Thursday, February 17, 2011

Something About 'Nenah'

Ini cerita tentang Bi Nenah. Pembantu yang sudah hampir 4 tahun ini kerja di rumah saya. Membereskan rumah, memasak, sampai kadang saya suka meminta dia membantu saya mengepak barang dagangan. Semua bisa dia kerjakan... dan selalu memuaskan. Rumah selalu rapih, masakan dia pun lebih enak dari buatan Ibu saya, dan dia jujur. Itu point utamanya.

Mulai dari kalung emas Ibu saya yang tak sengaja terjatuh di lantai kamar sampai uang receh yang tertinggal di saku celana jeans saya yang hendak dicuci olehnya, semua dia kembalikan, utuh. Tidak kurang seratus perak pun. Bagi keluarga saya, mendapat pembantu yang jujur sama rasanya seperti mendapatkan 'jackpot' miliaran rupiah. Maklum saja, keluarga saya hampir semuanya bisa dikatakan 'jorok'.

Menaruh uang sembarang bukan hal aneh. Uang seratus ribu berlembar-lembar dengan cueknya ditaruh saja di ruang tengah oleh Bapak saya. Dompet saya juga seringnya bergelatakan di mana-mana. Ada tukang koran menagih uang, Ibu saya keluar membawa dompetnya, lalu.. taruh saja entah dimana itu dompet. Yaah.. beginilah keadaan rumah saya. Pembantu yang berniat menguras habis harta benda kami pastinya akan sangat mudah. Untung saja Bi Nenah orangnya jujur..

Bukan hanya dalam uang saja. Bi Nenah ini orangnya juga cerdas dan tahu betul barang-barang yang mahal atau cukup berharga. Setiap saya pergi meninggalkan kamar dengan laptop, kamera dan lensa yang berserakan di penjuru kamar, ketika saya pulang, dia akan membereskan kamar saya dan menaruh barang-barang itu di tempat-tempat yang tidak bisa dilihat orang asing yang masuk ke kamar saya. Cerdas, ya? Dia akan hati-hati sekali ketika membereskan gitar saya dan menaruhnya perlahan-lahan. Melihat lemari orang tua saya yang lupa tidak dikunci dia akan berinsiatif menguncinya dan segera mengingatkan orang tua saya.

Sekitar tiga bulan yang lalu, jari telunjuk Bi Nenah kemasukan serat kayu. Kalau orang sunda menyebutnya "kasura". Lalu dia mengorek jarinya sendiri dengan jarum yang dibakar terlebih dahulu. Katanya sih, serat kayunya sudah keluar. Tapi tak lama kemudian jarinya bernanah dan membengkak. Merasa penyakitnya ringan saja dan tidak akan berakibat fatal, Bi Nenah diam saja. Tidak mengeluh atau bercerita ke siapa-siapa.

Kami pun tidak ada yang tahu soal jari telunjuk Bi Nenah ini. Sampai tiga hari yang lalu, dia mengeluh panas dingin dan jari telunjuknya tahu-tahu sudah menghitam dan berlumur nanah, Ibu saya langsung membawa dia ke dokter. Kaget sekali kami sewaktu dokter mengatakan, jari telunjuk Bi Nenah sudah membusuk dan harus dipotong, sel-sel dan syaraf di telunjuknya sudah tidak berfungsi lagi dan harus segera dioperasi.

Dang!
Keluarga Bi Nenah saat itu langsung heboh. Mereka mendatangi Ibu saya dan meminta maaf karena telah merepotkan Ibu saya, lalu mereka membicarakan soal biaya operasi yang cukup lumayan. Ibu saya menyanggupi untuk membayar biaya operasi, dan mereka terus-terusan mengatakan terima kasih dan berdoa untuk Ibu saya, "sing kagentosan ku gusti Allah ya bu.."

Saat itu saya cuma diam saja. Mereka sibuk berdoa dan mengucapkan terima kasih buat Ibu saya, lalu apa kabarnya Bi Nenah? She's the one who's gonna loose her forefinger. Arent we supposed to pray for her? Lalu saya lihat muka Bi Nenah. Wow. Sorry but i really gotta say this one. WOW. She looks OKAY. Calm and fatefully.

Satu jari diamputasi. What would you do if you were her?
Here i made a list, of what forefinger can do.
1. Untuk memarahi orang..
2. atau untuk menunjukan arah.
3. Akan sulit sekali bermain gitar atau piano
4. Akan sulit sekali memencet tombol telepon genggam
5. Memencet tombol kamera
6. Memencet tombol bel pintu rumah
7. atau.. menggunakan mouse komputer.
8. mengetik 10 jari?
9. You cant count to 10 with your fingers!
10. ?? See??

I made this list on 3 minutes, i couldve make it longer in 10 minutes. But that'll be a loongg list!! Kok dia bisa terlihat tenang-tenang saja ya?

Now here's something i learnt today. Whatever your shit is, that's just shit, friend! There are people who struggling for life, braver than we are.

Bi Nenah tak punya uang sebanyak itu untuk operasi, yang dia pikirkan di kepalanya dan keluarganya adalah, bagaimana caranya sembuh dan mendapat uang untuk operasi. Masalah hilang telunjuk atau tidak itu urusan belakang. Ada point yang lebih dipikirkan, ada point yang lebih penting. She's really brave. Untuk urusan cengeng dan melankoli, tidak ada jatahnya untuk Bi Nenah.

At some point, saya berpikir, orang-orang seperti ini Bi Nenah ini lebih punya nyali menghadapi hidup daripada kita. Betapa manja dan lembeknya orang-orang seperti saya yang menangis cuma gara-gara diputuskan oleh pacar lalu galau berlama-lama. Mendadak bad mood dan frustasi ketika thesis diam di tempat.

OH, THIS IS LIFE, LIVE IT!

Sometimes, you dont need Mahatma Gandhi, or Monroe or.. even Mother Theresa to inspire your life, you just need to look closer to all the people around you. Look closer and you'll see, life is a shit but they live happily.

I want to be strong just like her.
Dia.. yang mungkin ga tahu thesis itu apa.
Yang kuliah saja tidak pernah.
Dia yang pekerjaanya hanya membereskan rumah setiap hari.
She, that never been to school.
Turns out that she's smarter and more logical than me in facing life.

Ok. Tuhan, Saya malu sekali hari ini..

No comments:

Post a Comment