Monday, September 8, 2014

Tuesday, September 2, 2014

hi petrichor

Barangkali yang menyebabkan Sisyphus mempertahankan keteguhan hatinya meski terpasung di bukit Tartarus hingga nyaris habis nafasnya adalah kesempatan untuk mendengar suara-suara yang luput dari kesehariannya. 

Tak ada doa yang tak sampai. Kau, yang menatapku penuh ragu di lintang beku siang itu. Dan aku -- mau tak mau -- harus memberanikan diri lagi melempar dadu, terduduk di meja pertaruhan berusaha berjudi kembali dengan waktu. Jika kau pernah pulang dengan lunglai dari sebuah pertempuran yang panjang, kau akan paham benar apa yang kubicarakan.

Terima kasih atas petunjuk arah pulang yang masih aku coba pahami maknanya. Interprestasi, redefinisi, kecamuk imajinasi, bertanya-tanya, mengais duga, merancang prasangka, menguar rasa, memburuNya, menyapa sang niskala. Entah mengapa kita bisa terlempar pada satu frekuensi gelombang yang sama. Tak perlu mengharap afirmasi, negasi, ternyata begini rasanya dipahami, dimengerti. Seperti menyaksikan pendar bimasakti dengan mata dan kepala sendiri sedangkan kau sendiri adalah cakram dari sebuah galaksi. Tetaplah di tempatmu, di sudut yang terjangkau mataku, pun aku akan berdiam di spektrum disebelahmu. Biarkan segala memori meluruh melenyap, sehingga cukuplah alasan bagimu untuk menciptakan ingatan yang baru denganku di tempat yang orang lain tidak perlu tahu. 

Dramatis ya kedengarannya? 

Padahal yang ingin aku sampaikan adalah obrolan-obrolan kecil di penghujung malam, cerita tentang mimpi-mimpi yang tak kesampaian, racauan tak berujung yang kau dengarkan di batas kesadaran, sisa seperempat nasiku yang selalu kau coba habiskan, menguliti habis es kelapa yang belum matang, saling lempar gombal ala anak layangan, membuka kembali kitab suciku yang hampir saja lumutan, sekotak martabak duren yang kau antarkan malam-malam, santai selonjoran di pinggir jalan, mendorong motor tua yang kakinya mendadak pincang, ujung-ujungnya tertawa sampai perut keram. 

Secarik kertas dengan pesan hangat yang kau sembunyikan di dalam gulungan sleeping bag kala aku tengah bergelut dengan dinginnya Kerinci, sama menyenangkannya seperti makan bebek di Fatmawati. Wajahmu yang setengah mati menahan kantuk cuma untuk mengantarku pulang, atau rela menyetir di pagi buta hanya untuk mengantarku ke bandara karena aku terlalu gemar bertualang. Barangkali yang membuatmu berbeda dari yang lainnya adalah kesederhanaan yang kau tawarkan, sebuah tanda tanya besar, desau parau yang membuatku belajar mendengar, akal budi yang sudah jarang kutemukan, mengingatkan kembali pada rasa syukur yang sering luput bahkan nyaris hanyut. Semoga kita termasuk dari mereka yang berani saling berbagi, saling merendahkan hati dan esok adalalah sebuah narasi yang akan kita tulis sendiri. Aku janji.


"And what i love the most is your feet, only because they walked upon the earth, and upon the wind, and upon the water until they found me."

***

Sunday, June 29, 2014

pulang ke bandung

Home is where you are loved the most and act the worst. 


right?

***

Tuesday, June 10, 2014

nothing good comes easy

Rinjani.
Senja di Sembalun yang membuncahkan rasa, mata yang terkerjap, dan kedua tungkai yang menjadi kuat dengan tiba-tiba. Aku belum pernah melihat langit seindah langit Rinjani. Bintang yang melimpah ruah di seantero cakrawala, malam yang begitu megahnya, aku bahkan tak rela memejamkan mata barang satu detik saja. 

Sunrise. Bersit cahaya matahari yang pertama kali menyentuh bumi itu singgah di pipiku yang beku. Spektrum cahaya yang terpecah laksana rudal yang diluncurkan dan meledak di angkasa dengan sempurna. Matahari menggila, jutaan warna berdansa dan meraung lebih keras dari kata. Lalu kawanan awan menyapa sepasang mata yang bersukacita dan gundah yang bermigrasi ke udara, betapa jelita. 

Kerinci.
Tak ada apa-apa disini selain tanjakan yang membuat pahaku mengencang seketika. Hutan padat yang tertutup rumput dan lumut di segenap belantara. Curah hujan dan lapis tajuk yang menggontaikan semangat, menelisik ke dalam rain cover yang tak rapat, seraya membuat kulitmu memucat. Kerinci tidak seindah larik puisi yang meninabobokan telinga, dia adalah gerutu parau yang membuatmu tersadar kau harus selalu terjaga.

Aku tersungkur dengan keras di shelter tiga. Jalur cadas yang angkuh pada setiap mereka yang gegabah melewatinya, belum pernah aku merasa dipecundangi sedemikian rupa. Tubuhku menghujam terjatuh ke dalam serakan kerikil dan akar tajam yang dengan gesit menggores lengan. Aku tertawa dalam ringisan, entah kenapa daya gravitasimu selalu sarat dengan pesan. Kau selalu mengajariku jatuh lalu berdiri, kau melumpuhkan tapi juga menumbuhkan, yang mengikis tapi juga memberi. Lelah adalah jurang dalam ruang antara, tapi pijarmu menjembatani, betapapun kuingin sembunyi.

Maka kubiarkan luka membuka, kupersilakan perih menganga, dan sakit menumbuk tulangku dengan sukarela. Sedikit cahaya yang tertangkap terasa begitu hangat, karena ternyata hanya itu yang kita butuhkan pada gelap yang sangat. Untuk si maha mulia lagi maha bijaksana, terimakasih telah meminjamkan sepasang kaki yang sempurna, untuk senantiasa menjaga, untuk tetap mengada meski acap terlupa, untuk terangmu yang mengenalkanku pada luka -- serta pada dunia dan segala keindahannya. 

***





Tuesday, April 1, 2014

menyerang puncak

Jumat di akhir Maret yang sudah lama aku tunggu. Aku berjalan terburu masih dengan baju kerjaku, dress batik coklat setengah hitam. Kugendong carrierku, berpasangan dengan sepasang sandal jepit merah jambu yang baru kusikat bersih semalam. Rupaku berantakan. Duduk mengangkang dengan rok span di kursi belakang motor Supra milik abang ojek yang kupaksa kebut-kebutan menuju tempat pertemuan, betapa memalukan. Perjalanan panjang Jakarta-Wonosobo yang memakan waktu hampir 16 jam, sungguh mati pantatku keram.

Kurnia Jaya AKAP. Pukul sepuluh malam dan hujan deras yang membasahi Kampung Rambutan. Cuaca benar-benar kacau -- atau kita yang kacau? Aku duduk di kursi berbaris tiga dalam bus ekonomi tanpa pendingin udara.  Pria separuh baya duduk di sebelahku, kami berbicara layaknya teman lama, satu hal yang sudah jarang kulakukan di Jakarta. Interaksi berbudaya. Bus kelas ekonomi dengan segala kekacauan dan hiruk pikuknya selalu berhasil memaksaku kembali menjadi manusia. Untuk saling sapa, bicara, atau minimal mengenal siapa namanya. Gap itu luntur seketika, untuk beberapa jam ke depan, kami akan bersama-sama menggantungkan nasib ke pengemudi di depan sana. Bon voyage!


Monday, March 24, 2014

my memento


Sedang membuat satu blog (lagi) yang isinya kumpulan foto-foto keseharian. Please welcome minormemento.blogspot.com Kenapa namanya minormemento? Minor adalah kecil. Karena foto yang saya ambil hanyalah sebuah bagian yang sangat kecil. Memento, artinya sesuatu untuk pengingat, kenang-kenangan, memori. Istilah yang paling terkenal adalah memento mori, berasal dari bahasa latin yang artinya kehidupan untuk mengingat kematian. Ahahaha..Anyway, selain karena saya memang senang when everything is well documented, kapasitas HD yang sedikit lagi jebol karena tabungan foto-foto yang membludak, blog ini juga akan jadi sebuah pengingat, tanda mata, cerita, to remember the great times, the fcuked up scenes, or maybe when i can't remember the last time i was happy. So here we go, my memento. One full pack of happy memento. My minor memento. 

...

Wednesday, March 19, 2014

i dream. sometimes i think that's the only right thing to do.

Aku masih ingat betul baunya. 
Tumpukan kertas yang semrawut, carut. 
Daftar nomor telepon yang ditulis serampangan.
Tempelan kertas dengan tulisan-tulisan pendek yang entah apa maksudnya. 
Deretan koran yang ditaruh serabutan. 
Diskusi tiada henti.
Gagasan, opini, inspirasi yang menghentak di malam hari.
Ide yang diperas, dipaksa mengucur di pertaruhan jam yang mematikan. 
Fucking deadline. 
Dalam tiga puluh detik saja, aku terlempar ke lima tahun yang lalu. 
Mimpi yang setengah jalan.
Tak kesampaian. 
Jadi wartawan. 


*Redaksi Kompas, awal Maret 2014. Rindu sekali menulis. 
...

Thursday, February 20, 2014

i look for joy in a strange place

 I was surprised, as always, be how easy the act of leaving was, and how good it felt. 
The world was suddenly rich with possibility. 


Maybe I like too many things and get all confused and hung up running from one falling star to another til I drop.  I had nothing to offer anybody but my own confusion. There was nowhere to go but everywhere, so I just keep on rolling under the stars.  Somewhere along the line, I knew there'd be visions, everything; somewhere along the line the pearl would be handed to me. 


They danced down the streets like dingledodies, and I shambled after as Ive been dong all my life after people who interest me, because the only people for me are the mad ones, the ones who are mad to live, to talk, mad, to be saved, desirous of everything at the same time, the ones who never yawn or say a commonplace thing, exploding like spiders across the stars. 


I woke up as the sun was reddening; and that was the one distinct time in my life, the strangest moment of all. I was far away from home. Why think about something afflicted when all the golden land’s ahead of you and all kinds of unforeseen events wait lurking to surprise you and make you glad you’re alive to see? 


Because in the end, you won't remember the time you spent working in the office or mowing your lawn, you know? Just climb that goddamn mountain.

*Seluruh narasi diambil dari buku On The Road yang ditulis oleh John Kerouac. 
Dalam pendakian Papandayan, pertengahan Februari 2014.

...

Wednesday, January 29, 2014

happy people don't complain

Maka aku tak berani lagi protes kala dinginmu menggerus tulangku dan panasmu menyapa ketiakku. Kala lansekapmu mendadak kelabu dan kabut tebal menyapa pagi saat aku begitu mengharapkan matahari. Kala langitmu tiba-tiba memuntahkan dua kubik air tanpa permisi dan aku baru saja menaruh jas hujanku di carrier bagian bawah yang sulit dijamah. Atau kala jalurmu terasa begitu panjang, terjal dan menanjak hingga kedua kakiku keras berteriak. 

Tolong ingatkan aku bahwa keluh-keluh yang tercecer di setiap tanjakan adalah pesan yang ditolak cakrawala lalu terlempar kembali di udara, dan menghabisi siapapun yang berdiri di sebelahnya. Betapa beratnya perjalanan dengan mulut penuh omelan. Karena gerutumu bukan lagi kata, melainkan daya -- yang menghabisi sekaligus memberi. Perjalanan mendaki adalah prosesi saling mengisi. Kau dan aku adalah stimuli. Aku ingin berkelana bersama mereka yang selalu tertawa. Yang terduduk dalam lelah, diam dengan hembusan nafas panjang lalu tersenyum setelahnya. 

Thursday, January 9, 2014

as long as you write - you'll never be lonely

“Let me tell you this: if you meet a loner, no matter what they tell you, it's not because they enjoy solitude. It's because they have tried to blend into the world before, and people continue to disappoint them.” - My Sister Keeper 

Langit Parapat, Dec 2013
Why people lie?
Sial banget.