Friday, June 15, 2012

hey sayang

maaf, baru mempostingmu sekarang. kamu tetap sepatu kesayangan yang hampir empat tahun bertahan. sungguh deh, kamu memang tak tergantikan. cup!


...

Thursday, June 14, 2012

kamis dan si eksibisionis

Kemarin malam sekitar pukul sebelas kurang, sepulang dari gym saya jalan kaki sepanjang kira-kira 200 meter. Jalanan sudah sepi, di sisi sebelah kiri saya lihat ada seorang lelaki menghadap ke belakang. Saya berjalan perlahan sampai tiba-tiba dia mendesis, “Ssttt.. ssttt”, katanya. Saya menoleh, dan… oh la laaa...  super triple zonk, zonk, zonk! Mas nya lagi sibuk masturbasi, matanya nyalang menatap saya. Syiisshhh! Dude seriously, what the fuck did my eyes just saw?  Saya langsung pasang tampang dingin sembari mengambil langkah seribu. Yang saya tahu, penderita eksibisionis, atau istilah medisnya parafilia akan lebih senang kalau saya marah atau malah terkejut. 

   Ini tips untuk perempuan-perempuan yang bertemu dengan pria-pria sakit semacam ini, kemarin yang sempat terlintas di pikiran saya adalah: plan A, baca ayat kursi keras-keras, eh tapi saya ga hapal. Ya udah saya mau teriak-teriak aja nyanyi lagu Sepultura, tapi repot juga kalo lagi batuk.  Teman saya menyarankan, kalau kejadian lagi, langsung ketawain, tunjuk-tunjuk, dan bilang, "Ihhh.. kecil banget!" tapi yang ini saya ga berani. Plan B; seandainya rambut saya panjang sepinggang, saya mau melotot sambil keluarin suara cekikikan senyaring-nyaringnya ala kuntilanak biar gantian dia yang kaget dan ketakutan.  Minimal-minimal kalau pun dia sadar saya setan gadungan, biarlah dia berpikir saya ini gila. Konon kata orang, ada peraturan baku tak tertulis; sesama orang gila, tidak boleh saling ganggu. Betul, kan?

Eksibisionis berasal dari kata exhibition yang artinya pameran, memamerkan, atau mempertontonkan. Eksibisionis adalah dorongan fantasi sexual yang mendesak dan terus-menerus dengan memamerkan bagian genitalnya kepada orang lain. Dorongan tersebut bertujuan untuk mengejutkan, atau untuk dikagumi. 

you, sick bastard. seriusan lu, minta dikungfu. 

...


Monday, June 11, 2012

barthes says it all

“But I never looked like that!’ - How do you know? What is the ‘you’ you might or might not look like? Where do you find it - by which morphological or expressive calibration? Where is your authentic body? You are the only one who can never see yourself except as an image; you never see your eyes unless they are dulled by the gaze they rest upon the mirror or the lens (I am interested in seeing my eyes only when they look at you): even and especially for your own body, you are condemned to the repertoire of its images.”

~ Roland Barthes on self perception 

yes. sir. 


...

beautiful fragments

"Am I in love? –Yes, since I’m waiting.’ The other never waits. Sometimes I want to play the part of the one who doesn’t wait; I try to busy myself elsewhere, to arrive late; but I always lose at this game: whatever I do, I find myself there, with nothing to do, punctual, even ahead of time. The lover’s fatal identity is precisely: I am the one who waits."

"As a jealous man, I suffer four times over: because I am jealous, because I blame myself for being so, because I fear that my jealousy will wound the other, because I allow myself to be subject to a banality: I suffer from being excluded, from being aggressive, from being crazy, and from being common."

~ Roland Barthes, A Lover's Discourse: Fragments

ps: don't be jealous, nothing is really yours anyway.


...


Sunday, June 10, 2012

one random day

One random girl at a pretty much random place. Insanity will do.
Marjinal on stage and a few underage street buskers.
 
Enjoy.


  • Buruh Tani



    buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
    bersatu padu rebut demokrasi
    gegap gempita dalam satu suara
    demi tugas suci yang mulia

  • Buruh Tani



    buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
    bersatu padu rebut demokrasi
    gegap gempita dalam satu suara
    demi tugas suci yang mulia
Yang ada di gunung, bagaimana kabarmu?
Yang di sebrang lautan, bagaimana kabarmu?
Yang di kota-kota, bagaimana kabarmu?
Yang di desa-desa, bagaimana kabarmu?
Yang dibalik tembok, bagaimana kabarmu?
Yang dikolong jembatan, bagaimana kabarmu?
Yang dipasar-pasar, bagaimana kabarmu?


and i was like.. oh-kay.

...

Saturday, June 9, 2012

orkestra aspal batavia

Sudah pernah dengar orkestra aspal batavia?

Ini bukan sembarang orkestra, bisa jadi orkestra ini tidak bisa ditemui di berbagai belahan dunia, kecuali Jakarta. Ya. Ja-kar-ta. Orkestra ini bisa menjadi pengiring nyanyian kesepian sekaligus kekesalan penambah duka dan nestapa.Walaupun begitu, saya tak pernah tahu siapa konduktur orkestra yang sangat tenar seantero Jakarta ini. Konduktor gaib? Bisa jadi. Atau konduktor orkestra ini adalah pemimpin tipe laissez faire, yang berpandangan bahwa umumnya orkestra akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota orkestra terdiri dari orang-orang dewasa yang sudah mengetahui tujuan dari orkestra. Kenyataanya,  anggota orkestra sial ini memang seharusnya berumur di atas tujuh belas tahun, tapi siapa perduli? Di Jakarta ini, apa pun bisa terjadi. 

Baiklah kita mulai, sore ini saya mendengarnya lagi. Di suatu sabtu yang tidak terlalu cerah teman saya menelpon. Suaranya ceria, berbanding terbalik dengan saya yang baru menghabiskan dua belas jam di atas tempat tidur. 

Dia: Mbah jongrang, dimana? 
Saya: Di kostan, mbok berek.
Dia: Mu kemana nih mbah malem minggu? Yok ah kita kongkow mbah, ditunggu ya di palang pintu kemang. Sekarang!

tututututtt. telpon ditutup dengan seenaknya.

Kenyataanya, saya lapar. Lambung saya mulai menampar-nampar ulu hati. Beranjaklah saya dari tempat tidur. Memanaskan mesin motor dan memacu si honda supra dengan kecepatan... oh tunggu sebentar, sialan, orkestra aspal batavia sedang beratraksi di jalan yang seharusnya lenggang. Motor saya terhenti, memejamkan mata dua detik, menghembuskan nafas panjang sembari mengusap dahi, dengan berat hati saya bergabung dengan orkestra sembari bernyanyi tralala trilili. Siap? Oke, dimulai! 

Instrumen depan. Pasukan quintet motor matic keluaran tahun 2000 dibelakang saya mulai bersimfoni dengan klakson yang dibunyikan setiap satu menit sekali. Dua kopaja yang memakan hampir setengah badan jalan beraksentuasi dengan ritme satu per delapan, untuk menambah dramatis suasana tak lupa asap hitam  dikeluarkan. Beberapa perempuan penari latar berdiri bersisian di sepertiga trotoar dengan tatapan mengajak perang. Duet raungan knalpot dari kawasaki ninja mulai terdengar di udara, mencoba menyentuh nada alto dengan sempurna.

Instrumen belakang. Rombongan ensembel mobil sedan yang apik menunggu giliran untuk mengeluarkan accent bebunyian, suara mesin halus mereka terdengar seperti staccato yang konstan. Barisan quartet bajay beriringan saling melemparkan timbre dengan pitch yang memusingkan. Pengendara sepeda yang terjebak diantara honda kharisma dan motor tiga roda triseda mulai menggaung, mencoba bernyanyi tanpa notasi. Para pejalan kaki merunduk tersudut, mencoba membaca partitur tanpa petunjuk. Sementara saya.. setengah mati mengatur posisi, berusaha turut larut dalam harmoni. Haha.

Selamat menikmati persembahan impromptu radikal dari orkestra aspal batavia. Lagu andalan keroncong kemacetan selalu siap dimainkan mulai pukul delapan pagi sampai menjelang tengah malam. Selamat datang di Jakarta, teman-teman. Ayo semuanya tepuk tangan!


...


Friday, June 8, 2012

pesan singkat untuk masa yang lama

image source from here

 Kau tahu? Waktu itu menggerus rasa.

Kelak bila kita menikah, kamu akan tidur dengan orang yang sama hampir setiap harinya, yaitu saya. Jangan pernah membayangkan sinetron tersanjung episode empat puluh lima, saya bisa jadi tidur dengan rambut berantakan dan mulut menganga, oh, dan jangan lupa sesi kentut dimana saja. Suatu saat akan ada waktunya kamu akan tertidur dengan memandang punggung saya. Kenapa? Bisa jadi karena kita baru saja berselisih paham dan kamu tidak mau mengalah untuk saya. Begitupun sebaliknya, bisa jadi saya juga akan jadi  orang yang tertidur sembari memandangi punggungmu. 

Selalu ada kemungkinan kita tak akan saling sapa keesokan harinya. Entah siapa diantara kita yang akan memulai gencatan senjata. Kau tahu? Semua orang punya kadar egois yang berbeda-beda, tapi akan ada waktunya grafik keegoisan kamu atau saya akan menukik naik di saat yang sama sekali tidak tepat. Itulah saatnya kamu dan saya menikmati drama yang telah kita karang seenaknya. Saya mungkin akan menangis, dan kau harus tahu, setiap sehabis menangis mata saya akan bengkak dan menyipit hampir empat puluh persen.  Apa kamu takut? 

Lalu suatu saat, saya akan melahirkan anak-anakmu. Bisa jadi saya akan lelah dan menjadi orang yang paling menyebalkan, orang yang ingin sekali kau hindari sepulang kau bekerja. Jangan bayangkan kita akan bergelut mesra, kali ini untukmu tak ada jatahnya. Kalau satu waktu saya jatuh sakit, kamu lah yang harus mengurus saya. Saya mungkin tak akan mandi tiga hari. Kamu akan melihat saya pucat dan berbau tak sedap. Masih mau kamu memeluk saya? 

Lalu hidup akan terus memamerkan kesaktiannya. Tersadarlah kita, sihir cinta ternyata bisa kadaluarsa. Seperti diserang ratusan prajurit di dini hari pukul tiga, saya harap kita tak akan lari lintang pukang atau saling serang dengan membabi buta. Ya, akan ada masanya kata romansa sudah tak ada dalam kamus kita. Ada masanya kita akan saling berteriak, saling menyakiti satu sama lain. Saya tahu, kamu pasti tak akan pernah berniat begitu, tapi ya begitulah pekerjaan si penguasa angka dua belas sampai satu, pesulap paling tenar sepanjang masa bernama sang waktu. Asal kau tahu, dia tak pernah makan gaji buta. Dia akan bekerja tepat sesuai job desknya; memutarbalikan perasaan manusia.

Saya bisa jadi akan membentakmu keras, mengerutkan kening, dan menatap tajam ketika saya rasa kau telah membuat kesalahan. Kau seharusnya sudah tahu, untuk beberapa hal, saya akan sangat tegas. Bukan bermaksud melawanmu sebagai kepala keluarga, tentu saja saya akan hargai keputusan dan segala pertimbanganmu, tapi akan ada waktunya ketika kepala saya membatu dan segala argumenmu akan saya hempaskan keras-keras. Sudah siap?

Satu saat, saya akan berubah seratus delapan puluh derajat, begitu juga kamu. Karena memang normalnya manusia ya begitu, kecuali tante Titiek Puspa. Kamu akan melihat kulit saya mengeriput, lalu badan saya mengembang atau malah mengerut. Mudah-mudahan saya tak akan melihat senyummu mengecut. Hehe. Kamu akan selalu melihat muka saya, karena setelah menikah dengan saya, tentu delapan puluh persen hidupmu akan selalu berhadapan dengan saya. Ya, saya, saya, dan saya.  Muka saya akan selalu merepetisi di setiap frame kehidupanmu. Apa kamu tak akan bosan?

Dunia ini luas, perempuan dan laki-laki tak terhitung ada berapa banyaknya. Yang lebih cantik dari saya? Jelas banyak. Masih mau kau bertahan hidup satu atap dengan saya? Kita  harus pintar berkompromi, mengerahkan sejuta alasan kenapa kita tetap harus tidur bersebelahan dalam satu ranjang dan bagaimana caranya supaya kita tetap berpelukan? Minimal-minimal, biarlah cukup kaki kita yang bersentuhan di ujung selimut sana. 

Kau tahu? Kenapa dongeng cinta sejenis Cinderella selalu berakhir tepat ketika mereka baru saja menikah? Rumornya karena pernikahan mereka tak bahagia. Walaupun sang penulis, Charles Perrault,  menulis "and they live happily forever", kau tahu kan kalau "forever" itu tak pernah ada dalam kalender? Saya mulai berpikir kalau Perrault adalah seorang tengik pembual skala besar. Bagaimana bisa seorang laki-laki berbahagia seumur hidupnya hanya karena dia menikahi perempuan yang  dipilih lewat sepatu kaca? Perlu kau tahu, cinta tidak sedemikian murah hatinya mengobral peristiwa.

Tentu saja selain baris-baris tulisan di atas yang akan kau anggap petaka, kau juga akan menerima ribuan  kebahagiaan yang akan kita ciptakan. Tapi cukuplah soal bahagia, kebanyakan dari kita sudah cukup lihai untuk menerima kebahagiaan. Mari kita belajar mengenal pahit dan mencermati seluruh skenario dimana kita yang akan jadi pemerannya. Mungkin kau belum tahu, pernikahan tidak akan selalu seindah kencan pertama karena hidup tidak melulu perkara romansa. Sekarang yang menjadi pertanyaan utama, bisakah kamu merasa tak bahagia dan tetap mengenggam tangan saya? Fase ini memang tidak akan selamanya, tapi percayalah sayang, akan datang waktunya ketika kamu akan sangat membenci saya. 

Saya tidak mau mencintaimu dengan sederhana seperti yang ditulis Sapardi, tidak seperti mawar di taman khayal seperti yang ditulis Marzuki, tidak seratus tahun lagi seperti yang ditulis Chairil, tidak juga dalam tempo yang sesingkat-singkatnya seperti yang tertulis dalam teks proklamasi.

Saya hanya  ingin mencintaimu dengan realita dan begitu juga sebaliknya.


...

Wednesday, June 6, 2012

kalau saja ini sudah bulan agustus

Saya mau minta hadiah ulang tahun. Saya ingin hal-hal di bawah ini, disimpan dalam kotak, dibungkus kado bergambar kerokeropi atau ultraman juga boleh, asal jangan motif hello kity. Yang paling penting setiap saya bosan, saya bisa membuka kotak tersebut dan terjun ke dalamnya. Byurrr!  




kalau ternyata surga bisa custom made, saya mau pesan yang seperti ini aja, Tuhan. Boleh?

...

photos taken at gili trawangan, pulau biawak, karimun jawa, and krakatau. 


Tuesday, June 5, 2012

setiap pagi selalu seperti ini

Saya sedang bermasalah dengan jadwal pagi.

Di Bandung, saya bisa bangun pukul lima subuh, lari pagi setengah jam, lalu menikmati dua batang rokok, satu cangkir susu dan suara burung piaraan tetangga sebelah. Saya jarang sekali sakit, kecuali sakit hati tentunya. Di Jakarta, rutinnya saya bangun setiap pukul 06.30 tentu saja minus sholat subuh, itu pun masih ditambah kurang lebih 15 menit bermalas-malasan, menye-menye, guling ke kanan guling ke kiri, dan menyiapkan satu juta lima puluh niat untuk menyeret pantat sendiri ke kamar mandi. Dua bulan hidup dengan pola seperti ini, saya jatuh sakit.

Nah, akhir-akhir ini, jadwal pagi saya kian berantakan. Saya mulai bergerak dari tempat tidur sekitar pukul 7.15 membuat susu coklat panas, merokok, lalu membuka-buka portal berita. Kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih 20 menit. Setelah itu saya beranjak ke kamar mandi, tentu saja tidak langsung mandi. Yang pertama saya lakukan adalah merokok sambil boker, setelah perut dan pantat di rasa aman, saya nyalakan shower. Mandi? Ooh belum. Sekitar kira-kira 5-10 menit, yang saya lakukan adalah memandangi tumpahan air dingin yang menyembur dari shower. Membayangkan betapa tidak enaknya bila kulit saya harus tersentuh air sialan itu. Ngek.

Walaupun saya di kamar mandi, pikiran saya sepenuhnya berada di balik selimut tepat di kasur sebelah. Ooh betapa enaknya kalau saya bisa meringkuk disana. Betapa indahnya kalau saya masih bisa memejamkan mata barang satu atau dua jam saja. Hampir setiap hari saya menyelingkuhi si kamar mandi. Bayangkan? Betapa banyaknya waktu terbuang. Ingin rasanya menangkap waktu, membanting jam dinding keras-keras, berharap waktu jadi tak bergerak dan diam tepat di pukul empat. 

Entah kenapa saya jadi suka sekali tidur. Anehnya, hobi tidur ini cuma berlangsung setiap pagi ketika hendak berangkat kerja. Setiap hari sabtu dan minggu, tung! Saya bisa bangun pukul enam tanpa alarm. Ajaib.

Oleh karena itu;

Menimbang: Kegiatan menye-menye dan prosesi persiapan niat mandi itu sungguh memakan waktu. Kalau memang udah pasti harus dilakukan udahlah ga usah pake niat-niat segala bro, lama.

Mengingat: Surat Al-Inshirah ayat 94 yang tertulis, "maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain". Yang mana artinya adalah harus bersegera dan bersungguh-sungguh. Ini perintah Tuhan lho, jangan main-main kau. 

Menetapkan: Saya, yang bernama galuh agustia sitompul, harus bangun lebih pagi dan tidak boleh jadi pemalas! Semangat!

Remember, you can sell your time, but you can never buy it back. Ah, andai waktu bisa dinegoisasi..

ps: sholat subuh itu challenging, ya? Tepat ketika tidur sedang pulas-pulasnya, tepat ketika udara sedang dingin-dinginnya, duarr pecahlah ketenangan syahdu setiap subuh oleh  suara adzan dari speaker butut masjid dekat rumah. Hey sini, saya sholati kamu. Allahu akbar!


...

Tuesday, May 29, 2012

i wanna settle down

Diumur saya sekarang ini, kayanya saya terlalu banyak bermimpi macam-macam. Terlalu sering berangan-angan. Entah apa yang terjadi di kepala saya ini, tiba-tiba saja terbersit kata-kata ini; i wanna settle down. Ingin diam, duduk tenang. Menikah dan punya anak. There i've said it.  

Selama ini menikah belum ada dalam rencana dekat yang sering terngiang di kepala. Sejujurnya, saya takut menikah. Tapi entah kenapa gagasan ini tiba-tiba timbul. Saya capek beromansa. Haha. Saya malas jatuh cinta dengan orang yang berbeda-beda. Walaupun sering saya amienkan teman-teman yang mendoakan saya supaya cepat ketemu jodohnya, dalam hati kecil, saya selalu berkata; emang udah pantes lu gal jadi istri? Belom kali. Nanti aja lah nikah, lu masih seneng main kesana-kemari. Kasian yang jadi suami lu. 

And this thought just insanely came through my mind.  "Gw kayanya udah siap kok jadi istri. I could be a good mother, i could be a good wife. Iam a fast learner, plus  i no longer have intention to travel the world. I wanna goddamn settle down." zonk! 

Aduh. Tak tahulah ini pikiran macam apa. Yang jelas tadi ketika sholat, kalau biasanya saya selalu berdoa soal karier dan pekerjaan, sekarang itu jadi doa nomor dua. Nomor satunya? Ya Tuhan, saya kok ingin menikah? Tolong mudahkan segala urusan, tolong pertemukan saya dan dia dan bukakan pintu hati saya. Saya ga akan banyak request ini itu deh, cukup lelaki yang baik dan saya bisa bercerita apa saja dengannya, the one who can satisfy my mind, seseorang yang akan senang kalau saya jadi istrinya. Triple zonk. Zonk zonk zonk!  Wish list macam apa ini?

Eh, ngomong-ngomong boleh minta amiennya?

...

Saturday, May 26, 2012

catatan random nomor tujuh puluh lima


Kalau tidak salah, Dewi Lestari pernah menulis begini; Tak ada yang lebih tahu kita ketimbang plasenta. Tak ada rumah yang lebih aman daripada rahim ibu. Saya setuju.

Ini Ibu saya semasa muda, paling kanan yang menyilang kaki.
Ternyata dari dulu betisnya memang besar.

Ibu itu mahkluk yang pelik. Saya tidak pernah tahu seorang ibu itu dibekali super power kasat mata semacam apa, yang jelas di mata saya, sosok ibu itu lebih perkasa dari megaloman atau bintang wcw hulk hogan. Kekuatannya semacam gabungan pendekar silat, pesulap handal sekaligus permaisuri raja yang santun. Lemah tapi kuat, aneh tapi nyata. 

Saya tidak pernah tahu bagaimana dia bisa tetap tenang dan tertawa menghadapi anak-anaknya yang kerap mengecewakan dia. Saya belum paham apa yang terjadi selama sembilan bulan janin tersimpan di perutnya, dia bisa seperti baru saja keluar dari sebuah padepokan silat ternama, tiba-tiba bertransformasi menjadi sedemikian perkasa. Saya tidak pernah tahu bagaimana dia bisa lebih lihai dari mata-mata CIA. Entah instingnya yang tajam atau nalurinya yang kuat, saya tidak pernah bisa berkutik di hadapannya. Tanpa harus melemparkan tatapan spion, tanpa harus menekuk muka judes, saya selalu kehabisan kata-kata dibuatnya. Salting. 

 "Udah sholat kamu?"
"Udah."
"Sholat dimana?"
"Heh? hehe.. belom ketang."
...

Padahal saya sudah menyusun skenario yang demikian ciamik. Cukup jawab, "Sudah, Ma, tadi di kamar." tetap saja gagal. Sial. Padahal dia bertanya dengan kalem saja. Begitu saja, cukup dua kata. Mungkin dia pakai jurus ilmu pedang malaikat menundukkan siluman atau  jurus ular naga menggelung bukit, entahlah.

Ini cerita tentang ibu saya, mahluk beranak tiga yang bekerja jadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta. Selama hidup saya, dia selalu marah. Dia selalu cerewet, ada aja yang diomonginnya. Bangun tidur belum cuci muka, belum gosok gigi, dia sudah bisa berkicau begitu liat saya makan nasi sambil tidur-tiduran. Pamali, katanya. Seriusan deh, lebih nikmat mendengarkan kicauan burung daripada kicauan dia.

Nada suaranya selalu naik dua oktaf setiap melihat asbak saya yang penuh dengan puntung rokok. "Merokok terus, ya!" Keluar malam hari belum lengkap tanpa telepon tepat pukul sepuluh malam. "Dimana? Mau pulang jam berapa? Sama siapa? " selalu begitu, persis petugas sensus. Meski sedang sibuk bekerja, dia selalu bisa menyisihkan waktu lima menit setiap saya pulang terlalu malam untuk mengomeli saya. Omelannya pun selalu tepat guna, tak butuh editor kata-kata; singkat, padat, nyelekit sempurna.

Ada pencipta lagu yang menulis, "kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa" ternyata itu benar adanya. Sampai saya setua ini pun, dia seperti tetap bersiaga di sebelah saya, padahal sudah seharusnya kami bertukar peran sejak lama. Dia selalu pingin tau masalah saya dan si pacar. Kalau saya pulang dengan muka masam, dia langsung mengikuti saya ke kamar, "Abis berantem ya?" katanya. Tebakan dia selalu tepat, tapi saya tidak bernafsu untuk ngobrol panjang lebar. Dia adalah tipe ibu yang selalu pingin dekat dengan anak-anaknya. Mencoba untuk memahami berbagai masalah dari sudut pandang saya, sekaligus menjadi seorang ibu yang bijaksana, dan saya tahu itu sulit. Setiap saya sedih dan putus cinta alah haha, cukup kedua tangannya yang menepuk-nepuk halus punggung saya. "Boleh sedih, tapi jangan lama-lama ya." begitu pesannya.

Ibu marah itu petaka, lebih berbahaya dari perampok bersenjata. Pernah dengar berita ibu-ibu mengamuk menghajar FPI di Medan? Haha. Seperti saya bilang, ibu-ibu itu punya kekuatan super. Sosok ibu itu pelik. Ya, saya sebut itu dua kali. Dia rela jadi tokoh antagonis dalam keluarga, yang melarang ini dan itu, mengomel ini dan itu. Dia rela jadi public enemy, si musuh bersama, menjadi target utama yang harus dilumpuhkan ketika aliansi anak-anak kurang ajar mau berbuat kenakalan. Walaupun kepala saya pusing setiap kali dia mengeluarkan jurus kepo berdarah dingin, dia seperti tangan kanan Tuhan yang selalu diberi suntikan kekuatan, dikirim untuk menjaga saya supaya tetap waras.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, saya beri dia lima bintang, untuk rela berkorban menghidupi saya, untuk tak ada habisnya mengomeli saya, dan dengan watak saya yang bengal ini, dia tidak pernah sekalipun mengusir saya dari rumah. Untuk semua kegalakannya, kecerewetannya, dan prilaku keponya yang terkadang menyebalkan, siapapun yang berani ganggu dia, harus berhadapan dengan saya.

Pernah ada orang kampung bilang: sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya, kata Pak Pramoedya AT sih begitu.

...

Friday, May 25, 2012

obsesi saya, dulu dan sekarang

Sekali waktu, Bapak saya pernah meledek saya, katanya mimpi saya cupu. Kalau orang lain bermimpi punya ferrari atau aventador dari lamborghini, saya dari dulu 'cuma' berangan-angan punya landy alias landrover.

Bisa jadi saya sering bermimpi mengendarai porsche atau bugatti, tapi sekadar pingin mengendarai saja, mencoba suspensi poshrod yang katanya sama dengan yang digunakan mobil-mobil F1. Kebut-kebutan pakai mobil mesin turbo V12 yang bertenaga banteng memang sepertinya lebih menyenangkan. Tapi,  sama seperti rasa ketertarikan antar manusia, ada hasrat sekadar ingin menciumi ada juga hasrat ingin menikahi. Ada hasrat sekadar ingin mengendarai, ada juga hasrat ingin memiliki, ingin membeli. 

Kalau mobil saya suka landrover, kalau motor.. Saya suka vespa. Sialnya, dua-duanya tak disukai bapak saya. Mungkin ini rasanya rencana pernikahan yang tak direstui ayahanda dan dijegal calon mertua. Sulit cari spare part, mahal dan pasti rewel, katanya. Mobil yang saya sering gunakan sekarang sebenarnya bisa saja dijual untuk beli landrover, tapi tentunya permit dari bapak saya ga keluar. Selain itu saya tahu persis land rover itu boros minyak, entah berapa duit yang harus keluar setiap mau jalan-jalan mejeng pake landy. Sial.

Alasan saya terobsesi pingin memiliki landy dan vespa sebenarnya atas dasar emosional belaka; saya suka modelnya. Penyengat nostalgia, romantisme barang tua selalu menggoda buat saya. Sama sekali tak ada hubungannya dengan efektivitas. Walau saya tahu, parkir di tempat paling mengerikan sekalipun, kalau mobilnya landy, rasanya tak ada yang berani oprek-oprek. Terbaret pun tak apa, landy justru lebih gagah dan sangar dengan beberapa baret di badannya yang gahar. Mau pulang malam kalau bawa landy rasanya lebih percaya diri, tak ada yang berani ganggu. Mana ada sih yang mau merampok landy tua? 

Beberapa tahun lalu, sempat berangan-angan dengan seorang pria. "Kamu jadi guru, nanti saya antar pake vespa, setiap pagi kita boncengan, ya?" Haha.. cerita itu sudah lama lalu, tapi saya suka skenario itu. Dibanding motor honda irit minyak yang sekarang saya gunakan, dari segi efektivitas, vespa jelas kalah jauh. Honda setidaknya lebih ramah lingkungan, dan tak rewel. Tapi honda ya honda, vespa ya vespa. Mereka punya karakteristik yang beda. Vespa lebih hmm.. apa ya? Intrigue? Haha. Ibarat laki-laki, honda itu ya lelaki muda siap nikah yang mapan dengan gaji di atas 10 juta, sempurna. Tapi, apa serunya? 

But then again.. romantisme ya romantisme. Menyenangkan, tapi ya sudah saja, cukup, tidak lama, temporary, bersifat sementara, fana, mortal, apalah. Haha. Bapak saya selalu ingatkan saya, "Hidup itu ya realistis saja. Kamu ga bisa selalu dapat apa yang kamu mau." begitu katanya. 

Ya sudahlah.. untuk sekarang ini honda memang rasanya jauh lebih realistis daripada vespa. Suatu saat nanti, mungkin dua tahun lagi, atau sepuluh tahun lagi, obsesi ini bukan lagi sekadar mimpi. Kepada Tuhan yang tersayang.. mampir baca blog saya ya kalau kebetulan sedang senggang. Hohoho.

saya dan landy teman saya. cocok, kan?
 ...

Monday, May 21, 2012

toko garasi

This used to be my baby, my kid, yang saya eksplorasi habis-habisan dan mengambil keuntungan darinya. Haha.

 
Hampir lima tahun lalu, tepatnya tahun 2007, saat saya sedang bosan dengan internet, lahirlah si toko garasi. Walaupun dijalankan sambil main-main, ternyata lumayan juga hasilnya. Bisa buat dipakai buat jajan chiki atau jalan-jalan ke luar negeri. Hihi. Hari ini saya membuka folder si toko garasi dan tertawa-tawa melihat hasil foto yang saya jepret sendiri. Mengorbankan dua orang teman yang saya dandani setiap saya mau 'gelar dagangan', photoshoot dengan mobil kecil saya yang isinya lebih mirip gudang. Membagi waktu antara main hoki (yang utama) dan kuliah yang membosankan haha. 



Ini ceritanya photo session pertama saya. Awal tahun 2008, saya mencoba untuk motret sendiri karena bosan dengan display foto yang sekadar digantung atau cuma pakai manequin. Backgroundnya hanya tembok kamar putih. Saya belum mahir photoshop, sekarang pun belum sih, tapi dulu lebih parah. Kamera saya waktu itu masih pakai Nikon D40 sebelum hilang dirampok orang. Dua teman yang jadi korban ini adalah Sharifa Ainie dan Debbei Delima, dua-duanya atlet hoki dan tidak pernah pakai sepatu hak tinggi. Berkat tipuan kamera dan sedikit pulasan, jadilah mereka mejeng di halaman ini. 

Ciri khas model toko garasi cuma ada dua: yang pertama selalu pakai kacamata. Yang kedua, mukanya sering nunduk. Kenapa? karena mukanya jelek, saya ga suka. haha becanda. Penyebabnya adalah karena diantara kami tidak ada yang bisa dandan. Sekadar pakai bedak tipis atau hiasan mata aja ngga bisa. Jadi supaya tidak mengurangi keindahan barang yang ditawarkan, dengan sangat terpaksa, kedua model ini harus seringkali nunduk, tidak boleh tertawa terlalu lebar, kalau bisa mingkem aja, senyum cukup sebaris, itupun kalau diperlukan. 



Beberapa kali photo session dengan background tembok putih lama-lama bikin bosan juga, akhirnya saya 'sok' kreatif. Saya beli alas meja plastik yang motifnya kotak-kotak hitam putih lalu saya tempel di dinding kamar. Yang ini menurut saya norak banget, udah gitu editannya alay pula. Orang Sunda akan menyebutnya; garila. Orang bule akan berkomentar; eeeewwww.
 

Photo session selanjutnya saya makin 'sok' kreatif. Pingin foto outdoor, lagipula saya lebih suka motret pake cahaya matahari daripada di dalam ruangan yang hambur flash. Kalau udah motret outdoor ini repotnya luar biasa, baik model maupun saya, semua harus kerja. haha. Angkut-angkut barang, itu yang utama. Ganti baju berkali-kali itu juga ternyata big effort lho. Belum abis itu saya suka marah-marah, si Ipeh giginya keliatan gede, atau Debbei mulutnya terlihat monyong. Kadang saya suka lupa diri kalau lagi motret. Sekali waktu di studio, saya motret Debbei dan teriak, "Ulang, muka lo jelek!" atau "Ipeh, jangan napas! Tahan perut, buncit tuh!" teman saya yang kebetulan waktu itu ikut nongkrong di studio langsung shock. Katanya saya jahat banget. Haha. 

 


Karena saya selalu pake dua model ini, buyer-buyer saya sampai hapal sekali sama mereka. Kadang kalau ada salah satu yang menggendut atau mengurus, suka dikomentarin. "Mbak, kayanya model yang itu kurusan ya? Atau gendutan, ya?" haha.





Ini saya yang rusuh setiap pemotretan. Jadi fashion stylist dadakan, fotografer dadakan, sekaligus kuli angkut dadakan. Cape juga lho.
Capek foto outdoor karena ternyata bener-bener harus full effort, selain kadang suka susah cari tempat ganti baju buat model-model ini (kadang saya suka aneh juga, misal motret di lapangan kuda, buat ganti baju aja model harus jalan kaki lumayan jauh, padahal baju yang mau difoto bisa lebih dari sepuluh pieces) belom pusing masalah perijinan, ngepack segitu banyak property dan barang. Capek bok. Akhirnya lama-kelamaan saya ganti haluan, yang gampang aja; foto di studio haha.

Dari dulu selera saya agak aneh, kalau kepala saya benar-benar ga tersentuh kenormalan, mungkin hasilnya bakal lebih aneh dari ini. Saya juga penggemar berat topi-topi aneh, walaupun jarang saya pake, karena kalo saya pake langsung suka dikomentarin aneh-aneh, saya ga suka. Haha. Akhirnya topi-topi itu bisa juga kepake buat property foto. Beberapa baju disini dijahit di penjahit super bernama Lica Triapalas. Kenapa saya bilang super? Karena terus terang saya ga bisa gambar, setiap gambar muka perempuan, yang tercetak di kertas adalah gurat-gurat wajah Christina Martha Tiahahu, pahlawan favorit saya sejak SD. Padahal di kepala saya ini banyak sekali design-design baju yang pengen saya wujudkan. Alhasil, setiap saya datang ke workshop Lica dia langsung sibuk gambar dan saya ngomong, menggambarkan apa yang ada di kepala saya dan dia yang menuangkan omongan saya jadi sketsa. Walaupun seringkali dia marah-marah, mengerutkan kening dan menggambar sambil ngomel karena omongan saya kadang suka ga jelas, ternyata bisa juga saya jadi designer modal ngemeng. Haha, canggih ya? :)



Sekarang si toko garasi sudah tamat riwayatnya, ehh belum tau sih, mungkin vakum, mungkin judulnya hibernasi dan mudah-mudahan bisa bangun lagi. Kadang kangen juga jualan, motret, hunting lalala lilili tapi terus terang aja saya mulai bosan dan sekarang sedang ada satu mimpi lagi yang harus dikejar, sampai dapat! Banyak memori di toko garasi, kegiatan menyenangkan sembari mengisi pundi-pundi, dan juga si dia yang dulu (pernah) setia menemani saya. Hihi.. Anyway, terima kasih toko garasi. :) 

...