpan-simpan foto kaya gini? Eiymm. I do know its creepy, but somehow i feel that these photos are so powerful. Hehe.. I just think its really historical, the mourning through real photography with a total melancholy objects. You could sense their grieve just by looking at it. Tapi kemudian saya mikir... ngapain ya upload foto-foto creepy ini di sini? Dipikir-pikir kok jadi ngeri juga tiap buka blog ada foto ini? Tapi ya udah lah ya, capek juga udah nulis panjang lebar terus dihapus, ini kan ceritanya sharing pengetahuan kalian bagi yang belum tahu. :-P Nah, terus kalian ngeh ga kalau lihat foto-foto dari tahun 1900an itu rata-rata mereka jarang tersenyum? Cenderung dingin malah. Nah, coba deh dipikir-pikir lagi, yang kalian liatin itu foto jenazah atau orang hidup? Hihi.. 

***

Sunday, July 5, 2015

puasa dan hal-hal aneh tentangnya

Pacarku pernah bilang, “Semua makanan itu semua rasanya sama saja -- ketika sampai di perut. Yang membedakan cuma ketika si makanan berada di lidah dan itu -- tokh cuma sebentar saja.”

Itu logikanya. Tapi ketika kamu bekerja di sebuah perusahaan yang mayoritasnya tidak berpuasa di bulan Ramadhan, ditambah efek berpuasa yang mendorong tingkat sensititivitas hidungmu naik jadi dua kali lebih tajam, bahkan kadang empat kali lebih tajam, rasanya aku ingin melakukan apa saja demi mencicipi kwetiaw goreng dengan daging ayam yang yang sedang dilahap dengan nikmat oleh teman kerjaku di siang hari yang terik di Jakarta.

Maka ini menjadi suatu hal yang tidak aneh, kau tahu apa yang biasanya dilakukan kaum yang berpuasa pada bulan Ramadhan? Mereka menyiapkan sebuah pembalasan dendam yang kejam. Tepat pukul empat sore hingga menjelang matahari tenggelam, mereka berbondong-bondong membeli makanan yang sangat banyak; takjil, minuman dengan kadar gula yang sangat tinggi, buah-buahan segar, atau gorengan kering yang gurih hasil racikan minyak jelantah yang lebih hitam dari pantat panci di dapur Ibu saya. “Untuk buka puasa, nih,” tutur mereka dengan wajah sumringah. Mungkin mereka girang karena sudah sore, sebentar lagi adzan, dan mereka merasa menang.

Aku juga begitu. Pukul setengah lima sore selepasku bekerja, aku dengan bernafsu setengah berlari ke gedung di seberang kantorku. Aku mau membeli jus segar dengan harga 3 kali lipat dari jus yang biasa dijual di depan minimarket kecil dekat tempatku tinggal. Pilihanku selalu jatuh di jus strawberry. Meski porsinya sebenarnya sangat banyak dan aku – tidak pernah sanggup menghabiskan jus ini sendirian, tapi siapa peduli? Yang penting aku harus membalaskan dendam kesumat dari lidahku yang harus menelan ludah siang tadi karena kelakuan teman kantorku yang tak berpuasa.

Oh ya, asal kau tahu sebelumnya tadi aku pun melewati toko pastry yang cukup terkenal. Ketika aku lewat, baunya menguar di udara, tentu aku pun tidak melewatkan kesempatan itu. Aku membeli dua potong croissant keju dan coklat yang nampak sangat nikmat. Oh ya, sebelumnya aku juga menyempatkan diri untuk mampir membeli singkong goreng yang dijual di depan kantorku. Membayangkan singkong ini melewati tenggorokanku saja rasanya perutku sudah berteriak minta makan dengan jahanam.

Pukul lima lewat lima puluh. Para muazzin mulai bersiap check sound untuk mengumandangkan suara yang ditunggu puluhan ribu manusia yang telah duduk dengan manis menanti di dekat meja makan mereka. Aku juga begitu. Air putih, teh manis, oh ya tadi aku juga beli es buah, lalu jus strawberry kesukaanku itu, dua potong pastry, dan singkong goreng. Main course? Belum aku beli, tapi aku sudah terpikir sate kambing Bang Burhan yang dagingnya empuk dengan bumbu kecap bertabur cabe rawit. Ahh.. itu pasti enak. 

Adzan tiba. Hap! Hampir setengah gelas air putih sudah kuhabiskan untuk mengucapkan salam pada lambungku yang kosong nyaris 12 jam. Disusul dua buah singkong goreng yang kukunyah dengan beringas. Enak. Lalu kusikat es buah dengan potongan melon dan timun suri. Tapi hanya dalam hitungan menit, belum juga habis satu mangkuk es buah, rasa nikmat itu tahu-tahu sirna. 

Lidahku mulai terasa hambar dan perutku mulai terasa sangat penuh. Sungguh, aku merasa lidahku sendiri mengkhianatiku. Kemana pula sensasi kesegaran ketika es buah itu menyentuh kerongkonganku? Tidak ada. Sungguh brengsek. Rasa lapar, haus, nafsu yang begitu menggelora di satu jam yang lalu hilang sudah cuma karena air putih dan dua buah singkong goreng. Jus strawberry yang kubeli dengan setengah berlari itu bahkan belum sempat kusentuh. Betul-betul sialan tapi kupikir-pikir juga lucu. Kadang kita begitu menginginkan ini dan itu dan ini dan itu, nyatanya ketika kita berhasil mendapatkanya, rasanya tak enak-enak amat. Ketika terlalu banyak, rasa nikmat itu menguap. 

Hampir pukul enam lebih tiga puluh malam. Orang-orang bersiap untuk menunaikan kewajiban shalat maghrib, sebagian lagi langsung menuju masjid untuk melanjutkan Isya dan tarawih dengan wajah yang sumringah. Mungkin mereka merasa menang karena telah berhasil berpuasa hingga maghrib berkumandang. Aku juga. Bedanya, mengapa aku merasa kalah? Pukul lima sore tadi, selepasku bekerja dan dengan sangat bernafsu setengah berlari ke gedung sebelah, aku baru tersadar -- perutku memang tetap kosong, tapi puasaku selesai sudah.

So, if Ramadhan has taught us that our body doesn’t need that much food to survive, then why are we always celebrating Ied with festive - super excessive - food galore? 

Why? 

***

Monday, June 1, 2015

tentang si mpok yang tak sempat kutanya siapa namanya

"Laughing at yourself is a good thing to do. You may be the fool, but you're the fool in charge."  C. Reiner 

Minggu siang, aku terbangun dengan perut kelaparan. Aku mengintip ke dalam lemari tempat menyimpan logistik. Tidak ada satupun yang siap saji. Mau tak mau aku harus keluar, membeli makanan. Tanpa mandi dan berbaju piyama yang lusuh, aku melangkahkan kaki keluar dengan mata menyipit diterpa matahari Jakarta yang sengit. Jakarta Selatan, tempatku tinggal selama hampir dua tahun ini sepi sekali di hari minggu. Warung langganan yang menjual ayam bakar kesukaanku itu tutup. Si pemilik juga mungkin sedang ingin berlibur. Kulirik warung yang menjual kwetiaw goreng gurih yang biasa kubeli untuk makan malam. Tidak buka juga. 

Aku berjalan kaki hingga langkahku terhenti di sebuah warung Indomie. Minggu adalah hari MSG, mau tak mau. Sungguh aku malas sekali mencari tempat makan yang buka dan bisa kutempuh dengan berjalan kaki. Aku lalu masuk dengan pikiran yang bimbang harus memutuskan; antara indomie goreng atau indomie rebus lengkap dengan sawi segar dan telur setengah matang. Warungnya sepi, kebetulan saat itu pengunjungnya hanya aku. Penjualnya seorang ibu-ibu, kutaksir umurnya empat puluh sekian, dia menyapaku dengan ramah. Aku duduk dan memesan dengan mantap, "Mie rebus pakai telor, Mpok, setengah matang."

Dia dengan sigap menyiapkan makanan yang kupesan. Namun kuperhatikan, sesekali matanya menatap ke luar, menyelidik, seperti sedang mengamata-matai sesuatu, lalu dia seperti bergumam sesuatu hal yang tak kutangkap jelas maksudnya. "Kenapa, Mpok?" tanyaku dengan kadar kekepoan yang naik 50 %, pandanganku mengikuti arah mata si Ibu. 

"Noh.. anak saya, tapi dari istri bapak yang kedua," agak bisik-bisik beliau bercerita padaku. "Kayaknya mu minta uang. Kemaren minta, sekarang minta. Minta uang terosss," tambahnya. Masih dengan volume bisik-bisik. 

"Dari Istri bapak yang kedua? Emangnya, Mpok yang pertama? Apa ketiga?" selidikku dengan alis yang sedikit naik. 

"Enak aja, saya nihh yang pertama, taun lalu bapak kawin lagi sama janda, anaknya dua, udah gede dua-duanya, noh yang satu yang itu noh, yang minta duit mulu. Emaknya kemana tau dahh," dia menuturkan sembari memotong sawi, logatnya antara campuran Tegal dan Betawi.

"Kok dikasih kawin lagi, Mpok? Emang dari Mpok ga dapet anak?" tanyaku lagi. 

"Wehhhh.. dari saya anak udah empat, Mbak, itu juga ga keurus, katanya udah cinta sama si janda. Daripada zina. Kalau saya ga mau, nanti saya dicerai, ya gimana yaa, abisnya saya udah gendut ga keruan gini hahahaa, kalau si janda itu beuhh....hahahaa," dia menjawab sambil membentuk bayangan postur tubuh seorang perempuan seksi dengan kedua tangannya. 

Tertawa. 
Dia tertawa. 

Teh tawar yang kupesan ini tiba-tiba terasa sangat pahit di kerongkonganku. Tapi cerita Ibu ini lebih pahit. Dia mengenakan daster agak kebesaran yang lima kali lebih kusam daripada piyamaku. Rambutnya berantakan, diikat buntut kuda dengan seenaknya. Dia memang agak kelebihan berat badan, tapi rasanya tak gendut-gendut amat. Kulitnya hitam dan penuh gurat-gurat, entah kelelahan atau karena tidak pernah memakai pelembab. Aku terus terang tidak bisa menyebutnya cantik, tapi dia juga tidak jelek-jelek amat untuk ukuran seorang ibu beranak empat. Sesaat matanya berkaca ketika membicarakan suaminya, lalu setengah detik kemudian tertawa ketika membicarakan berat badannya. Ibu ini aneh. 

"Terus sekarang bapak tinggal dimana?" tanyaku lagi. 

"Sekarang lagi sering di si janda. Paling seminggu dua kali sama saya. Ahh itu juga udah seneng banget hihihihi..." dia tertawa seraya tersipu agak malu-malu. 

Tawanya lepas. Sungguh lepas. 

"Tapi bapak masih ngasih nafkah, gak?" naluri kewartawananku bergemuruh. 

"Ahh boro-boro, mbak, selama ini juga yang nyari duit saya. Kemaren bantu angkut-angkut brangkal di komplek, tapi sekarang udah engga. Kalo si janda jualan juga di pasar." 

Lalu wajahnya sedih lagi. Menunduk. 

"Trus kok Mpok masih mau aja sama Bapak? Emang ganteng apa?" 

"Hihihihi..ganteeeng laaah," lagi-lagi dia tersipu malu. "Lagian saya kan udah tua, sedih kalau dicerai bapak, hiiii.. ga mau saya Mbak, amit-amit, lagian saya cintanya sama bapak hahahaa.." lanjutnya, dia tertawa lagi. 

"Emang yang mana sih si Bapak? Ada di dalem?" aku mengangkat pantatku sedikit dari kursi, melongok ke dalam warungnya. Sungguh aku penasaran, seperti apa sosok sang Don Juan. 

"Ituuu noh.. yang lagi nongkrong di depan sambil ngeroko," dia menunjuk lelaki tua di luar warung yang sedang duduk di bangku kayu di pinggir jalan. 

Hampir saja mie rebus itu keluar dari mulutku. Hidungnya pesek, kulitnya hitam nyaris keriput, dan menurutku lagi, dia sama sekali tidak tampan. I repeat. Sama sekali tidak tampan. 

Aku menelan suapan terakhir mie rebusku. Lalu beringsut dari kursi. 

"Mpok..." panggilku. "Mudah-mudahan Bapak juga cinta mati sama Mpok yaa! Nih ambil aja kembaliannya," tuturku sembari mengeluarkan uang dua puluh ribu. 

Lagi-lagi dia tertawa, kali ini cekikikan, sepertinya bahagia betul dia. "Amieeenn, waahhh Mbak, beneran ini? Hihihii... Alhamdulillaaahhh, makasi mbakkk," hampir saja dia teriak sangking senangnya.

Pertama-tama kupikir Ibu ini aneh. Tapi setelah sendok mie terakhir habis kulahap, aku baru sadar dan berubah pikiran. Secara emosional, Ibu ini sangat cerdas. David Cohen dalam bukunya Humor, Irony and Self Detachment pernah menasbihkan; kemampuan manusia untuk menertawakan diri sendiri dapat dipandang sebagai kualitas manusiasi yang sangat baik. Dia memiliki kemampuan untuk memisahkan diri sendiri (self detachment) dan membedakan diri sebagai subjek (yang menertawakan) dan sebagai objek (yang ditertawakan) sekaligus. 

Mungkin karena terlalu sering menggunakan hati, lama-lama hati itu jadi kuat, lama-lama hati jadi terbiasa, lama-lama dia jadi perkasa, lalu dia menganggap semua hanya hal-hal biasa, remeh-temeh, kadang kita tertawa, kadang menelan duka, ya sudah saja, tidak apa-apa. Betapa sederhana. Dia menceritakan kisah hidupnya yang lebih mirip drama tragedi dengan cara komedi. Hebat betul perempuan itu. Aku memandang dengan tajam lelaki yang disebut si "Bapak" di seberang jalan, mengumpat dalam hati dengan berang, lalu berjalan pulang dengan perut kenyang. 

But then again, if you can't laugh at yourself, then what's the point of living, right? 

Right? 

***

Sunday, April 12, 2015

hujan minggu malam

Jakarta hujan deras. Minggu malam, hampir pukul delapan. Suami temanku bolak-balik mengajakku mengobrol dari luar kamar. Dia sedang resah. Istrinya -- yang juga sahabatku -- sedang dalam perjalanan ke Jakarta dengan pesawat yang membawanya dari Bali. 

"Dia sudah boarding tadi sekitar jam setengah 7," katanya. 
"Lalu belum ada kabar? Dia sudah landing apa belum?" 
"Teleponnya ga aktif.." 

Wajahnya nampak lesu. 

"Gw khawatir nih.." tambahnya lagi. 

Lalu kilat menyambar sangat keras sehingga kami berdua terkejut. 

"Astagfirullah.." dia merapal. Aku juga. 

Kami saling berpandangan. 

"Tenanglah, ujannya paling ujan lokal ini mah. Kemarin gw juga gitu. Di bandara ujan deras, eh.. sampai sini kering kerontang," tuturku mencoba menenangkan. 

Tak berhasil nampaknya. Dia masih bulak-balik dengan wajah resah. Aku kembali menekuni buku yang sedang kubaca. Lalu tak lama terdengar suara air dari keran, sedikit suara gaduh lalu hening. Sekitar 10 menit kemudian aku keluar. Kulirik ruangan sebelah. Suami sahabatku itu sedang duduk bersila diatas sajadah. Wajahnya menunduk. Dia sedang berdoa. Menunggu kabar dari istrinya yang tak jua tiba. Aku tersenyum, sedikit iri, tapi juga senang. 

Someone is praying for you, isn't that the sweetest thing? 
...

Wednesday, March 11, 2015

sebuah kisah tentang tembok

Di suatu siang yang tak cerah-cerah amat saya dan pacar saya bertengkar. Karena dia tinggal di Bandung dan saya di Jakarta, kami bertengkar via pesan teks. 

"Saya kesal," tulis saya. 
Lalu saya pencet tombol send. 

"Kelakuan kamu tu, bikin otak saya peot. Ngomelllllllll ajaaaaaa. Kamu pemarah," balasnya. 

Pertama, otak peot? Macam apa, tuh? Aneh sekali. Mungkin dia sedang stress, bisa dimaklumi, konon dia sedang banyak pekerjaan, dan saya sedang menstruasi hari pertama. Dia sedang sibuk, saya sedang sakit perut dan ingin mengamuk. Sungguh bukan perpaduan yang ciamik. Kedua, apa pula maksudnya menulis kata mengomel dengan tambahan huruf L yang sangat banyak? Dibilang pemarah pula. Maka dengan geram saya langsung mengetik di telepon genggam saya. 

"Ya memang, plg enak jd org bodo amat. Emang sy pemarah. Kalau mau yg ga pernah marah, pacaran aja sama tembok atau kerdus bekas. Makasih." 

Selanjutnya, dia membalas dengan rentetan kata-kata yang cukup panjang. Intinya dia mengatakan saya si keras kepala. Tapi kemudian saya jadi ingat, ternyata memang pernah ada orang yang berpacaran dengan tembok, bukan hanya berpacaran, dia bahkan menikah dengan tembok. 

Adalah Eija Rittaa Mauer, perempuan yang tinggal di utara Swedia dan menikah dengan tembok Berlin. Pada umur 7 tahun, dia melihat tembok Berlin di sebuah siaran televisi dan langsung jatuh cinta. Pada tahun 1979, Eija 'resmi' menikahi tembok Berlin dan bahkan mengganti namanya menjadi Eija Rittaa Berliner. Ketika ditanya mengapa tidak menikahi tembok Cina, jawabnya "Tembok Cina memang seksi, tapi suamiku lebih gagah dan atraktif." 

Eija dan 'suaminya'
Pernikahan ini berlangsung selama 10 tahun. Pada tahun 1989, seiring dengan runtuhnya Uni Soviet, tembok Berlin pun dihancurkan. Sejak saat itu Eija patah hati berkepanjangan. "Mereka memutilasi suamiku, betapa jahatnya," tuturnya. Dia rutin mengunjungi psikiater untuk menyembuhkan kesedihannya. Hingga akhirnya satu tahun kemudian, Eija berhasil move on dan berhasil menikah lagi.. dengan sebuah pagar kebun. 

Nah, jadi jika kamu sering merasa kesal dengan pasanganmu, atau sedih karena tak jua menemukan pasangan yang cocok, mungkin cara Eija bisa kamu tiru. Bisa dengan tiang listrik, gardu hansip, palang kereta api, atau las karbit. Terserah saja lah, mana yang menurutmu paling baik. 

*brb listening to Opick - Obat Hati 

***


Friday, January 23, 2015

what's left from 2014


1. Mendaki Gunung Salak 


Dua hari setelah lebaran, aku pergi ke Gunung Salak. Setelah hampir dua bulan tidak mendaki gunung, ternyata 'sakaw' juga. Ingin menghirup udara di ketinggian. Meski mendapat bonus omelan dari mama, permit 'nyawalan' di gunung akhir keluar juga. Gunung pendek dengan ketinggian 2.211 mdpl, nyatanya, tanjakannya semacam tanjakan aborsi semua. Haha. Dan jalurnya sungguh melingkar kesana-kesini bukan main panjangnya. :) 


Matahari terbit di Gunung Salak 
2. Mendaki Gunung Guntur 

Awal September aku mendaki Gunung Guntur. Setelah penasaran hampir dua bulan, akhirnya aku sampai juga kesini. Berangkat dari Jakarta naik bus Primajasa, aku tiba di Garut tengah malam buta. Menumpang tidur di pelataran SPBU dan mendaki keesokan paginya. Gunung ini cocok untuk pendaki pemula. Tanjakannya tidak terlalu brutal, pemandangannya indah, dan puncaknya.. oh seriously this is the best part, tanah di puncaknya, entah mengandung apa, yang jelas, tanahnya mengeluarkan panas, sehingga tidak dibutuhkan jacket hangat berlapis dua di puncak gunung ini. 

Sarapan di Puncak Gunung Guntur 

3. ... oh and I met this guy


Di akhir Maret, ketika aku akan mendaki Gunung Sumbing, aku berkenalan dengan seorang pria yang sungguh sok tahu dan menyebalkan di sebuah tempat perbelanjaan. Tujuan kami sama; Gunung Sumbing. Dari awal pertemuan, aku sudah merasa dia ini tipikal pria yang rewel dan menyusahkan, totally not my type,  but why on earth it turned out to be a different story? :))

Kota tua, Jakarta, Agustus 2014 
***


Thursday, November 13, 2014

catatan harian no delapan ratus tiga

Sudah dua hari ini aku kurang tidur. Pemusatan latihan sudah berjalan, alhasil, jadwal harianku berubah. Pagi dimulai dengan latihan pukul 04.30 pagi hingga pukul 06.30. Lalu aku harus berlari-lari keluar lapangan, mandi, dan bergegas ke kantor untuk menyelesaikan kewajiban sebagai pekerja kantoran. Selepas jam 5 sore, aku sudah harus kembali lagi ke lapangan untuk latihan hingga pukul 10.00 malam. Capek? Tidak terlalu. Mungkin karena sedari SMP aku sudah terbiasa masuk karantina. Tapi menjadi pekerja kantoran di tengah pemusatan latihan membuatku sering diserang kantuk yang tidak tertahan. 

Kala teman-teman lain sedang istirahat siang, aku masih harus berjibaku dengan pekerjaan kantor. Dan sialnya, aku kurang nyaman tidur di mess. Akhirnya solusi paling tepat adalah curi-curi waktu tidur siang di kostan. Oh kamar kesayangan, aku rela ngebut bulak-balik siang-siang demi tidur satu jam. Nah, dua hari terakhir ini, entah kenapa aku sulit tidur di malam hari. Hingga pukul satu aku masih belum bisa memejamkan mata. 

Pukul 22.00 telepon selularku mengeluarkan notifikasi. Seseorang dari masa lalu lalu muncul di layar. "Rindu," katanya. Hampir saja aku tersedak. "Haha." jawabku. Kuketik jawaban singkat agar tidak terjadi percakapan lanjutan. Lelaki memang lucu sekaligus menyebalkan. Dan pikiranku tiba-tiba meluncur ke dua tahun lalu. Kala aku sedang berada di titik terendah dalam hidupku. Yup, namanya fase patah hati. Haha. Dia datang dengan gelak tawa dan aku lumayan terpikat. Tapi entahlah, aku tiba-tiba terpikir untuk menyudahinya. Kupikir-pikir, apakah ada yang salah dengan kepalaku? Seorang teman mengirimkan pesan di messenger, "Hidup lo tuh berwarna ya, Luh. Tapi sayang warnanya item sama abu-abu." Sesaat setelah itu. Sign out. Temanku pergi. Aku tercenung. Ini yang paling aku benci. Resah dan gelisah di malam hari, lalu semua orang pergi meninggalkanku tidur. Dan aku.. masih disini. Di depan layar laptopku. Sendiri. 

... 

Sunday, November 9, 2014

bandung, sore ini

Dalam bukunya yang sanggup membuat saya tertidur dalam hitungan menit, Miriam Budiardjo pernah menuliskan, "Dalam kelompok, seseorang akan cenderung kehilangan identitasnya." Seperti yang saya lihat sore ini di kota Bandung. Ratusan manusia memenuhi jalan raya, berlagak juara, dan seenaknya. Semuanya atas dasar satu kepemilikan yang sama. Persib juara, begitu katanya. Dan lalu, mereka semua menyeragamkan identitasnya, saya rasa hampir 90% dari mereka memakai warna yang sama; biru. Warna seragam kebesaran tim sepak bola kebanggaan mereka. 

Mereka bertelanjang dada, memblokade ruang publik yang seharusnya digunakan bersama, kemeriahan yang begitu pongah dan membabi-buta, lalu memaki siapa saja yang tak setuju dengannya. Adalah suatu hal yang mengerikan ketika manusia tak lagi punya rasa sungkan, setidaknya saya pikir, itulah satu dari sedikit hal yang membedakanku dengan binatang. 

Namun di sisi lain, adalah hal yang mengagumkan melihat betapa mudahnya untuk mempersatukan begitu banyak manusia dalam satu suara. Betapa kuatnya gelombang mencinta atas dasar sebuah piala. "Bebaskeun!", teriaknya keras, propaganda yang dilontarkan dengan nada penuh sarkas. Mungkin dia belum pernah membaca tulisan Sartre tentang teori kebebasan yang mematikan. Tapi bukan pesta meriah itu yang membuat saya resah, tapi pemandangan itu; wajah-wajah sumringah yang melontar sumpah serapah tanpa paham benar seberapa banyak manusia yang dirugikan oleh ulahnya.

...

Monday, September 8, 2014

Sunday, June 29, 2014

pulang ke bandung

Home is where you are loved the most and act the worst. 


right?

***