Tuesday, March 21, 2017

tentang menjadi stay at home mom

Pada suatu malam, dalam sebuah pillow talk, saya dan suami membicarakan masalah keuangan terkait biaya renovasi rumah. 

"Oh ya, sekarang kita juga harus membangun kamar pembantu.." kata saya.
"Buat apa?"
"Ya nanti kalau aku sudah melahirkan, kita harus hire pembantu untuk jaga anak, atau ya opsi lain kita titipin di day care."

Lalu suami saya diam. Saya juga diam. Lalu beberapa detik kemudian, dia bilang sesuatu yang cukup membuat saya kaget. 
"Bagusnya sih ya anak yang urus ya ibunya.. bukan pembantu.." 
Saya menelan ludah.


Saat ini saya sedang hamil tiga bulan. Saya paham betul maksud suami saya. Kalimat singkat, padat yang dibuat untuk menyindir saya. Ide tentang saya menjadi stay at home mom terus terang membuat saya ketakutan. Sejak masih kuliah saya sudah terbiasa kerja mencari uang. Alasannya sederhana saja. Saya bukan cucu keluarga Cendana dan saya suka jajan tiket. Dua fakta yang tak saling mendukung secara finansial. Tiket di sini maksudnya adalah tiket pesawat atau tiket kereta, atau tiket kemana saja yang penting jalan-jalan. Ya, saya suka jajan dan jalan-jalan.

Hobi menyebalkan ini yang membuat saya mau tak mau harus giat mencari uang sendiri. Jaman saya masih kuliah dulu, i paid for my trip to Singapore, Thailand, Vietnam, Hong Kong, Macau, etc, with my own money. Bangga? Iya dong. Duit hasil keringet sendiri, nih! Saat yang lain merengek-rengek minta duit buat liburan kuliah ke ibu bapaknya, saya sih cuma ngerengek-rengek minta izin aja, duitnya udah punya sendiri. Itu pun kadang ga diizinin saya tetap pergi. #anakdurhaka. Tapi seriusan, punya duit sendiri itu asik. So liberating. 

Di sisi lain, tentu saya bukan mau meremehkan kemampuan finansial suami, apalagi menolak rejeki bisa leyeh-leyeh tanpa perlu bekerja di kantor, tapi membayangkan wacana bahwa nanti saya tak punya uang sendiri cukup membuat saya bergidik. Suami saya memang tak pernah absen menyetorkan penghasilannya untuk menafkahi saya. Pun saya tak bermaksud menyinggung atau merendahkan perempuan dengan profesi Ibu Rumah Tangga. Tapi punya uang sendiri itu sensasinya berbeda. Membeli sesuatu tanpa harus meminta uang ke orang lain atau tanpa harus meminta izin untuk membeli sesuatu itu rasanya sangat menyenangkan. Seperti punya kekuasaan dan kekuatan yang tak bisa diganggu-gugat. Hasil keringat saya, hak saya. Its my own territory. I feel safe. That's all. 

Anehnya, saat saya curhat sama bapak saya tentang menjadi stay at home mom dalam rangka mencari dukungan, bapak saya malah mengamini komentar suami saya. Bapak saya, orang yang kayanya lebih semangat liat saya sekolah lagi daripada kawin buru-buru. Orang yang nyekolahin ibu saya sampai jadi Doktor. Eh, ternyata dia juga lebih senang kalau perempuan tuh ya ga usah kerja di kantor, lebih baik di rumah saja. 

Honestly, saya bukan orang yang terlalu ambisius dalam berkarir. Tapi seperti saya jelaskan di atas, saya hanya suka memiliki penghasilan sendiri. Lantas, bagaimana nanti ketika saya melahirkan? Karena ini anak pertama, saya belum tahu bagaimana harus bersikap. Saya belum tahu apakah saya akan tega meninggalkan dia di rumah dengan pembantu? Atau justru saya malah lega karena at least, i could do something i really like for a few hours other than just being a mother? Saya ga mau jadi ibu yang kebosanan setiap hari di rumah, lalu mengunggah foto anak di media sosial secara berkala setiap dua jam. Atau ibu-ibu yang rajin bergosip sambil menunggu anaknya pulang di kantin sekolah. Yang jelas, dari kecil saya bukan orang yang senang diam di rumah. 

But i don't know, i heard they said people change, right? 

***

No comments:

Post a Comment