Thursday, November 17, 2011

Just when you think you can't get any crazier...

This is. Me. Haha!

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

Anyway.. save yourself for some suprises.

1. Currently, im into make up. Haha! If you have known me for years you must be shock. Yeah, me? Me? Really. Yes buddy! You can really tell, yes people does change. Ill save the story later on another post, oh this is so interesting. :D
2. Im officialy pengangguran! Yeay! Still dont know which way to choose. But i think for now im gonna give myself a lil break. :p
3. Im taking a Japanese language class now. Actually, my mom is an expert, however i barely touch her books, i dont know anything about Japanese thingy. But im so enjoying my class a lot. Still learning how to write a good hiragana. Wish me luck!
4. Next month im also taking a traditional dance class. Haha! Funny, eh? Lets see what i can do after a couple months, tari merak battle, perhaps? :D
5. Im quitting hockey. I got bored. (Oh well.. seriously, after 12 years, what do you expect?) Thats why i decided to join the dance class.

to be continue..

Hajimemashite!

Sunday, October 23, 2011

From Bali to Gili


Hasil hunting tiket gratis dari AirAsia tahun kemarin saya pergunakan untuk menginjakan kaki di Gili - Lombok - Nusa Tenggara Barat. Cukup lumayan juga waktu yang dibutuhkan, kurang lebih perjalanan saya kali ini memakan waktu 8 hari. Kalau kamu berstatus pegawai yang belum juga setahun bekerja, sudah lupakan saja rencana untuk mengunjungi Lombok. Waktu yang dibutuhkan menurut saya sih paling efektif adalah 4-5 hari. Dari delapan hari yang saya punya kemarin, dimulai dari CGK-DPS-CGK, saya menghabiskan waktu di Lombok 5 hari dan Bali 3 hari.

Image and video  hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

salah satu sudut pantai di Gili Trawangan


Pesawat saya mendarat di Bali pada pukul 7.20 WITA. Kami langsung menelusuri Poppies 2 (otomatis mencari yang termurah, hostel/losmen untuk backpacker kere macam kami) FYI rata-rata losmen/hostel backpacker di Bali tidak bisa menggunakan sistem booking, go show dan bismillah adalah jalan paling tepat. :p Honestly, dari total kunjungan saya ke Bali sebanyak empat kali, baru kali inilah saya benar-benar merasakan datang ke Bali sebagai backpacker. Selain bahwa saya bukan salah satu penggemar Bali, setiap ke Bali kedatangan saya selalu bersama keluarga atau teman-teman yang tidak bisa dicap backpacker, tinggal di tempat murah yang jelas bukan pilihan mereka. Hehe..

Hasilnya? Hmm.. (sedikit) mengecewakan. Kami mendapatkan kamar termurah di Kuta, seharga Rp. 100.000,- per kamar. Kamar berisi dua tempat tidur single (twin) atau double. Kamar juga bisa diisi tiga orang tanpa dikenai charge tambahan, sudah dilengkapi kamar mandi dan fan. Sayangnya, kamar kami jendelanya rusak tidak bisa dikunci, lalu teman saya di kamar yang lain mendapati seprainya terdapat noda (yang sepertinya) darah. Yikes. Tapi apa boleh buat. You get what you paid, right? Tinggal tutupi seprai dengan kain/sarung, beres deh. :)

Makanan paling enak kalau kamu menginap di Poppies 2 adalah Warung Indonesia. This one is totally recommended. Menunya nasi campur dengan lauk yang beraneka macam. Enak dan sangat murah. Hari pertama kami di Bali malah hedon dan hura-hura haha.. maklum ada teman dalam rombongan kami yang merasa tak lengkap rasanya ke Bali tanpa berpesta :p Untuk yang ini saya kayanya belum terlalu expert merekomendasikan tempat-tempat yang oke. Terakhir saya dugem di Bali adalah tahun 2006 di Hard Rock Cafe haha so yesterday ya? Tapi Sky Garden lumayan menarik, walaupun dicharge IDR 50.000,- /person langsung bisa ditukar dengan minuman dan tempatnya tak membosankan. Atau Apache dengan promo buy get one free nya juga cukup menarik. Intinya banyak kok tempat menarik di Legian bagi yang mau hedon, yang perlu dicermati hanya satu (buat saya pribadi) : bule-bule mabuk yang menyebalkan. Yuck.

Malam itu juga kami mencari travel agen yang menyediakn shuttle bus langsung ke Gili Trawangan. Sebenarnya akan lebih murah apabila menggunakan jalur ngeteng, alias naek angkot/mobil charteran sampai Padang Bai, lalu naik ferry menuju Pelabuhan Lembar, namun dengan perhitungan quota kami yang hanya berjumlah lima orang, serta kebanyakan dari kami adalah perempuan, kami putuskan untuk menggunakan jasa shuttle bus. Jasa shuttle bus dari Legian menuju Gili umumnya adalah IDR 180.000,-/person, namun dengan kemampuan saya menawar (agak) sadis plus wardrobe mahasiswa semester awal dan muka prihatin, "Bli.. mahasiswa nih bli.. harganya dong Bli..", akhirnya kami mendapatkan harga IDR 140.000,- /person. Total PP adala Rp. 280.000,- Lumayan boy, bisa dipake buat makan. :p

Shuttle bus menuju Gili berangkat setiap jam 07.00 pagi. Service termasuk penjemputan dari hotel sampai dermaga Gili yang dituju (Air, Trawangan atau Meno). Walaupun namanya shuttle bus, jangan salah paham ya, bus yang dimaksud adalah mobil ELF 300 atau sejenis mobil-mobil travel. Kurang lebih dua jam perjalanan menuju Padang Bai, lalu kita akan diturunkan di Pelabuhan dan menunggu sampai ferry datang. Ferry berangkat jam 12.00 siang, lumayan juga waktu yang dipergunakan untuk menunggu.

Image and video hosting by TinyPic

Pemandangan dari Pelabuhan menuju bangsal.

Setibanya di Pelabuhan Lembar, perjalanan dengan ferry kurang lebih memakan waktu 4-4.5 jam tergantung ombak dan cuaca saat itu, kami dijemput dengan mobil travel dan diantar ke Bangsal. Bangsal adalah dermaga kapal-kapal kecil yang nantiknya akan mengantar kita ke Gili. Suatu kebetulan yang menguntungkan, di ferry teman kami berkenalan dengan seorang pemuda Mataram asli haha.. dari dia kami mendapatkan info tempat menginap termurah di Gili Trawangan. Namanya Bungalow Hantu. Walaupun namanya sedikit aneh tapi tempatnya nyaman dan bersih. Harga perkamar hanya IDR 80.000,- dengan tempat tidur double. Meskipun kamar diisi oleh tiga orang juga tidak dikenai charge tambahan. Hoorayy! Tempatnya memang tidak di pinggir pantai, tapi sangat dekat ke pantai.

Oh ya, saat sedang menunggu di bangsal kami melihat pengantin yang diarak berjalan kaki di tengah jalan. Ternyata adat Lombok mengharuskan pengantin yang sudah resmi menikah, untuk diarak dengan berjalan kaki menuju ke rumah penganti perempuan. Yang lucu, arak-arakan ini diiringi dengan organ tunggal yang memainkan lagu dangdut. :))

Image and video hosting by TinyPic

Pengantin yang di arak oleh warga :)


Perjalanan dari Bangsal menuju Gili Trawangan memakan waktu sekitar 30 menit saja. Setiba di sana kami langsung bertanya pada penduduk setempat mengenai lokasi Bungalow Hantu. Penjaga bungalow ini juga baik dan ramah, walaupun sering sekali dia bangun terlalu siang, sehingga kami sering kesulitan mencari air panas untuk bikin kopi di pagi hari hehe.. Di Gili tidak diperbolehkan menggunakan alat transportasi yang menggunakan mesin (kecuali perahu tentunya) sehingga alat transportasi disini hanya ada dua jenis : sepeda dan delman. Penyewaan sepeda rata-rata berkisar Rp. 45.000,- sampai Rp. 50.000,- untungnya mas penjaga Bungalow Hantu mau memberikan harga murah untuk penyewaan sepeda sebesar Rp. 35.000,- saja.

Image and video hosting by TinyPic

Mengendarai sepeda di Gili gampang-gampang susah.
Ada beberapa jalan yang tidak bisa dilalui sepeda karena terlalu berpasir, mau tak mau harus turun dari sepeda.


Image and video hosting by TinyPicMe, was trying to capture my favorite ice cream place.
Gelato Rp. 15.000,-


Gerai-gerai tour agent yang menawarkan berbagai macam paket mulai dari tur komodo hingga rinjani dapat ditemui di sepanjang jalan Gili Trawangan. Berhubung waktu kami hanya 5 hari, kami hanya memilih paket tour snorkeling tiga pulau dengan glass bottom boat yang dibanderol Rp. 100.000,- dan lagi-lagi kami tawar hingga Rp. 85.000,- hehe. FYI tur komodo berkisar 1.5 - 1.8 juta rupiah 4hari 3malam onboard all in, sedangkan tour rinjani Rp. 800.000-Rp. 1 juta. Tergantung kemampuan kamu menawar ya. :)

Pulau Gili Trawangan sungguh di luar dugaan saya. Pulau ini sangat modern! Haha walaupun tidak ada kendaraan bermotor, pulau ini memiliki fasilitas yang sangat lengkap, mulai dari klinik 24 jam, toko baju Vintage, toko buku hingga atm berbagai macam bank bersebaran di mana-mana. Baru kali ini rasanya saya mengunjungi pulau sekecil ini yang memiliki atm.

Image and video hosting by TinyPic

Hari pertama karena kami tiba selepas maghrib, kami hanya check in di Bungalow Hantu lalu mandi dan berjalan-jalan sembari mencari makan malam. Setiap malam, tepat di pintu dermaga Gili Trawangan terdapat sejenis night market yang menjual makanan. Murah-murah dan enak, mulai dari sea food hingga mie ayam. Hiburan lain di pulau Gili Trawangan adalah menonton film di layar besar, kira-kira semacam layar tancap haha.. cukup membeli makanan atau minuman, kamu sudah bisa menonton film di pinggir pantai sambil tidur-tiduran.

Hari kedua kami memutuskan untuk bersepeda memutari Gili Trawangan. Kira-kira dibutuhkan waktu hampir satu jam untuk mengelilingi seluruh Gili. Setelah itu kami beristirahat di sebuah warung yang menjual kelapa muda sambil berenang di pantai. Pantainya sangat sepi dan bersih. Mudah sekali menemukan mama penyu disini. :)

Image and video hosting by TinyPic

Hari ketiga kami mengikuti tour snorkeling di tiga pulau (Trawangan, Meno, Air). Tour ini dimulai pukul 10.30 hingga 14.30. Underwater ketiga gili ini menurut saya tidak terlalu istimewa, sudah lumayan banyak yang hancur, walau tidak separah pulau seribu. Kelebihannya mungkin karena banyak sekali penyu disini. Selesai mengikuti tour kami kembali ke Bungalow Hantu, mandi lalu berangkat menuju Gili Trawangan Hill untuk melihat sunset.

Image and video hosting by TinyPic

Perjalanan mendaki menuju puncak bukit bisa dicapai dalam waktu kurang lebih lima belas menit saja. Tidak terlalu jauh kok untuk sampai puncak dan puas sekali rasanya melihat sunset di Gili dari atas bukit. Ah-ma-zing!

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

and.. you'll see this greatest view. Tadaa..

Image and video hosting by TinyPic

Catatan penting :
1.) Orang-orang di pelabuhan Padang Bai itu menyebalkan luar biasa. Mereka lebih menghargai turis mancanegara dibanding turis lokal. Bisa dipahami, setelah saya perhatikan turis domestik di Gili mungkin hanya berkisar 10% saja, sisanya adalah turis mancanegara. Ironic.
2.) Hati-hati dengan porter yang suka main angkut ransel/koper, mereka dengan seenaknya mengangkut seakan itu adalah bagian servis travel agent yang kami sewa. Nyatanya setelah sampai di ferry mereka meminta bayaran IDR. 50.000,- dan mereka tidak mau dibayar kurang dari itu. Zzz..
3.) Harga-harga di mini market di Gili Trawangan sangat mahal. Semisal, sampo Clear berukuran 100 ml dibanderol Rp. 30-40rb Minuman soda kaleng Rp. 10-15 ribu, bir bintang kecil Rp. 20rb dll bisa dimaklumi karena akses masuk ke pulau ini juga tidak murah.

Hari keempat kami pulang menggunakan shuttle boat pada pukul 8 pagi, sudah termasuk dalam biaya Rp. 140.000,- sesampai di Bangsal kami diantar oleh travel agen kami menuju Senggigi dan menginap semalam disana.

Image and video hosting by TinyPic

Pantai Senggigi, dulunya adalah salah satu pantai favorit di Lombok. Namun ketika kami sampai disana, Senggigi sangat sepi dan ternyata pantainya kotor sekali. Sampah berserakan di sepanjang pesisir pantai. :( Turis pun sangat sedikit sekali jumlahnya. Jam delapan malam, Senggigi terkena pemadaman listrik dan kami pun mati gaya. -_- Ternyata perihal pemadaman listrik ini memang sudah sering terjadi di Senggigi. Bahkan pedagang kaki lima pun sudah sedia genset. Alamak..

Image and video hosting by TinyPic

the dirty Senggigi..

Sehari di Senggigi, keesokan harinya kami langsung bertolak menuju Bali. Masih menggunakan shuttle bus yang sama. Ada salah satu kejadian menyebalkan setibanya kami di Padang Bai, Bali. Saat itu saya dalam keadaan kebelet pipis, lalu saya berkata pada staff tur agen kami di Bali untuk permisi ke toilet, eh dia menjawab dengan semena-mena, "Kamu orang lokal diem aja deh tunggu sini."
Man, WHAT THE FUCK? Gggrhhh.. seriusan deh, kalo si Bli itu temennya ga banyak, saya mau deh berantem satu lawan satu. -_- Seperti saya sebutkan satu di atas, jarang sekali turis lokal yang berkunjung ke Gili. Dalam ferry saja, sepertinya kami hanya satu-satunya turis lokal, yang lainnya kebanyakan turis Australia dan Eropa.


Friday, September 30, 2011

Membeli Gengsi

Suatu siang, saya bertemu dengan seorang teman lama. Sambil makan siang kami mengobrol ngalor-ngidul sampai tiba-tiba dia berkata (kira-kira) seperti ini :

Dia : Duh lagi pusing nih mesti bikin makalah pesanan. Cuma 9 halaman sih, tapi bukan bidang gue. Jadi pusing nih cari bahan.

Saya : Hah? Pesanan? Siapa yang pesan?

Dia : Anak MBA titik titik titik. (sensor)

Saya : Buset. Dibayar berapa lo?

Dia : Rp. 500.000,-

...

Pembicaraan berlanjut lagi. Saya menyatakan keheranan saya sekaligus pengandaian saya. "Gila ya, makalah 9 halaman bayarnya 500rb kalo gue jadi dia sih mending gue pelajarin sendiri. Begadang ya begadang deh." Lalu dia menjawab, "Yah.. orangnya sibuk."

Saya : Terus ngapain dong kuliah lagi?

Dia : Yaaa biasalah, gengsi.

...

Ngek. Saya tertohok. Beneran deh. Saya tahu kok semua orang punya gengsi. Yakin. Termasuk saya. Tapi gengsi itu relatif dan sangat variatif. Sebisa mungkin gengsi jangan sampai merugikan orang lain.

Terus gengsinya disebelah mana? Karena S2? Karena MBA? Emang keren yah?
Logikanya aja deh ya. Orang sekolah biar apa? BIAR PINTER. Yang artinya, orang yang sekolah itu GOBLOK. Makanya disekolahin. Biar rada berotak (dikit). Terus terang aja saya juga merasa begitu kok.

Kenapa saya sekolah lagi? Tentunya selain alasan biar ga ditanya kok ga nikah-nikah, ya jujur saja, saya merasa bodoh. Hampir tujuh tahun saya baru bisa menyelesaikan S1 saya, selain saya sibuk main hockey kesana-kemari, masuk karantina pelatihan hockey yang sangat memakan waktu dan tenaga, saya juga dulu tak serius sekolah. Bodoh ya? Memang! Capek-capek lulus SPMB dimana hampir sekian banyak orang yang berjuang supaya bisa bayar murah di perguruan tinggi, saya malah main hockey kesana-kemari.

Sekolah lagi adalah cara saya mendapatkan ilmu lebih banyak lagi. Selain itu saya merasa berhutang, satu pembuktian saya kepada orang tua saya, bahwa saya juga bisa kok sekolah serius dan cepat lulus. Metode pembelajaran di pascasarjana juga salah satu yang saya cari. Mahasiswa bebas mengeluarkan suara, hampir semua kelas yang saya masuki adalah kelas diskusi. Which is very interesting. Setelah lulus S2, lalu apakah saya merasa pintar? Tidak juga. Kalau kamu sering baca buku dan banyak bertanya, baru sadar deh, kok banyak banget yah yang saya nggak tahu? Saya bodoh ya? Iya. Makanya sekolah.

Kalau S1 malas-malasan, oke lah saya paham. Budaya di masyarakat perkotaan memang cenderung melecehkan orang yang tak sekolah. Tak jarang anak dipaksa kuliah oleh orang tua mereka, padahal mungkin mereka maunya jadi musisi atau mungkin mau tidur sampai mati. Tapi kalo S2 kan pilihan, karena kemauan, bukan karena paksaan.

Menurut saya sih masih lebih baik gengsi karena tak memiliki blackberry, atau bahkan karena tidak pakai baju keluaran Zara daripada sekolah hanya untuk gengsi. Setidaknya kamu tidak menipu orang tua kamu, dosen kamu, bahkan diri kamu sendiri. Sekolah pascasarjana itu mahal luar biasa lho. (menurut saya)

Untuk cari kerja? Apa lebih besar kesempatan dengan gelar pascasarjana? Dalam lingkungan akademik mungkin iya. Kesempatan jadi dosen terbuka sangat lebar. Tapi di dunia kerja yang lain? Ah tidak kok. Sama-sama saja. Bahkan menurut saya malah lebih sulit, karena perusahaan-perusahaan di Indonesia kebanyakan pelit sekali menggaji karyawan. Dengan gelar di atas S1, mereka ketakutan kalau dimintai bayaran tinggi. Lebih baik menggaji lulusan S1, gaji tidak tinggi dan bisa dipaksa kerja rodi. Beres.

Jadi, saya masih saja heran dengan orang-orang yang over-minder, sehingga merasa harus sekolah lagi hanya demi menaikan gengsi. Memangnya kenapa sih kalo bodoh? Ga dosa kan jadi orang bodoh?

Mau masuk surga juga ga akan ditanya kok, "Eh kamu S2 apa D3, Mas?"

...

Friday, September 23, 2011

Ziva Elysia


Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

objek foto yang selalu marah.

...

Thursday, September 22, 2011

if you can survive, you must remember 'i love you'

Image and video hosting by TinyPic

This is a true story of Mother’ s Sacrifice during the Japan Earthquake. After the Earthquake had subsided, when the rescuers reached the ruins of a young woman’s house, they saw her dead body through the cracks. But her pose was somehow strange that she knelt on her knees like a person was worshiping; her body was leaning forward, and her two hands were supporting by an object. The collapsed house had crashed her back and her head.

With so many difficulties, the leader of the rescuer team put his hand through a narrow gap on the wall to reach the woman’s body. He was hoping that this woman could be still alive. However, the cold and stiff body told him that she had passed away for sure. He and the rest of the team left this house and were going to search the next collapsed building. For some reasons, the team leader was driven by a compelling force to go back to the ruin house of the dead woman. Again, he knelt down and used his had through the narrow cracks to search the little space under the dead body. Suddenly, he screamed with excitement,” A child! There is a child! “

The whole team worked together; carefully they removed the piles of ruined objects around the dead woman. There was a 3 months old little boy wrapped in a flowery blanket under his mother’ s dead body. Obviously, the woman had made an ultimate sacrifice for saving her son. When her house was falling, she used her body to make a cover to protect her son. The little boy was still sleeping peacefully when the team leader picked him up. The medical doctor came quickly to exam the little boy.

After he opened the blanket, he saw a cell phone inside the blanket.
There was a text message on the screen.
It said ,” If you can survive, you must remember that I love you.”

Taken from Bhaskar Madkaikar

Wednesday, September 21, 2011

Pengalaman Memakai Kawat Gigi

`Ok. Sekarang saya akan menceritakan pengalaman memakai kawat gigi. Sengaja, judul dari post ini dibikin seperti 'keyword' untuk googling, terus terang saja, waktu saya memutuskan untuk memakai kawat gigi, saya kesulitan banget cari tulisan-tulisan pengalaman orang yang dikawat gigi. Jadi kira-kira seperti ini kronologisnya.

Seperti yang sudah saya ceritakan di sini. Akhirnya sekitar dua bulan lalu saya memutuskan untuk memakai kawat gigi. Setelah googling dan tanya sana-sini, akhirnya saya memutuskan untuk memakai kawat gigi di Rumah Sakit Gigi dan Mulut - Jl. Riau Bandung. Pertimbangannya adalah : MURCEU. Titik. Awalnya sempat bingung juga mau pasang dimana, mulai dari yang harganya Rp. 800.000,- sampai Rp. 12.000.000,- ternyata hati-hati lho, banyak orang yang menawarkan pasang kawat gigi dengan harga murah ternyata yang pasangnya adalah tukang gigi/ahli gigi. Kadang mereka bilang 'asisten dokter' or whatever yang jelas BUKAN dokter. Dokter gigi juga tak semua ahli memasang kawat gigi. Pemasangan kawat gigi hanya boleh dilakukan oleh Orthodonti, gelarnya Sp. Ortho.

Lanjut. Pasang kawat gigi di RSGM Rp.3.950.000,- ditambah biaya cetak gigi + foto gigi di Lab Pramita + biaya cabut gigi dll kurang lebih kocek yang harus disediakan Rp. 5.000.000,- Sakit hati deh sebenarnya. Rp. 5.000.000,- kan bisa dipakai backpacker bulak balik Komodo-Flores. Hikss.. Ya sudahlah ya, demi gigi. Tahap pertama mendaftarkan diri dulu sebagai pasien di RSGM. Setelah itu gigi saya dicek oleh si Dokter. Mana yang harus dicabut, mana yang harusnya maju, mana yang harusnya mundur.

Gigi saya yang harus dicabut ada dua buah. Ugh. Tapi untuk nyabut gigi saya sengaja datang ke dokter langganan saya bukan di RSGM. Oh ya rekomendasi kalau mau cabut gigi silahkan datang ke dr. Harry prakteknya di Jl. Sabar Bandung. Lulusan Jepang, orangnya baik dan ramah. Sering lihat orang habis cabut gigi kesakitan dan ngilu dan anu-anu. Sama dr. Harry ini enggak lho. :)

Setelah gigi udah pada dicabut. Tahap selanjutnya pembersihan karang/scaling. Untuk tahap ini saya scalling di RSGM seharga Rp. 260.000,- lumayan juga ya bok dibersihin karang gigi gitu. Ngilu-ngilu gimana gitu. Dan sempat jiper pas kumur pertama setelah discalling, ih kok darah semua? Benci deh liat darah keluar dari mulut. Tapi senang, setelah di scalling, secara saya perokok berat, uhm.. ya gitu deh. Kok jijik ya diceritain disini. Banyak bekas-bekas nikotin yang menempel gitu. Setelah discalling giginya jadi bersih dan licin. Bekas nikotin semua hilang dan rasanya sayang kok ya dipakai merokok lagi. -_- Oh ya scalling ini penting lho kalau mau dikawat gigi, karena gigi dan gusi harus dalam keadaan sangat bersih dan sehat kalau tidak nanti bakal meradang setelah kawat terpasang.

Setelah tahap cabut gigi dan scalling gigi saya dicetak gitu, mirip-mirip adonan kue tapi baunya sih bau-bau mint menthol gitu. Setelah dicetak saya diharuskan foto gigi dan tengkorak kepala di Lab Pramita, menunggu seminggu lalu saya dipasang ring di gigi. Nah ini dia yang orang-orang sering bilang, "dikawat gigi tuh sakit banget." Man, its not the braces, its the ring! Jadi nanti si dokter akan membuat space di antara kedua gigi rahang atas dan bawah untuk menaruh catokan braces. Itu dia yang nampol banget rasanya. Ya bayangin aja ada karet berbentuk ring tiba-tiba ditaro di antara gigi yang biasanya rapet. Huks. Awal memakai ring, saya masih biasa aja. "Ah mana nih sakitnya. Biasa aja, makan juga masih enak." *belagu* Namun.. begitu keesokan pagi saya bangun, DUENG. Anjrot! Sakit gilaa! Gigi tuh semua terasa ngilu.Boro-boro dipake ngunyah, ngomong aja males!

Hampir tiga hari deh gigi saya mencoba beradaptasi dengan ring sialan itu baru saya sudah mulai bisa makan. Setelah seminggu memakai ring, saya kembali ke RSGM dan ring sialan itu dilepas dan diganti dengan ring besi yang lebih tipis. Berhubung udah biasa tersiksa dengan ring karet, begitu dipasang ring yang besi malah biasa aja ga terasa sakit. Setelah itu baru deh braces nya dipasang.

Hari pertama pakai kawat gigi hmm.. ya biasa aja sih. Agak gengges mulut jadi terasa monyong dan bibir sering nyangkut kalau ketawa terlalu lebar. -_- hari kedua baru deh.. hhihi.. DUENG. Sakit lagi. Tapi masih mending sih dibanding awal pertama pakai ring, sakit karena braces ini masih bisa ditolerir lah. Yang sakit itu ketika ngunyah makan, tapi kalo saya sih hajar bleh yaah ngilu dikit. Sampe bela-belain belajar masak pasta yang lembut buat dimakan sendiri hihi..

Kesimpulan : Masih bingung sama anak-anak gahul yang pada pake braces untuk pergaulan. Bok, sakit gitu. Ga worth it banget deh kalau cuma untuk gaya-gayaan. Udah mahal, sakit pula. Kemarin aja sangking ga kuat nahan sakit pas pake ring, saya sampe ada niat mau kabur aja ga jadi pake braces haha.

Keismpulan 2 : kalo kamu punya gigi yang bagus dan rapi, bersyukurlah. Rajin gosok gigi, rajin bersyukur ngucap terima kasih sama Tuhan dan orang tua yang mewariskan struktur gigi yang bagus juga, ngucap terima kasih sama mama yang dulu pas hamil kamu sering makan asupan kalsium sehingga gigi kamu sampai sekarang ga pernah ada masalah. Cause you know what, this braces thing.. it really is : a pain in the ass.

...

Monday, August 8, 2011

Pano App. Tested.

Oh ya sebelumnya, pengumuman. Blackberry saya sudah lenyap dicuri orang. Sedih sudah tentu, tapi mungkin ini perihal saya juga yang mulai sudah tidak menyukai blackberry. Bahkan beberapa hari sebelumnya, si blackberry hitam ini saya banting dengan semena-mena karena saya sedang kesal dengan seseorang.
Bodoh ya? Iya.

Akibat dari membanting blackberry seenak jidat itu, dan oh ya, tenaga saya cukup kuat karena saya suka angkat beban, alhasil alam pun menyalahartikan perbuatan saya. Dikiranya, saya sudah tidak butuh blackberry lagi. (mungkin) Hilanglah sudah itu barang dicuri orang. -_-

Setelah tidak berhandphone beberapa hari, akhirnya saya memutuskan untuk membeli handphone lagi. Berhubung memang sudah bosan dengan blackberry akhirnya saya membeli Iphone. Atas dasar pertimbangan dan saran dari teman-teman.

Dan ternyata.. Iphone ini menarik. Aplikasi-aplikasi yang ditawarkan sungguh membuat saya lupa daratan. Where have you been Gal? Bahkan H-1 sebelum saya sidang, saya malah sibuk nongkrongin Itunes dan mencari aplikasi-aplikasi foto yang lucu dan aneh. :p

Ini salah satunya. Pano Application.

Image and video hosting by TinyPic

Lucu ya? Kekurangannya : resolusinya kecil. -_-

Ill make another capture with this app. Nanti akan saya post lagi.

Sampai jumpa. :)

...

Trans Studio Bandung

Saya termasuk salah satu orang yang 'i dont have fun at Dufan' : Im not one of the adrenaline junkie. In fact, i think rollercoaster is the most ridicolous thing human ever invented. Penyebab awalnya cuma satu, saya takut ketinggian. Haha.. Tapi hari ini saya terpaksa, dipaksa, mau tidak mau, saudara yang datang jauh-jauh dari Medan ingin bertandang ke sana. Terpaksalah, dipaksalah, mau tidak maulah saya mengantar dua begundal ke sana. Zzzz lagi puasa pula. -_-

Image and video hosting by TinyPic
Trans Studio Bandung, sepengamatan saya, kira-kira sebelas dua belas dengan the one and only Dufan. Perbedaannya hanya dari lokasi Trans Studio yang dibuat indoor, sehingga tidak perlu kuatir kepanasan :) Kekurangannya : tentu saja jadi no-smoking area, which is.. yaa begitulah. :p

Image and video hosting by TinyPic

Salah satu kelebihan dari Trans Studio versi saya adalah terdapat pertunjukan teater spektakuler lengkap dengan penari yang digantung di langit-langit serta koreografi yang menarik. Cerita yang dibungkus juga cerita tradisional masyarakat Jawa Barat dengan tokoh utama Kabayan, dibumbui dengan komedi dan drama. Interesting. :)

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

Dengan tiket masuk Rp. 200.000,- (weekend) dan Rp. 150.000,- (weekdays) saya merasa Trans Studio terlalu overrated. Wahananya hanya berjumlah sekitar 20 buah. Saya datang pada hari Senin pagi, dimana Trans Studio terlihat sangat lenggang. Tidak kebayang kalau datang disaat weekend. Penuhnya pasti luar biasa dan oh ya Trans Studio ini aslinya kecil lho. Mungkin kamu sudah bisa menarik kesimpulan dari tayangan-tayangan bagian itu-itu saja yang diputar di Trans Tv. :p

Yang lebih menyebalkan, ada tiket VIP. Dengan membayar tambahan Rp. 200.000,- kita akan mendapatkan tiket VIP, dimana sang pemegang tiket akan mendapat privillege tidak perlu mengantri lama untuk sebuah wahana. Kebayang ga kalo lagi antri lama dan tiba-tiba ada orang yang didahulukan karena dia membayar lebih mahal? Hihi.. Konsep VIP yang aneh.

Image and video hosting by TinyPic

Anak yang saya asuh berfoto bersama Jeng Kelin which is kinda remind of this conversation with Dad. :p

Dad : De, Jeng Kelin itu kasihan ya?
Me : Kenapa gitu?
Dad : Yaa kasihan aja, nyari duit aja sampai harus kaya gitu.
Me : ...


***

Tuesday, July 26, 2011

Tomorrow



this. is what ive been writing for the last six months.
this. is what im gonna have to defend. by tomorrow.

Wish me luck. :) *nervous smile

Tuesday, July 12, 2011

story from a messenger

So. After an hours of thinking. I finally realize. This isn't jealousy, its not even something lame called 'love'. Its about how I hate him so much. Jujur saya menikmati setiap tangisannya untuk saya, I like that. Rasanya seperti, "Nah.. Ini lho rasanya. Rasakan?". I just simply don't want him to be happy. Period.

But that'd be wrong.
I kept this in my mind, for years. About how I want to ruin his life. A revenge. But then I was thinking "If I hate him so much. Why bother still kept him in my thought?"

A couple days ago, when I was in Thailand. I remembered the road we've walked through, the beach, the seven eleven store, this thought slipped through my mind real fast. So I've decided to bring him something. As for now, right at this time, me writing this and starring at the things I bought for him, seriously I feel like an idiot. Haha! What the fuck am I doing?

But it is? Maybe its just a disappointment. My dissapointment. That now i know there wont any even one good reason to stay. All the good reason were gone. Of course he never change. At all. So I said, thanks for the five years of shit. Really taught me how to behave. I have made up my mind. I really should letting go this anger, this disappointments, this hopes and useless dreams.

Lets just live for today and tomorrow and after. No more anguish. That's it.

It's because I like you, I don't want to be with you. It's a complicated emotion. –Marlin (Finding Nemo)

...

Thursday, July 7, 2011

to the sunny side of the city

This was my 2nd time in Phuket Thailand, therefore i wont be write much. Here just some photos i took and a lil bit stories behind it. I wrote my itenerary for backpacker kere like me haha -> click here. Its gonna be a long post full with photos and videos. So yeah.. ive warned you. :)

Image and video hosting by TinyPic
Nanai Rd. Phuket Thailand. One of the street for entering the famous Bangla Rd

Image and video hosting by TinyPic
Buddha quotes. Taken from The Big Buddha. Quite impressive.

Image and video hosting by TinyPic
Me with one of the monk. I was standing too close to him and he took a few step back sheer off me.
Haha! (Bukan muhrimnya)


Image and video hosting by TinyPic
A hardcore monk, his head got inked!



Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Kata Beach on extremely sunny day.
Did i say sunny? No its. SUNNIES. Plural. Where i got my worst sunburn.

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
The most important of the 29 buddhist temples of Phuket, Wat Chalong.
Located in the tambon Chalong, Mueang Phuket district.
It is dedicated to two highly venerable monks, Luang Pho Chaem and Luang Pho Chuang, who with their knowledge of herbal medicine helped the injured of a tin miners rebellion in 1876.

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
and of course.. Maya Bay


You know how sometimes a photo can be very tricky. So here's a video.



Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
and these are... the shit that made me gain 3kg in a week.

Image and video hosting by TinyPic
What to do in beach : Drinking and watching people do stupid thing like.. flying.

Image and video hosting by TinyPic
a beggar, with a Thai flag in her wheel chair. How loyal?

Image and video hosting by TinyPic
ok. All me. From 500 photos i only have about 10 photos of me. These are the best, taken by my dad. -_-




Tuesday, June 28, 2011

I CAN'T SLEEP AT NIGHT

and its all because of this gorgeous, beautiful, wonderful, precious, yeah you name it! - vegetable tanning leather camera bag by Japanese craftsmen from Porco Rosso.

Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

The good news is : I know someone who lives in Japan that could buy this bag and bring it to Indonesia for me. On the other hand, the bad news is : I CANT AFFORD IT. They sell it so overprice (for me) its 42.000 yen or around IDR 4.500.000,- DAMMIT!

Its actually quite worthy. All Porco Rosso products based on a concept "Things pass on to my children 20 years later" and "High quality products that give continued satisfaction". They have a guarantee that their product will last at least 20 years from now, so its actually really worth the money, its more like an investment.

Unfortunatelly, now is not the time for me to invest on something like bag. Not yet.
Well let's just say that Lowe Pro is enough for me right now. -__-

...

Wednesday, June 22, 2011

Eros & Agape

Aku tidak tahu apa yang orang maksud dengan cinta".
Begitu pengakuan Leo Tolstoy dalam buku hariannya.

Dengan semua kejeniusannya dalam menyimpulkan wacana tentang moral, Tolstoy masih belum mampu membedakan antara cinta, asmara dan gairah birahi. Tentu saja mereka tidak datang dalam satu paket.

Cinta adalah salah satu kata di dalam kumpulan kosakata yang bekerja melampaui batas. Kata itu bekerja mati-matian hampir di semua bidang aktivitas manusia. Tidak hanya antara dua jenis kelamin, tapi juga mengekspresikan emosi diantara anggota-anggota keluarga, teman, tetangga, musuh, Tuhan, hingga kepada segala sesuatu yang baik dan indah. Kata cinta digunakan dalam bidang psikologi, filsafat, agama, etika pendidikan dan semua bidang sosial. Kata 'cinta' demikian hebat, dan karena itu ia setara dengan tugas-tugasnya yang sedemikian banyak. Namun waktu telah menentukan dan cinta telah menunjukan semua tanda kelelahan, karena ia selalu dijadikan subjek.

Subjek ini telah menjadi misteri dan fakta bahwa semua orang pernah mengalaminya tidak membuat cinta lebih mudah untuk dipahami.

Berapa banyak pasangan menikah yang ketika ditanya, "Kenapa kamu mau menikahinya?", menjawab, "Karena aku mencintai dia." Titik. Begitu saja.

Jenis cinta yang melandasi mayoritas pernikahan manusia modern saat ini kebanyakan adalah karena 'cinta'. Walaupun sebenarnya Albert Camus menerjemahkan bentuk cinta seperti itu adalah bagian kecil dari suatu demam ringan yang dianggap nikmat untuk diderita. Orang Anglo-Saxon menyebutnya 'Romantika' (romance), kata yang berasal dari budaya Roman di Perancis Selatan.

Kisah cinta Tristan dan Isolde cukup menggambarkan kekuatan 'cinta' semacam ini. Tristan bagi Isolde adalah "yang paling kuat". Isolde bagi Tristan adalah "yang paling cantik dan bersinar". Dari penggambaran ini kita bisa melihat bahwa, Tristan tidak mencintai Isolde yang nyata dan juga sebaliknya. Keduanya hanya mencintai cinta yang mereka rasakan sendiri, direka, diciptakan, rasa sakit yang timbul dari perasaan yang bergelora di dalam hati, dan segala rekayasa visualisasi itu hanya digunakan untuk tetap menjaga agar gairah tetap menyala.

Akankah lebih nyata mengatakan, "Wajahmu biasa saja, tapi entah kenapa aku menyukainya." ?

Manusia modern saat ini tidak dapat dapat memikirkan alasan lain untuk menikah, kecuali demi 'cinta'. Sedetikpun tidak pernah terlintas di pikirannya bahwa seseorang seharusnya dapat menikah karena selusin alasan yang berbeda, beranekaragam tapi saling melengkapi dan cinta hanya salah satu diantaranya.

Kesehatan, status sosial, tingkat pendidikan, kesesuaian temperamen, latar belakang, usia, cara membesarkan anak, harapan untuk masa depan, keluarga, karier, agama serta penyatuan intelektual dan spiritual telah menjadi pertimbangan yang sekunder, karena penggerak utamanya adalah 'cinta'.

"Jika mereka saling mencintai, jika mereka memiliki 'cinta' semacam itu biarkan mereka menikah". Dengan cinta ia memiliki segala hak dan dengan cinta cinta ia dapat melakukan segala-galanya. Berhadap-hadapan secara langsung dengan antusiasme semacam itu, alasan-alasan yang masuk akal, sudah tidak lagi berarti."

Pernikahan yang didasari akal sehat, pernikahan konvensional sudah ketinggalan jaman. Kita bebas, dan itu berarti kita dapat menikah dengan perempuan atau laki-laki yang kita cintai, hanya karena 'cinta' itu sendiri. Apapun yang akan terjadi kelak. Jika cinta memang ada disana, ia akan menaklukan semua rintangan, bahkan ia akan menjadi lebih kuat karena halangan dan rintangan itu, ia akan semakin kokoh ketika diserang oleh aturan-aturan sosial - yang dari sudut pandang cinta dianggap sebagai sesuatu yang bodoh dan otoriter.

Tapi persis di titik inilah kita dapat melihat kelemahan dari kekuatan cinta.

Bahkan jika kita benar-benar memercayai semua novel, lagu-lagu, sinetron, film, majalah hingga obrolan antar teman di kala arisan, bahwa cinta sejati dapat dan harus menaklukan tantangan dan rintangan yang dihadapinya, kita tetap harus mengakui bahwa ada sebuah kekuatan yang lebih menentukan, di atas segalanya, yaitu : waktu.

"Cinta gairah" (cinta yang memabukan, tidak nyata dan cenderung membuat menderita) tumbuh dari Eros. Sedangkan cinta tindakan lahir dari Agape. Seiring berjalannya waktu, dapat terlihat semua elemen cinta gairah (Eros) cenderung merusak pernikahan atau setidaknya meluruhkan pernikahan jika pasangan itu memilih untuk bertahan.

Dari semua alasan untuk menikah yang telah diuraikan di atas, ternyata justru kebanyakan dari kita memutuskan menikah karena faktor 'cinta', satu faktor yang paling tidak stabil, sangat dinamis dan bersifat sementara, dan Eros menguasai hampir 3/4 kata cinta. Selebihnya adalah : bagaimana nanti saja.

...

Inspired after reading A Psychology of Love.

Ditulis ketika seharusnya saya mengetik suatu artikel ilmiah, yang tentu saja bukan tentang cinta.

Sungguh PRETTT.

Monday, June 20, 2011

Banyak Anak Banyak Rejeki (Yeah Right!)

Kemarin hari minggu, saat saya hendak berangkat Jakarta naik mobil, kebetulan sedang ada car free day sehingga kami harus memutar jalan melewati jalan Merdeka. Kebetulan pula saya yang menyetir karena satu-satunya orang yang diharapkan untuk menyetir ternyata tumbang kena flu berat, alhasil dia hanya bisa tertidur dan jok belakang dan saya yang berada di balik kemudi.

Terkena lampu merah di perempatan jalan merdeka, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Anak kecil penjual ulekan, orang sunda biasa menyebutnya coet.

Bukan sekali dua kali saya melihat mereka. Bahkan pernah saya sekali jatuh hati dan akhirnya membeli ulekan dengan harga di atas harga pasaran tentunya. Kalau tidak salah sekitar Rp. 35.000,- kalau kamu pernah berjalan-jalan di kota Bandung (sekitar area Merdeka) tentu pernah melihat mereka. Anak kecil kurus, hitam dan berjalan tertatih-tatih membawa 3 tumpuk ulekan di bahu kanan dan kiri.

Yang seru, pagi itu saat saya melihat mereka saat mereka sedang bersiap-siap untuk berjualan. Lebih seru lagi, ibu bapak mereka ada pula disana, mengacak-ngacak rambut mereka, lalu mengganti baju mereka dengan baju lusuh. Bukan untuk menggeneralisir agama tertentu ya, tapi ibu-ibu mereka memakai jilbab. Anak-anak kecil itu dengan polosnya menurut saja 'didandani' oleh ibu bapak mereka. Alangkah lucunya?

Entah rasanya saya ingin tertawa atau miris. Tertawa karena saya pernah 'tertipu' oleh penampilan dan wajah memelas mereka sekaligus miris karena membayangkan, "Bo.. kok ibunya gila ya?"

Sadis ga sih saya kalau saya bilang, "Orang miskin dilarang beranak."
Sadis ya?
Tapi kok rasanya dunia akan menjadi lebih baik tanpa anak-anak kecil yang dipaksa mencari uang karena persoalan kemiskinan. Jujur saja, saya (yang notabene sangat menyukai anak kecil) pernah lho sekali berpikir, "Nanti kalau sudah menikah mau punya anak ga yah? Takut ga punya uang untuk membiayai mereka masuk sekolah yang bagus. Takut tidak bisa membahagiakan mereka dengan harta. Walaupun ya saya tahu kok, bukan cuma persoalan harta, tapi terus terang harta itu penting lho."

Orang yang pertama kali menciptakan istilah "banyak anak banyak rejeki" itu tentunya sangat tolol sekaligus kaya raya. Saya tidak pernah mengerti apa hubungan antara jumlah nominal anak dengan jumlah nominal rejeki. Walaupun saya percaya istilah "anak membawa rejekinya sendiri". Ya tentu, lalu kalau rejekinya kecil? Apa yang harus saya lakukan, misal saya sebagai ibunya? Apa harus saya bikin anak lagi, mungkin saja anak yang lain rejekinya ternyata banyak, lalu bisa saya share dengan kakaknya yang rejekinya kecil. How pathetic..

Kalau saja saya Tuhan, sudah pasti saya bikin mandul orang-orang miskin jahat yang menyuruh anak-anak mereka memanggul ulekan.

Goblog. Pisan.

...

Wednesday, June 15, 2011

Ironic

this is weird.
we ignore those who adore us...

adore those who ignore us...
hurt those who love us...
and love those who hurt us...

AIN'T LIFE IS A BITCH?

NO.

we are all heartless bitches of our own.