Sunday, January 25, 2015

secret garden resto - bandung


Banduuung! Pulang kampung kali ini aku mampir untuk makan siang ke Secret Garden Resto. Letaknya di daerah Ciumbuleuit. Untuk patokan mudahnya, dari Universitas Parahyangan, tinggal lurus terus ke atas, lalu belok ke kanan di sebelah Hotel Arjuna. Meski letaknya sebenarnya masih di tengah kota, namun tempat ini tidak ramai seperti kafe resto sejenis yang banyak bertebaran di daerah Riau atau Dago Pakar, and this what i like the most. :) Untuk makanannya sih standar lah. Mulai dari menu Indonesia sampai Eropa, lumayan bervariasi dan harganya mulai dari Rp. 20.000 - Rp. 80.000. Aku suka tempat ini selain karena sepi, sesuai namanya, kebun di restoran ini luasss sekali. Meski tidak bisa dipakai lari marathon, namun pemandangan seperti ini lumayan menyejukan mata. Interior serta eksterior designnya juga cukup unik, buat para banci tampil instagram pasti seneng banget ke tempat ini. As for me, this is a four star place, definitely will come back. So, tell me, how was your weekend? 


 ***

Friday, January 23, 2015

rafting di pangalengan


Tugas kantor yang menyenangkan. Minggu kemarin aku pergi ke Pangalengan dalam rangka mengajak teman-teman wartawan jalan-jalan. Tujuannya; Sungai Palayangan. Jaraknya sekitar dua jam dari kota Bandung. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, tapi karena jalannya kecil dan seringkali macet, maka waktu tempuh perjalannya memakan waktu hampir dua jam. Ide untuk rafting ini sudah lama terlontar di benakku. Awalnya aku menargetkan rafting di Sungai Citarik. Tapi di tengah musim hujan yang tak keruan, aku memutar haluan ke Sungai Palayangan. Selain itu, pacarku bilang jalan menuju Sukabumi sedang diperbaiki. Perjalanan untuk menuju ke sana bisa memakan waktu hampir 7 jam. Pangalengan sepertinya lebih tepat dan relatif lebih aman. 

Berangkat dari Jakarta hari Sabtu pukul 05.00 pagi, aku tiba di Bandung pukul 07.30, mampir sebentar di sebuah warung Sunda lalu tancap gas melanjutkan perjalanan ke Pangalengan. Cuaca memang sedang buruk. Tapi buatku, rafting di sungai lebih asyik ketika musim hujan sedang menggila. Kabut mulai turun, padahal matahari saja belum muncul. Cuaca dingin khas dataran tinggi yang sejuk, ditemani segelas kopi, aku mulai bersiap-siap memakai life vest dan helm, dua benda yang wajib dipakai ketika sedang rafting.

Meski jarak untuk rafting di Sungai Palayangan sangat pendek (menurutku), hanya 6 km saja, dan jeramnya tidak terlalu ekstrim, aku hitung hanya ada 11 jeram yang kami lewati, tapi pemandangannya sangat indah dan sungainya sangat bersih. Debit airnya pun cenderung stabil dibanding sungai sungai di sekitar Bogor. Sungai Palayangan dikelilingi oleh hutan pinus yang cantik, untuk alternatif wisata adrenalin yang dekat dari Jakarta, rafting disini ternyata tak kalah ciamik. :) 

"Ini dayungnya, mbak," Oh maaf.. aku ga pegang dayung, aku harus pegang tongsis. :P 


what's left from 2014


1. Mendaki Gunung Salak 


Dua hari setelah lebaran, aku pergi ke Gunung Salak. Setelah hampir dua bulan tidak mendaki gunung, ternyata 'sakaw' juga. Ingin menghirup udara di ketinggian. Meski mendapat bonus omelan dari mama, permit 'nyawalan' di gunung akhir keluar juga. Gunung pendek dengan ketinggian 2.211 mdpl, nyatanya, tanjakannya semacam tanjakan aborsi semua. Haha. Dan jalurnya sungguh melingkar kesana-kesini bukan main panjangnya. :) 


Matahari terbit di Gunung Salak 
2. Mendaki Gunung Guntur 

Awal September aku mendaki Gunung Guntur. Setelah penasaran hampir dua bulan, akhirnya aku sampai juga kesini. Berangkat dari Jakarta naik bus Primajasa, aku tiba di Garut tengah malam buta. Menumpang tidur di pelataran SPBU dan mendaki keesokan paginya. Gunung ini cocok untuk pendaki pemula. Tanjakannya tidak terlalu brutal, pemandangannya indah, dan puncaknya.. oh seriously this is the best part, tanah di puncaknya, entah mengandung apa, yang jelas, tanahnya mengeluarkan panas, sehingga tidak dibutuhkan jacket hangat berlapis dua di puncak gunung ini. 

Sarapan di Puncak Gunung Guntur 

3. ... oh and I met this guy


Di akhir Maret, ketika aku akan mendaki Gunung Sumbing, aku berkenalan dengan seorang pria yang sungguh sok tahu dan menyebalkan di sebuah tempat perbelanjaan. Tujuan kami sama; Gunung Sumbing. Dari awal pertemuan, aku sudah merasa dia ini tipikal pria yang rewel dan menyusahkan, totally not my type,  but why on earth it turned out to be a different story? :))

Kota tua, Jakarta, Agustus 2014 
***


Wednesday, January 21, 2015

catatan pendakian gunung dempo 3159 mdpl











Well, I am stubborn and wrong, but at least I know it. - Vanessa Carlton

Malam natal yang nestapa. Hari itu, di akhir Desember, aku dengan gegabah membeli tiket Jakarta – Palembang – Jakarta. Tujuannya satu; Pagar Alam. Jaraknya sekitar tujuh jam perjalanan darat dari kota Palembang, kata wikipedia. Nyatanya, aku menghabiskan hampir 10 jam untuk tiba disana. Aku ingin mendaki Gunung Dempo, aku ingin melihat Kawah Merapi yang cantik kehijauan dengan mata kepalaku sendiri. Aku ingin kembali menjelajahi gunung-gunung di tanah Sumatera dengan kontur yang sangat jauh berbeda dari gunung-gunung di Jawa. Dan lagi.. untuk seorang pekerja kantoran dengan status cuti nyaris habis, tanggal merah adalah anugerah. Apapunlah.. Intinya, aku ingin pergi. Titik.


Monday, January 12, 2015

hello 2015

Gunung Rinjani, Mei 2014

How did it get so late so soon? - Dr. Seuss

Betapa cepat waktu berlalu. Dalam film Interstellar, yang mulia Nolan menuliskan perihal dilatasi waktu yang didasari oleh teori relativitas Albert Einstein. Dalam jurnalnya, Einstein menuliskan bahwa waktu bersifat relatif berdasarkan acuan pengamatan. Satu-satunya kecepatan yang konstan dari pengamatan adalah kecepatan cahaya. Hal ini digambarkan oleh Nolan ketika para astronot tiba di Planet Miller. Diceritakan bahwa waktu 1 jam di Planet Miller = 7 tahun di bumi. Mengetahui bahwa kedatangan mereka di Planet Miller akan membuang begitu banyak waktu, maka para astronot pun panik, bergegas dan resah. 

Puluhan ribu kilometer dari Jakarta, di Sungai Tizsa, pinggiran Ukraina, hiduplah satu jenis spesies serangga purba, mereka dinamakan 'Tizsa's flower'.  Dari sekian jenis spesies yang hidup di bumi, mungkin merekalah yang hidupnya sangat singkat, hanya tiga jam saja. Sungai Tizsa adalah salah satu suaka terakhir dimana setiap tahun serangga tersebut muncul dalam jumlah besar. Selain dikaruniai (atau dikutuk?) waktu hidup yang pendek, Tizsa Flower juga tidak memiliki mulut, mungkin bicara atau bersuara tidak dianggap penting-penting amat dalam kehidupan yang singkat. Ketika seorang manusia mengetahui dirinya tidak akan hidup dalam waktu lama, setelah sampai di fase rela untuk menerima, biasanya dia pun akan tidak banyak bicara, yang dilakukannya hanyalah memeluk, tersenyum, menatap, atau mungkin menangis tanpa suara.

Bagi manusia, waktu hidup selama tiga jam akan terasa sangat singkat. Tapi bagi Tizsa Flower, tiga jam adalah waktu maksimal bagi mereka dapat bertahan hidup, tiga jam adalah serupa seperti perjalanan hidup manusia yang rata-rata memakan waktu puluhan tahun. Tiga jam adalah serupa satu sesi kehidupan yang panjang. Jika saja mereka tahu, mungkin mereka akan mengagumi atau berdecak iri pada manusia yang mampu berleha-leha, hidup membuang-buang waktu dengan seenaknya. Maka tak heran para serangga Tisza Flower mempergunakan waktu singkat tersebut dengan sepenuhnya. Di bulan Juni yang cerah, meraka akan berubah dari larva menjadi serangga, mengepakan sayap mereka, menari di atas air sungai Tisza, kawin dengan jenisnya, lalu punah hanya dalam waktu tiga jam saja. 

***

Tahun 2014 terasa sangat singkat. Orang bilang, karena aku begitu menikmati setiap waktunya, sehingga semua terasa sangat cepat. Betapa tidak? Ya aku menikmati setiap menitnya, setiap detailnya. Aku mendaki begitu banyak gunung, aku pergi ke begitu banyak tempat, mendapat banyak sekali teman, meski begitu aku lupa, ada banyak hal yang aku tinggalkan. Aku lupa, waktu berlalu begitu cepat, dan aku mulai kalap. Hal-hal sederhana yang membuatku abai, membuatku lena. Betapa banyak hal yang seharusnya aku bagi, aku beri, hal-hal yang seharusnya kututupi, hal-hal yang seharusnya kusudahi, yang seharusnya kumulai, betapa banyak kesalahan yang sudah aku buat, dan hal-hal yang tak semestinya terucap.

Jakarta. Pagi, ketika aku berangkat kerja. Betapa anehnya, kita tidur terlalu lama, bermalas-malasan, pergi dengan tergesa-gesa, lalu memaki semua yang ada di jalan raya. The trouble is we always think we have time. Aku melihat bayanganku di cermin, sekelebat, sungguh bukan bayangan yang ingin kulihat. Jamku berdetak, pertengahan Januari 2015. Dan ya.. aku masih diam di tempat. 

***

Because no, honey, we dont have forever.. We dont. 

Wednesday, December 3, 2014

untuk bapak yang semakin tua dan semakin batak

Namanya Zulkifli, panggilannya Achow, kadang Ike. Entah darimana pula asal muasal panggilannya. Batak tulen, bapaknya Sitompul, Ibunya Hutasuhut. Tak aneh kalo karakternya sungguh sangat Sumatera. Banyak orang menyangka dia galak. Kenyataannya memang iya. Tapi selain sangat galak, dia juga sangat baik. Terlalu baik, malah. Sampai-sampai banyak orang disekitarnya yang memanfaatkan kebaikannya, bahkan pernah pula dia ditipu oleh orang yang ditolongnya.

Kadang aku sendiri yang jadi gemas dibuatnya. Tapi setiap saya protes, jawabnya hanya "Ya sudahlah.." Sederhana. Sesederhana hidupnya. Dia tidak keberatan pake mobil tua yang (menurutku) tidak sedap dipandang mata. Uangnya habis untuk menyekolahkan istri, anak perempuannya, dan siapa saja yang menurutnya layak dapat bantuannya. Ketika banyak pria merasa insecure karena pasangannya lebih maju dari dia, bapak saya malah menyekolahkan ibu sampai jadi doktor. Ketika ibu menangis karena harus mengerjakan disertasi, sementara aku dan kakak kakakku terus terusan rewel minta perhatian dan seabrek urusan rumah tangga lainnya, maka bapak pula yang jadi penolongnya. Dia ikut membaca buku-buku Ibu, membantu mencerahkan ketika otak Ibu buntu, dan setia mengantar Ibu bolak-balik bimbingan ke dosennya. Banyak yang bilang, Ibu hebat, mungkin sebentar lagi dia jadi profesor, tapi sebenarnya Ibu tidak terlalu hebat, dia tidak akan bisa jadi profesor kalo bukan bersuamikan bapak. Ketika orang tua lain berharap anak perempuannya segera menikah selulus kuliah, bapak malah menyuruhku sekolah lagi. "Perempuan harus maju," katanya. Satu hal yang sudah sangat jarang kulihat pada lelaki jaman sekarang.

Meski dia semangat sekali dalam urusan sekolah, anehnya dia tidak marah ketika satu waktu aku pulang dari sekolah dan memperlihatkan nilai ulangan matematikaku yang nilainya nol. Ya, nol. Dia tidak peduli angka, meski dia mengajar statistika. Dia tidak pernah menilai orang dari hartanya, namun dari baik budinya. Selain sangat baik, dia juga sangat pintar. Ketika masih menjadi mahasiswa di ITB, dia pernah mendapat beasiswa Supersemar. Rasa-rasanya dia bisa memperbaiki apa saja, mulai dari air ledeng, mobil hingga barang elektronik. Meski menurutku dia kurang soleh, tapi pengetahuan agamanya sangat luas. Dia sudah khatam memahami Al-Quran hingga Al-Kitab. "Kamu harus paham kenapa agamamu Islam," satu waktu dia berkata begitu padaku. Dia suka memelihara binatang, mulai dari kucing hingga ikan, meski begitu tak jarang hewan peliharaannya selalu mati dengan mengenaskan. Tragis memang. Ketika aku diajari menyetir mobil, tentunya dengan bentakan-bentakan yang membuat telinga ini pengang, dia juga mengajariku mengganti ban mobil sendiri. "Kalau mau bawa mobil sendiri, juga harus bisa ganti ban sendiri, jangan jadi perempuan yang cuma bisa mewek kalau bannya kempes."

Pekerjannya dosen, tapi dandannya tidak seperti dosen pada umumnya. Dia senang berdandan seenaknya. Baju lusuh, celana robek, dan tas ransel yang rasanya sudah bertahun-tahun dia pakai, padahal dia bukan dosen seni rupa. Semasa muda dia adalah anak yang kurang ajar. Karena dia sudah jadi buaya, maka dia paham betul menghadapi cicak gepeng kaya aku. Meski acap mengomel, dia jarang sekali melarang aku pergi berpetualang, atau ketika hampir satu bulan aku tidak pulang karena pekerjaan, tapi ketika aku bilang aku akan pulang, dia akan menunggu bahkan hingga tengah malam. 

Hari ini genap usianya 61 tahun. Selamat ulang tahun Papa. Salah satu rejeki terbesarku adalah bisa terlahir dan besar dengan mendengar ocehan-ocehanmu dan semoga satu hari nanti.. doakan saja, aku yang akan menjadi rejeki terbesarmu.

...

Thursday, November 13, 2014

bisa jadi

Berdiri menatap garis pekat horizontal yang mengungkungku malam itu membuatku teringat padamu. Terima kasih untuk selalu setia mengingatkan bahwa ternyata aku cukup istimewa, untuk obrolan singkat di sela makan siang yang membuatku lega, belajar menerima duka dengan sukarela, dan mungkin satu hari nanti, kita akan dipercaya untuk menerima salah satu keajaibanNya. 

...

catatan harian no delapan ratus tiga

Sudah dua hari ini aku kurang tidur. Pemusatan latihan sudah berjalan, alhasil, jadwal harianku berubah. Pagi dimulai dengan latihan pukul 04.30 pagi hingga pukul 06.30. Lalu aku harus berlari-lari keluar lapangan, mandi, dan bergegas ke kantor untuk menyelesaikan kewajiban sebagai pekerja kantoran. Selepas jam 5 sore, aku sudah harus kembali lagi ke lapangan untuk latihan hingga pukul 10.00 malam. Capek? Tidak terlalu. Mungkin karena sedari SMP aku sudah terbiasa masuk karantina. Tapi menjadi pekerja kantoran di tengah pemusatan latihan membuatku sering diserang kantuk yang tidak tertahan. 

Kala teman-teman lain sedang istirahat siang, aku masih harus berjibaku dengan pekerjaan kantor. Dan sialnya, aku kurang nyaman tidur di mess. Akhirnya solusi paling tepat adalah curi-curi waktu tidur siang di kostan. Oh kamar kesayangan, aku rela ngebut bulak-balik siang-siang demi tidur satu jam. Nah, dua hari terakhir ini, entah kenapa aku sulit tidur di malam hari. Hingga pukul satu aku masih belum bisa memejamkan mata. 

Pukul 22.00 telepon selularku mengeluarkan notifikasi. Seseorang dari masa lalu lalu muncul di layar. "Rindu," katanya. Hampir saja aku tersedak. "Haha." jawabku. Kuketik jawaban singkat agar tidak terjadi percakapan lanjutan. Lelaki memang lucu sekaligus menyebalkan. Dan pikiranku tiba-tiba meluncur ke dua tahun lalu. Kala aku sedang berada di titik terendah dalam hidupku. Yup, namanya fase patah hati. Haha. Dia datang dengan gelak tawa dan aku lumayan terpikat. Tapi entahlah, aku tiba-tiba terpikir untuk menyudahinya. Kupikir-pikir, apakah ada yang salah dengan kepalaku? Seorang teman mengirimkan pesan di messenger, "Hidup lo tuh berwarna ya, Luh. Tapi sayang warnanya item sama abu-abu." Sesaat setelah itu. Sign out. Temanku pergi. Aku tercenung. Ini yang paling aku benci. Resah dan gelisah di malam hari, lalu semua orang pergi meninggalkanku tidur. Dan aku.. masih disini. Di depan layar laptopku. Sendiri. 

... 

to the knowing of all things, to the hearer of all

Why is this bad feeling and nightmare keeps coming back in my head? Why? 
What should i do? Where should I go next? I already have my bag packed.

...

Sunday, November 9, 2014

bandung, sore ini

Dalam bukunya yang sanggup membuat saya tertidur dalam hitungan menit, Miriam Budiardjo pernah menuliskan, "Dalam kelompok, seseorang akan cenderung kehilangan identitasnya." Seperti yang saya lihat sore ini di kota Bandung. Ratusan manusia memenuhi jalan raya, berlagak juara, dan seenaknya. Semuanya atas dasar satu kepemilikan yang sama. Persib juara, begitu katanya. Dan lalu, mereka semua menyeragamkan identitasnya, saya rasa hampir 90% dari mereka memakai warna yang sama; biru. Warna seragam kebesaran tim sepak bola kebanggaan mereka. 

Mereka bertelanjang dada, memblokade ruang publik yang seharusnya digunakan bersama, kemeriahan yang begitu pongah dan membabi-buta, lalu memaki siapa saja yang tak setuju dengannya. Adalah suatu hal yang mengerikan ketika manusia tak lagi punya rasa sungkan, setidaknya saya pikir, itulah satu dari sedikit hal yang membedakanku dengan binatang. 

Namun di sisi lain, adalah hal yang mengagumkan melihat betapa mudahnya untuk mempersatukan begitu banyak manusia dalam satu suara. Betapa kuatnya gelombang mencinta atas dasar sebuah piala. "Bebaskeun!", teriaknya keras, propaganda yang dilontarkan dengan nada penuh sarkas. Mungkin dia belum pernah membaca tulisan Sartre tentang teori kebebasan yang mematikan. Tapi bukan pesta meriah itu yang membuat saya resah, tapi pemandangan itu; wajah-wajah sumringah yang melontar sumpah serapah tanpa paham benar seberapa banyak manusia yang dirugikan oleh ulahnya.

...

Saturday, November 8, 2014

a days in porsea


Only ten days left in the calendar of October when I arrived in Porsea. Travelling on sunshine and a moonless night as the water from the famous Toba Lake touches my fingertips. On the day when a smile is in the mind, a cool breeze yet the day is still warm, and the magenta cloud surround, well, that day is such a day. 



Sometimes, i love my job. Sometimes. 

***

Sunday, October 12, 2014

goes to the beach

 Seharusnya di awal Oktober ini aku sedang mendaki Gunung Raung. Aku bahkan sudah beli tiket. Tapi apa daya. Situasi pekerjaan yang tidak memungkinkan, ditambah kaki kiri yang sedang rewel-rewelnya dan Kejurnas yang sudah di depan mata, maka demi kemashalatan otot dan persendian serta absensi dan jatah cuti yang semakin sedikit-- pergi ke laut adalah pilihan paling bijaksana. 







***

Thursday, October 9, 2014

throwback thursday

To the most gracious, the compassionate source of all mercy, my most righteous teacher and my greatest guardian. Dear Allah almighty, thanks for lending me this perfect healthy little feet and brought me here. The only ultimate source of my strength, my enermous mantra, You are my perfect peace.

-Rinjani, May 2014-

...

Thursday, October 2, 2014

to kill every ismail

Here he is. Ibrahim. Having left many difficult years behind him, all of his hairs are gray. And so He brought mercy to the agedness, loneliness, hopelessness and anguish. For Ibrahim, Ismail was not just a son for a sonless father. He yearned for Ismail for a hundred years. Ismail was the end of a life waiting, the reward of a century of suffering, the hope after despair and the young boy of an old father. He was the most dear after all those miserable years.

Seorang teman pernah mengatakan, “Tak ada cinta yang terlalu.” Tapi aku tidak setuju. Segala sesuatu yang terlalu cenderung akan mengacaukan alur, memecah ke segala arah, berat sebelah, lalu goyah. Meski begitu, aku percaya, manusia memang memiliki kemampuan untuk memproduksi terlalu banyak cinta hingga dirinya tak sadar, pada satu titik terlempar dan menjadi objek lawakan semesta. Seperti banyak figur yang pantas dikenang, Ibrahim adalah salah satu yang pernah merasakan. Ismail, si putra kesayangan adalah bukti cinta yang keterlaluan, maka Tuhan memutuskan untuk turun tangan.

Aku pernah jatuh cinta bukan kepalang. Pikiranku kacau, awut-awutan, hidupku berantakan. Kondisi ini – apabila kupikir-pikir lagi bukan pengalaman yang menyenangkan. Bertahun-tahun aku hidup dalam ketidaknyamanan, demi mengejar sesuatu yang kupikir, Ya Tuhan, jika aku bersama dengannya sepertinya aku akan bahagia selamanya, padahal, apalah yang benar-benar kutahu tentang masa depan? Mimpi, ambisi, apalagi? Bodoh? Memang.

What it was like to be Ibrahim?

Sebagaimana layaknya manusia lain -- yang selalu beranggapan bahwa mengekang kenangan, mengejar keinginan dan terbawa perasaan adalah sesuatu yang sifatnya adiktif dan membawa rasa nyaman -- Ibrahim adalah salah satu yang membuatku terkesan. Dia dipaksa belajar untuk menerima lalu melepaskan. "O Ibrahim give up your Ismail. Put the knife to the throat of your son and sacrifice him with your hands!” konon begitu katanya. Seketika matanya mengabur, amarahnya menghambur dalam jiwanya yang babak belur seraya imannya meluluh nyaris hancur. Tapi Ibrahim berhasil menembus batasnya, melepaskan cintanya, dengan keberanian yang luar biasa mengerikan, dengan kerelaan yang luar biasa mengagumkan.

Dan mungkin di hari yang disakralkan ini, Dia hanya ingin mengingatkan kembali satu pesan yang terlalu sarat dengan interpretasi. Bahwa mungkin, esensi dari kisah yang dihantarkan manusia dari masa ke masa ini bukan perihal seberapa banyak daging sapi yang mampu kau bagi, yang mampu kau beri, tapi mengenai cinta yang terlalu rakus dan menjadi keji, tentang membatasi diri, tentang menahan rasa yang terlalu penuh dengan ambisi, tentang hasrat memiliki -- atau sederhananya, mungkin, karena ternyata belajar menerima seratus kali jauh lebih sulit daripada memberi. Jadi lepaskan, biarkan, rela, menerima, karena Ibrahim melakukannya? Bukan. Karena yang ada tak akan selamanya.

“Imagine yourself at the peak of honor, full of pride. It can be a person, an object, a rank, a position, anything that makes you actually weak, that is your Ismail.” Ali Shariati

Monday, September 8, 2014

Tuesday, September 2, 2014

hi petrichor

Barangkali yang menyebabkan Sisyphus mempertahankan keteguhan hatinya meski terpasung di bukit Tartarus hingga nyaris habis nafasnya adalah kesempatan untuk mendengar suara-suara yang luput dari kesehariannya. 

Tak ada doa yang tak sampai. Kau, yang menatapku penuh ragu di lintang beku siang itu. Dan aku -- mau tak mau -- harus memberanikan diri lagi melempar dadu, terduduk di meja pertaruhan berusaha berjudi kembali dengan waktu. Jika kau pernah pulang dengan lunglai dari sebuah pertempuran yang panjang, kau akan paham benar apa yang kubicarakan.

Terima kasih atas petunjuk arah pulang yang masih aku coba pahami maknanya. Interprestasi, redefinisi, kecamuk imajinasi, bertanya-tanya, mengais duga, merancang prasangka, menguar rasa, memburuNya, menyapa sang niskala. Entah mengapa kita bisa terlempar pada satu frekuensi gelombang yang sama. Tak perlu mengharap afirmasi, negasi, ternyata begini rasanya dipahami, dimengerti. Seperti menyaksikan pendar bimasakti dengan mata dan kepala sendiri sedangkan kau sendiri adalah cakram dari sebuah galaksi. Tetaplah di tempatmu, di sudut yang terjangkau mataku, pun aku akan berdiam di spektrum disebelahmu. Biarkan segala memori meluruh melenyap, sehingga cukuplah alasan bagimu untuk menciptakan ingatan yang baru denganku di tempat yang orang lain tidak perlu tahu. 

Dramatis ya kedengarannya? 

Padahal yang ingin aku sampaikan adalah obrolan-obrolan kecil di penghujung malam, cerita tentang mimpi-mimpi yang tak kesampaian, racauan tak berujung yang kau dengarkan di batas kesadaran, sisa seperempat nasiku yang selalu kau coba habiskan, menguliti habis es kelapa yang belum matang, saling lempar gombal ala anak layangan, membuka kembali kitab suciku yang hampir saja lumutan, sekotak martabak duren yang kau antarkan malam-malam, santai selonjoran di pinggir jalan, mendorong motor tua yang kakinya mendadak pincang, ujung-ujungnya tertawa sampai perut keram. 

Secarik kertas dengan pesan hangat yang kau sembunyikan di dalam gulungan sleeping bag kala aku tengah bergelut dengan dinginnya Kerinci, sama menyenangkannya seperti makan bebek di Fatmawati. Wajahmu yang setengah mati menahan kantuk cuma untuk mengantarku pulang, atau rela menyetir di pagi buta hanya untuk mengantarku ke bandara karena aku terlalu gemar bertualang. Barangkali yang membuatmu berbeda dari yang lainnya adalah kesederhanaan yang kau tawarkan, sebuah tanda tanya besar, desau parau yang membuatku belajar mendengar, akal budi yang sudah jarang kutemukan, mengingatkan kembali pada rasa syukur yang sering luput bahkan nyaris hanyut. Semoga kita termasuk dari mereka yang berani saling berbagi, saling merendahkan hati dan esok adalalah sebuah narasi yang akan kita tulis sendiri. Aku janji.


"And what i love the most is your feet, only because they walked upon the earth, and upon the wind, and upon the water until they found me."

***

Sunday, June 29, 2014

pulang ke bandung

Home is where you are loved the most and act the worst. 


right?

***