Tuesday, July 28, 2015

bulan ke sembilan

Mereka yang lemah biasanya dibangun dari nostalgia, beberapa dibangun dari pemikiran, dan sisanya - yang nyaris saja langka - adalah mereka yang dibangun dengan iman. Hari ini Idul Fitri. 

Ini hari yang katanya suci, tapi kita seperti kuda liar yang baru saja dilepaskan dari penjara besi. Semakin banyak saja pertanyaan yang tidak terjawab, semakin banyak pemahaman yang melenyap. Seberapa bagus dan mahal mukenamu, percayalah kau akan terlihat biasa saja di lautan manusia yang bertumpuk-tumpuk itu. Dari sebuah pesawat tanpa awak yang diterbangkan seorang juru kamera di jalanan, kau terlihat seperti kerikil. Baju kita bersih, tapi mengapa sorotmu begitu dekil?   

Mimik muka yang itu itu saja, pikiran yang begitu-begitu saja, tanda tanya yang belum kutemukan jawabnya, sialnya kita semakin menua. Sungguh tidak ada yang istimewa, tapi kenapa? Entahlah, mungkin imanku makin tipis saja.

Untuk pengingat arah pulang di setiap bulan sembilan. Ar-ramad, merci beaucoup.  

***

Sunday, July 5, 2015

puasa dan hal-hal aneh tentangnya

Pacarku pernah bilang, “Semua makanan itu semua rasanya sama saja -- ketika sampai di perut. Yang membedakan cuma ketika si makanan berada di lidah dan itu -- tokh cuma sebentar saja.”

Itu logikanya. Tapi ketika kamu bekerja di sebuah perusahaan yang mayoritasnya tidak berpuasa di bulan Ramadhan, ditambah efek berpuasa yang mendorong tingkat sensititivitas hidungmu naik jadi dua kali lebih tajam, bahkan kadang empat kali lebih tajam, rasanya aku ingin melakukan apa saja demi mencicipi kwetiaw goreng dengan daging ayam yang yang sedang dilahap dengan nikmat oleh teman kerjaku di siang hari yang terik di Jakarta.

Maka ini menjadi suatu hal yang tidak aneh, kau tahu apa yang biasanya dilakukan kaum yang berpuasa pada bulan Ramadhan? Mereka menyiapkan sebuah pembalasan dendam yang kejam. Tepat pukul empat sore hingga menjelang matahari tenggelam, mereka berbondong-bondong membeli makanan yang sangat banyak; takjil, minuman dengan kadar gula yang sangat tinggi, buah-buahan segar, atau gorengan kering yang gurih hasil racikan minyak jelantah yang lebih hitam dari pantat panci di dapur Ibu saya. “Untuk buka puasa, nih,” tutur mereka dengan wajah sumringah. Mungkin mereka girang karena sudah sore, sebentar lagi adzan, dan mereka merasa menang.

Aku juga begitu. Pukul setengah lima sore selepasku bekerja, aku dengan bernafsu setengah berlari ke gedung di seberang kantorku. Aku mau membeli jus segar dengan harga 3 kali lipat dari jus yang biasa dijual di depan minimarket kecil dekat tempatku tinggal. Pilihanku selalu jatuh di jus strawberry. Meski porsinya sebenarnya sangat banyak dan aku – tidak pernah sanggup menghabiskan jus ini sendirian, tapi siapa peduli? Yang penting aku harus membalaskan dendam kesumat dari lidahku yang harus menelan ludah siang tadi karena kelakuan teman kantorku yang tak berpuasa.

Oh ya, asal kau tahu sebelumnya tadi aku pun melewati toko pastry yang cukup terkenal. Ketika aku lewat, baunya menguar di udara, tentu aku pun tidak melewatkan kesempatan itu. Aku membeli dua potong croissant keju dan coklat yang nampak sangat nikmat. Oh ya, sebelumnya aku juga menyempatkan diri untuk mampir membeli singkong goreng yang dijual di depan kantorku. Membayangkan singkong ini melewati tenggorokanku saja rasanya perutku sudah berteriak minta makan dengan jahanam.

Pukul lima lewat lima puluh. Para muazzin mulai bersiap check sound untuk mengumandangkan suara yang ditunggu puluhan ribu manusia yang telah duduk dengan manis menanti di dekat meja makan mereka. Aku juga begitu. Air putih, teh manis, oh ya tadi aku juga beli es buah, lalu jus strawberry kesukaanku itu, dua potong pastry, dan singkong goreng. Main course? Belum aku beli, tapi aku sudah terpikir sate kambing Bang Burhan yang dagingnya empuk dengan bumbu kecap bertabur cabe rawit. Ahh.. itu pasti enak. 

Adzan tiba. Hap! Hampir setengah gelas air putih sudah kuhabiskan untuk mengucapkan salam pada lambungku yang kosong nyaris 12 jam. Disusul dua buah singkong goreng yang kukunyah dengan beringas. Enak. Lalu kusikat es buah dengan potongan melon dan timun suri. Tapi hanya dalam hitungan menit, belum juga habis satu mangkuk es buah, rasa nikmat itu tahu-tahu sirna. 

Lidahku mulai terasa hambar dan perutku mulai terasa sangat penuh. Sungguh, aku merasa lidahku sendiri mengkhianatiku. Kemana pula sensasi kesegaran ketika es buah itu menyentuh kerongkonganku? Tidak ada. Sungguh brengsek. Rasa lapar, haus, nafsu yang begitu menggelora di satu jam yang lalu hilang sudah cuma karena air putih dan dua buah singkong goreng. Jus strawberry yang kubeli dengan setengah berlari itu bahkan belum sempat kusentuh. Betul-betul sialan tapi kupikir-pikir juga lucu. Kadang kita begitu menginginkan ini dan itu dan ini dan itu, nyatanya ketika kita berhasil mendapatkanya, rasanya tak enak-enak amat. Ketika terlalu banyak, rasa nikmat itu menguap. 

Hampir pukul enam lebih tiga puluh malam. Orang-orang bersiap untuk menunaikan kewajiban shalat maghrib, sebagian lagi langsung menuju masjid untuk melanjutkan Isya dan tarawih dengan wajah yang sumringah. Mungkin mereka merasa menang karena telah berhasil berpuasa hingga maghrib berkumandang. Aku juga. Bedanya, mengapa aku merasa kalah? Pukul lima sore tadi, selepasku bekerja dan dengan sangat bernafsu setengah berlari ke gedung sebelah, aku baru tersadar -- perutku memang tetap kosong, tapi puasaku selesai sudah.

So, if Ramadhan has taught us that our body doesn’t need that much food to survive, then why are we always celebrating Ied with festive - super excessive - food galore? 

Why? 

***

Monday, June 1, 2015

tentang si mpok yang tak sempat kutanya siapa namanya

"Laughing at yourself is a good thing to do. You may be the fool, but you're the fool in charge."  C. Reiner 

Minggu siang, aku terbangun dengan perut kelaparan. Aku mengintip ke dalam lemari tempat menyimpan logistik. Tidak ada satupun yang siap saji. Mau tak mau aku harus keluar, membeli makanan. Tanpa mandi dan berbaju piyama yang lusuh, aku melangkahkan kaki keluar dengan mata menyipit diterpa matahari Jakarta yang sengit. Jakarta Selatan, tempatku tinggal selama hampir dua tahun ini sepi sekali di hari minggu. Warung langganan yang menjual ayam bakar kesukaanku itu tutup. Si pemilik juga mungkin sedang ingin berlibur. Kulirik warung yang menjual kwetiaw goreng gurih yang biasa kubeli untuk makan malam. Tidak buka juga. 

Aku berjalan kaki hingga langkahku terhenti di sebuah warung Indomie. Minggu adalah hari MSG, mau tak mau. Sungguh aku malas sekali mencari tempat makan yang buka dan bisa kutempuh dengan berjalan kaki. Aku lalu masuk dengan pikiran yang bimbang harus memutuskan; antara indomie goreng atau indomie rebus lengkap dengan sawi segar dan telur setengah matang. Warungnya sepi, kebetulan saat itu pengunjungnya hanya aku. Penjualnya seorang ibu-ibu, kutaksir umurnya empat puluh sekian, dia menyapaku dengan ramah. Aku duduk dan memesan dengan mantap, "Mie rebus pakai telor, Mpok, setengah matang."

Dia dengan sigap menyiapkan makanan yang kupesan. Namun kuperhatikan, sesekali matanya menatap ke luar, menyelidik, seperti sedang mengamata-matai sesuatu, lalu dia seperti bergumam sesuatu hal yang tak kutangkap jelas maksudnya. "Kenapa, Mpok?" tanyaku dengan kadar kekepoan yang naik 50 %, pandanganku mengikuti arah mata si Ibu. 

"Noh.. anak saya, tapi dari istri bapak yang kedua," agak bisik-bisik beliau bercerita padaku. "Kayaknya mu minta uang. Kemaren minta, sekarang minta. Minta uang terosss," tambahnya. Masih dengan volume bisik-bisik. 

"Dari Istri bapak yang kedua? Emangnya, Mpok yang pertama? Apa ketiga?" selidikku dengan alis yang sedikit naik. 

"Enak aja, saya nihh yang pertama, taun lalu bapak kawin lagi sama janda, anaknya dua, udah gede dua-duanya, noh yang satu yang itu noh, yang minta duit mulu. Emaknya kemana tau dahh," dia menuturkan sembari memotong sawi, logatnya antara campuran Tegal dan Betawi.

"Kok dikasih kawin lagi, Mpok? Emang dari Mpok ga dapet anak?" tanyaku lagi. 

"Wehhhh.. dari saya anak udah empat, Mbak, itu juga ga keurus, katanya udah cinta sama si janda. Daripada zina. Kalau saya ga mau, nanti saya dicerai, ya gimana yaa, abisnya saya udah gendut ga keruan gini hahahaa, kalau si janda itu beuhh....hahahaa," dia menjawab sambil membentuk bayangan postur tubuh seorang perempuan seksi dengan kedua tangannya. 

Tertawa. 
Dia tertawa. 

Teh tawar yang kupesan ini tiba-tiba terasa sangat pahit di kerongkonganku. Tapi cerita Ibu ini lebih pahit. Dia mengenakan daster agak kebesaran yang lima kali lebih kusam daripada piyamaku. Rambutnya berantakan, diikat buntut kuda dengan seenaknya. Dia memang agak kelebihan berat badan, tapi rasanya tak gendut-gendut amat. Kulitnya hitam dan penuh gurat-gurat, entah kelelahan atau karena tidak pernah memakai pelembab. Aku terus terang tidak bisa menyebutnya cantik, tapi dia juga tidak jelek-jelek amat untuk ukuran seorang ibu beranak empat. Sesaat matanya berkaca ketika membicarakan suaminya, lalu setengah detik kemudian tertawa ketika membicarakan berat badannya. Ibu ini aneh. 

"Terus sekarang bapak tinggal dimana?" tanyaku lagi. 

"Sekarang lagi sering di si janda. Paling seminggu dua kali sama saya. Ahh itu juga udah seneng banget hihihihi..." dia tertawa seraya tersipu agak malu-malu. 

Tawanya lepas. Sungguh lepas. 

"Tapi bapak masih ngasih nafkah, gak?" naluri kewartawananku bergemuruh. 

"Ahh boro-boro, mbak, selama ini juga yang nyari duit saya. Kemaren bantu angkut-angkut brangkal di komplek, tapi sekarang udah engga. Kalo si janda jualan juga di pasar." 

Lalu wajahnya sedih lagi. Menunduk. 

"Trus kok Mpok masih mau aja sama Bapak? Emang ganteng apa?" 

"Hihihihi..ganteeeng laaah," lagi-lagi dia tersipu malu. "Lagian saya kan udah tua, sedih kalau dicerai bapak, hiiii.. ga mau saya Mbak, amit-amit, lagian saya cintanya sama bapak hahahaa.." lanjutnya, dia tertawa lagi. 

"Emang yang mana sih si Bapak? Ada di dalem?" aku mengangkat pantatku sedikit dari kursi, melongok ke dalam warungnya. Sungguh aku penasaran, seperti apa sosok sang Don Juan. 

"Ituuu noh.. yang lagi nongkrong di depan sambil ngeroko," dia menunjuk lelaki tua di luar warung yang sedang duduk di bangku kayu di pinggir jalan. 

Hampir saja mie rebus itu keluar dari mulutku. Hidungnya pesek, kulitnya hitam nyaris keriput, dan menurutku lagi, dia sama sekali tidak tampan. I repeat. Sama sekali tidak tampan. 

Aku menelan suapan terakhir mie rebusku. Lalu beringsut dari kursi. 

"Mpok..." panggilku. "Mudah-mudahan Bapak juga cinta mati sama Mpok yaa! Nih ambil aja kembaliannya," tuturku sembari mengeluarkan uang dua puluh ribu. 

Lagi-lagi dia tertawa, kali ini cekikikan, sepertinya bahagia betul dia. "Amieeenn, waahhh Mbak, beneran ini? Hihihii... Alhamdulillaaahhh, makasi mbakkk," hampir saja dia teriak sangking senangnya.

Pertama-tama kupikir Ibu ini aneh. Tapi setelah sendok mie terakhir habis kulahap, aku baru sadar dan berubah pikiran. Secara emosional, Ibu ini sangat cerdas. David Cohen dalam bukunya Humor, Irony and Self Detachment pernah menasbihkan; kemampuan manusia untuk menertawakan diri sendiri dapat dipandang sebagai kualitas manusiasi yang sangat baik. Dia memiliki kemampuan untuk memisahkan diri sendiri (self detachment) dan membedakan diri sebagai subjek (yang menertawakan) dan sebagai objek (yang ditertawakan) sekaligus. 

Mungkin karena terlalu sering menggunakan hati, lama-lama hati itu jadi kuat, lama-lama hati jadi terbiasa, lama-lama dia jadi perkasa, lalu dia menganggap semua hanya hal-hal biasa, remeh-temeh, kadang kita tertawa, kadang menelan duka, ya sudah saja, tidak apa-apa. Betapa sederhana. Dia menceritakan kisah hidupnya yang lebih mirip drama tragedi dengan cara komedi. Hebat betul perempuan itu. Aku memandang dengan tajam lelaki yang disebut si "Bapak" di seberang jalan, mengumpat dalam hati dengan berang, lalu berjalan pulang dengan perut kenyang. 

But then again, if you can't laugh at yourself, then what's the point of living, right? 

Right? 

***

Tuesday, May 26, 2015

fear him, whom you hate

Satu waktu, Ummar bin Al-Khattab, si mantan pemabuk yang insyaf pernah bilang, "Ucapan itu ada empat jenis," tuturnya. 

"Pertama, membaca Alquran," lanjut dia. Tapi terus terang saja, baca Alquran sering membuatku mengantuk dan bosan. Aku lebih suka membaca tafsir atau membaca sejarah riwayat dan literatur perjalanan para nabi dan istri, the do's and don'ts, what's right and what's not, the why, the who and how? Apakah aku berdosa? Aku tidak tahu. "Kedua, membaca hadits nabi, ketiga membaca ucapan-ucapan penuh hikmat dari para ulama. Keempat, berbicara hal yang penting dalam soal keduniaan. Selain itu, coba kau ingat kawan - semuanya hanya sampah belaka." Tentu aku tidak mendengarnya bicara secara langsung, tapi kurasa ada penekanan intonasi nada yang mengandung banyak arti saat dia mengucapkan kalimat terakhirnya. 

*Kutipan ini ditulis sambil mendengar ocehan serampangan tentang teman yang melepas jilbabnya, tentang aku yang belum juga mau memakai jilbab, tentang melecehkan iman orang lain, tentang kebiasaan buruk seorang teman, tentang artis yang kawin lalu cerai, lalu kawin lagi, lalu cerai lagi, tentang prilaku dan korelasinya dengan frekuensi shalat -- tentang dunia dan segala keburukannya. 

Aren't you tired, people? Seriously, aren't you? 

...

Thursday, May 21, 2015

anjangsana

All journeys eventually end in the same place, home. - Chris Geiger 

Hampir tengah malam keretaku tiba di stasiun Lempuyangan. Kereta kelas ekonomi dengan kursi tegak yang cukup membuat leherku pegal. Tapi tak mengapa, yang penting aku sudah tiba dengan selamat di Yogyakarta. Agak sempoyongan aku berjalan dengan carier 36 liter di punggungku dan day pack 14 liter yang kugantungkan di lengan. Setengah mengantuk, sepanjang jalan aku tertidur dan baru terbangun di stasiun Wates. 

Perjalanan ini sudah cukup lama kurencanakan, hampir dua minggu lalu. Aku ingin mendaki Merapi, lagi.  Sepanjang perjalananku mendaki gunung, rasa-rasanya hanya ada dua gunung yang -- aku-akan-sangat-mau-sekali -- untuk kembali kesana lagi, yakni; Rinjani dan Merapi. Aku suka puncak Merapi, lalu Pasar Bubrah, ahh.. sudah tak sabar rasanya. 

Sebelum mendaki Merapi, aku menyempatkan diri mengunjungi pantai Parang Endog dan tempat yang saat ini cukup populer di Jogja, namanya Kalibiru. Di jalan menuju Parang Endog, kami mampir ke Gumuk Pasir. Kami tidak berlama-lama disana, panasnya sinar matahari yang menyengat tepat pukul 12 petang di atas gurun pasir membuat kami semua kepanasan. Gumuk ini tersusun dari material pasir hitam gunung Merapi yang hanyut terbawa aliran sungai Oyo dan Opak. 

Tidak jauh dari Gumuk Pasir, dengan mengendarai motor kami tiba di Parang Endok. Pantai ini adalah sisi pantai terujung dari Pantai Parangtritis. Karena letaknya yang di ujung pula, maka pantai ini belum terlalu kotor karena tidak terlalu banyak didatangi oleh turis. Kami beristirahat sejenak, duduk di tebing berbatu sembari menikmati senja yang kekuningan lalu perlahan berubah menjadi ungu dan kemudian memekat. 

Hari Sabtu pukul delapan malam kami tiba di New Selo, perhentian terakhir sebelum mendaki Merapi. Ada yang aneh, banyak sekali pendaki yang turun seperti tidak jadi mendaki. Setelah bertanya sana-sini ternyata ada seorang pendaki yang terjatuh di kawah Merapi sore tadi. Gunung Merapi untuk sementara ditutup karena itu banyak pendaki yang ditolak di basecamp. Dengan sedikit kecewa aku terduduk di New Selo. Beberapa anggota Basarnas nampak hilir mudik. Namun akhirnya pukul 00.30 aku dan beberapa orang temanku tetap memutuskan untuk naik meski setelah hasil lobi-lobi, kami hanya diizinkan naik  sampai pos 2. Tak apalah, daripada percuma. 

Pukul empat pagi kami sudah tiba di pos 2. Dengan mata menahan kantuk karena tidak sempat tidur sejenak, kami akhirnya memutuskan untuk tidur beralaskan tanah di pos 2. Kami memang tidak merencanakan untuk camping sehingga kami tidak membawa tenda ataupun sleeping bag. Sepanjang mataku menatap, bintang berhamburan dengan kerlipnya yang gemilap. Ini dia hotel berbintang yang sebenar-benarnya. Hampir pukul lima pagi aku akhirnya memutuskan untuk menyusup ke Pasar Bubrah. Tepat ketika matahari memunculkan wajahnya aku sudah tiba di sana. 

Bubrah, menawan seperti biasanya. Hamparan batu yang membentuk lembah nan megah dan itu dia.. puncak Garuda yang menyembul di antara awan dengan gagah di atas Bubrah yang membuatku gentar, komposisi mengagumkan dari si maha akbar. Sinar matahari membelah memecah ruah di udara. Ini pagi di Bubrah yang luar biasa indah. Aku tidak mendaki ke Barameru, area puncak Merapi. Selain karena memang dijaga ketat oleh Basarnas, minatku pun hilang sudah setelah mendengar kecelakaan yang menimpa pendaki malang itu. 

Tahun 2013 ketika untuk pertamakalinya aku mengunjungi Merapi, aku memang sampai ke puncak, tapi aku tidak berminat untuk mendaki puncak Garuda untuk sekadar berfoto di atasnya. Merapi memang indah, tapi dia tidak cukup ramah. Aku berbalik memunggungi puncak Merapi. Melambaikan tangan, sudah saatnya turun kembali pulang. Puncak itu masih tegap menjulang disana, seperti menatapku, menantang, tapi.. bukankah kembali pulang adalah tujuan dari semua perjalanan?

...

parang endog parangtritis
puncak merapi barameru bara meru pasar bubrah

Monday, May 4, 2015

there is always something good in every may

Hello May! Bulan kelima di tahun 2015. Tahun lalu di bulan ini saya baru saja turun dari Rinjani dan sedang bersiap untuk mendaki Kerinci, tahun ini frekuensi naik gunung agak sedikit berkurang, musim penghujan yang tak kunjung selesai, ditambah pekerjaan yang membludak membuat saya berpikir ulang untuk melakukan pendakian di gunung-gunung yang cukup jauh. Tapi di akhir April saya memutuskan untuk mengambil jatah cuti dan pulang ke Bandung. Ada banyak tempat di Bandung yang bisa kamu kunjungi. Well.. daripada kamu repot-repot mencari info dan membuat rencana untuk mengunjungi Tebing Keraton -- yang sungguh sangat standar pemandangannya dan ramainya bukan main, saya sarankan kamu untuk mengunjungi:

1.  Gua Pawon atau Guha Pawon.
Sebenarnya sudah lama sekali saya penasaran dengan tempat ini, sebagai urang bandung asli -- meski sanes urang sunda asli :-P -- saya merasa berkewajiban untuk menyambangi tempat ini. Gua Pawon terletak di Bandung Barat, tepatnya di Cipatat berdampingan dengan Gunung Masigit. Dari Pasteur jaraknya hanya sekitar satu jam saja untuk menuju kesana. Ketika sampai disana, saya langsung terpana melihat kegagahan Gunung Masigit. Rasanya pingin langsung mendaki sampai ke atas, sayangnya saat itu niat saya cuma jalan-jalan memakai sandal cantik. Gunung ini juga sering dijadikan spot untuk wall climbing.

Gunung Masigit yang ganteng dan gagah perkasa
Gerbang Gua Pawon. Lets go!
Di sini ada dua spot yang bisa kamu kunjungi, yang pertama adalah Gua Pawon yang kedua Taman Batu atau Stone Garden. Saya sih lebih suka Gua Pawon daripada Stone Garden. Kalau kamu termasuk pejalan yang sering mendaki gunung pasti kamu akan merasa bosan di Stone Garden. Dari Gua Pawon, kamu cukup membayar Rp. 4.000,- untuk masuk ke area Stone Garden. Letaknya tidak jauh dari Gua Pawon, cukup mendaki sekitar 300 m dan kita akan sampai di Stone Garden. 

Di Gua Pawon ini juga konon untuk pertama kalinya ditemukan manusia purba yang kemungkinan besar adalah nenek moyangnya orang Sunda. Ketika kita menginjakan kaki ke dalam langsung tercium sengit bau pesing kelalawar. Banyak orang memakai masker karena baunya yang cukup menganggu, tapi lama-lama sih baunya jadi biasa aja, jadi saya sih cuek saja berlama-lama di dalam tanpa memakai penutup hidung.

PS. yang pakai baju kuning itu galaknya bukan main, marah-marah terus karena dipaksa jadi model, tapi berkat kecantikanku akhirnya dia mau..



2. Warung Salse 
Okay. Bandung tentunya tidak lepas dari wisata kulinernya dan nongkrong-nongkrong di cafe-cafe yang instagramable haha. Atas rekomendasi teman saya, kemarin saya mendatangi satu tempat makan di daerah Dago Giri, tepatnya di Jalan Dago Giri No. 101, kamu bisa masuk melalui komplek PPR ITB Dago. Letaknya tidak jauh dari Cafe Lawang Wangi. Sepintas memang bangunannya unik, full dengan kaca. Harga makanannya juga tidak mahal-mahal amat, berkisar antara 20-35rb dan minumannya sekitar 20-25rb. Rasanya juga lumayan enak, saya pesan spagheti godog -- yang sayangnya lupa difoto karena saya sudah sangat laparrr -- rasanya err ya kaya mie godog tapi memakai bahan pasta spagheti. 



3. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango 
Eh.. ini bukan di Bandung ya? Gimana ya udah ketulis.. seperti kita semua sudah tahu, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango atau biasa disingkat TNGGP ini letaknya ya dekat Sukabumi, kalau dari Bandung ya bisa naik bus atau atau naik angkutan sejenis ELF, jalur aksesnya ada tiga; via Cibodas, Putri, atau Salabintana. Jalur paling mainstream sih jalur Cibodas, paling sepi Salabintana karena pacetnya luar biasa mengerikan. Pendakian kali ini saya berangkat bersama teman-teman lama saya melalui jalur Cibodas. 

Terhitung sudah 3 kali saya mendaki TNGGP, tapi sejujurnya TNGGP tidak pernah jadi favorit saya. Bersebrangan dengan Soe Hok Gie yang menasbihkan kecintaan dalam puisinya "Kucinta kau Mandalawangi.." saya sih kurang suka dengan gunung ini, selain karena jalur batu yang licin dan terjal, menurut saya gunung ini ehehee.. nggak ada indah-indahnya. Ups. Jika kamu ingin mendaki Kerinci, atau Raung, atau Dempo, mungkin TNGGP bisa jadi latihan untuk simulasi pendakian selain persiapan fisik. Selain itu yang paling minus buat saya adalah betapa kotornya gunung ini. Sampah menumpuk dimana-mana, di berbagai spot, belum ditambah kotoran para manusia yang benar-benar malas untuk menggali lubang sedikit saja atau melipir ke semak-semak. Oh ya di gunung ini pula untuk pertama kalinya saya shalat menyembah kotoran manusia. *baca Al-Fatihah sambil nangis*

Ini kisahku ketika naik gunung... aku yang motonya.. *sedih*

Sunday, April 12, 2015

hujan minggu malam

Jakarta hujan deras. Minggu malam, hampir pukul delapan. Suami temanku bolak-balik mengajakku mengobrol dari luar kamar. Dia sedang resah. Istrinya -- yang juga sahabatku -- sedang dalam perjalanan ke Jakarta dengan pesawat yang membawanya dari Bali. 

"Dia sudah boarding tadi sekitar jam setengah 7," katanya. 
"Lalu belum ada kabar? Dia sudah landing apa belum?" 
"Teleponnya ga aktif.." 

Wajahnya nampak lesu. 

"Gw khawatir nih.." tambahnya lagi. 

Lalu kilat menyambar sangat keras sehingga kami berdua terkejut. 

"Astagfirullah.." dia merapal. Aku juga. 

Kami saling berpandangan. 

"Tenanglah, ujannya paling ujan lokal ini mah. Kemarin gw juga gitu. Di bandara ujan deras, eh.. sampai sini kering kerontang," tuturku mencoba menenangkan. 

Tak berhasil nampaknya. Dia masih bulak-balik dengan wajah resah. Aku kembali menekuni buku yang sedang kubaca. Lalu tak lama terdengar suara air dari keran, sedikit suara gaduh lalu hening. Sekitar 10 menit kemudian aku keluar. Kulirik ruangan sebelah. Suami sahabatku itu sedang duduk bersila diatas sajadah. Wajahnya menunduk. Dia sedang berdoa. Menunggu kabar dari istrinya yang tak jua tiba. Aku tersenyum, sedikit iri, tapi juga senang. 

Someone is praying for you, isn't that the sweetest thing? 
...

Friday, April 10, 2015

epik

Dibalik rumitnya komposisi antarmuka dan pola komunikasi, aku percaya, mata yang mendengar tanpa distraksi adalah jenis interaksi yang dinginkan hampir semua penduduk bumi. 

Hari yang sangat panas di Pelalawan. Anak-anak ini menyambut kedatangan kami dengan malu-malu namun penuh rasa ingin tahu. Sebagian dari mereka dengan berani bercengkerama dengan kami, sebagian lagi hanya menatap dari jauh. Dengan dialek Melayu yang kental, seorang anak menyapaku. "Kakak darimana?" katanya. Matanya menyelidik  ke arah kameraku. Sebagian dari mereka memakai kaus kaki, sebagaian lagi tidak, dengan kaki telanjang mereka berlari-lari kesana-kemari. 

"Gubrakk!" 

Seorang anak terjatuh. Lututnya berdarah. Teman-temannya tertawa, sementara ia meringis. Ketika kameraku mengarah ke arahnya, sontak ia menyunggingkan senyumnya. Aku tertawa. Ketika waktu istirahat tiba, mereka bergerombol, berkumpul, saling menjahili -- sembari jajan mie yang dimakan sambil dibagi-bagi. Sebagian duduk di kursi satu-satu, ada yang mengaji, ada yang sibuk makan kuaci. Anak-anak ini -- kulitnya menghitam diterkam sengat cahaya, rambut mereka kemerahan, dan sudah bisa kutebak kalau dengkul mereka satu pun tak ada yang mulus, seragam mereka lusuh, sebagian koyak, tubuh mereka bau matahari. Tapi kau tahu satu hal yang sangat kusenangi dari tempat ini?

Tak ada satu pun yang main iPad disini. 

...  



Monday, March 23, 2015

frankly, the main reason why i travel

Because after a fed-up-weary-tiring day at work, i came home to an empty room.

And i hate that.


...

Wednesday, March 11, 2015

sebuah kisah tentang tembok

Di suatu siang yang tak cerah-cerah amat saya dan pacar saya bertengkar. Karena dia tinggal di Bandung dan saya di Jakarta, kami bertengkar via pesan teks. 

"Saya kesal," tulis saya. 
Lalu saya pencet tombol send. 

"Kelakuan kamu tu, bikin otak saya peot. Ngomelllllllll ajaaaaaa. Kamu pemarah," balasnya. 

Pertama, otak peot? Macam apa, tuh? Aneh sekali. Mungkin dia sedang stress, bisa dimaklumi, konon dia sedang banyak pekerjaan, dan saya sedang menstruasi hari pertama. Dia sedang sibuk, saya sedang sakit perut dan ingin mengamuk. Sungguh bukan perpaduan yang ciamik. Kedua, apa pula maksudnya menulis kata mengomel dengan tambahan huruf L yang sangat banyak? Dibilang pemarah pula. Maka dengan geram saya langsung mengetik di telepon genggam saya. 

"Ya memang, plg enak jd org bodo amat. Emang sy pemarah. Kalau mau yg ga pernah marah, pacaran aja sama tembok atau kerdus bekas. Makasih." 

Selanjutnya, dia membalas dengan rentetan kata-kata yang cukup panjang. Intinya dia mengatakan saya si keras kepala. Tapi kemudian saya jadi ingat, ternyata memang pernah ada orang yang berpacaran dengan tembok, bukan hanya berpacaran, dia bahkan menikah dengan tembok. 

Adalah Eija Rittaa Mauer, perempuan yang tinggal di utara Swedia dan menikah dengan tembok Berlin. Pada umur 7 tahun, dia melihat tembok Berlin di sebuah siaran televisi dan langsung jatuh cinta. Pada tahun 1979, Eija 'resmi' menikahi tembok Berlin dan bahkan mengganti namanya menjadi Eija Rittaa Berliner. Ketika ditanya mengapa tidak menikahi tembok Cina, jawabnya "Tembok Cina memang seksi, tapi suamiku lebih gagah dan atraktif." 

Eija dan 'suaminya'
Pernikahan ini berlangsung selama 10 tahun. Pada tahun 1989, seiring dengan runtuhnya Uni Soviet, tembok Berlin pun dihancurkan. Sejak saat itu Eija patah hati berkepanjangan. "Mereka memutilasi suamiku, betapa jahatnya," tuturnya. Dia rutin mengunjungi psikiater untuk menyembuhkan kesedihannya. Hingga akhirnya satu tahun kemudian, Eija berhasil move on dan berhasil menikah lagi.. dengan sebuah pagar kebun. 

Nah, jadi jika kamu sering merasa kesal dengan pasanganmu, atau sedih karena tak jua menemukan pasangan yang cocok, mungkin cara Eija bisa kamu tiru. Bisa dengan tiang listrik, gardu hansip, palang kereta api, atau las karbit. Terserah saja lah, mana yang menurutmu paling baik. 

*brb listening to Opick - Obat Hati 

***


Sunday, March 8, 2015

the mountain is calling and i feel so damn fine

Sungguh, ini musim hujan terlama. Gunung Puntang, 2.222 mdpl. Hanya dua jam saja dari kota Bandung. Naik Elf berdesak-desakan, sebelahku perempuan setengah baya yang terus menerus berusaha menggeser pantatnya agar aku bisa duduk lebih nyaman. Kota Banjaran dengan hujan yang tak kunjung selesai. Nasi dengan gepuk rasanya sungguh nikmat setelah menikmati lalu-lintas yang padat. 2.222 mdpl, hey, it was very nice to meet you! 


 ***

Tuesday, February 17, 2015

i can smell autumn dancing in the breeze


 Coz you know.. most of my best memories come from some old dirt road. 

...