Wednesday, October 16, 2013

setelah amuk reda



Ibuku protes. "Sering-sering amat ke gunung," katanya. Dia masih tidak terima dengan alasan saya, "Supaya waras, Ma" menurutnya justru orang yang ke gunung itu adalah orang-orang waras yang menjadi tidak waras. Yang banyak orang tidak pahami, mungkin, ke gunung untuk saya adalah untuk membuat segala sesuatunya menjadi sederhana. Kepala saya ini, kadang isinya terlalu banyak kutu busuk.

Bau asap knalpot Damri yang khas serta bau keringat calo kepanasan bercampur garam filter menyambutku malam itu di terminal dua bandara Soekarno Hatta. Ada dua kota yang akan kusambangi minggu ini. Pertama, Medan, untuk urusan pekerjaan, lalu secepatnya kembali ke Jakarta dan berputar haluan ke Yogyakarta. Aku sudah punya janji dengan Merapi minggu ini. 

Kulihat messengermu melulu online. Senang ya berbalas-balasan pesan dengan perempuan yang kau suka? Apakah kau sibuk? karena aku juga, bedanya, aku masih sempat mengecek apa kau masih hidup atau tidak. Namun dengan semangat empat lima, aku masih juga bergegas mengejar pagi di Yogyakarta. Tas kerjaku sudah berganti dengan carrier yang baru kubeli minggu lalu. Berat, tapi aku memanggulnya dengan riang. 

Jumat yang terlalu cepat. Aku tiba di Yogyakarta ketika matahari sudah hampir saja pulang ke rumahnya. Perutku bergejolak, menandingi mas-mas Jawa yang tergelak-gelak oleh bahasa yang tak kupahami maknanya. Kota ini hangat. Sama seperti semangkuk soto yang kupesan lengkap dengan telur asinnya. Malam ini aku harus kuat. 

Pukul dua pagi, aku baru tiba di gerbang Merapi. Langit pekat menangkup Merapi, si ancala yang rupawan, terpaksa kurusak dengan sorotan lampu yang kutaruh di atas kepalaku. Dari tujuh orang yang mendaki bersamaku, dua orang harus gugur sebelum bertanding. Pacarnya muntah-muntah di sepuluh menit pertama pendakian. Dua jam setelah pendakian, giliran seorang teman lagi yang wajahnya memucat. "Aku lihat penampakan," katanya. Komat-kamit aku tiba-tiba menjadi soleh, doa terus kurapal dalam hati.

Aku heran. Setiap mereka yang mengatakan gunung adalah tempatnya para makhluk gaib, dipikiranku, pastilah yang gaib-gaib itu malaikat. Bukankah kitab menceritakan mereka senang bermukim di tempat yang indah-indah? Lalu mengapa temanku mengatakan sebaliknya?

Pukul lima pagi, satu orang teman tumbang lagi sebelum mencapai Pasar Bubrah. Pos terakhir sebelum puncak. Satu orang lagi akhirnya menemani yang tumbang, alhasil tinggal saya dan dua orang lagi yang melanjutkan perjalanan ke puncak. Matahari tiba-tiba muncul sebelum protokolernya menebarkan jala keperakan di garis horizon yang melepas, luas. Kukebut kakiku, aku harus segera tiba di Bubrah. Merbabu yang anggun terus membayangiku di belakang, savananya menatap, nyalang. Bubrah, sebentar lagi. 

Aku butuh hampir satu jam untuk tiba di Puncak setelah Bubrah. Lelah, sumpah. Matahari sudah tinggi, tapi tak masalah. Kedatangannya di Bubrah sudah cukup indah. Vegetasi seketika lenyap, lanskap bebatuan menyergap. Kerikil-kerikil kecil mempermainkan pijakanku. Pasir-pasir berwarna abu terus-menerus menggelincir seperti arus, siap menumbangkan mereka yang hasratnya tak konstan. 

Baru kusadari, bahkan kakiku sendiri tak bisa kupercayai. Betapa mudahnya untuk tak percaya diri, betapa mudahnya untuk merutuk dalam hati. Disini tak ada yang sintetis, tak ada satupun yang buatan manusia, apalagi buatan Cina. Semua berupa pahatan murni yang tergores begitu sejati.Tungkai kakiku mengendur, nafasku tak teratur. Betapa gampang untuk patah arang, lunglai,lalu berbalik arah pulang. Untungnya naluriku tidak mengatakan demikian.

Ini dia gunung yang meletus dua kali dalam lima tahun. Salah satu bad ass mountain yang amukannya membuat banyak orang resah. Markas besar Panembahan Senopati yang membuat Berthomier, seorang ahli geologi Perancis, mati penasaran. Puncak Garuda pun terbang sudah, setelah berkali-kali dia menggelegar, penuh marah. Tidak seperti yang dikoar-koarkan para kuli surat kabar, Merapi sebetulnya tidak pernah mengeluarkan ledakan, dia hanya mendesis. Meski demikian amunisinya sangat mematikan. Dari atas puncaknya kulihat kawahnya yang hijau kelam, mengaggumkan sekaligus mengerikan. Hari ini, dia nampak tenang, seperti mempersilakanku untuk menaiki kepalanya yang curam. Satu demi satu, batu demi batu. Nafasku menggeram, kelelahan, kakiku terasa kencang. Ini pasti salah satu tempat kesukaan Tuhan. Siapapun yang berada di atas sini sudah seharusnya bersyukur pada kehidupan.