Sunday, February 24, 2013

sunday to monday

I was wondering. If we, human, claimed ourselves as the smartest creature alive, then tell me how did those tiny birds travel thousand of miles without getting lost? They don't have the ability to ask, to argue, to talk, or maybe to even think, while we frequently makes everything more complicated and foolishly lost in it.  Seriously, what the hell is wrong with human's mind? 

"Are you happy?" A very simple one question just popped from my friend's mouth few days ago. I've been thinking a lot lately. Analyzing, predicting, arranging everything as i please. It's like my brain just can't stop thinking. I am sad. I am lost.  Feels like i want to find hope where there seems to be absolutely none at all. And that fucking simple one question suddenly smashed away the strand of thoughts that i built in my head for so long. I paused. 

It's about time when we get too tired to fight. So we back off, we let go, we give up. And you know what? 

It's alright. It's for a better sight. 






  I guess it's all alright. / I got nothing left inside of my chest / But it's all alright

and listen to this song.. 



hello sunshine. been a while.. 




...

Thursday, February 14, 2013

intermezzo

Hari ini saya putuskan untuk lari dua set. Satu set lebih banyak dari biasanya. Sedang membutuhkan pengalihan perhatian. Apa saja. Nafas megap-megap sepertinya pilihan cukup tepat. Maka berlarilah saya. Sampai habis set kedua, entah kenapa tubuh ini terasa limbung, pandangan terasa berkunang-kunang. Lampu lapangan astro turf Senayan malam itu terasa dua kali lebih menyilaukan dari biasanya. Brukk. Saya terjatuh. Di lapangan. Jatuh. Saya terdiam. Meluruskan kaki. Tergolek pasrah di pinggir lapangan. Berusaha mengembalikan stamina sembari menatap karpet hijau Senayan. "Another set?" tanya seorang teman. "Nope. Sudah mau mati rasanya," jawab saya sambil mendengus. Satu detik, dua detik, nafas saya masih terasa sesak. Rokok sialan. Tiga detik, empat detik. Sampai tiba-tiba..

"Ihhh Galuh ada kelabang itu nempel  di paha!"
"Huaaaa? Mana??? Anjritttt!!"

Dan sekonyong-konyong terbangunlah saya. Berlari sprint hampir setengah lapangan. Berharap kelabang segera enyah dari pangkal paha. Rasa-rasanya, itulah sprint tercepat dalam hidup saya. Diiringi tawa cekikikan dari teman-teman saya, rasa lelah itu lenyap seketika. Seketika. Ternyata aforisme itu benar adanya; we, human, are so much stronger than we think we are.

So much. 


...


Monday, February 11, 2013

the paradox of life

True or false. Right or wrong. Laugh or cry. Pretty or ugly. Left or right. Love.. or not.



Friday, February 8, 2013

appraisal


If you got taste, you can always tell that it's pretty even though it's dirty. 

But only if you got taste, I repeat. 



...

Monday, January 28, 2013

#saveJKT

Benarkah banjir adalah musibah? Bertanyalah pada anak-anak kecil dengan rambut memerah yang seketika bermunculan di ruas jalan bilangan Sudirman yang tergenang. Akses jalanan yang tertutup adalah surga bagi mereka yang tak pernah merasakan tanah lapang. Untuk bermain bola, bercanda tawa, berlari-larian, atau mungkin kesempatan melempar senyuman pada orang tak dikenal untuk sekadar membantu menguatkan, meringankan. Banjir lagi, banjir. Para korporat menggerutut. Cemberut. Para pengusaha besar semaput. Tapi lihatlah mereka yang tertawa di derasnya air hujan. Mungkin, ya mungkin, ada sebuah kebutuhan yang tak pernah bisa tersalurkan. Katakanlah, sebuah ruang publik yang tak pernah ada. Sebuah kebutuhan akan sesuatu yang pernah dinamakan 'milik bersama'.  Di atas sana, di bangunan berlantai dua, tiga, empat, lima, para pendosa berharap, berdoa, agar air lekas surut. Tapi disini, di bawah sini, mulut-mulut kecil juga turut berdoa. Banjirlah Jakarta. Tebak siapa yang dikabulkan doanya?




Ciri-ciri kota yang sakit adalah kota yang memiliki terlalu banyak mall dibanding sarana olahraga. 

...

Sunday, January 27, 2013

one fine day

Konon, seorang penulis yang saya lupa namanya pernah menulis bahwa revolusioner sejati adalah orang-orang pasar. Ya, orang-orang itu, aktor kacangan yang turut menggerakan panggung roda perekonomian manusia. Meski kacangan, kualitas aktingnya tak pernah meragukan. Mereka adalah roda gigi yang hampir saja berkarat dalam sebuah mesin raksasa. Di pasar, ada manusia yang berlagak gila hingga nenek tua yang bijaksana. Mulai dari kue yang dijual limu ribu dapat lima, sampai kaos kaki sepuluh ribu tiga. Ada yang menghampiri, ada yang pergi, ada yang kembali, ada yang datang, ada yang hilang di lorong-lorong kota yang sudah tak jelas milik siapa.

Saat hampir setengah manusia lainnya tertidur pulas atau meringkuk penuh takut dalam selimut kala langit memekat, mereka sudah bersiap jauh sebelum pukul empat. Dengan gagah berani selalu mencoba mendahului matahari, bersenjatakan sembilu sembari berlindung di balik kayu trembesi. Kalau kepingin sekali merubah nasibmu, cobalah belajar pada orang-orang pasar. Yang perutnya selalu gelisah tak berkesudah, yang selalu ramah pada mereka yang datang, para pemilik tawa paling lepas dalam alunan musik dangdut koplo yang diaransemen ulang. Mereka adalah orang-orang yang telah berkali jatuh, lalu bangkit lagi, terlatih untuk menatap ke depan dan berteriak lantang, "lalu apa sekarang?"

Untuk mereka yang terlalu sering menyerapah. Saya, misalnya. 

...

 








Sunday, January 20, 2013

monday mayhem

and madness. So.. in case you need something to soothe yourself, I like this one, my favorite English soul band, Simply red. Classy lyrics, enlightened voice of Mick Hucknall, and particularly, i think its the most beautiful video I've ever seen. Suddenly melts all the pressure away. :)


I never ever realized 
It's so easy to make you cry 
But did I break a bit 
Oh I hope no 
Have you forgot about it 
Oh I hope so

...

Saturday, January 5, 2013

h minus satu

Kata matahari pagi ini.

Menahan keinginan adalah persoalan untuk membuat semua tak jadi runyam. Kadang jarak pula yang akhirnya bertugas untuk menyelesaikan semuanya. Sesuatu yang dilihat terlalu dekat, tak pernah jadi indah. Menyakitkan malah.  Menyembuhkan luka memang sakit dan lama. Tapi karena itu pula, kita belajar untuk tidak mengulanginya.

...

Tuesday, January 1, 2013

(happy) new year

  
It was one beautiful afternoon. 

As the sun shine brilliant as nothing else. The light shimmering through my hair like a halo. Bright and warm the sun felt like a kisses to my face. Orange and yellow clouds was falling softly to the ground. Breathtaking flowers hues filling my soul with color. The birds is singing. Tenderly, tearfully, bid 2012 a pretty farewell. The last day in December. The last day in 2012. Got my camera loaded. Click.

Its 31st of December.


 

The sunshine, the birds, the clouds and all the beautiful things i wrote above, yeah that was a lie. 31st December was horrible for me. Did you realize how gloomy all of these photos are? :)  Thanks to @opengo for letting me put that stupid red dress on you. I never making such a fuss about new year, as i don't understand what's there to celebrate anyway? Now that the light shut down, the glass is empty, the party is over, people are going home, some of them are wasted, some of them are praying. and i am still here alone, standing, mind wandering. Perhaps..  it'll be a good year.

Happy new year everyone.

...

Wednesday, December 26, 2012

new member of sitompul family

Left to right; Pikiwawaw, Kakanya, Gorilla, Sun Go Kong 



These baby boo delivered to the world by Nunung with the help of sperm from Chiko. 

Welcome aboard kittens! Semoga jadi kucing yang soleh!

...


Saturday, December 15, 2012

tentang 5cm, sebuah review asalan


Sebagai preambule, mohon dicatat, bahwa saya bukan ahli sinematografi atau seseorang yang rajin menonton film dan membuat review. Saya senang menonton film, meski tak senang-senang amat. Pemahaman saya pada dunia sinematik ya sebatas yang umum-umum saja. Dengan demikian review berikut adalah seperti yang saya tulis di atas; asalan. Yoi, bro. Asalan. 

Hari kedua setelah film 5cm ditayangkan di bioskop, saya diajak oleh salah seorang teman untuk menonton film tersebut. Berhubung saya sedang tidak ada kerjaan saya iyakan permintaan dia. Otak saya sempat berpikir, yang manakah film 5cm ini yang konon diambil dari novel best seller? Kalau tidak salah saya pernah baca buku ini. Sampulnya berwarna dasar hitam, fontnya bertulis 5cm dicetak dengan warna merah. Tapi kok saya tidak ingat yang seperti apakah ceritanya, ini film tentang apa? Teman saya mengajak dengan berapi-api. "Novelnya kan bagus banget!" katanya. Saya makin penasaran, kalau tidak salah memang bagus buku ini. Yang ternyata, well..  saya salah. Saya adalah orang dengan sistemasi otak yang bekerja dengan prinsip, "I dont remember names, i remember faces. What's in a name if i can't recall your face?" Ya. Saya sering lupa judul buku, tapi kalau buku itu bagus saya selalu ingat jalan ceritanya. 

Ya. Saya salah. Ternyata saya pernah baca buku itu, tapi tidak selesai. Berarti buku itu membosankan (buat saya). Ya baiklah karena saya sudah kepalang duduk di deretan paling atas bioskop Metropole siang itu, terpaksa saya tonton film itu. Oh ya, ingatkan saya untuk tidak lagi menonton di bioskop Metropole Mega Ria. Terlalu banyak ABG, mereka tertawa terlalu keras untuk hal-hal yang tidak lucu-lucu amat, atau menceritakan jalan cerita kala film sedang berjalan dengan lagak senang dan jumawa. Oke, sist bisa diam tidak? 

Jalan ceritanya? Tentang pertemanan lima anak muda yang merasa bosan dengan kehidupan mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidak bertemu selama tiga bulan. Lalu ketika pertemuan akbar mereka di bulan ketiga, mereka memutuskan untuk merayakannya dengan mendaki Mahameru. Well.. first of all, seriously they need to get socialize. Ga tahu ya, bosan dengan kehidupan lalu memutuskan tidak bertemu teman-teman selama tiga bulan, ga boleh nelpon, ga boleh sms, kaya orang pacaran terus "Kita vakum dulu aja ya, Yang? Apeu. Sounds kinda weird. Kalau ada teman saya yang bilang, "Kita jangan berhubungan dulu tiga bulan ya?" Mungkin saya akan bilang, "Dude, whatever im not your wife,"

Mungkin film ini juga berkisah tentang keinginan, cita-cita, atau tekad yang kuat. Dengan framing "5cm" letakkan cita-citamu itu 5cm dari dahi. Ya bisa jadi. Tapi menurut saya sih alur menuju kesananya agak aneh. Tentang kalah taruhan kek, atau tersesat terlepas dari rombongan tim SAR kala mencari teman yang tejebak di Mahameru kek, atau cerita sekelompok pemuda yang dianggap tidak bisa bertahan di alam lepas lalu ceritanya mereka ingin membuktikan diri mereka berhasil mendaki sampai ke atas. Anehlah pokoknya. 

Secara visualisasi. Oke. Bolehlah dua jempol. Tapi Mahameru memang indah dari sononya. Ibaratnya, lebih gampang motret Luna Maya daripada motret Omas. Sambil nungging aja Luna Maya tetep cakep, bikin horny malah. Nah, apa yang ditawarkan oleh film ini adalah eyegasm keindahan Mahameru yang tersohor, mulai dari Ranu Kumbolo sampai puncak Mahameru. Tapi.. kalau saya mau lihat keindahan Mahameru, ill go watch Discovery Channel, NGC, atau Jejak Petualang, atau apalah acara sejenis. 

Ketiga, detail yang membuat saya gengges. Emang ada ya orang mendaki Mahameru pakai celana jeans? Orang yang pertama terkena hypothermia kala pendakian adalah Arial. Tokoh yang digambarkan rajin fitness dan badannya paling fit. Sementara si Gendut (saya lupa namanya, pokonya gendut lah orangnya) yang tidak pernah olahraga dan setiap hari sarapan Indomie diperlihatkan baik-baik dan bugar-bugar saja. Lalu saya gatal sekali ingin meminjamkan ikat rambut ke Pevita Pearce dan entah siapa namanya, dua perempuan yang turut dalam pendakian. Rambut mereka panjang sepunggung, terurai, dan selalu tampak rapi di ketinggian 3676 mdpl. Padahal muka mereka (ceritanya) sudah coreng-moreng oleh abu Mahameru. Rasanya kaya nonton sinetron silat di Indosiar.

Intinya, hasil diskusi dengan teman saya, film ini ingin menyampaikan pesan cintailah Indonesia, negerimu sendiri. Lebih baik disini, rumah kita sendiri. Gitu katanye. Lalu? Emang perlu ya orang diajarin untuk mencinta? Ketika kita lahir, separuh dari kepala kita isinya cuma rasa cinta. Anak kecil berumur dua tahun sudah tahu yang mana ibunya. Yang mana yang dia cinta. Dia tahu kemana dia harus berlari kala ketakutan dikejar anjing atau kuntilanak. Dia tahu kemana mencari ibunya saat sedih.Cinta tak perlu diajari. Saya yakin 100% persen, kecintaan kita pada Indonesia sudah lebih dari cukup untuk mendapat gelar nasionalis. Kasih aja pertandingan bola 2x45 menit Indonesia melawan Malaysia. Separuh dari Indonesia sudah dipastikan akan teriak-teriak macam orang kesetanan. IN-DO-NE-SI-A!!! 

No we don't need that. Kita tahu posisi kita, negeri kita, betapa indahnya Indonesia. Kita sudah lebih dari tahu, lebih dari cinta. Kita boleh terpana dengan MRT di Hong Kong yang cepat dan teratur, kita boleh jadi tercengang melihat bule Australia yang bisa bersenang-senang setiap hari berselancar di kepulauan Mentawai hanya dengan mengandalkan tunjangan pemerintahnya. Atau Jepang dengan kecanggihan teknologi dan ekonominya yang maju pesat. But we always know where our home is. Its in here. Dan kita selalu akan ingin pulang.

What we need is, perhaps belajar menjadi warga negara yang baik. Belajar bernegara, bukan berbangsa. Membuat film yang menyampaikan pesan mengantrilah dengan baik, taatilah peraturan dengan baik, sekadar mengucapkan terima kasih, soal kejujuran, tidak mengambil hak orang lain, sederhana saja sih, tapi saya pikir, itulah yang benar-benar kita butuhkan sekarang. Ilmu pengetahuan, belajar beretika, tata krama, sopan santun. Hal-hal yang katanya ciri khas orang Timur saya pikir cuma mitos. Jatuh cinta dengan Indonesia, bukan cuma soal rasa, tapi hmm mungkin lebih menjaga, menata, bukan cuma soal mendaki gunung Mahameru lalu teriak-teriak di atas sana. Mungkin kita lebih butuh manusia-manusia yang tidak setiap hari makan indomie, yang tidak cepat merasa bosan karena terlalu sering nongkrong di cafe-cafe. Yeah, we definitely need something more than that. Bangsat-bangsat di Senayan juga cinta Indonesia kok. Lalu?

Kalau cuma modal cinta, setiap hari ribuan orang bakalan ribut di KUA.

...

Sunday, December 9, 2012

teman sebangku

kala periksa suara. 





Taken with Canon G12, chicken spaghetti with broccoli, and a glass of nut chococino. 

...