Saturday, November 8, 2014

a days in porsea


Only ten days left in the calendar of October when I arrived in Porsea. Travelling on sunshine and a moonless night as the water from the famous Toba Lake touches my fingertips. On the day when a smile is in the mind, a cool breeze yet the day is still warm, and the magenta cloud surround, well, that day is such a day. 



Sometimes, i love my job. Sometimes. 

***

Sunday, October 12, 2014

goes to the beach

 Seharusnya di awal Oktober ini aku sedang mendaki Gunung Raung. Aku bahkan sudah beli tiket. Tapi apa daya. Situasi pekerjaan yang tidak memungkinkan, ditambah kaki kiri yang sedang rewel-rewelnya dan Kejurnas yang sudah di depan mata, maka demi kemashalatan otot dan persendian serta absensi dan jatah cuti yang semakin sedikit-- pergi ke laut adalah pilihan paling bijaksana. 







***

Thursday, October 9, 2014

throwback thursday

To the most gracious, the compassionate source of all mercy, my most righteous teacher and my greatest guardian. Dear Allah almighty, thanks for lending me this perfect healthy little feet and brought me here. The only ultimate source of my strength, my enermous mantra, You are my perfect peace.

-Rinjani, May 2014-

...

Thursday, October 2, 2014

to kill every ismail

Here he is. Ibrahim. Having left many difficult years behind him, all of his hairs are gray. And so He brought mercy to the agedness, loneliness, hopelessness and anguish. For Ibrahim, Ismail was not just a son for a sonless father. He yearned for Ismail for a hundred years. Ismail was the end of a life waiting, the reward of a century of suffering, the hope after despair and the young boy of an old father. He was the most dear after all those miserable years.

Seorang teman pernah mengatakan, “Tak ada cinta yang terlalu.” Tapi aku tidak setuju. Segala sesuatu yang terlalu cenderung akan mengacaukan alur, memecah ke segala arah, berat sebelah, lalu goyah. Meski begitu, aku percaya, manusia memang memiliki kemampuan untuk memproduksi terlalu banyak cinta hingga dirinya tak sadar, pada satu titik terlempar dan menjadi objek lawakan semesta. Seperti banyak figur yang pantas dikenang, Ibrahim adalah salah satu yang pernah merasakan. Ismail, si putra kesayangan adalah bukti cinta yang keterlaluan, maka Tuhan memutuskan untuk turun tangan.

Aku pernah jatuh cinta bukan kepalang. Pikiranku kacau, awut-awutan, hidupku berantakan. Kondisi ini – apabila kupikir-pikir lagi bukan pengalaman yang menyenangkan. Bertahun-tahun aku hidup dalam ketidaknyamanan, demi mengejar sesuatu yang kupikir, Ya Tuhan, jika aku bersama dengannya sepertinya aku akan bahagia selamanya, padahal, apalah yang benar-benar kutahu tentang masa depan? Mimpi, ambisi, apalagi? Bodoh? Memang.

What it was like to be Ibrahim?

Sebagaimana layaknya manusia lain -- yang selalu beranggapan bahwa mengekang kenangan, mengejar keinginan dan terbawa perasaan adalah sesuatu yang sifatnya adiktif dan membawa rasa nyaman -- Ibrahim adalah salah satu yang membuatku terkesan. Dia dipaksa belajar untuk menerima lalu melepaskan. "O Ibrahim give up your Ismail. Put the knife to the throat of your son and sacrifice him with your hands!” konon begitu katanya. Seketika matanya mengabur, amarahnya menghambur dalam jiwanya yang babak belur seraya imannya meluluh nyaris hancur. Tapi Ibrahim berhasil menembus batasnya, melepaskan cintanya, dengan keberanian yang luar biasa mengerikan, dengan kerelaan yang luar biasa mengagumkan.

Dan mungkin di hari yang disakralkan ini, Dia hanya ingin mengingatkan kembali satu pesan yang terlalu sarat dengan interpretasi. Bahwa mungkin, esensi dari kisah yang dihantarkan manusia dari masa ke masa ini bukan perihal seberapa banyak daging sapi yang mampu kau bagi, yang mampu kau beri, tapi mengenai cinta yang terlalu rakus dan menjadi keji, tentang membatasi diri, tentang menahan rasa yang terlalu penuh dengan ambisi, tentang hasrat memiliki -- atau sederhananya, mungkin, karena ternyata belajar menerima seratus kali jauh lebih sulit daripada memberi. Jadi lepaskan, biarkan, rela, menerima, karena Ibrahim melakukannya? Bukan. Karena yang ada tak akan selamanya.

“Imagine yourself at the peak of honor, full of pride. It can be a person, an object, a rank, a position, anything that makes you actually weak, that is your Ismail.” Ali Shariati

Monday, September 8, 2014

Tuesday, September 2, 2014

hi petrichor

Barangkali yang menyebabkan Sisyphus mempertahankan keteguhan hatinya meski terpasung di bukit Tartarus hingga nyaris habis nafasnya adalah kesempatan untuk mendengar suara-suara yang luput dari kesehariannya. 

Tak ada doa yang tak sampai. Kau, yang menatapku penuh ragu di lintang beku siang itu. Dan aku -- mau tak mau -- harus memberanikan diri lagi melempar dadu, terduduk di meja pertaruhan berusaha berjudi kembali dengan waktu. Jika kau pernah pulang dengan lunglai dari sebuah pertempuran yang panjang, kau akan paham benar apa yang kubicarakan.

Terima kasih atas petunjuk arah pulang yang masih aku coba pahami maknanya. Interprestasi, redefinisi, kecamuk imajinasi, bertanya-tanya, mengais duga, merancang prasangka, menguar rasa, memburuNya, menyapa sang niskala. Entah mengapa kita bisa terlempar pada satu frekuensi gelombang yang sama. Tak perlu mengharap afirmasi, negasi, ternyata begini rasanya dipahami, dimengerti. Seperti menyaksikan pendar bimasakti dengan mata dan kepala sendiri sedangkan kau sendiri adalah cakram dari sebuah galaksi. Tetaplah di tempatmu, di sudut yang terjangkau mataku, pun aku akan berdiam di spektrum disebelahmu. Biarkan segala memori meluruh melenyap, sehingga cukuplah alasan bagimu untuk menciptakan ingatan yang baru denganku di tempat yang orang lain tidak perlu tahu. 

Dramatis ya kedengarannya? 

Padahal yang ingin aku sampaikan adalah obrolan-obrolan kecil di penghujung malam, cerita tentang mimpi-mimpi yang tak kesampaian, racauan tak berujung yang kau dengarkan di batas kesadaran, sisa seperempat nasiku yang selalu kau coba habiskan, menguliti habis es kelapa yang belum matang, saling lempar gombal ala anak layangan, membuka kembali kitab suciku yang hampir saja lumutan, sekotak martabak duren yang kau antarkan malam-malam, santai selonjoran di pinggir jalan, mendorong motor tua yang kakinya mendadak pincang, ujung-ujungnya tertawa sampai perut keram. 

Secarik kertas dengan pesan hangat yang kau sembunyikan di dalam gulungan sleeping bag kala aku tengah bergelut dengan dinginnya Kerinci, sama menyenangkannya seperti makan bebek di Fatmawati. Wajahmu yang setengah mati menahan kantuk cuma untuk mengantarku pulang, atau rela menyetir di pagi buta hanya untuk mengantarku ke bandara karena aku terlalu gemar bertualang. Barangkali yang membuatmu berbeda dari yang lainnya adalah kesederhanaan yang kau tawarkan, sebuah tanda tanya besar, desau parau yang membuatku belajar mendengar, akal budi yang sudah jarang kutemukan, mengingatkan kembali pada rasa syukur yang sering luput bahkan nyaris hanyut. Semoga kita termasuk dari mereka yang berani saling berbagi, saling merendahkan hati dan esok adalalah sebuah narasi yang akan kita tulis sendiri. Aku janji.


"And what i love the most is your feet, only because they walked upon the earth, and upon the wind, and upon the water until they found me."

***

Sunday, June 29, 2014

pulang ke bandung

Home is where you are loved the most and act the worst. 


right?

***

Tuesday, June 10, 2014

nothing good comes easy

Rinjani.
Senja di Sembalun yang membuncahkan rasa, mata yang terkerjap, dan kedua tungkai yang menjadi kuat dengan tiba-tiba. Aku belum pernah melihat langit seindah langit Rinjani. Bintang yang melimpah ruah di seantero cakrawala, malam yang begitu megahnya, aku bahkan tak rela memejamkan mata barang satu detik saja. 

Sunrise. Bersit cahaya matahari yang pertama kali menyentuh bumi itu singgah di pipiku yang beku. Spektrum cahaya yang terpecah laksana rudal yang diluncurkan dan meledak di angkasa dengan sempurna. Matahari menggila, jutaan warna berdansa dan meraung lebih keras dari kata. Lalu kawanan awan menyapa sepasang mata yang bersukacita dan gundah yang bermigrasi ke udara, betapa jelita. 

Kerinci.
Tak ada apa-apa disini selain tanjakan yang membuat pahaku mengencang seketika. Hutan padat yang tertutup rumput dan lumut di segenap belantara. Curah hujan dan lapis tajuk yang menggontaikan semangat, menelisik ke dalam rain cover yang tak rapat, seraya membuat kulitmu memucat. Kerinci tidak seindah larik puisi yang meninabobokan telinga, dia adalah gerutu parau yang membuatmu tersadar kau harus selalu terjaga.

Aku tersungkur dengan keras di shelter tiga. Jalur cadas yang angkuh pada setiap mereka yang gegabah melewatinya, belum pernah aku merasa dipecundangi sedemikian rupa. Tubuhku menghujam terjatuh ke dalam serakan kerikil dan akar tajam yang dengan gesit menggores lengan. Aku tertawa dalam ringisan, entah kenapa daya gravitasimu selalu sarat dengan pesan. Kau selalu mengajariku jatuh lalu berdiri, kau melumpuhkan tapi juga menumbuhkan, yang mengikis tapi juga memberi. Lelah adalah jurang dalam ruang antara, tapi pijarmu menjembatani, betapapun kuingin sembunyi.

Maka kubiarkan luka membuka, kupersilakan perih menganga, dan sakit menumbuk tulangku dengan sukarela. Sedikit cahaya yang tertangkap terasa begitu hangat, karena ternyata hanya itu yang kita butuhkan pada gelap yang sangat. Untuk si maha mulia lagi maha bijaksana, terimakasih telah meminjamkan sepasang kaki yang sempurna, untuk senantiasa menjaga, untuk tetap mengada meski acap terlupa, untuk terangmu yang mengenalkanku pada luka -- serta pada dunia dan segala keindahannya. 

***





Tuesday, April 1, 2014

menyerang puncak

Jumat di akhir Maret yang sudah lama aku tunggu. Aku berjalan terburu masih dengan baju kerjaku, dress batik coklat setengah hitam. Kugendong carrierku, berpasangan dengan sepasang sandal jepit merah jambu yang baru kusikat bersih semalam. Rupaku berantakan. Duduk mengangkang dengan rok span di kursi belakang motor Supra milik abang ojek yang kupaksa kebut-kebutan menuju tempat pertemuan, betapa memalukan. Perjalanan panjang Jakarta-Wonosobo yang memakan waktu hampir 16 jam, sungguh mati pantatku keram.

Kurnia Jaya AKAP. Pukul sepuluh malam dan hujan deras yang membasahi Kampung Rambutan. Cuaca benar-benar kacau -- atau kita yang kacau? Aku duduk di kursi berbaris tiga dalam bus ekonomi tanpa pendingin udara.  Pria separuh baya duduk di sebelahku, kami berbicara layaknya teman lama, satu hal yang sudah jarang kulakukan di Jakarta. Interaksi berbudaya. Bus kelas ekonomi dengan segala kekacauan dan hiruk pikuknya selalu berhasil memaksaku kembali menjadi manusia. Untuk saling sapa, bicara, atau minimal mengenal siapa namanya. Gap itu luntur seketika, untuk beberapa jam ke depan, kami akan bersama-sama menggantungkan nasib ke pengemudi di depan sana. Bon voyage!


Monday, March 24, 2014

my memento


Sedang membuat satu blog (lagi) yang isinya kumpulan foto-foto keseharian. Please welcome minormemento.blogspot.com Kenapa namanya minormemento? Minor adalah kecil. Karena foto yang saya ambil hanyalah sebuah bagian yang sangat kecil. Memento, artinya sesuatu untuk pengingat, kenang-kenangan, memori. Istilah yang paling terkenal adalah memento mori, berasal dari bahasa latin yang artinya kehidupan untuk mengingat kematian. Ahahaha..Anyway, selain karena saya memang senang when everything is well documented, kapasitas HD yang sedikit lagi jebol karena tabungan foto-foto yang membludak, blog ini juga akan jadi sebuah pengingat, tanda mata, cerita, to remember the great times, the fcuked up scenes, or maybe when i can't remember the last time i was happy. So here we go, my memento. One full pack of happy memento. My minor memento. 

...