Tuesday, November 13, 2012

hello, uncle ho


Don't go back on your default baby 
i know its hurts 
i can see how hard your trying 
don't let go now 

Wait for the morning 
Wait for the morning dawn 
...


Suara empuk Amy Stroup terpaksa terhenti dari sepasang earphone yang saya kenakan di telinga. Sikutan perlahan seorang kawan disebelah kursi pesawat membangunkan saya. "Kita sudah mau mendarat," katanya singkat seraya mengenakan kacamata hitamnya. Saya menoleh ke kiri. Dari jendela terlihat sawah kehijauan lalu Mekong Delta yang dengan gagahnya melintas tegas di tengah hamparan tanah dan tetumbuhan. Lima detik kemudian terbentang pemandangan gugusan permukiman padat yang berhimpitan. Penanda sebuah peradaban.

Ah, Thank God. Saya benci naik pesawat, pada dasarnya saya memang takut ketinggian. Setiap bepergian kemanapun, dua detik setelah pramugari memeragakan aturan keselamatan penumpang, saya sesegera mungkin menutup mata. Mencoba menghayati obat anti mabuk yang tinggi kadar obat tidurnya. Setelah terlelap kurang lebih lima jam plus waktu transit di Singapura, akhirnya terbuka juga mata saya. Menguap sedikit, lalu meregangkan badan yang sedari tadi tertekuk kaku. Mengencangkan sabuk pengaman, menaikan kembali sandaran dan sekarang.. welcome to Vietnam! 


Perjalanan kali ini bukan perjalanan hura-hura dimana saya bisa menentukan itinerary seenaknya. Saya datang bersama kontingen tim putri DKI Jakarta. Kami berencana mengikuti The 5th Vietnam Hockey Festival. Rombongan kami cukup besar, 10 orang atlet dan 12 orang official. Matahari masih tinggi kala kami menjejakan kaki di Bandara Tan Son Nhat, Ho Chi Min City. Perut saya terasa lapar padahal belum jam makan siang. Maklum, atlet. Uhm. Maka mata saya langsung tertuju pada counter Burger King di pelataran bandara. Oh ya, cukup sulit mencari lapak junk food franchise di Vietnam. Ucapkan selamat tinggal pada Starbucks dan Mc Donalds. Berhubung mereka masih sedikit anti-Amerika, ada Burger King dan KFC saja sudah alhamdullilah. Hehe. 

Seorang pemandu berkebangsaan Vietnam sudah menunggu rombongan kami dengan mobil van besarnya. "Hello, welcome to Vietnam! My name is Huynh bla blu ble crott," sapanya ramah. "Uhm.. say it again?" "Huynh blo bli bla prett" ulangnya. "Hyu, what?" tanya seorang teman saya. "Ok, just call me Steven," jawabnya sambil melepas tawa. Hahaha. Bahasa Vietnam cukup rumit, kebanyakan kosakatanya berasal dari Bahasa China, ditulis dengan menggunakan huruf rumi dan dikategorikan sebagai bagian dari rumpun bahasa Austro Asiatik. 

Destinasi pertama kami adalah Halal Saigon, sebuah restoran halal ala Malaysia yang konon cukup terkenal di Ho Chi Min City. Walaupun begitu, rasanya ternyata biasa-biasa saja. Skala satu sampai sepuluh, Halal Saigon dapat nilai 6. Yah, 6.5 deh. Teh tariknya enak, segar, komposisi susu dan tehnya pas, tidak terlalu manis pula. Tapi makanannya, ya gitu deh. Untuk ukuran orang Indonesia yang gemar mengonsumsi MSG dan vetsin, restoran Asia Selatan sudah dipastikan tidak akan mampu memenuhi demand kegurihan yang tinggi dari lidah seorang Indonesia. 

Setelah urusan perut selesai, kami melanjutkan perjalanan ke hotel untuk check in. Hotel kami terletak di Thu Khoa Huan, District 1. Hanya dua menit saja dengan jalan kaki menuju Pasar Ben Than yang terkenal itu. Hoho. Insting hunting barang aneh-aneh saya sudah membara tatkala melihat bangunan Ben Than dari kejauhan, sayangnya kami tidak boleh pergi kemana-mana. Pukul tujuh malam, acara Ice Breaker Welcoming Party dari panitia sudah menunggu. Ya, sudahlah.

morning in Vietnam 
breakfast ala Vietnamese
morning newspaper

Atmosfir komunis sangat terasa disini. Dari atribut palu arit hingga warna dasar merah, ucapan terima kasih pada partai-partai komunis di seluruh dunia yang dicetak besar-besar hingga berbagai quotes by Paman Ho, tokoh revolusi sekaligus mantan perdana menteri Vietnam. HCMC, biasa disingkatnya, terlihat seperti kota Jakarta pada tahun 1970. Meski ibukota Vietnam adalah Hanoi, HCMC jauh lebih maju dari Hanoi dalam aspek perekonomian. Maklum saja, pusat perniagaan memang sengaja diletakan di HCMC. Tidak seperti Jakarta yang rakus (pusat pemerintahan disitu, pusat niaga disitu juga, bah!) HCMC meski padat dan cukup macet, tapi masih cukup lenggang saat malam.

 Warisan kolonial dari Perancis sebagai bangsa yang pernah menjajah mereka juga masih tersisa di gaya kehidupan para Vietnamese. Salah satunya adalah baguette rules! Makan telur, pakai baguette, makan mie juga campur baguette, sampai makan steak pun tak disajikan dengan kentang, tapi dengan baguette. Buset. Cafe-cafe yang banyak bertebaran di District 1 juga mengikuti gaya cafe-cafe di Paris dengan teras yang lebar dan pengunjung dapat menikmati kopi sembari santai duduk di luar memandangi jalanan, meski sejujurnya pemandangannya tak indah-indah amat. Hehe. 

meja yang menggelikan
see? all about baguette
salah satu cafe di sudut HCMC

Saya agak kesulitan mencari makanan yang pas di lidah saya. Be-a-be-i is like everywhere and I can smell it appropriately even from a far. Oleh karena itu, mengonsumsi roti adalah pilihan paling tepat. Tapi lama-kelamaan bosan juga makan roti terus-terusan. KFC , Burger King atau Subway letaknya cukup jauh dari hotel maupun dari lapangan hockey tempat kami bertanding, alhasil pilihan lainnya adalah kentang. Untungnya di dekat lokasi pertandingan ada sebuah restoran kecil yang menjual ayam goreng lumayan enak. Lidah saya memang cukup merepotkan. Setiap bepergian ke luar negeri, masalah makanan selalu jadi persoalan besar, untungnya resto junk food yang notabene rasanya selalu sama cukup menolong saya.

Oh ya, orang Vietnam sedikit sekali yang bisa berbahasa Inggris. Meskipun bisa, dialek mereka cukup memusingkan, hampir mirip seperti orang-orang Canton di Hongkong atau Macau. Mereka sering memenggal setengah suku kata terakhir dengan seenaknya. Misal; ex-pen-sive menjadi ex-pen-si. "Its really expensi," katanya. Oke deh.  Di The 5th Vietnam Hockey Festival kami berhasil melaju ke final untuk kategori Cup Round, sayangnya langkah kami terpaksa terhenti di runner up, dikalahkan Emirates Dubai 0-2 dengan formasi tim yang terdiri dari dua pemain import timnas Jerman. Glek. Ya, wajar saja, lah. (Pembelaan) 




Salah satu yang saya sukai dari Vietnam adalah kopinya. Ciri khas kopi Vietnam adalah mereka biasa menyeduhnya dengan saringan logam yang bernama metal drip. Cara menggunakannya adalah dengan menyaring kopi dan air hangat, lalu dibiarkan menetes pelan-pelan dan keluarlah kopi yang berwarna pekat dengan bau yang nikmat. Minum kopi ini sebenarnya adalah budaya yang dibawa oleh Perancis dan turut menjadi warisan budaya Vietnamese. Saya sempat mencobanya di Indonesia, tapi ternyata butuh kesabaran luar biasa untuk menunggu kopi meluncur perlahan dari saringan. Haha. Sungguh saya ini memang jiwanya mental kopi instan. Oh ya, mereka juga terbiasa mencampur kopi dengan susu kental manis. Bhueekk.  Rasanya aneh, manis nggak jelas.

Ada satu pembicaraan yang menarik antara saya dengan Steven. Saat itu saya bertanya perihal mengapa di Vietnam jarang sekali ada restoran cepat saji Amerika, jawaban Steven cukup membuat saya sedikit tergugu. Katanya, "We are the communist, we made our own food. We don't need their food. I think you should try Vietnam food, it's quite delicious," Glek. Penggunaan istilah "their food" semacam afirmasi penolakan sekaligus pengotakan terhadap eksistensi bangsa Amerikah di tanah mereka. Bisa dimaklumi, sejarah kelam bangsa Vietnam memang diwarnai oleh kekejaman Amerikah yang memilukan.Oh ya, semua media massa di Vietnam juga dikontrol ketat oleh pemerintah. Semacam jaman Soeharto begitu. Hihi.

Totalnya lima hari saya berada di HCMC. Waktu bebasnya tidak terlalu banyak. Keseluruhan jadwal dan acara sudah diatur oleh pihak panitia dan official kami. Waktu bebas yang tersisa tentu kami habiskan untuk membeli oleh-oleh. Saya sempat curi-curi waktu untuk keluyuran di night market, jam setengah dua belas malam baru kembali ke hotel dan dueenk.. ternyata pelatih saya sudah menunggu di trotoar depan hotel. Haha. Tidak sempat mengunjungi Mekong Delta dengan traditional boat sambil berpose dengan caping. Hiks. Tapi saya sempat mengunjungi Katedral Notre Dama, Central Post Office, Ladies Temple, serta War Museum. 

Banyak gedung tua di HCMC dan hampir semuanya begitu terawat. Pemerintah mereka rupanya tidak main-main untuk urusan perawatan gedung tua. Seperti Katedral Notre Dame yang dibangun pada tahun 1863-1880. Sebuah bangunan bergaya neo-romanesque yang diapit dua menara lonceng setinggi 58 meter. Di depan katedral, patung Saint Regina Pacis menjulang tinggi dengan indahnya. Tapi yang paling saya suka adalah War Museum mereka. Tata letak koleksi, pengaturan ruang sangat terorganisir dan rapi. Meski koleksinya sebenarnya tidak banyak-banyak amat, tapi pemerintah Vietnam mengemasnya dengan sangat cermat. :D 



Vietnam adalah salah satu negara dengan penduduk pengonsumsi bir tertinggi di dunia. Disini semua orang minum bir. Tak heran, banyak sekali bule-bule yang senang nongkrong berlama-lama di cafe-cafe atau bar. Selain mendapat predikat sebagai negara produsen bir terbanyak di dunia, harga birnya pun termurah di dunia, lho. Setiap district punya bir masing-masing haha. Canggih, ya? Saya masih berencana untuk kembali ke Vietnam. Ke Hanoi, lalu naik kereta api menuju Halong Bay, lalu juga mengunjungi Muey Ne. Kalau bisa sih sekalian melintas Kamboja, Laos, lalu melipir sedikit ke kaki Himalaya dan leyeh-leyeh di Tibet lalu Nepal. Hahaha.


You see, travelling it's not always about get your thing pack in a bag and you know, a runaway. Its more like how you willing to see other people sharing their joy, laugh, hearing their stories, comprehend their distress or even just to learn something from stranger. Hence, sure I will see you at the other side of the world. Soon!

...

Tuesday, October 30, 2012

doa malam

Barisan huruf arab itu tak terlalu kupahami, maka kutuliskan saja apa yang bisa kumengerti. Untuk dia, yang maha sederhana, bersedia dicinta dengan rayuan tanpa kata, yang selalu mengada meski acap terlupa. Untuk dia yang tak perlu diberi aksara dengan kapital, sosokmu melebihi penanda sebuah huruf besar di awal kata. Untuk dia, yang selalu menyambutku di ujung alinea, penutup di setiap pembuka hingga lembar daftar pustaka.  Di langit yang sama atau langit ke tiga puluh lima, terserahlah, tak ada bedanya. Untuk dia, yang begitu rapi, begitu mudah untuk dipahami, dihayati, untuk dicintai. 

Nalarku mengawang. Gamang. Tersesat di ratusan gugus galaksi persepsi yang penuh imajinasi, aku hilang. Aku lelah, sayang kepalaku gentayangan, mencari malam, mencari tenang, aku ingin perhentian. Bosan mendengar ocehan para bajingan yang dicabik serampangan, telingaku pengang. Delusi sempurna yang perlahan menghilang tertelan air comberan. Berjalan, perlahan, mencari landasan, membangun tumpuan untuk bersiap terbang. Katamu, hidup adalah berumah pada sebuah perjalanan pulang. Sebuah pembelajaran. Lalu dimana harus kutemui haluan kesayangan? 

...

Thursday, October 18, 2012

so, run (for your life)

Saya suka lari, kamu? 

Kalau orang sering mengatakan istilah 'lari dari kenyataan', saya lah yang paling sering menerjemahkan (sekaligus mempraktikannya) secara harafiah. Setiap saya sedang kesal, bermasalah, sedih, saya lebih suka lari untuk melupakan masalah tersebut. Bisa di treadmill, di trek lari outdoor, atau di komplek perumahan saya, dimana saja lah yang penting pakai sepatu lari. Lari buat saya seperti memiliki sensasi tersendiri. Seperti hari ini, ketika saya sedang luar biasa kecewa pada diri saya sendiri. Hari ini seharusnya jadwal saya latihan, tapi saya tidak berminat memegang stick hockey, saya cuma kepingin lari. Lari. Lari. Titik. 

Maka berlarilah saya. Dua kali lipat lebih lama dari jarak yang biasa. Satu set, lalu dua set. Saya cuma pingin dengar suara itu. Cukup itu saja. Tapi sampai set kedua selesai, suara itu masih belum datang juga. Akhirnya saya putuskan memulai set ketiga. Putaran pertama, putaran kedua, mata ini mulai terasa berkunang-kunang. Saya kelelahan, tapi saya masih kepingin lari. Otot kaki saya mengencang, tapi saya bersikukuh, otot saya masih kuat. Nafas saya mulai memburu. Putaran keempat. Lalu putaran kelima. Saya semakin menambah kecepatan kaki saya. Sprint! 

Keringat menetes deras dari bagian atas dahi. Punggung saya basah, baju saya kuyup bersimbah. Telapak kaki saya terasa melayang di udara seiring setiap hentakan kaki saya di astro turf lapangan Senayan. Putaran kelima di set ketiga akhirnya saya berhenti. Menyerah. It's finish. Saya berjalan pelan. Merasakan aliran darah di kepala mengalir sangat deras, dada saya terasa sesak, nafas saya habis sudah. Lalu datanglah suara yang ditunggu, suara itu.

Dugdug, dugdug, dugdug. 

Suara jantung yang begitu kuat berdetak di dada saya yang sesak. Terasa menyenangkan sekaligus melegakan. Mengalahkan segala kelelahan. Denyut itu merajai seluruh tubuh, bergetar di sekujur pembuluh darah dan nadi saya, mulai dari telapak kaki hingga ujung kepala. Saya menengadah ke atas, mencari tambahan pasokan udara sembari menikmati bunyi yang semakin kuat dengan nafas megap-megap.

Tepat saat raga terasa melayang kelelahan, mengambang di titik yang terlemah, suara itu justru semakin bertenaga. Bunyinya seperti menyanyikan senandung resistan. Menolak melemah, mencekal kepala, memaksa mata kembali terbuka, betapa perkasa. Disanalah pusat semesta manusia yang sesungguhnya. Berhentilah sejenak, dengarlah ketukan sebuah pergolakan seiring segala letih dan lelah. Bahana lantunan pertahanan, tuturan kekuatan, afirmasi  sebuah denyut kehidupan. Bahwa di dalam diri setiap manusia, ada sebuah mesin penggerak yang lebih kuat dari sekadar perkiraan. And if we think about it, isn't that what really matter the most? 

You are alive. That's it.

 ...

Wednesday, October 10, 2012

fabula manusia kota

Apa yang sesungguhnya ditawarkan oleh maket-maket megah itu, Pak Menteri? Adakah sebuah cetakan biru, bangunan arsitektur yang begitu teratur dan terukur? Para manusia kota sudah bersorak ramai dari jarak dua meter. Mungkin mereka mencium bau uang, kau tahu? Sebagian lagi mengernyit, mencium bau hanyir ikan yang disembunyikan rapat dalam habung raksasa berlumur gabah.

Dalam dua puluh tahun ke depan, negeri ini akan menjalani operasi plastik besar-besaran. Mulai dari jembatan hingga pelabuhan, untuk sebuah wajah yang lebih cantik dari sekarang.  Demi sebuah kecantikan artifisial, padahal yang namanya artifisial tak pernah baik untuk kesehatan. Negeri ini akan didandani sesuai kehendak pasar atas nama investasi. Masyarakat girang, siapa yang tak suka dengan wajah yang lebih rupawan? Padahal kita sedang bersiap untuk melacurkan diri. Berharap naik pangkat dari tuna susila level kelas teri.

Sejak didorong dengan keras oleh seorang laki-laki di antrian TransJakarta, saya sudah tahu; mental dan moral ternyata tak datang dari tuhan, apalagi dari setan. Mereka datang dari pemahaman, sebuah proses saling pengertian, bahwa manusia lainnya ada, hidup, dan saling berpautan. Demokrasi, teknologi, percepatan informasi untuk masyarakat Indonesia layaknya sebuah kondom yang diberikan pada anak balita, bahkan penisnya saja belum bisa mengeluarkan sperma. Percuma. 

Lima ratus kilometer dari hiruk pikuk kota, sekelompok manusia desa bersenandung. Senang.  Tertawa. Di jalan yang tak kenal aspal mereka berjalan beriringan, sembahyang lalu bercengkerama. Semua ingin pergi ke kota. Di kota ada bahagia. Konon, masih konon. Mereka melihatnya di televisi, foto-foto, di bis-bis besar yang datang dengan membawa berjuta cerita. Program-program percepatan kemajuan desa terpampang angkuh dalam folder-folder hitam raksasa. Penanda masif senarai ketamakan manusia kota yang berbekal segudang pengalaman urban. Tingkat intelektualitas yang rendah harus diberantas, kata mereka. Betapa stereotipikal. 


Asal kau tahu, sebodoh-bodohnya orang desa, tetap saja mereka bahagia tanpa perlu mendengar ocehan Mario Teguh. Omong-omong, kalau kau masih perlu baca buku-buku motivasi itu, kemana kitab sucimu? Buat ganjel pintu?

...

Friday, October 5, 2012

to kill a mockingbird

Kembali ke Alabama 1930. Akhir-akhir ini saya merasa sedang bertransformasi menjadi Scout Finch. Menakar, mengamati, menganalisis, mencoba mengerti dari berbagai sudut persepsi. Media massa gempar, para jurnalis banjir bahan tulisan, seorang anak paruh baya membunuh dalam sebuah tawuran. Di jejaring sosial berlambang burung dara, batin saya termanggu. Sebuah percakapan terlintas di linimasa saya siang itu. "Dalam tawuran, there's no turning back, bro. Kalo sudah di depan, sikat semua!" Meski dia tak sedang orasi dengan pengeras suara, saya bisa merasakan aksaranya begitu membabi-buta. Lagaknya sudah seperti perdana menteri Netanyahu dengan jargon favoritnya; dibunuh atau membunuh! 

Istilah tawuran tak asing bagi saya. Peristiwa gerombolan putih abu yang berlari kalang kabut kesana kesini dan berkelahi sudah sering saya lihat di televisi. Tak ikut berkelahi artinya banci, dan banci -- lelaki yang ingin menjadi perempuan -- dianggap sebagai salah satu bentuk penghinaan kasta tertinggi terhadap harga diri lelaki. Tololnya, kategori banci justru dilabeli oleh manusia yang senang berkelahi secara kolektif, rame-rame, bareng-bareng. Haha. Orang yang aneh. Yang lebih mengherankan lagi (buat saya) adalah prosesi pembunuhannya. Gila, bukan sekedar tonjok-tonjokan, tapi si inisial D juga cukup bernyali untuk menghabisi nyawa seseorang.

Membunuh orang bukan perkara gampang. Ada sepasang tangan, mata, kaki, logika dan intuisi yang akan melawan. Setiap manusia punya gelombang naluri bertahan hidup yang tak mudah ditaklukan. Berlagak tuhan dan mengakhiri hidup seseorang butuh banyak keberanian. Anak ini bahkan usianya belum lagi menginjak 20. Seorang tentara konon harus dicuci otak supaya bisa berlaku sadis ketika menghadapi musuh. Lalu, dimana bocah ini bisa mengupgrade nyalinya jadi sedemikian besar sampai berani membunuh?

Miriam Budiarjo sekali waktu pernah menulis; dalam kelompok, seseorang akan cenderung kehilangan identitasnya. Dalam kelompok pula, opini akan dibentuk lalu munculah para pemain monopoli opini yang mau tak mau harus diikuti. Berani melanggar aturan? Hukumannya bully! Sudahlah, akui saja, mental bhinneka kita nol besar. Sama rata, sama rasa, sama kepala, atau diasingkan sebagai hadiahnya. Dalam kelompok, seorang individu akan mengalami masalah dalam mekanisme pengendalian moral yang berujung pada kerusakan tatanan sosial yang sifatnya ekstrem dan tidak rasional. 

Sadis, singkatnya. Mungkin perkara bunuh-membunuh hanya salah satu sub variabel dari ratusan sub-variabel sadis yang lain. Membeli tas seharga sepuluh juta, menurut saya juga sadis. Konspirasi Bakrie, juragan siaran televisi yang terus-terusan menyuguhi pemirsa dengan sinetron tak layak tayang untuk pembodohan mental dalam alam bawah sadar juga sadis.  Hmm, entahlah. Atau bully secara verbal di jejaring sosial? Yang jelas, orang-orang yang mengaku terheran-heran oleh perbuatan si inisial D di jejaring sosial adalah orang-orang yang sama pula yang menggugat pasukan alay, yang mengaku atheis lalu menertawakan mereka yang sembahyang, yang mengaku liberal lalu mengejek yang perawan. Seriously, have we lost our sensitivity? 

Saya kira kita semua sudah sepakat hidup dengan falsafah pancasila, nyatanya yang kita lakukan hanya mempraktekan hukum rimba dan membangun kerajaan binatang melata. Saya, satu dari sedikit yang masih saja percaya. Alangkah bodohnya.

Does this look familliar? Source: Setneg







  
"Shoot all the blue jays you want, if you can hit ‘em, but remember it is a sin to kill a mockingbird."

...

Wednesday, October 3, 2012

catatan harian nomor satu satu tiga

Butuh sebuah jeda panjang untuk memahami leluconmu. 

Kita semua tahu, sejak kau suruh Ibrahim menyembelih Ismail -- lalu dengan tiba-tiba kau menggantinya dengan seekor kambing -- terhenyak, kita semua sedang diperkenalkan dengan sifat aslimu, si maha melucu. Kepala ini kadang terasa benar bebal, memikirkan dimana sebetulnya letak kelucuanmu. Oh Tuhan, ayolah aku sedang tidak ingin bercanda. Sekeras apapun berpikir, ternyata memang kadar humor kita berentang terlalu panjang. Butuh dua kuintal kecerdasan untuk mengumpulkan logika dan berpikir dengan nalar yang matang. Mencoba menertawai leluconmu adalah sebuah proses pengalaman pemahaman. Sebuah reaksi parade perubahan yang dimaknai oleh para bedebah, bahwa kita, manusia, hanyalah sekumpulan neurosis rasa bersalah. Setahun yang lalu, hari yang penuh sumpah serapah, baru hari ini saya mampu tertawa, memahami unsur komedi dalam sebuah kisah yang pernah membuat kepala ini gelisah.

Matahari sedang asyik berdandan, bersiap melacurkan diri pada malam, bibirnya bergincu tebal. Dibawahnya, manusia yang tampak kerdil sedang makan beling. Nafasnya memburu, berbau sampah di Bantar Gebang. Kelaparan, kecapaian. Tamaknya letih, memuja, bersungut lalu berdoa. Mencoba menangkap senja dan menyembunyikannya dalam kotak kaca. Kenapa hidup terasa tak lucu lagi, padahal ini bukan jelang mentruasi? Semakin dewasa, nyatanya manusia malah semakin sering merasa merana. Kenapa, ya? Semua akan terasa lucu pada waktunya. Tertawalah, meski sedikit saja.

...

Monday, October 1, 2012

adalah keponakan kecil..

..yang suka sekali merusak bunga. Sampai koyak, lalu diinjak. 



Heeee, problem? 

...

Wednesday, September 26, 2012

mama, mari bernostalgia

Sebulan yang lalu teman saya melahirkan seorang bayi. Perempuan. Mungil. Cantik. Sewaktu mengunjunginya di rumah sakit, perut dan vaginanya masih nyeri sehabis dibombardir, didesak paksa kepala manusia yang ingin menghirup udara. Tapi wajahnya bersinar, sepertinya bahagia betul dia. Apa kau dulu juga begitu, Ma? Di kedua lingkar matanya terlihat gradasi hitam yang memudar, entah lelah atau insomnia, atau mungkin juga euforia, memikirkan nama yang paling cantik untuk si calon bayi. Apa kau juga begitu, Ma? Padahal belasan tahun berlalu si anak akan berkata, 'Namaku kok jelek banget sih, Ma, Galuh, ga ada nama yang lain apa?" 

Mungkin tak banyak yang tahu, melahirkan dan mengurus seorang anak tidak bisa digambarkan oleh warna pastel dan senyuman manis seperti di iklan popok bayi. Apa mereka tahu perihal darah yang mengalir di selangkanganmu itu, Ma? Mungkin bagian itu memang terlalu horror untuk dijadikan materi iklan di televisi. Seprai satin halus dan selimut beludru ungu itu sungguh tidak mampu menceritakan teriakan perihmu ketika mereka menjahit kembali vagina yang dikoyak dengan seenaknya. 

Seringkali kita terbuai, tertipu dengan jargon kelembutan kasih seorang ibu yang dikemas dengan suara dentingan piano klasik yang halus dan lembut dalam sebuah iklan susu. Padahal kalau dipikir-pikir, perjuanganmu lebih tepat diiringi dengan soundtrack musik rock progressive atau bahkan death metal. Coba kutanya, apa ada yang lebih hardcore dari cinta seorang ibu kepada anaknya? Lalu semua orang akan mengomentari betapa lucunya anakmu, betapa sehatnya. Mereka semua akan terpikat pada harumnya wangi bedak bayi dan sepasang mata bulat jernih itu. Tak banyak yang peduli pada huru-hara yang pernah terjadi di ruang panggulmu. 

Lendir  lalu darah. Pembuluh darahmu membuncah, syarafmu mengejang, anusmu menganga, air matamu membanjir keluar tanpa disengaja, kontraksi itu mama, yang membuat perutmu sakit setengah mati, bagaimana caranya kau bertahan, Ma? Beranjak dewasa, masih juga kau terima caci-maki dari si segumpal daging yang dulu kau beri plasenta. Setelah saya perhatikan, prosesi kelahiran ternyata jauh lebih rumit dan menyakitkan daripada prosesi kematian. Maka, meski ternyata kehidupan seringkali mengecewakan, betapapun mengesalkan, betapapun meragukan, tersenyumlah, berbahagialah, bertahanlah. Ya, setidaknya untuk dia -- perempuan yang vaginanya pernah kau siksa. 


Untuk Sharifa Ainie, selamat jadi Ibu. 

...

Tuesday, September 25, 2012

newborn priyayis

Yang kadang membuatku bergidik adalah kicauan para intelektual twitter yang terlalu riuh membahana. Seperti gelombang tsunami informasi yang entah mengalir dari laut atau kali. Keluh kesah, sumpah serapah, marah, meski belum jelas apakah betul atau salah, antara fakta atau karangan cerita, sebaris judul tanpa membaca isi berita. Debat politik murahan sembari melempar kelakar, tertawa, bercanda, serupa obrolan antar teman di warung kopi langganan. Di ujung sebelah sana, jauh datang dari sebuah kelana, sebuah laras panjang dengan sengaja menaruh telinganya. Diam dan mencerna. File, save as. 

Dor! Seketika suaranya menghilang di udara. 
Burung yang terus-menerus mencicit akan lebih mudah ditemukan sarangnya.

...

Saturday, September 22, 2012

intimidatif

Jakarta, Sabtu 11.42 kasur berseprai biru

Dia: Mau kemana nanti malam?
Saya: Got no plan
Dia: Kesini yuk, ada guestlist nih.
Saya: Kemana?
Dia: #Bluemotion at Portico Senayan City. "Paris Autumn Soiree with @benwestbeech (UK" bla bla bla..
Saya: Duh. Acara apaan tuh?
Dia: Don't bother the music. Just go out. Jangan stuck di kamar deh. Okaaay?

Triple A dalam 'Okaaay?' Intimidatif. 

Saya: Hmmm gitu ya.
Dia: Jam 8 ya udah siap, kita ke Sency!
Saya: Harus dandan ya..
Dia: Ga lah, smart casual aja kali *standar* Gimana?
Saya: Lagi males geser pantat nih.
Dia: Ya sekarang nyantai dulu aja, nanti malem siap-siap. Kongkow-kongkow aja, kali ketemu kenalan baru #eh

Apa pula maksudnya tanda pagar lalu 'eh'. Intimidatif. 

Saya: Wadaaw..
Dia: Aku tidak terima jawaban tidak! See ya! Ktxbye!
Saya: Apaan tuh ktxbye?
Dia: Akronim, Oke Thanks Bye! Hahaha, masa ga tau?
Saya: Buset
Dia: Hahaha Ya udah ya, nanti malem kita jalan. Jangan ngendon di kamar aja malem minggu, nanti galau.
Saya: Uhmm.. Aku lagi malas ketemu manusia nih. 
Dia: Cah ilah dia ansos lagi *emoticon menepuk jidat* 

***

Malam minggu kalau di kamar aja nanti galau. Semesta dan segala keharusannya sungguh intimidatif. 

Sunday, September 16, 2012

sumber hidangan


Kalau jalan-jalan ke Bandung, jangan lupa mampir ke sini, Sumber Hidangan d/h Het Snoephuis. Restoran ini sudah berdiri sejak 1929. Letaknya di Jalan Braga. Memang agak sulit mencari restoran ini, karena  tidak ada papan nama yang cukup besar dan terlihat agak kurang terawat dari depan. Dulunya tempat ini cuma menjual kue dan roti yang khas, semacam kue-kue buatan nenek; Bokkepoot, mocca truffel, chocolade rotajes atau ananastaart. Lama-kelamaan konsepnya berubah jadi restoran. Dulu saya pernah kesini, cuma untuk mencoba kue-kuenya dan minum kopinya. Rasanya kopinya sih menurut saya biasa aja, kue-kuenya juga terlalu manis buat saya. Semacam giyung begitu. Tapi mungkin buat yang suka penganan yang manis-manis, Sumber hidangan bisa jadi pilihan. Harganya juga tidak mahal, cocoklah di kantong anak kostan. 

Yang saya suka justru Wiener Schnitzelnya, bistik ala Austria yang banyak disajikan di restoran-restoran Jadul di Indonesia. Harganya kalau tidak salah Rp. 32.000,-  Pilihannya ada tiga; sapi, ayam, dan babi. Saya pilih sapi, teman saya pesan babi. Daging has terbungkus tepung panir dengan telur dadar di atasnya, dikelilingi sayuran segar yang dipotong agak besar. Hihihi. Enaknyaa. Kentangnya juga saya suka, kentang potong ala rumahan yang terasa lebih empuk di mulut. Porsinya cukup lumayan besar buat saya, dagingnya juga cukup tebal. 

Konon banyak orang yang menggemari roti tawar Sumber Hidangan, tapi saya sendiri belum pernah coba. Roti ini ternyata cepat sekali habisnya, kalau mau membeli roti Sumber Hidangan disarankan datang sekitar jam 9-10 pagi, saat rotinya baru keluar dari oven. Untuk roti manisnya, best seller Sumber Hidangan adalah roti kejunya. Dibanderol Rp. 4.000,- bentuknya memanjang dengan ukuran sedang. Kekuatan rotinya cuma dua hari, karena mereka tidak pakai pengawet ataupun bahan kimia di dalam adonan roti mereka, sehingga memang jadi cepat basi. Tapi lebih sehat, bukan? :)

Pelayan-pelayan di Sumber Hidangan itu semacam oma-oma dan bapak-bapak tua. Banyak orang bilang mereka kurang ramah, tapi kalau menurut saya sih biasa-biasa aja. Mereka memang belum menerapkan prinsip 'pembeli adalah raja', kayanya prinsip mereka adalah gabungan antara 'pembeli sama penjual sama-sama manusia' serta prinsip sejatinya anak pantai. Santaiii. Haha jadi ya perlakuan mereka juga biasa aja, ga lebay atau senyum berlebihan. Mu beli syukur, engga juga nggak apa-apa. :))



...

Saturday, September 15, 2012

catatan kehidupan nomor tiga puluh delapan

Seingat saya, Karl Marx pernah cerita begini: 

Alam tidak memberikan makanan kepada manusia seperti halnya binatang yang bisa langsung main sikat tanpa perlu mengolahnya atau -- memasaknya terlebih dahulu. Alam hanya memberikan bahan makanan yang harus diolah kembali oleh manusia, selanjutnya? Ya terserah anda. Dengan demikian tak berlebihanlah bila Marx menasbihkan manusia sebagai mahluk yang harus bekerja karena alam pun sudah mengaturnya demikian rupa.

Pada dasarnya, manusia memang harus bekerja, tujuannya ya untuk memenuhi kebutuhan dirinya, untuk mempertahankan hidupnya. Tapi bertahun-tahun kemudian uang diciptakan dan peradaban pun mengalami percepatan. Manusia kini bekerja bukan lagi untuk mendapatkan sejumlah nonimal uang yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhan dirinya, tapi juga mencakup kebutuhan pandangan orang lain akan dirinya (misalnya; membeli gengsi), untuk memenuhi tuntutan kelas sosial (yang bodohnya kelas tersebut juga diciptakan oleh dirinya sendiri) dan pandangan Tuhan tentang dirinya (misalnya; untuk biaya naik haji). Ya, kira-kira demikian yang bisa saya simpulkan.

***

Sudah hampir dua bulan saya bekerja di sebuah perusahaan software yang memproduksi tools untuk media filtering dan monitoring. Kebanyakan orang yang -ketika saya memberitahu pekerjaan saya- akan melontarkan pertanyaan kedua; "Apaan tuh?" Jadi mungkin saya akan jelaskan saja disini pekerjaan saya, sehingga teman-teman saya yang kebanyakan wartawan (dan sangat kepo sekali orang-orangnya) tidak perlu repot-repot lagi bertanya, "Apaan tuh?"

Intinya sih begini, saya bertugas untuk memonitor, menganalisis, membaca grafik dan data, lalu menyimpulkan, apa-apa saja yang ditulis oleh wartawan media anu, media ono, basically semua media sih, terutama yang sering sekali menuliskan berita dengan negative sentiment yang berlebihan untuk client saya. Berhubung sekarang sedang jelang pilpres 2014, maka client saya pun adalah orang-orang yang sedang melakukan pre-campaign untuk calon RI satu.

Saya tidak terlalu paham politik. Dari angka satu sampai sepuluh, mungkin saya dapat nilai tujuh. Itu berarti B yang hampir ke C, it's B minus, and i wanna get an A.  Itu salah satu alasan saya menerima pekerjaan ini. Saya ingin belajar. Di kantor baru ini saya bertemu dengan orang-orang yang paham sekali carut-marutnya dunia politik. Mereka yang memiliki analisis tajam membaca strategi propaganda dari perspektif media, dan saya belajar sangat banyak dari mereka. Middle boss saya adalah redaktur-redaktur majalah terkemuka yang sudah sangat berpengalaman. Sejujurnya saya senang bisa mengenal dan bekerja bersama mereka. 

Tapi setelah dua bulan berlalu, rasa itu datang lagi. Rasa yang sering hinggap ketika saya sedang menjalani sesuatu yang membutuhkan komitmen jangka panjang; rasa bosan. Rasa bosan ini memiliki variable pula, saya rindu jadi wartawan (alah). Sekitar dua minggu yang lalu, sebuah perusahaan grup media menghubungi saya, menawarkan pekerjaan sebagai wartawan untuk sebuah majalah. Grup media ini sebenarnya memang sudah saya incar sejak saya lulus kuliah satu tahun lalu. Oh sungguh bimbang hati anakmu ini, Mak. 

Hari kamis kalau saya tidak salah ingat, saya mendatangi juga kantor media tersebut. Jadwalnya hari ini adalah test tulis. Ini dia kantor yang sempat menjadi kantor impian saya dulu. Saya menunggu di lobby sampai resepsionis mempersilakan saya naik ke lantai empat, yang ternyata adalah ruang redaksi majalah tersebut. Lima detik setelah saya melangkah keluar dari lift, saya tergugu. Kantor ini penuh dengan monitor berkonde jaman megalitikum. Hehe. Saya jadi curiga pc mereka masih level pentium. Alamak. Terus-terang saja, saya langsung membandingkan dengan kantor saya yang serba Mac, serba canggih.

Lalu sesi selanjutnya, offering salary. Saya bertemu dengan pemimpin redaksi sekaligus vice president media grup tersebut. Sialnya, angka yang mereka tawarkan lebih rendah dari angka di kantor saya sekarang. Saya berusaha melobi mereka, mencoba menggugat angka yang lebih rendah itu, tapi mereka bersikukuh. Intinya, rate salary level di perusahaan mereka memang seperti itu. Hmmm.. 

Logikanya, seorang pekerja akan mencari angka yang lebih besar bukan ketika mereka harus berpindah kerja? Ya, saya paham itu. Tapi ditempat itu saya bisa jadi wartawan, bisa menulis, bisa mengeluarkan ide-ide di meja redaksi, ahh betapa menyenangkan. Tapi.. tapi.. ahh betapa banyak 'tapi' yang keluar di kepala saya siang itu sampai akhirnya saya memutuskan untuk mentraktir diri saya sendiri segelas kopi. 

***

Kembali ke cerita Marx, saat itu dia juga meramalkan bahwa ketika uang sudah menguasai peradaban, manusia akan melakukan apa saja demi uang. Mereka akan bekerja demi uang - bukan untuk memuaskan diri sendiri, bukan untuk aktualisasi diri, bukan pula untuk kebutuhan. Manusia - tak ada bedanya dengan robot pencari uang, yang bisa disetel sedemikian rupa untuk terus menghasilkan tanpa memerhatikan kebutuhan. Jadi, sekarang mana yang kau pilih? Uang atau kepuasan? Karena meski kerap disamakan atau dianggap saling bersinggungan, ternyata dua hal itu adalah hal yang sangat berbeda dan tidak memiliki korelasi antara satu dan yang lainnya.

Oke Marx, cukuplah kau berkicau. Kepala ini pening dibuatnya. 

***

Dia: Jadi mau pindah?
Saya: Belum tahu. Banyak pertimbangan, terutama soal salary. 
Dia: Tapi jadi wartawan itu kan kaya ilmu..
Saya: ... *tiba-tiba hening

Maka dengarkanlah ini sebentar; bila kau punya mimpi maka kejarlah. Sampai jatuh, sampai memar sikutmu, sampai biru dengkulmu, sampai lebam kepalamu, sampai mampus.

...

di petak sembilan bagian dua


Setelah tertunda sekian lama, akhirnya saya berhasil juga menyambangi kedai es kopi Tak Kie di Gang Gloria, Petak Sembilan. Menjajal Gang Gloria bagian pertama lihat disini ya. Saya cuma mencoba es kopinya. Teman saya, Sandri, memesan es lidah buaya, dan yang bikin saya penasaran sama tempat ini pun memang cuma kopinya. Walaupun begitu tempat ini menjual berbagai macam makanan, seperti bakmi, bubur, hingga nasi tim. Sayangnya, semua masakannya diolah pakai si binatang berkepala empat yang jalannya suka nunduk, jadi terpaksa saya skip deh. Hehe..

Mungkin karena saya terlalu bersemangat clingak-clinguk di kedainya sambil foto-foto, si pemilik Tak Kie, Koh Latief jadi ikut duduk di meja kami dan mengajak ngobrol panjang lebar. Orangnya baik dan suka curhat. Haha. Kami bicara tentang segala rupa, mulai dari curhatnya soal nama kedai kopinya yang tidak mau diganti pasca Soeharto naik jadi presiden, soal rasa kopi Starbucks yang menurut dia sangat 'berantakan', soal rasa kopi instan yang katanya memakai terlalu banyak beverage essence, soal pilkada Jakarta, sampai tips and trick cara membuat mie dari bambu, cara membersihkan daging babi supaya steril -__- hingga bagaimana cara memasak swike supaya dagingnya tidak hancur.

Saya suka kopinya, tidak terlalu manis, aroma dan rasanya juga sangat kuat. Segelas es kopi susu dibanderol Rp. 10.000,- "Sekarang sih enak yah, saya ga pernah pasang iklan, tapi banyak yang tahu Tak Kie dari internet," tuturnya. Biji kopinya diambil dari biji kopi Lampung, ramuannya didapatkan dari resep turun-temurun. "Tak kie itu artinya bijaksana dalam bahasa Mandarin," katanya. Usaha kedai kopi ini ternyata sudah berjalan sejak tahun 1927. Pasca G30S/PKI, plang kedai kopi Tak Kie sengaja disembunyikan, pokoknya dia bersikeras tidak mau nama kedai kopinya diubah menjadi bahasa Indonesia. Kalau ada ras di dunia yang sangat kuat identitasnya dan paling sulit dikenai doktrin asimilasi, ya ras Cina juaranya. Dibelahan dunia manapun, ketika ada ras Cina yang menetap, maka dia akan segera merapatkan barisan, membentuk lingkaran, dan lahirlah Pecinan. Haha.

 "Dulu Pak Bondan suruh saya suplai bakmi untuk warung kopinya, tapi saya ga mau. Soalnya dia mintanya ga pake babi, rasanya kan jadi ga enak," ceritanya panjang lebar. Selain mengurus kedainya, Koh Latief juga sibuk jadi suhu barongsai. "Saya ga suka sama pengamen barongsai, seenak-enaknya aja main-mainin barongsai buat cari uang," katanya sambil memperlihatkan fotonya semasa muda dan menjadi pemain barongsai. Hasil oceh-mengoceh dengan Koh Latief, kami jadi ditawari kue hasil bikinan dia, namanya kue Maco. Semacam onde-onde tapi dengan ukuran yang jauh lebih besar dan lembut, dalamnya berisi kacang. "Yang ini ga pake babi kok. Muslim kan? Assalamualikum.." katanya sambil tersenyum simpul. Hahaha. Kamsiah ya, Koh Latief.



...

Friday, September 14, 2012

perahu tempur

Ada yang ingin kugugat perihal watakmu yang lebih mirip pantat serdadu. Entah apa, entah bagaimana.  Jatuh cinta itu tak ada bedanya dengan invasi militer. Serangan tak terduga yang diluncurkan secara bertubi-tubi, begitu rumit, begitu pelik. Adrenalinku terasa benar menggerus habis seluruh persendian. Lemas. Tapi aku tak pernah kalah meski kapalmu sekokoh KRI Fatahillah. Perahu milikku hanya perahu karet, itu pun masih untung bentuknya bukan bebek. Kau menungguku tergelincir, lalu jatuh, dan kau ingin mengambil alih peranan menjadi tuan di kepalaku. Kepung Wei untuk mendapatkan Zhao. Kau tahu persis strategi selanjutnya setelah puas memperdaya samudra. Sekarang aku belajar, memenangkan pertempuran tanpa perlawanan adalah esensi seni perang. Palungku dalam dan berpagar, percuma saja menembusnya. Kecuali kau keringkan seluruh airnya, ingat ya, jangan pernah bermimpi untuk mendarat disana.

...