Friday, April 10, 2015

epik

Dibalik rumitnya komposisi antarmuka dan pola komunikasi, aku percaya, mata yang mendengar tanpa distraksi adalah jenis interaksi yang dinginkan hampir semua penduduk bumi. 

Hari yang sangat panas di Pelalawan. Anak-anak ini menyambut kedatangan kami dengan malu-malu namun penuh rasa ingin tahu. Sebagian dari mereka dengan berani bercengkerama dengan kami, sebagian lagi hanya menatap dari jauh. Dengan dialek Melayu yang kental, seorang anak menyapaku. "Kakak darimana?" katanya. Matanya menyelidik  ke arah kameraku. Sebagian dari mereka memakai kaus kaki, sebagaian lagi tidak, dengan kaki telanjang mereka berlari-lari kesana-kemari. 

"Gubrakk!" 

Seorang anak terjatuh. Lututnya berdarah. Teman-temannya tertawa, sementara ia meringis. Ketika kameraku mengarah ke arahnya, sontak ia menyunggingkan senyumnya. Aku tertawa. Ketika waktu istirahat tiba, mereka bergerombol, berkumpul, saling menjahili -- sembari jajan mie yang dimakan sambil dibagi-bagi. Sebagian duduk di kursi satu-satu, ada yang mengaji, ada yang sibuk makan kuaci. Anak-anak ini -- kulitnya menghitam diterkam sengat cahaya, rambut mereka kemerahan, dan sudah bisa kutebak kalau dengkul mereka satu pun tak ada yang mulus, seragam mereka lusuh, sebagian koyak, tubuh mereka bau matahari. Tapi kau tahu satu hal yang sangat kusenangi dari tempat ini?

Tak ada satu pun yang main iPad disini. 

...  



Monday, March 23, 2015

frankly, the main reason why i travel

Because after a fed-up-weary-tiring day at work, i came home to an empty room.

And i hate that.


...

Wednesday, March 11, 2015

sebuah kisah tentang tembok

Di suatu siang yang tak cerah-cerah amat saya dan pacar saya bertengkar. Karena dia tinggal di Bandung dan saya di Jakarta, kami bertengkar via pesan teks. 

"Saya kesal," tulis saya. 
Lalu saya pencet tombol send. 

"Kelakuan kamu tu, bikin otak saya peot. Ngomelllllllll ajaaaaaa. Kamu pemarah," balasnya. 

Pertama, otak peot? Macam apa, tuh? Aneh sekali. Mungkin dia sedang stress, bisa dimaklumi, konon dia sedang banyak pekerjaan, dan saya sedang menstruasi hari pertama. Dia sedang sibuk, saya sedang sakit perut dan ingin mengamuk. Sungguh bukan perpaduan yang ciamik. Kedua, apa pula maksudnya menulis kata mengomel dengan tambahan huruf L yang sangat banyak? Dibilang pemarah pula. Maka dengan geram saya langsung mengetik di telepon genggam saya. 

"Ya memang, plg enak jd org bodo amat. Emang sy pemarah. Kalau mau yg ga pernah marah, pacaran aja sama tembok atau kerdus bekas. Makasih." 

Selanjutnya, dia membalas dengan rentetan kata-kata yang cukup panjang. Intinya dia mengatakan saya si keras kepala. Tapi kemudian saya jadi ingat, ternyata memang pernah ada orang yang berpacaran dengan tembok, bukan hanya berpacaran, dia bahkan menikah dengan tembok. 

Adalah Eija Rittaa Mauer, perempuan yang tinggal di utara Swedia dan menikah dengan tembok Berlin. Pada umur 7 tahun, dia melihat tembok Berlin di sebuah siaran televisi dan langsung jatuh cinta. Pada tahun 1979, Eija 'resmi' menikahi tembok Berlin dan bahkan mengganti namanya menjadi Eija Rittaa Berliner. Ketika ditanya mengapa tidak menikahi tembok Cina, jawabnya "Tembok Cina memang seksi, tapi suamiku lebih gagah dan atraktif." 

Eija dan 'suaminya'
Pernikahan ini berlangsung selama 10 tahun. Pada tahun 1989, seiring dengan runtuhnya Uni Soviet, tembok Berlin pun dihancurkan. Sejak saat itu Eija patah hati berkepanjangan. "Mereka memutilasi suamiku, betapa jahatnya," tuturnya. Dia rutin mengunjungi psikiater untuk menyembuhkan kesedihannya. Hingga akhirnya satu tahun kemudian, Eija berhasil move on dan berhasil menikah lagi.. dengan sebuah pagar kebun. 

Nah, jadi jika kamu sering merasa kesal dengan pasanganmu, atau sedih karena tak jua menemukan pasangan yang cocok, mungkin cara Eija bisa kamu tiru. Bisa dengan tiang listrik, gardu hansip, palang kereta api, atau las karbit. Terserah saja lah, mana yang menurutmu paling baik. 

*brb listening to Opick - Obat Hati 

***


Sunday, March 8, 2015

the mountain is calling and i feel so damn fine

Sungguh, ini musim hujan terlama. Gunung Puntang, 2.222 mdpl. Hanya dua jam saja dari kota Bandung. Naik Elf berdesak-desakan, sebelahku perempuan setengah baya yang terus menerus berusaha menggeser pantatnya agar aku bisa duduk lebih nyaman. Kota Banjaran dengan hujan yang tak kunjung selesai. Nasi dengan gepuk rasanya sungguh nikmat setelah menikmati lalu-lintas yang padat. 2.222 mdpl, hey, it was very nice to meet you! 


 ***

Tuesday, February 17, 2015

i can smell autumn dancing in the breeze


 Coz you know.. most of my best memories come from some old dirt road. 

...

Sunday, January 25, 2015

secret garden resto - bandung


Banduuung! Pulang kampung kali ini aku mampir untuk makan siang ke Secret Garden Resto. Letaknya di daerah Ciumbuleuit. Untuk patokan mudahnya, dari Universitas Parahyangan, tinggal lurus terus ke atas, lalu belok ke kanan di sebelah Hotel Arjuna. Meski letaknya sebenarnya masih di tengah kota, namun tempat ini tidak ramai seperti kafe resto sejenis yang banyak bertebaran di daerah Riau atau Dago Pakar, and this what i like the most. :) Untuk makanannya sih standar lah. Mulai dari menu Indonesia sampai Eropa, lumayan bervariasi dan harganya mulai dari Rp. 20.000 - Rp. 80.000. Aku suka tempat ini selain karena sepi, sesuai namanya, kebun di restoran ini luasss sekali. Meski tidak bisa dipakai lari marathon, namun pemandangan seperti ini lumayan menyejukan mata. Interior serta eksterior designnya juga cukup unik, buat para banci tampil instagram pasti seneng banget ke tempat ini. As for me, this is a four star place, definitely will come back. So, tell me, how was your weekend? 


 ***

Friday, January 23, 2015

rafting di pangalengan


Tugas kantor yang menyenangkan. Minggu kemarin aku pergi ke Pangalengan dalam rangka mengajak teman-teman wartawan jalan-jalan. Tujuannya; Sungai Palayangan. Jaraknya sekitar dua jam dari kota Bandung. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, tapi karena jalannya kecil dan seringkali macet, maka waktu tempuh perjalannya memakan waktu hampir dua jam. Ide untuk rafting ini sudah lama terlontar di benakku. Awalnya aku menargetkan rafting di Sungai Citarik. Tapi di tengah musim hujan yang tak keruan, aku memutar haluan ke Sungai Palayangan. Selain itu, pacarku bilang jalan menuju Sukabumi sedang diperbaiki. Perjalanan untuk menuju ke sana bisa memakan waktu hampir 7 jam. Pangalengan sepertinya lebih tepat dan relatif lebih aman. 

Berangkat dari Jakarta hari Sabtu pukul 05.00 pagi, aku tiba di Bandung pukul 07.30, mampir sebentar di sebuah warung Sunda lalu tancap gas melanjutkan perjalanan ke Pangalengan. Cuaca memang sedang buruk. Tapi buatku, rafting di sungai lebih asyik ketika musim hujan sedang menggila. Kabut mulai turun, padahal matahari saja belum muncul. Cuaca dingin khas dataran tinggi yang sejuk, ditemani segelas kopi, aku mulai bersiap-siap memakai life vest dan helm, dua benda yang wajib dipakai ketika sedang rafting.

Meski jarak untuk rafting di Sungai Palayangan sangat pendek (menurutku), hanya 6 km saja, dan jeramnya tidak terlalu ekstrim, aku hitung hanya ada 11 jeram yang kami lewati, tapi pemandangannya sangat indah dan sungainya sangat bersih. Debit airnya pun cenderung stabil dibanding sungai sungai di sekitar Bogor. Sungai Palayangan dikelilingi oleh hutan pinus yang cantik, untuk alternatif wisata adrenalin yang dekat dari Jakarta, rafting disini ternyata tak kalah ciamik. :) 

"Ini dayungnya, mbak," Oh maaf.. aku ga pegang dayung, aku harus pegang tongsis. :P 


what's left from 2014


1. Mendaki Gunung Salak 


Dua hari setelah lebaran, aku pergi ke Gunung Salak. Setelah hampir dua bulan tidak mendaki gunung, ternyata 'sakaw' juga. Ingin menghirup udara di ketinggian. Meski mendapat bonus omelan dari mama, permit 'nyawalan' di gunung akhir keluar juga. Gunung pendek dengan ketinggian 2.211 mdpl, nyatanya, tanjakannya semacam tanjakan aborsi semua. Haha. Dan jalurnya sungguh melingkar kesana-kesini bukan main panjangnya. :) 


Matahari terbit di Gunung Salak 
2. Mendaki Gunung Guntur 

Awal September aku mendaki Gunung Guntur. Setelah penasaran hampir dua bulan, akhirnya aku sampai juga kesini. Berangkat dari Jakarta naik bus Primajasa, aku tiba di Garut tengah malam buta. Menumpang tidur di pelataran SPBU dan mendaki keesokan paginya. Gunung ini cocok untuk pendaki pemula. Tanjakannya tidak terlalu brutal, pemandangannya indah, dan puncaknya.. oh seriously this is the best part, tanah di puncaknya, entah mengandung apa, yang jelas, tanahnya mengeluarkan panas, sehingga tidak dibutuhkan jacket hangat berlapis dua di puncak gunung ini. 

Sarapan di Puncak Gunung Guntur 

3. ... oh and I met this guy


Di akhir Maret, ketika aku akan mendaki Gunung Sumbing, aku berkenalan dengan seorang pria yang sungguh sok tahu dan menyebalkan di sebuah tempat perbelanjaan. Tujuan kami sama; Gunung Sumbing. Dari awal pertemuan, aku sudah merasa dia ini tipikal pria yang rewel dan menyusahkan, totally not my type,  but why on earth it turned out to be a different story? :))

Kota tua, Jakarta, Agustus 2014 
***


Wednesday, January 21, 2015

catatan pendakian gunung dempo 3159 mdpl











Well, I am stubborn and wrong, but at least I know it. - Vanessa Carlton

Malam natal yang nestapa. Hari itu, di akhir Desember, aku dengan gegabah membeli tiket Jakarta – Palembang – Jakarta. Tujuannya satu; Pagar Alam. Jaraknya sekitar tujuh jam perjalanan darat dari kota Palembang, kata wikipedia. Nyatanya, aku menghabiskan hampir 10 jam untuk tiba disana. Aku ingin mendaki Gunung Dempo, aku ingin melihat Kawah Merapi yang cantik kehijauan dengan mata kepalaku sendiri. Aku ingin kembali menjelajahi gunung-gunung di tanah Sumatera dengan kontur yang sangat jauh berbeda dari gunung-gunung di Jawa. Dan lagi.. untuk seorang pekerja kantoran dengan status cuti nyaris habis, tanggal merah adalah anugerah. Apapunlah.. Intinya, aku ingin pergi. Titik.


Monday, January 12, 2015

hello 2015

Gunung Rinjani, Mei 2014

How did it get so late so soon? - Dr. Seuss

Betapa cepat waktu berlalu. Dalam film Interstellar, yang mulia Nolan menuliskan perihal dilatasi waktu yang didasari oleh teori relativitas Albert Einstein. Dalam jurnalnya, Einstein menuliskan bahwa waktu bersifat relatif berdasarkan acuan pengamatan. Satu-satunya kecepatan yang konstan dari pengamatan adalah kecepatan cahaya. Hal ini digambarkan oleh Nolan ketika para astronot tiba di Planet Miller. Diceritakan bahwa waktu 1 jam di Planet Miller = 7 tahun di bumi. Mengetahui bahwa kedatangan mereka di Planet Miller akan membuang begitu banyak waktu, maka para astronot pun panik, bergegas dan resah. 

Puluhan ribu kilometer dari Jakarta, di Sungai Tizsa, pinggiran Ukraina, hiduplah satu jenis spesies serangga purba, mereka dinamakan 'Tizsa's flower'.  Dari sekian jenis spesies yang hidup di bumi, mungkin merekalah yang hidupnya sangat singkat, hanya tiga jam saja. Sungai Tizsa adalah salah satu suaka terakhir dimana setiap tahun serangga tersebut muncul dalam jumlah besar. Selain dikaruniai (atau dikutuk?) waktu hidup yang pendek, Tizsa Flower juga tidak memiliki mulut, mungkin bicara atau bersuara tidak dianggap penting-penting amat dalam kehidupan yang singkat. Ketika seorang manusia mengetahui dirinya tidak akan hidup dalam waktu lama, setelah sampai di fase rela untuk menerima, biasanya dia pun akan tidak banyak bicara, yang dilakukannya hanyalah memeluk, tersenyum, menatap, atau mungkin menangis tanpa suara.

Bagi manusia, waktu hidup selama tiga jam akan terasa sangat singkat. Tapi bagi Tizsa Flower, tiga jam adalah waktu maksimal bagi mereka dapat bertahan hidup, tiga jam adalah serupa seperti perjalanan hidup manusia yang rata-rata memakan waktu puluhan tahun. Tiga jam adalah serupa satu sesi kehidupan yang panjang. Jika saja mereka tahu, mungkin mereka akan mengagumi atau berdecak iri pada manusia yang mampu berleha-leha, hidup membuang-buang waktu dengan seenaknya. Maka tak heran para serangga Tisza Flower mempergunakan waktu singkat tersebut dengan sepenuhnya. Di bulan Juni yang cerah, meraka akan berubah dari larva menjadi serangga, mengepakan sayap mereka, menari di atas air sungai Tisza, kawin dengan jenisnya, lalu punah hanya dalam waktu tiga jam saja. 

***

Tahun 2014 terasa sangat singkat. Orang bilang, karena aku begitu menikmati setiap waktunya, sehingga semua terasa sangat cepat. Betapa tidak? Ya aku menikmati setiap menitnya, setiap detailnya. Aku mendaki begitu banyak gunung, aku pergi ke begitu banyak tempat, mendapat banyak sekali teman, meski begitu aku lupa, ada banyak hal yang aku tinggalkan. Aku lupa, waktu berlalu begitu cepat, dan aku mulai kalap. Hal-hal sederhana yang membuatku abai, membuatku lena. Betapa banyak hal yang seharusnya aku bagi, aku beri, hal-hal yang seharusnya kututupi, hal-hal yang seharusnya kusudahi, yang seharusnya kumulai, betapa banyak kesalahan yang sudah aku buat, dan hal-hal yang tak semestinya terucap.

Jakarta. Pagi, ketika aku berangkat kerja. Betapa anehnya, kita tidur terlalu lama, bermalas-malasan, pergi dengan tergesa-gesa, lalu memaki semua yang ada di jalan raya. The trouble is we always think we have time. Aku melihat bayanganku di cermin, sekelebat, sungguh bukan bayangan yang ingin kulihat. Jamku berdetak, pertengahan Januari 2015. Dan ya.. aku masih diam di tempat. 

***

Because no, honey, we dont have forever.. We dont. 

Wednesday, December 3, 2014

untuk bapak yang semakin tua dan semakin batak

Namanya Zulkifli, panggilannya Achow, kadang Ike. Entah darimana pula asal muasal panggilannya. Batak tulen, bapaknya Sitompul, Ibunya Hutasuhut. Tak aneh kalo karakternya sungguh sangat Sumatera. Banyak orang menyangka dia galak. Kenyataannya memang iya. Tapi selain sangat galak, dia juga sangat baik. Terlalu baik, malah. Sampai-sampai banyak orang disekitarnya yang memanfaatkan kebaikannya, bahkan pernah pula dia ditipu oleh orang yang ditolongnya.

Kadang aku sendiri yang jadi gemas dibuatnya. Tapi setiap saya protes, jawabnya hanya "Ya sudahlah.." Sederhana. Sesederhana hidupnya. Dia tidak keberatan pake mobil tua yang (menurutku) tidak sedap dipandang mata. Uangnya habis untuk menyekolahkan istri, anak perempuannya, dan siapa saja yang menurutnya layak dapat bantuannya. Ketika banyak pria merasa insecure karena pasangannya lebih maju dari dia, bapak saya malah menyekolahkan ibu sampai jadi doktor. Ketika ibu menangis karena harus mengerjakan disertasi, sementara aku dan kakak kakakku terus terusan rewel minta perhatian dan seabrek urusan rumah tangga lainnya, maka bapak pula yang jadi penolongnya. Dia ikut membaca buku-buku Ibu, membantu mencerahkan ketika otak Ibu buntu, dan setia mengantar Ibu bolak-balik bimbingan ke dosennya. Banyak yang bilang, Ibu hebat, mungkin sebentar lagi dia jadi profesor, tapi sebenarnya Ibu tidak terlalu hebat, dia tidak akan bisa jadi profesor kalo bukan bersuamikan bapak. Ketika orang tua lain berharap anak perempuannya segera menikah selulus kuliah, bapak malah menyuruhku sekolah lagi. "Perempuan harus maju," katanya. Satu hal yang sudah sangat jarang kulihat pada lelaki jaman sekarang.

Meski dia semangat sekali dalam urusan sekolah, anehnya dia tidak marah ketika satu waktu aku pulang dari sekolah dan memperlihatkan nilai ulangan matematikaku yang nilainya nol. Ya, nol. Dia tidak peduli angka, meski dia mengajar statistika. Dia tidak pernah menilai orang dari hartanya, namun dari baik budinya. Selain sangat baik, dia juga sangat pintar. Ketika masih menjadi mahasiswa di ITB, dia pernah mendapat beasiswa Supersemar. Rasa-rasanya dia bisa memperbaiki apa saja, mulai dari air ledeng, mobil hingga barang elektronik. Meski menurutku dia kurang soleh, tapi pengetahuan agamanya sangat luas. Dia sudah khatam memahami Al-Quran hingga Al-Kitab. "Kamu harus paham kenapa agamamu Islam," satu waktu dia berkata begitu padaku. Dia suka memelihara binatang, mulai dari kucing hingga ikan, meski begitu tak jarang hewan peliharaannya selalu mati dengan mengenaskan. Tragis memang. Ketika aku diajari menyetir mobil, tentunya dengan bentakan-bentakan yang membuat telinga ini pengang, dia juga mengajariku mengganti ban mobil sendiri. "Kalau mau bawa mobil sendiri, juga harus bisa ganti ban sendiri, jangan jadi perempuan yang cuma bisa mewek kalau bannya kempes."

Pekerjannya dosen, tapi dandannya tidak seperti dosen pada umumnya. Dia senang berdandan seenaknya. Baju lusuh, celana robek, dan tas ransel yang rasanya sudah bertahun-tahun dia pakai, padahal dia bukan dosen seni rupa. Semasa muda dia adalah anak yang kurang ajar. Karena dia sudah jadi buaya, maka dia paham betul menghadapi cicak gepeng kaya aku. Meski acap mengomel, dia jarang sekali melarang aku pergi berpetualang, atau ketika hampir satu bulan aku tidak pulang karena pekerjaan, tapi ketika aku bilang aku akan pulang, dia akan menunggu bahkan hingga tengah malam. 

Hari ini genap usianya 61 tahun. Selamat ulang tahun Papa. Salah satu rejeki terbesarku adalah bisa terlahir dan besar dengan mendengar ocehan-ocehanmu dan semoga satu hari nanti.. doakan saja, aku yang akan menjadi rejeki terbesarmu.

...

Thursday, November 13, 2014

bisa jadi

Berdiri menatap garis pekat horizontal yang mengungkungku malam itu membuatku teringat padamu. Terima kasih untuk selalu setia mengingatkan bahwa ternyata aku cukup istimewa, untuk obrolan singkat di sela makan siang yang membuatku lega, belajar menerima duka dengan sukarela, dan mungkin satu hari nanti, kita akan dipercaya untuk menerima salah satu keajaibanNya. 

...

catatan harian no delapan ratus tiga

Sudah dua hari ini aku kurang tidur. Pemusatan latihan sudah berjalan, alhasil, jadwal harianku berubah. Pagi dimulai dengan latihan pukul 04.30 pagi hingga pukul 06.30. Lalu aku harus berlari-lari keluar lapangan, mandi, dan bergegas ke kantor untuk menyelesaikan kewajiban sebagai pekerja kantoran. Selepas jam 5 sore, aku sudah harus kembali lagi ke lapangan untuk latihan hingga pukul 10.00 malam. Capek? Tidak terlalu. Mungkin karena sedari SMP aku sudah terbiasa masuk karantina. Tapi menjadi pekerja kantoran di tengah pemusatan latihan membuatku sering diserang kantuk yang tidak tertahan. 

Kala teman-teman lain sedang istirahat siang, aku masih harus berjibaku dengan pekerjaan kantor. Dan sialnya, aku kurang nyaman tidur di mess. Akhirnya solusi paling tepat adalah curi-curi waktu tidur siang di kostan. Oh kamar kesayangan, aku rela ngebut bulak-balik siang-siang demi tidur satu jam. Nah, dua hari terakhir ini, entah kenapa aku sulit tidur di malam hari. Hingga pukul satu aku masih belum bisa memejamkan mata. 

Pukul 22.00 telepon selularku mengeluarkan notifikasi. Seseorang dari masa lalu lalu muncul di layar. "Rindu," katanya. Hampir saja aku tersedak. "Haha." jawabku. Kuketik jawaban singkat agar tidak terjadi percakapan lanjutan. Lelaki memang lucu sekaligus menyebalkan. Dan pikiranku tiba-tiba meluncur ke dua tahun lalu. Kala aku sedang berada di titik terendah dalam hidupku. Yup, namanya fase patah hati. Haha. Dia datang dengan gelak tawa dan aku lumayan terpikat. Tapi entahlah, aku tiba-tiba terpikir untuk menyudahinya. Kupikir-pikir, apakah ada yang salah dengan kepalaku? Seorang teman mengirimkan pesan di messenger, "Hidup lo tuh berwarna ya, Luh. Tapi sayang warnanya item sama abu-abu." Sesaat setelah itu. Sign out. Temanku pergi. Aku tercenung. Ini yang paling aku benci. Resah dan gelisah di malam hari, lalu semua orang pergi meninggalkanku tidur. Dan aku.. masih disini. Di depan layar laptopku. Sendiri. 

... 

to the knowing of all things, to the hearer of all

Why is this bad feeling and nightmare keeps coming back in my head? Why? 
What should i do? Where should I go next? I already have my bag packed.

...