Monday, May 4, 2015

there is always something good in every may

Hello May! Bulan kelima di tahun 2015. Tahun lalu di bulan ini saya baru saja turun dari Rinjani dan sedang bersiap untuk mendaki Kerinci, tahun ini frekuensi naik gunung agak sedikit berkurang, musim penghujan yang tak kunjung selesai, ditambah pekerjaan yang membludak membuat saya berpikir ulang untuk melakukan pendakian di gunung-gunung yang cukup jauh. Tapi di akhir April saya memutuskan untuk mengambil jatah cuti dan pulang ke Bandung. Ada banyak tempat di Bandung yang bisa kamu kunjungi. Well.. daripada kamu repot-repot mencari info dan membuat rencana untuk mengunjungi Tebing Keraton -- yang sungguh sangat standar pemandangannya dan ramainya bukan main, saya sarankan kamu untuk mengunjungi:

1.  Gua Pawon atau Guha Pawon.
Sebenarnya sudah lama sekali saya penasaran dengan tempat ini, sebagai urang bandung asli -- meski sanes urang sunda asli :-P -- saya merasa berkewajiban untuk menyambangi tempat ini. Gua Pawon terletak di Bandung Barat, tepatnya di Cipatat berdampingan dengan Gunung Masigit. Dari Pasteur jaraknya hanya sekitar satu jam saja untuk menuju kesana. Ketika sampai disana, saya langsung terpana melihat kegagahan Gunung Masigit. Rasanya pingin langsung mendaki sampai ke atas, sayangnya saat itu niat saya cuma jalan-jalan memakai sandal cantik. Gunung ini juga sering dijadikan spot untuk wall climbing.

Gunung Masigit yang ganteng dan gagah perkasa
Gerbang Gua Pawon. Lets go!
Di sini ada dua spot yang bisa kamu kunjungi, yang pertama adalah Gua Pawon yang kedua Taman Batu atau Stone Garden. Saya sih lebih suka Gua Pawon daripada Stone Garden. Kalau kamu termasuk pejalan yang sering mendaki gunung pasti kamu akan merasa bosan di Stone Garden. Dari Gua Pawon, kamu cukup membayar Rp. 4.000,- untuk masuk ke area Stone Garden. Letaknya tidak jauh dari Gua Pawon, cukup mendaki sekitar 300 m dan kita akan sampai di Stone Garden. 

Di Gua Pawon ini juga konon untuk pertama kalinya ditemukan manusia purba yang kemungkinan besar adalah nenek moyangnya orang Sunda. Ketika kita menginjakan kaki ke dalam langsung tercium sengit bau pesing kelalawar. Banyak orang memakai masker karena baunya yang cukup menganggu, tapi lama-lama sih baunya jadi biasa aja, jadi saya sih cuek saja berlama-lama di dalam tanpa memakai penutup hidung.

PS. yang pakai baju kuning itu galaknya bukan main, marah-marah terus karena dipaksa jadi model, tapi berkat kecantikanku akhirnya dia mau..



2. Warung Salse 
Okay. Bandung tentunya tidak lepas dari wisata kulinernya dan nongkrong-nongkrong di cafe-cafe yang instagramable haha. Atas rekomendasi teman saya, kemarin saya mendatangi satu tempat makan di daerah Dago Giri, tepatnya di Jalan Dago Giri No. 101, kamu bisa masuk melalui komplek PPR ITB Dago. Letaknya tidak jauh dari Cafe Lawang Wangi. Sepintas memang bangunannya unik, full dengan kaca. Harga makanannya juga tidak mahal-mahal amat, berkisar antara 20-35rb dan minumannya sekitar 20-25rb. Rasanya juga lumayan enak, saya pesan spagheti godog -- yang sayangnya lupa difoto karena saya sudah sangat laparrr -- rasanya err ya kaya mie godog tapi memakai bahan pasta spagheti. 



3. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango 
Eh.. ini bukan di Bandung ya? Gimana ya udah ketulis.. seperti kita semua sudah tahu, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango atau biasa disingkat TNGGP ini letaknya ya dekat Sukabumi, kalau dari Bandung ya bisa naik bus atau atau naik angkutan sejenis ELF, jalur aksesnya ada tiga; via Cibodas, Putri, atau Salabintana. Jalur paling mainstream sih jalur Cibodas, paling sepi Salabintana karena pacetnya luar biasa mengerikan. Pendakian kali ini saya berangkat bersama teman-teman lama saya melalui jalur Cibodas. 

Terhitung sudah 3 kali saya mendaki TNGGP, tapi sejujurnya TNGGP tidak pernah jadi favorit saya. Bersebrangan dengan Soe Hok Gie yang menasbihkan kecintaan dalam puisinya "Kucinta kau Mandalawangi.." saya sih kurang suka dengan gunung ini, selain karena jalur batu yang licin dan terjal, menurut saya gunung ini ehehee.. nggak ada indah-indahnya. Ups. Jika kamu ingin mendaki Kerinci, atau Raung, atau Dempo, mungkin TNGGP bisa jadi latihan untuk simulasi pendakian selain persiapan fisik. Selain itu yang paling minus buat saya adalah betapa kotornya gunung ini. Sampah menumpuk dimana-mana, di berbagai spot, belum ditambah kotoran para manusia yang benar-benar malas untuk menggali lubang sedikit saja atau melipir ke semak-semak. Oh ya di gunung ini pula untuk pertama kalinya saya shalat menyembah kotoran manusia. *baca Al-Fatihah sambil nangis*

Ini kisahku ketika naik gunung... aku yang motonya.. *sedih*

Sunday, April 12, 2015

hujan minggu malam

Jakarta hujan deras. Minggu malam, hampir pukul delapan. Suami temanku bolak-balik mengajakku mengobrol dari luar kamar. Dia sedang resah. Istrinya -- yang juga sahabatku -- sedang dalam perjalanan ke Jakarta dengan pesawat yang membawanya dari Bali. 

"Dia sudah boarding tadi sekitar jam setengah 7," katanya. 
"Lalu belum ada kabar? Dia sudah landing apa belum?" 
"Teleponnya ga aktif.." 

Wajahnya nampak lesu. 

"Gw khawatir nih.." tambahnya lagi. 

Lalu kilat menyambar sangat keras sehingga kami berdua terkejut. 

"Astagfirullah.." dia merapal. Aku juga. 

Kami saling berpandangan. 

"Tenanglah, ujannya paling ujan lokal ini mah. Kemarin gw juga gitu. Di bandara ujan deras, eh.. sampai sini kering kerontang," tuturku mencoba menenangkan. 

Tak berhasil nampaknya. Dia masih bulak-balik dengan wajah resah. Aku kembali menekuni buku yang sedang kubaca. Lalu tak lama terdengar suara air dari keran, sedikit suara gaduh lalu hening. Sekitar 10 menit kemudian aku keluar. Kulirik ruangan sebelah. Suami sahabatku itu sedang duduk bersila diatas sajadah. Wajahnya menunduk. Dia sedang berdoa. Menunggu kabar dari istrinya yang tak jua tiba. Aku tersenyum, sedikit iri, tapi juga senang. 

Someone is praying for you, isn't that the sweetest thing? 
...

Friday, April 10, 2015

epik

Dibalik rumitnya komposisi antarmuka dan pola komunikasi, aku percaya, mata yang mendengar tanpa distraksi adalah jenis interaksi yang dinginkan hampir semua penduduk bumi. 

Hari yang sangat panas di Pelalawan. Anak-anak ini menyambut kedatangan kami dengan malu-malu namun penuh rasa ingin tahu. Sebagian dari mereka dengan berani bercengkerama dengan kami, sebagian lagi hanya menatap dari jauh. Dengan dialek Melayu yang kental, seorang anak menyapaku. "Kakak darimana?" katanya. Matanya menyelidik  ke arah kameraku. Sebagian dari mereka memakai kaus kaki, sebagaian lagi tidak, dengan kaki telanjang mereka berlari-lari kesana-kemari. 

"Gubrakk!" 

Seorang anak terjatuh. Lututnya berdarah. Teman-temannya tertawa, sementara ia meringis. Ketika kameraku mengarah ke arahnya, sontak ia menyunggingkan senyumnya. Aku tertawa. Ketika waktu istirahat tiba, mereka bergerombol, berkumpul, saling menjahili -- sembari jajan mie yang dimakan sambil dibagi-bagi. Sebagian duduk di kursi satu-satu, ada yang mengaji, ada yang sibuk makan kuaci. Anak-anak ini -- kulitnya menghitam diterkam sengat cahaya, rambut mereka kemerahan, dan sudah bisa kutebak kalau dengkul mereka satu pun tak ada yang mulus, seragam mereka lusuh, sebagian koyak, tubuh mereka bau matahari. Tapi kau tahu satu hal yang sangat kusenangi dari tempat ini?

Tak ada satu pun yang main iPad disini. 

...  



Monday, March 23, 2015

frankly, the main reason why i travel

Because after a fed-up-weary-tiring day at work, i came home to an empty room.

And i hate that.


...

Wednesday, March 11, 2015

sebuah kisah tentang tembok

Di suatu siang yang tak cerah-cerah amat saya dan pacar saya bertengkar. Karena dia tinggal di Bandung dan saya di Jakarta, kami bertengkar via pesan teks. 

"Saya kesal," tulis saya. 
Lalu saya pencet tombol send. 

"Kelakuan kamu tu, bikin otak saya peot. Ngomelllllllll ajaaaaaa. Kamu pemarah," balasnya. 

Pertama, otak peot? Macam apa, tuh? Aneh sekali. Mungkin dia sedang stress, bisa dimaklumi, konon dia sedang banyak pekerjaan, dan saya sedang menstruasi hari pertama. Dia sedang sibuk, saya sedang sakit perut dan ingin mengamuk. Sungguh bukan perpaduan yang ciamik. Kedua, apa pula maksudnya menulis kata mengomel dengan tambahan huruf L yang sangat banyak? Dibilang pemarah pula. Maka dengan geram saya langsung mengetik di telepon genggam saya. 

"Ya memang, plg enak jd org bodo amat. Emang sy pemarah. Kalau mau yg ga pernah marah, pacaran aja sama tembok atau kerdus bekas. Makasih." 

Selanjutnya, dia membalas dengan rentetan kata-kata yang cukup panjang. Intinya dia mengatakan saya si keras kepala. Tapi kemudian saya jadi ingat, ternyata memang pernah ada orang yang berpacaran dengan tembok, bukan hanya berpacaran, dia bahkan menikah dengan tembok. 

Adalah Eija Rittaa Mauer, perempuan yang tinggal di utara Swedia dan menikah dengan tembok Berlin. Pada umur 7 tahun, dia melihat tembok Berlin di sebuah siaran televisi dan langsung jatuh cinta. Pada tahun 1979, Eija 'resmi' menikahi tembok Berlin dan bahkan mengganti namanya menjadi Eija Rittaa Berliner. Ketika ditanya mengapa tidak menikahi tembok Cina, jawabnya "Tembok Cina memang seksi, tapi suamiku lebih gagah dan atraktif." 

Eija dan 'suaminya'
Pernikahan ini berlangsung selama 10 tahun. Pada tahun 1989, seiring dengan runtuhnya Uni Soviet, tembok Berlin pun dihancurkan. Sejak saat itu Eija patah hati berkepanjangan. "Mereka memutilasi suamiku, betapa jahatnya," tuturnya. Dia rutin mengunjungi psikiater untuk menyembuhkan kesedihannya. Hingga akhirnya satu tahun kemudian, Eija berhasil move on dan berhasil menikah lagi.. dengan sebuah pagar kebun. 

Nah, jadi jika kamu sering merasa kesal dengan pasanganmu, atau sedih karena tak jua menemukan pasangan yang cocok, mungkin cara Eija bisa kamu tiru. Bisa dengan tiang listrik, gardu hansip, palang kereta api, atau las karbit. Terserah saja lah, mana yang menurutmu paling baik. 

*brb listening to Opick - Obat Hati 

***


Sunday, March 8, 2015

the mountain is calling and i feel so damn fine

Sungguh, ini musim hujan terlama. Gunung Puntang, 2.222 mdpl. Hanya dua jam saja dari kota Bandung. Naik Elf berdesak-desakan, sebelahku perempuan setengah baya yang terus menerus berusaha menggeser pantatnya agar aku bisa duduk lebih nyaman. Kota Banjaran dengan hujan yang tak kunjung selesai. Nasi dengan gepuk rasanya sungguh nikmat setelah menikmati lalu-lintas yang padat. 2.222 mdpl, hey, it was very nice to meet you! 


 ***

Tuesday, February 17, 2015

i can smell autumn dancing in the breeze


 Coz you know.. most of my best memories come from some old dirt road. 

...

Sunday, January 25, 2015

secret garden resto - bandung


Banduuung! Pulang kampung kali ini aku mampir untuk makan siang ke Secret Garden Resto. Letaknya di daerah Ciumbuleuit. Untuk patokan mudahnya, dari Universitas Parahyangan, tinggal lurus terus ke atas, lalu belok ke kanan di sebelah Hotel Arjuna. Meski letaknya sebenarnya masih di tengah kota, namun tempat ini tidak ramai seperti kafe resto sejenis yang banyak bertebaran di daerah Riau atau Dago Pakar, and this what i like the most. :) Untuk makanannya sih standar lah. Mulai dari menu Indonesia sampai Eropa, lumayan bervariasi dan harganya mulai dari Rp. 20.000 - Rp. 80.000. Aku suka tempat ini selain karena sepi, sesuai namanya, kebun di restoran ini luasss sekali. Meski tidak bisa dipakai lari marathon, namun pemandangan seperti ini lumayan menyejukan mata. Interior serta eksterior designnya juga cukup unik, buat para banci tampil instagram pasti seneng banget ke tempat ini. As for me, this is a four star place, definitely will come back. So, tell me, how was your weekend? 


 ***

Friday, January 23, 2015

rafting di pangalengan


Tugas kantor yang menyenangkan. Minggu kemarin aku pergi ke Pangalengan dalam rangka mengajak teman-teman wartawan jalan-jalan. Tujuannya; Sungai Palayangan. Jaraknya sekitar dua jam dari kota Bandung. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, tapi karena jalannya kecil dan seringkali macet, maka waktu tempuh perjalannya memakan waktu hampir dua jam. Ide untuk rafting ini sudah lama terlontar di benakku. Awalnya aku menargetkan rafting di Sungai Citarik. Tapi di tengah musim hujan yang tak keruan, aku memutar haluan ke Sungai Palayangan. Selain itu, pacarku bilang jalan menuju Sukabumi sedang diperbaiki. Perjalanan untuk menuju ke sana bisa memakan waktu hampir 7 jam. Pangalengan sepertinya lebih tepat dan relatif lebih aman. 

Berangkat dari Jakarta hari Sabtu pukul 05.00 pagi, aku tiba di Bandung pukul 07.30, mampir sebentar di sebuah warung Sunda lalu tancap gas melanjutkan perjalanan ke Pangalengan. Cuaca memang sedang buruk. Tapi buatku, rafting di sungai lebih asyik ketika musim hujan sedang menggila. Kabut mulai turun, padahal matahari saja belum muncul. Cuaca dingin khas dataran tinggi yang sejuk, ditemani segelas kopi, aku mulai bersiap-siap memakai life vest dan helm, dua benda yang wajib dipakai ketika sedang rafting.

Meski jarak untuk rafting di Sungai Palayangan sangat pendek (menurutku), hanya 6 km saja, dan jeramnya tidak terlalu ekstrim, aku hitung hanya ada 11 jeram yang kami lewati, tapi pemandangannya sangat indah dan sungainya sangat bersih. Debit airnya pun cenderung stabil dibanding sungai sungai di sekitar Bogor. Sungai Palayangan dikelilingi oleh hutan pinus yang cantik, untuk alternatif wisata adrenalin yang dekat dari Jakarta, rafting disini ternyata tak kalah ciamik. :) 

"Ini dayungnya, mbak," Oh maaf.. aku ga pegang dayung, aku harus pegang tongsis. :P 


what's left from 2014


1. Mendaki Gunung Salak 


Dua hari setelah lebaran, aku pergi ke Gunung Salak. Setelah hampir dua bulan tidak mendaki gunung, ternyata 'sakaw' juga. Ingin menghirup udara di ketinggian. Meski mendapat bonus omelan dari mama, permit 'nyawalan' di gunung akhir keluar juga. Gunung pendek dengan ketinggian 2.211 mdpl, nyatanya, tanjakannya semacam tanjakan aborsi semua. Haha. Dan jalurnya sungguh melingkar kesana-kesini bukan main panjangnya. :) 


Matahari terbit di Gunung Salak 
2. Mendaki Gunung Guntur 

Awal September aku mendaki Gunung Guntur. Setelah penasaran hampir dua bulan, akhirnya aku sampai juga kesini. Berangkat dari Jakarta naik bus Primajasa, aku tiba di Garut tengah malam buta. Menumpang tidur di pelataran SPBU dan mendaki keesokan paginya. Gunung ini cocok untuk pendaki pemula. Tanjakannya tidak terlalu brutal, pemandangannya indah, dan puncaknya.. oh seriously this is the best part, tanah di puncaknya, entah mengandung apa, yang jelas, tanahnya mengeluarkan panas, sehingga tidak dibutuhkan jacket hangat berlapis dua di puncak gunung ini. 

Sarapan di Puncak Gunung Guntur 

3. ... oh and I met this guy


Di akhir Maret, ketika aku akan mendaki Gunung Sumbing, aku berkenalan dengan seorang pria yang sungguh sok tahu dan menyebalkan di sebuah tempat perbelanjaan. Tujuan kami sama; Gunung Sumbing. Dari awal pertemuan, aku sudah merasa dia ini tipikal pria yang rewel dan menyusahkan, totally not my type,  but why on earth it turned out to be a different story? :))

Kota tua, Jakarta, Agustus 2014 
***