Butuh sebuah jeda panjang untuk memahami leluconmu.
Kita semua tahu, sejak kau suruh Ibrahim menyembelih Ismail -- lalu dengan tiba-tiba kau menggantinya dengan seekor kambing -- terhenyak, kita semua sedang diperkenalkan dengan sifat aslimu, si maha melucu. Kepala ini kadang terasa benar bebal, memikirkan dimana sebetulnya letak kelucuanmu. Oh Tuhan, ayolah aku sedang tidak ingin bercanda. Sekeras apapun berpikir, ternyata memang kadar humor kita berentang terlalu panjang. Butuh dua kuintal kecerdasan untuk mengumpulkan logika dan berpikir dengan nalar yang matang. Mencoba menertawai leluconmu adalah sebuah proses pengalaman pemahaman. Sebuah reaksi parade perubahan yang dimaknai oleh para bedebah, bahwa kita,
manusia, hanyalah sekumpulan neurosis rasa bersalah. Setahun yang lalu, hari yang penuh sumpah serapah, baru hari ini saya mampu tertawa, memahami unsur komedi dalam sebuah kisah yang pernah membuat kepala ini gelisah.
Matahari sedang asyik berdandan, bersiap melacurkan diri pada malam, bibirnya bergincu tebal. Dibawahnya, manusia yang tampak kerdil sedang makan beling. Nafasnya memburu, berbau sampah di Bantar Gebang. Kelaparan, kecapaian. Tamaknya letih, memuja, bersungut lalu berdoa. Mencoba menangkap senja dan menyembunyikannya dalam kotak kaca. Kenapa hidup terasa tak lucu lagi, padahal ini bukan jelang mentruasi? Semakin dewasa, nyatanya manusia malah semakin sering merasa merana. Kenapa, ya? Semua akan terasa lucu pada waktunya. Tertawalah, meski sedikit saja.
...
Wednesday, October 3, 2012
Monday, October 1, 2012
Wednesday, September 26, 2012
mama, mari bernostalgia
Sebulan yang lalu teman saya melahirkan seorang bayi. Perempuan. Mungil. Cantik. Sewaktu mengunjunginya di rumah sakit, perut dan vaginanya masih nyeri sehabis dibombardir, didesak paksa kepala manusia yang ingin menghirup udara. Tapi wajahnya bersinar, sepertinya bahagia betul dia. Apa kau dulu juga begitu, Ma? Di kedua lingkar matanya terlihat gradasi hitam yang memudar, entah lelah atau insomnia, atau mungkin juga euforia, memikirkan nama yang paling cantik untuk si calon bayi. Apa kau juga begitu, Ma? Padahal belasan tahun berlalu si anak akan berkata, 'Namaku kok jelek banget sih, Ma, Galuh, ga ada nama yang lain apa?"
Mungkin tak banyak yang tahu, melahirkan dan mengurus seorang anak tidak bisa digambarkan oleh warna pastel dan senyuman manis seperti di iklan popok bayi. Apa mereka tahu perihal darah yang mengalir di selangkanganmu itu, Ma? Mungkin bagian itu memang terlalu horror untuk dijadikan materi iklan di televisi. Seprai satin halus dan selimut beludru ungu itu sungguh tidak mampu menceritakan teriakan perihmu ketika mereka menjahit kembali vagina yang dikoyak dengan seenaknya.
Seringkali kita terbuai, tertipu dengan jargon kelembutan kasih seorang ibu yang dikemas dengan suara dentingan piano klasik yang halus dan lembut dalam sebuah iklan susu. Padahal kalau dipikir-pikir, perjuanganmu lebih tepat diiringi dengan soundtrack musik rock progressive atau bahkan death metal. Coba kutanya, apa ada yang lebih hardcore dari cinta seorang ibu kepada anaknya? Lalu semua orang akan mengomentari betapa lucunya anakmu, betapa sehatnya. Mereka semua akan terpikat pada harumnya wangi bedak bayi dan sepasang mata bulat jernih itu. Tak banyak yang peduli pada huru-hara yang pernah terjadi di ruang panggulmu.
Lendir lalu darah. Pembuluh darahmu membuncah, syarafmu mengejang, anusmu menganga, air matamu membanjir keluar tanpa disengaja, kontraksi itu mama, yang membuat perutmu sakit setengah mati, bagaimana caranya kau bertahan, Ma? Beranjak dewasa, masih juga kau terima caci-maki dari si segumpal daging yang dulu kau beri plasenta. Setelah saya perhatikan, prosesi kelahiran ternyata jauh lebih rumit dan menyakitkan daripada prosesi kematian. Maka, meski ternyata kehidupan seringkali mengecewakan, betapapun mengesalkan, betapapun meragukan, tersenyumlah, berbahagialah, bertahanlah. Ya, setidaknya untuk dia -- perempuan yang vaginanya pernah kau siksa.
Untuk Sharifa Ainie, selamat jadi Ibu.
...
Mungkin tak banyak yang tahu, melahirkan dan mengurus seorang anak tidak bisa digambarkan oleh warna pastel dan senyuman manis seperti di iklan popok bayi. Apa mereka tahu perihal darah yang mengalir di selangkanganmu itu, Ma? Mungkin bagian itu memang terlalu horror untuk dijadikan materi iklan di televisi. Seprai satin halus dan selimut beludru ungu itu sungguh tidak mampu menceritakan teriakan perihmu ketika mereka menjahit kembali vagina yang dikoyak dengan seenaknya.
Seringkali kita terbuai, tertipu dengan jargon kelembutan kasih seorang ibu yang dikemas dengan suara dentingan piano klasik yang halus dan lembut dalam sebuah iklan susu. Padahal kalau dipikir-pikir, perjuanganmu lebih tepat diiringi dengan soundtrack musik rock progressive atau bahkan death metal. Coba kutanya, apa ada yang lebih hardcore dari cinta seorang ibu kepada anaknya? Lalu semua orang akan mengomentari betapa lucunya anakmu, betapa sehatnya. Mereka semua akan terpikat pada harumnya wangi bedak bayi dan sepasang mata bulat jernih itu. Tak banyak yang peduli pada huru-hara yang pernah terjadi di ruang panggulmu.
Lendir lalu darah. Pembuluh darahmu membuncah, syarafmu mengejang, anusmu menganga, air matamu membanjir keluar tanpa disengaja, kontraksi itu mama, yang membuat perutmu sakit setengah mati, bagaimana caranya kau bertahan, Ma? Beranjak dewasa, masih juga kau terima caci-maki dari si segumpal daging yang dulu kau beri plasenta. Setelah saya perhatikan, prosesi kelahiran ternyata jauh lebih rumit dan menyakitkan daripada prosesi kematian. Maka, meski ternyata kehidupan seringkali mengecewakan, betapapun mengesalkan, betapapun meragukan, tersenyumlah, berbahagialah, bertahanlah. Ya, setidaknya untuk dia -- perempuan yang vaginanya pernah kau siksa.
Untuk Sharifa Ainie, selamat jadi Ibu.
...
Tuesday, September 25, 2012
newborn priyayis
Yang kadang membuatku bergidik adalah kicauan para intelektual twitter yang terlalu riuh membahana. Seperti gelombang tsunami informasi yang entah mengalir dari laut atau kali. Keluh kesah, sumpah serapah, marah, meski belum jelas apakah betul atau salah, antara fakta atau karangan cerita, sebaris judul tanpa membaca isi berita. Debat politik murahan sembari melempar kelakar, tertawa, bercanda, serupa obrolan antar teman di warung kopi langganan. Di ujung sebelah sana, jauh datang dari sebuah kelana, sebuah laras panjang dengan sengaja menaruh telinganya. Diam dan mencerna. File, save as.
Dor! Seketika suaranya menghilang di udara.
Burung yang terus-menerus mencicit akan lebih mudah ditemukan sarangnya.
...
Saturday, September 22, 2012
intimidatif
Jakarta, Sabtu 11.42 kasur berseprai biru
Dia: Mau kemana nanti malam?
Saya: Got no plan
Dia: Kesini yuk, ada guestlist nih.
Saya: Kemana?
Dia: #Bluemotion at Portico Senayan City. "Paris Autumn Soiree with @benwestbeech (UK" bla bla bla..
Saya: Duh. Acara apaan tuh?
Dia: Don't bother the music. Just go out. Jangan stuck di kamar deh. Okaaay?
Triple A dalam 'Okaaay?' Intimidatif.
Saya: Hmmm gitu ya.
Dia: Jam 8 ya udah siap, kita ke Sency!
Saya: Harus dandan ya..
Dia: Ga lah, smart casual aja kali *standar* Gimana?
Saya: Lagi males geser pantat nih.
Dia: Ya sekarang nyantai dulu aja, nanti malem siap-siap. Kongkow-kongkow aja, kali ketemu kenalan baru #eh
Apa pula maksudnya tanda pagar lalu 'eh'. Intimidatif.
Saya: Wadaaw..
Dia: Aku tidak terima jawaban tidak! See ya! Ktxbye!
Saya: Apaan tuh ktxbye?
Dia: Akronim, Oke Thanks Bye! Hahaha, masa ga tau?
Saya: Buset
Dia: Hahaha Ya udah ya, nanti malem kita jalan. Jangan ngendon di kamar aja malem minggu, nanti galau.
Saya: Uhmm.. Aku lagi malas ketemu manusia nih.
Dia: Cah ilah dia ansos lagi *emoticon menepuk jidat*
***
Malam minggu kalau di kamar aja nanti galau. Semesta dan segala keharusannya sungguh intimidatif.
Dia: Mau kemana nanti malam?
Saya: Got no plan
Dia: Kesini yuk, ada guestlist nih.
Saya: Kemana?
Dia: #Bluemotion at Portico Senayan City. "Paris Autumn Soiree with @benwestbeech (UK" bla bla bla..
Saya: Duh. Acara apaan tuh?
Dia: Don't bother the music. Just go out. Jangan stuck di kamar deh. Okaaay?
Triple A dalam 'Okaaay?' Intimidatif.
Saya: Hmmm gitu ya.
Dia: Jam 8 ya udah siap, kita ke Sency!
Saya: Harus dandan ya..
Dia: Ga lah, smart casual aja kali *standar* Gimana?
Saya: Lagi males geser pantat nih.
Dia: Ya sekarang nyantai dulu aja, nanti malem siap-siap. Kongkow-kongkow aja, kali ketemu kenalan baru #eh
Apa pula maksudnya tanda pagar lalu 'eh'. Intimidatif.
Saya: Wadaaw..
Dia: Aku tidak terima jawaban tidak! See ya! Ktxbye!
Saya: Apaan tuh ktxbye?
Dia: Akronim, Oke Thanks Bye! Hahaha, masa ga tau?
Saya: Buset
Dia: Hahaha Ya udah ya, nanti malem kita jalan. Jangan ngendon di kamar aja malem minggu, nanti galau.
Saya: Uhmm.. Aku lagi malas ketemu manusia nih.
Dia: Cah ilah dia ansos lagi *emoticon menepuk jidat*
***
Malam minggu kalau di kamar aja nanti galau. Semesta dan segala keharusannya sungguh intimidatif.
Sunday, September 16, 2012
sumber hidangan
Kalau jalan-jalan ke Bandung, jangan lupa mampir ke sini, Sumber Hidangan d/h Het Snoephuis. Restoran ini sudah berdiri sejak 1929. Letaknya di Jalan Braga. Memang agak sulit mencari restoran ini, karena tidak ada papan nama yang cukup besar dan terlihat agak kurang terawat dari depan. Dulunya tempat ini cuma menjual kue dan roti yang khas, semacam kue-kue buatan nenek; Bokkepoot, mocca truffel, chocolade rotajes atau ananastaart. Lama-kelamaan konsepnya berubah jadi restoran. Dulu saya pernah kesini, cuma untuk mencoba kue-kuenya dan minum kopinya. Rasanya kopinya sih menurut saya biasa aja, kue-kuenya juga terlalu manis buat saya. Semacam giyung begitu. Tapi mungkin buat yang suka penganan yang manis-manis, Sumber hidangan bisa jadi pilihan. Harganya juga tidak mahal, cocoklah di kantong anak kostan.
Yang saya suka justru Wiener Schnitzelnya, bistik ala Austria yang banyak disajikan di restoran-restoran Jadul di Indonesia. Harganya kalau tidak salah Rp. 32.000,- Pilihannya ada tiga; sapi, ayam, dan babi. Saya pilih sapi, teman saya pesan babi. Daging has terbungkus tepung panir dengan telur dadar di atasnya, dikelilingi sayuran segar yang dipotong agak besar. Hihihi. Enaknyaa. Kentangnya juga saya suka, kentang potong ala rumahan yang terasa lebih empuk di mulut. Porsinya cukup lumayan besar buat saya, dagingnya juga cukup tebal.
Konon banyak orang yang menggemari roti tawar Sumber Hidangan, tapi saya sendiri belum pernah coba. Roti ini ternyata cepat sekali habisnya, kalau mau membeli roti Sumber Hidangan disarankan datang sekitar jam 9-10 pagi, saat rotinya baru keluar dari oven. Untuk roti manisnya, best seller Sumber Hidangan adalah roti kejunya. Dibanderol Rp. 4.000,- bentuknya memanjang dengan ukuran sedang. Kekuatan rotinya cuma dua hari, karena mereka tidak pakai pengawet ataupun bahan kimia di dalam adonan roti mereka, sehingga memang jadi cepat basi. Tapi lebih sehat, bukan? :)
Pelayan-pelayan di Sumber Hidangan itu semacam oma-oma dan bapak-bapak tua. Banyak orang bilang mereka kurang ramah, tapi kalau menurut saya sih biasa-biasa aja. Mereka memang belum menerapkan prinsip 'pembeli adalah raja', kayanya prinsip mereka adalah gabungan antara 'pembeli sama penjual sama-sama manusia' serta prinsip sejatinya anak pantai. Santaiii. Haha jadi ya perlakuan mereka juga biasa aja, ga lebay atau senyum berlebihan. Mu beli syukur, engga juga nggak apa-apa. :))
...
Saturday, September 15, 2012
catatan kehidupan nomor tiga puluh delapan
Seingat saya, Karl Marx pernah cerita begini:
Alam tidak memberikan makanan kepada manusia seperti halnya binatang yang bisa langsung main sikat tanpa perlu mengolahnya atau -- memasaknya terlebih dahulu. Alam hanya memberikan bahan makanan yang harus diolah kembali oleh manusia, selanjutnya? Ya terserah anda. Dengan demikian tak berlebihanlah bila Marx menasbihkan manusia sebagai mahluk yang harus bekerja karena alam pun sudah mengaturnya demikian rupa.
Pada dasarnya, manusia memang harus bekerja, tujuannya ya untuk memenuhi kebutuhan dirinya, untuk mempertahankan hidupnya. Tapi bertahun-tahun kemudian uang diciptakan dan peradaban pun mengalami percepatan. Manusia kini bekerja bukan lagi untuk mendapatkan sejumlah nonimal uang yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhan dirinya, tapi juga mencakup kebutuhan pandangan orang lain akan dirinya (misalnya; membeli gengsi), untuk memenuhi tuntutan kelas sosial (yang bodohnya kelas tersebut juga diciptakan oleh dirinya sendiri) dan pandangan Tuhan tentang dirinya (misalnya; untuk biaya naik haji). Ya, kira-kira demikian yang bisa saya simpulkan.
***
Sudah hampir dua bulan saya bekerja di sebuah perusahaan software yang memproduksi tools untuk media filtering dan monitoring. Kebanyakan orang yang -ketika saya memberitahu pekerjaan saya- akan melontarkan pertanyaan kedua; "Apaan tuh?" Jadi mungkin saya akan jelaskan saja disini pekerjaan saya, sehingga teman-teman saya yang kebanyakan wartawan (dan sangat kepo sekali orang-orangnya) tidak perlu repot-repot lagi bertanya, "Apaan tuh?"
Intinya sih begini, saya bertugas untuk memonitor, menganalisis, membaca grafik dan data, lalu menyimpulkan, apa-apa saja yang ditulis oleh wartawan media anu, media ono, basically semua media sih, terutama yang sering sekali menuliskan berita dengan negative sentiment yang berlebihan untuk client saya. Berhubung sekarang sedang jelang pilpres 2014, maka client saya pun adalah orang-orang yang sedang melakukan pre-campaign untuk calon RI satu.
Saya tidak terlalu paham politik. Dari angka satu sampai sepuluh, mungkin saya dapat nilai tujuh. Itu berarti B yang hampir ke C, it's B minus, and i wanna get an A. Itu salah satu alasan saya menerima pekerjaan ini. Saya ingin belajar. Di kantor baru ini saya bertemu dengan orang-orang yang paham sekali carut-marutnya dunia politik. Mereka yang memiliki analisis tajam membaca strategi propaganda dari perspektif media, dan saya belajar sangat banyak dari mereka. Middle boss saya adalah redaktur-redaktur majalah terkemuka yang sudah sangat berpengalaman. Sejujurnya saya senang bisa mengenal dan bekerja bersama mereka.
Tapi setelah dua bulan berlalu, rasa itu datang lagi. Rasa yang sering hinggap ketika saya sedang menjalani sesuatu yang membutuhkan komitmen jangka panjang; rasa bosan. Rasa bosan ini memiliki variable pula, saya rindu jadi wartawan (alah). Sekitar dua minggu yang lalu, sebuah perusahaan grup media menghubungi saya, menawarkan pekerjaan sebagai wartawan untuk sebuah majalah. Grup media ini sebenarnya memang sudah saya incar sejak saya lulus kuliah satu tahun lalu. Oh sungguh bimbang hati anakmu ini, Mak.
Hari kamis kalau saya tidak salah ingat, saya mendatangi juga kantor media tersebut. Jadwalnya hari ini adalah test tulis. Ini dia kantor yang sempat menjadi kantor impian saya dulu. Saya menunggu di lobby sampai resepsionis mempersilakan saya naik ke lantai empat, yang ternyata adalah ruang redaksi majalah tersebut. Lima detik setelah saya melangkah keluar dari lift, saya tergugu. Kantor ini penuh dengan monitor berkonde jaman megalitikum. Hehe. Saya jadi curiga pc mereka masih level pentium. Alamak. Terus-terang saja, saya langsung membandingkan dengan kantor saya yang serba Mac, serba canggih.
Lalu sesi selanjutnya, offering salary. Saya bertemu dengan pemimpin redaksi sekaligus vice president media grup tersebut. Sialnya, angka yang mereka tawarkan lebih rendah dari angka di kantor saya sekarang. Saya berusaha melobi mereka, mencoba menggugat angka yang lebih rendah itu, tapi mereka bersikukuh. Intinya, rate salary level di perusahaan mereka memang seperti itu. Hmmm..
Logikanya, seorang pekerja akan mencari angka yang lebih besar bukan ketika mereka harus berpindah kerja? Ya, saya paham itu. Tapi ditempat itu saya bisa jadi wartawan, bisa menulis, bisa mengeluarkan ide-ide di meja redaksi, ahh betapa menyenangkan. Tapi.. tapi.. ahh betapa banyak 'tapi' yang keluar di kepala saya siang itu sampai akhirnya saya memutuskan untuk mentraktir diri saya sendiri segelas kopi.
***
Kembali ke cerita Marx, saat itu dia juga meramalkan bahwa ketika uang sudah menguasai peradaban, manusia akan melakukan apa saja demi uang. Mereka akan bekerja demi uang - bukan untuk memuaskan diri sendiri, bukan untuk aktualisasi diri, bukan pula untuk kebutuhan. Manusia - tak ada bedanya dengan robot pencari uang, yang bisa disetel sedemikian rupa untuk terus menghasilkan tanpa memerhatikan kebutuhan. Jadi, sekarang mana yang kau pilih? Uang atau kepuasan? Karena meski kerap disamakan atau dianggap saling bersinggungan, ternyata dua hal itu adalah hal yang sangat berbeda dan tidak memiliki korelasi antara satu dan yang lainnya.
Oke Marx, cukuplah kau berkicau. Kepala ini pening dibuatnya.
***
Dia: Jadi mau pindah?
Saya: Belum tahu. Banyak pertimbangan, terutama soal salary.
Dia: Tapi jadi wartawan itu kan kaya ilmu..
Saya: ... *tiba-tiba hening
Maka dengarkanlah ini sebentar; bila kau punya mimpi maka kejarlah. Sampai jatuh, sampai memar sikutmu, sampai biru dengkulmu, sampai lebam kepalamu, sampai mampus.
...
di petak sembilan bagian dua
Setelah tertunda sekian lama, akhirnya saya berhasil juga menyambangi kedai es kopi Tak Kie di Gang Gloria, Petak Sembilan. Menjajal Gang Gloria bagian pertama lihat disini ya. Saya cuma mencoba es kopinya. Teman saya, Sandri, memesan es lidah buaya, dan yang bikin saya penasaran sama tempat ini pun memang cuma kopinya. Walaupun begitu tempat ini menjual berbagai macam makanan, seperti bakmi, bubur, hingga nasi tim. Sayangnya, semua masakannya diolah pakai si binatang berkepala empat yang jalannya suka nunduk, jadi terpaksa saya skip deh. Hehe..
Mungkin karena saya terlalu bersemangat clingak-clinguk di kedainya sambil foto-foto, si pemilik Tak Kie, Koh Latief jadi ikut duduk di meja kami dan mengajak ngobrol panjang lebar. Orangnya baik dan suka curhat. Haha. Kami bicara tentang segala rupa, mulai dari curhatnya soal nama kedai kopinya yang tidak mau diganti pasca Soeharto naik jadi presiden, soal rasa kopi Starbucks yang menurut dia sangat 'berantakan', soal rasa kopi instan yang katanya memakai terlalu banyak beverage essence, soal pilkada Jakarta, sampai tips and trick cara membuat mie dari bambu, cara membersihkan daging babi supaya steril -__- hingga bagaimana cara memasak swike supaya dagingnya tidak hancur.
Saya suka kopinya, tidak terlalu manis, aroma dan rasanya juga sangat kuat. Segelas es kopi susu dibanderol Rp. 10.000,- "Sekarang sih enak yah, saya ga pernah pasang iklan, tapi banyak yang tahu Tak Kie dari internet," tuturnya. Biji kopinya diambil dari biji kopi Lampung, ramuannya didapatkan dari resep turun-temurun. "Tak kie itu artinya bijaksana dalam bahasa Mandarin," katanya. Usaha kedai kopi ini ternyata sudah berjalan sejak tahun 1927. Pasca G30S/PKI, plang kedai kopi Tak Kie sengaja disembunyikan, pokoknya dia bersikeras tidak mau nama kedai kopinya diubah menjadi bahasa Indonesia. Kalau ada ras di dunia yang sangat kuat identitasnya dan paling sulit dikenai doktrin asimilasi, ya ras Cina juaranya. Dibelahan dunia manapun, ketika ada ras Cina yang menetap, maka dia akan segera merapatkan barisan, membentuk lingkaran, dan lahirlah Pecinan. Haha.
"Dulu Pak Bondan suruh saya suplai bakmi untuk warung kopinya, tapi saya ga mau. Soalnya dia mintanya ga pake babi, rasanya kan jadi ga enak," ceritanya panjang lebar. Selain mengurus kedainya, Koh Latief juga sibuk jadi suhu barongsai. "Saya ga suka sama pengamen barongsai, seenak-enaknya aja main-mainin barongsai buat cari uang," katanya sambil memperlihatkan fotonya semasa muda dan menjadi pemain barongsai. Hasil oceh-mengoceh dengan Koh Latief, kami jadi ditawari kue hasil bikinan dia, namanya kue Maco. Semacam onde-onde tapi dengan ukuran yang jauh lebih besar dan lembut, dalamnya berisi kacang. "Yang ini ga pake babi kok. Muslim kan? Assalamualikum.." katanya sambil tersenyum simpul. Hahaha. Kamsiah ya, Koh Latief.
"Dulu Pak Bondan suruh saya suplai bakmi untuk warung kopinya, tapi saya ga mau. Soalnya dia mintanya ga pake babi, rasanya kan jadi ga enak," ceritanya panjang lebar. Selain mengurus kedainya, Koh Latief juga sibuk jadi suhu barongsai. "Saya ga suka sama pengamen barongsai, seenak-enaknya aja main-mainin barongsai buat cari uang," katanya sambil memperlihatkan fotonya semasa muda dan menjadi pemain barongsai. Hasil oceh-mengoceh dengan Koh Latief, kami jadi ditawari kue hasil bikinan dia, namanya kue Maco. Semacam onde-onde tapi dengan ukuran yang jauh lebih besar dan lembut, dalamnya berisi kacang. "Yang ini ga pake babi kok. Muslim kan? Assalamualikum.." katanya sambil tersenyum simpul. Hahaha. Kamsiah ya, Koh Latief.
...
Friday, September 14, 2012
perahu tempur
Ada yang ingin kugugat perihal
watakmu yang lebih mirip pantat serdadu. Entah apa, entah bagaimana. Jatuh cinta itu tak ada bedanya dengan invasi militer. Serangan tak terduga yang diluncurkan secara bertubi-tubi, begitu rumit, begitu pelik. Adrenalinku
terasa benar menggerus habis seluruh persendian. Lemas. Tapi aku tak
pernah kalah meski kapalmu sekokoh KRI Fatahillah. Perahu milikku hanya
perahu karet, itu pun masih untung bentuknya bukan bebek. Kau menungguku tergelincir, lalu jatuh, dan kau ingin mengambil alih peranan menjadi tuan di kepalaku. Kepung Wei
untuk mendapatkan Zhao. Kau tahu persis strategi selanjutnya setelah puas
memperdaya samudra. Sekarang aku belajar, memenangkan pertempuran tanpa perlawanan adalah esensi seni perang. Palungku dalam dan berpagar, percuma
saja menembusnya. Kecuali kau keringkan seluruh airnya, ingat ya, jangan pernah
bermimpi untuk mendarat disana.
...
...
Thursday, September 13, 2012
sistem ekskresi manusia adalah sebuah keajaiban dunia*
Kadang sesuatu yang dinilai sangat menjijikan, yang sering disembunyikan, yang sering disingkirkan, ternyata memegang peranan yang sangat vital dalam kehidupan. Misalnya, tahik.
Kadang ada saatnya dunia terasa sangat membosankan, waktu terasa sangat lama, dan kehidupan pun terasa begitu-begitu saja. Lalu tidak ada yang perlu kamu lakukan selain diam sejenak, berkeluh, menengok kembali rencana, mereka-reka, mengevaluasi, berpikir, ya berpikir, dari sudut pandang yang lebih sederhana. Misalnya, dari sudut pandang seonggok tahik. Kenapa ya Tuhan tidak merasa perlu menciptakan sistem ekskresi di kepala manusia, sepertinya pikiran saya sudah terlalu banyak racun dan urea. Mungkin inilah sebuah petaka, kecelakaan, sebuah erosi kekaguman pada kehidupan. Lalu seperti biasa, manusia yang sedang merasa bosan akan memikirkan pertanyaan yang bukan-bukan; jadi sebenar-benarnya untuk apa aku dilahirkan ke dunia? Untuk apa aku ada? Apa aku cukup berharga?
Jawabnya? berkacalah pada tahik. Dia saja ada fungsinya, masak kamu ga ada.
Kadang ada saatnya dunia terasa sangat membosankan, waktu terasa sangat lama, dan kehidupan pun terasa begitu-begitu saja. Lalu tidak ada yang perlu kamu lakukan selain diam sejenak, berkeluh, menengok kembali rencana, mereka-reka, mengevaluasi, berpikir, ya berpikir, dari sudut pandang yang lebih sederhana. Misalnya, dari sudut pandang seonggok tahik. Kenapa ya Tuhan tidak merasa perlu menciptakan sistem ekskresi di kepala manusia, sepertinya pikiran saya sudah terlalu banyak racun dan urea. Mungkin inilah sebuah petaka, kecelakaan, sebuah erosi kekaguman pada kehidupan. Lalu seperti biasa, manusia yang sedang merasa bosan akan memikirkan pertanyaan yang bukan-bukan; jadi sebenar-benarnya untuk apa aku dilahirkan ke dunia? Untuk apa aku ada? Apa aku cukup berharga?
Jawabnya? berkacalah pada tahik. Dia saja ada fungsinya, masak kamu ga ada.
"If you're lost and feel alone, circumnavigate the globe.."
*Ditulis saat sedang PMS.
Monday, September 10, 2012
Sunday, September 9, 2012
sampang
“Itulah sebabnya berduyun-duyun tamu asing datang berkunjung dari Jumbudwipa (India), Kamboja, Cina, Yamana, Campa, dan Goda, serta Saim. Mereka mengarungi lautan bersama para pedagang, resi, dan pendeta, semua merasa puas, menatap dengan senang, hidup dengan tenang dalam keragaman. - Prapanca dalam Kakawin Nagarakertagama (1365)
Siwa di Timur, Budhha di Barat, Islam yang datang dari Timur dekat, lalu India, Cina, dan manusia Mongolia yang tersesat. Dari Semenanjung Melayu hingga Papua, Kalimantan Utara lalu Belanda, oh ya, asal jangan Amerika. Kali pertama Soekarno berkenalan dengan burung garuda, nasionalisme disematkan di deret pertama pijakan kakinya, lalu diakhiri dengan Ketuhanan yang maha esa di nomor lima. Nyatanya, urutan pijakan kaki memang harus kembali direvisi. Cinta berlebih adalah kejahatan manipulasi dari manusia yang paling keji. Hari ini, rasa-rasanya memang sudah saatnya kerajaan Majapahit dihidupkan kembali.
Ini ode untuk mereka, primata yang paling sering bicara cinta, sebuah hasil tabularasa. Apa kau dengar? Betapa dangdutnya mitos bhinneka tunggal ika.
...
Saturday, September 8, 2012
Wednesday, September 5, 2012
untuk si titik titik
Dunia, nyatanya, hanyalah sebuah bingkai dua dimensi untuk perempuan Indonesia. Seperti yang terlihat di depan etalase kaca, semacam fatamorgana. Berdecak memandangi bianglala tanpa pernah menungganginya. Sebuah mimpi indah yang tak berkesudah, resah, setengah, sekadar singgah. Kartini mungkin akan sakit hati bila dia hidup kembali. Tribhiwana Tunggadewi, atau Ratu Sima, atau Christina Martha Tiahahu, merekalah desing peluru. Yang menghidupkan, yang mematikan, layaknya Tuhan, tapi tentu saja bukan. Lalu, apalah emansipasi? Eskalasi harga diri? Insubordinasi? Demarkasi? Apa? Menjadi laki-laki? Mengapa mengebiri? Bukankah kita semua berasal dari letupan yang sama? Dimensi yang sewarna? Pahatan yang serupa? Bisakah sejenak berhenti menyalak padaku? Atau maaf, terpaksa kusarangkan sebutir peluru di ususmu.
"Jadi perempuan ga usah sekolah tinggi-tinggi, nanti susah cari suami," Kalimatmu yang ini akan selalu jadi catatan hati.
...
"Jadi perempuan ga usah sekolah tinggi-tinggi, nanti susah cari suami," Kalimatmu yang ini akan selalu jadi catatan hati.
...
![]() |
| Besakih, 2010 |
Monday, September 3, 2012
maximus decimus meridius
Di semburat neon putih, manusia-manusia berjubah biru mengelilingi tempat tidur besi yang lebih mirip laci. Hegel ternyata tidak sedang bercanda saat dia menyatakan postulatnya; sejarah hanyalah sebuah repetisi. Rumah sakit ini terasa seperti koloseum versi masa kini. Meski tampak rapuh, mereka yang datang sesungguhnya adalah petarung sejati. Manusia-manusia dalam balutan baja semangat gladiator yang bersiap untuk berlaga di arena dengan panglima elmaut sebagai lawan duelnya. Lihatlah, rasakanlah, pelajarilah, mata mereka terpejam dengan kepala yang terus terjaga. Ada serangkaian prosesi sebuah pergulatan teriring setiap putaran roda tempat tidur besi. Batin yang berkoar, nalar yang mengeras, pasrah yang menderas, jiwa yang memekik, panik, konflik, gemetar-ciut-lalu-mundur-mengendur, tapi yang membuat ternganga adalah sekerjap senandung bahana bahaduri disana. Saya melihat sosok secutor hingga retiarius, dengan okrea dan trisula tajam dalam garis dahi mereka yang kencang meski sorot matanya tetap memijarkan kecemasan.
Pilihannya cuma dua, bertahan hidup atau mati. Kita tahu, hari ini siapapun bisa lepas landas dari meja operasi.
Sesudah kesulitan akan ada kemudahan. Janjimu di kitab suci.
...
Thursday, August 30, 2012
two before thirty
Sudirman, F City.
18.32
Membereskan cubicle. Bergegas, berkemas, mengancingkan jaket yang terbuka setengah. Hari ini saya sudah janji akan datang sore hari.
18.52
Gila-gilaan. Barat memang lebih sadis dari Selatan. Merayap padat di sepanjang Slipi dengan pikiran yang setengah melayang. Si makhluk liminal hari ini menyebalkan. Tapi ada satu hal yang membuat mata ini sedari tadi terasa nyalang.
Pelataran Pusat Jantung Nasional, Harapan Kita
19.21
"Worst birthday, huh? Waiting at the hospital."
"Tidak juga. Saya cuma kepingin merokok."
"Merokok saja. Tokh Bapakmu ga tahu. Asal jangan depan dia aja."
"I made a promise. To myself."
"Lalu?"
"Tidak ada lalu. Semacam self-respect-kind-of-thing.
"Prett."
19.45
"Bapakmu baik. Semua stabil. Tinggal tunggu besok, untuk tindakan lanjutan."
"Baguslah."
"Hari tanpa tembakau, day 1? Eh, selamat ulang tahun ya."
"Pertama selalu terasa sangat berat. Puasa pertama, haid pertama.."
"Besok lebih mudah.."
"Atau lebih susah.."
"Puff!"
20.22
"Mau permen? Lumayan daripada asem."
"Ga. Makasih. Nanti jadi malah ketergantungan sama permen."
"Still, better than ciggie."
"Tahu kok. Tapi candu itu palsu."
"Hahaha. Belum tentu."
Tenang saja, semua akan mati rasa pada waktunya.
Tenang tenang, tenanglah seperti karang. Sebab persoalan bagai gelombang.
Tenanglah tenang tenanglah sayang..
(Iwan Fals - Lagu Satu)
...
18.32
Membereskan cubicle. Bergegas, berkemas, mengancingkan jaket yang terbuka setengah. Hari ini saya sudah janji akan datang sore hari.
18.52
Gila-gilaan. Barat memang lebih sadis dari Selatan. Merayap padat di sepanjang Slipi dengan pikiran yang setengah melayang. Si makhluk liminal hari ini menyebalkan. Tapi ada satu hal yang membuat mata ini sedari tadi terasa nyalang.
Pelataran Pusat Jantung Nasional, Harapan Kita
19.21
"Worst birthday, huh? Waiting at the hospital."
"Tidak juga. Saya cuma kepingin merokok."
"Merokok saja. Tokh Bapakmu ga tahu. Asal jangan depan dia aja."
"I made a promise. To myself."
"Lalu?"
"Tidak ada lalu. Semacam self-respect-kind-of-thing.
"Prett."
19.45
"Bapakmu baik. Semua stabil. Tinggal tunggu besok, untuk tindakan lanjutan."
"Baguslah."
"Hari tanpa tembakau, day 1? Eh, selamat ulang tahun ya."
"Pertama selalu terasa sangat berat. Puasa pertama, haid pertama.."
"Besok lebih mudah.."
"Atau lebih susah.."
"Puff!"
20.22
"Mau permen? Lumayan daripada asem."
"Ga. Makasih. Nanti jadi malah ketergantungan sama permen."
"Still, better than ciggie."
"Tahu kok. Tapi candu itu palsu."
"Hahaha. Belum tentu."
Tenang saja, semua akan mati rasa pada waktunya.
Tenang tenang, tenanglah seperti karang. Sebab persoalan bagai gelombang.
Tenanglah tenang tenanglah sayang..
(Iwan Fals - Lagu Satu)
...
Monday, August 27, 2012
cari jodoh
Perkenalkan, namanya Benny si landak mini. Umurnya lupa, yang jelas sudah cukup dewasa untuk beranak pinak. Benny sedang pusing, dia pingin kawin. Kalau ada betina yang tertarik untuk jadi istri Benny dan lokasinya di Jakarta, silakan tinggalkan pesan. Kalau berkenan, mungkin bisa jadi besan. :)
Monday, August 20, 2012
re-renovasi
Dari Parnassus, Cenote Sagrado, hingga Jabal Al-Nour, lalu kembali ke Olympus.
Untuk kesekian kali, kepala ini memang sudah seharusnya terkena re-renovasi. Dalam perjalanan pulang kembali ke rumah, terjebak di jalan (yang seharusnya) bebas hambatan sepanjang 130 kilometer dalam waktu sepuluh jam. Dan lihatlah mereka yang lebih gila, berdesak-desakan nyaris saja mengorbankan nyawa. Angin pun menghembus gusar, menangkap lontaran makian dari para objek lawakan semesta di sepanjang jalan raya. Megah pesta ini akan segera berakhir dalam hitungan jam. Para penghuni laut merah pun meringis, terkerjap dalam festival satu syawal dan euforia sebuah kemeriahan religi. Iman yang terlekang ternyata tidak butuh revolusi apalagi renovasi, dia hanya perlu ber-evolusi.
Selamat pagi Tuhan yang maha memotret lagi maha menulis, apa kabar? Terima kasih atas kejutan-kejutan yang tak pernah bisa diperkirakan dan skema-skema yang kadang membuat kepala ini lintang pukang. Berbahagialah mereka yang tahu betul hidup memang sangat berharga dan sudah sepantasnya selalu dirayakan. Hari ini sudah habis, tapi adamu si maha kekal akan selalu datang dalam riang atau pekik kekecewaan, jadi terima kasih untuk selalu mengingatkan. Simpan gelasmu, pesta kali ini hanya untuk mereka yang mengerti benar bagaimana caranya tetap bertahan dalam tenang.
Selamat lebaran kawan seperguruan.
Selamat lebaran kawan seperguruan.
...
![]() |
Khairunnas anfa’uhum linnas atau sebaik-baik di antaramu adalah yang paling banyak manfaat bagi orang lain. Sunnah rasul untuk (calon opor) ayam.
...
Thursday, August 9, 2012
puisi yang tak jadi-jadi
Manusia itu makhluk paling absurd sepanjang masa. Dibilang mamalia, tidak juga, dibilang karnivora, bukan juga. Lalu dengan pongahnya dia memaknai semua makhluk hidup yang ada, mulai dari iblis sampai kura-kura.
Saya sedang kesal. Saya ingin buat puisi. Tapi menulis puisi bukan spesialisasi yang saya miliki. "Tulisan lu aneh. Kaya bukan tulisan perempuan." Memangnya ada karakterisasi tulisan perempuan dan laki-laki? Bah. Tulisan iseng-iseng pun juga kena sasaran diskriminasi. Teman saya bilang saya kurang sense of sensitivity untuk menulis puisi. Nulis puisi itu pakai perasaan, bukan pakai kepala. Setahu saya, perasaan adalah manifestasi dari pergolakan yang tak tertampung di kepala, lalu dia meleleh, meluber keluar, karena kepala merasa ini sudah bukan ranahnya.
Siang ini saya tiba-tiba berpikir, apa sekiranya yang membuat ras manusia ini sulit sekali dipunahkan? Apa yang membuat makhluk hidup ini menjadi pintar sekali sekali beradaptasi di segala kondisi. Apakah karena akalnya? Atau karena dia memiliki nurani, perasaan, sensitivitas, intuisi? Yang jelas, tentu bukan karena manusia makhluk paling sempurna, karena ternyata masih ada manusia yang (kelakuannya) lebih buruk dari gorila.
Gurita raksasa dari Afrika Utara konon adalah salah satu binatang paling cerdas tapi lambat-laun banyak dari mereka yang mati tak mampu bertahan dalam seleksi. Pemerintah Afrika juga sudah mulai keringatan pantat dengan isu kepunahan mereka yang sudah diambang mata. Wah, lalu apa yang membuat manusia dengan gagahnya bisa terus bertahan? Karena manusia (seharusnya) punya perasaan? Yah, tak tahu lah.
Setiap saya memberanikan diri membuat puisi, yang keluar adalah rentetan kalimat cheesy yang terdengar seperti soundtrack cerita yang dikemas oleh Raam Punjabi. Hih. Tapi, satu hal yang tiba-tiba saya mengerti, akal dan pikiran ternyata berbanding lurus dengan keleluasaan yang berujung pada keegoisan. Cuma karena merasa kepala kita bisa memuat banyak hal, kita menyamakan kebesaran alam semesta dengan alam pikiran. Seringkali kita terlalu sibuk berpikir, merumuskan, memberi arti, mendefinisi, mencoba mengerti, sehingga kita sudah lupa bagaimana caranya belajar menggunakan perasaan.
Ya, persis seperti yang saya lakukan sekarang.
...
Saya sedang kesal. Saya ingin buat puisi. Tapi menulis puisi bukan spesialisasi yang saya miliki. "Tulisan lu aneh. Kaya bukan tulisan perempuan." Memangnya ada karakterisasi tulisan perempuan dan laki-laki? Bah. Tulisan iseng-iseng pun juga kena sasaran diskriminasi. Teman saya bilang saya kurang sense of sensitivity untuk menulis puisi. Nulis puisi itu pakai perasaan, bukan pakai kepala. Setahu saya, perasaan adalah manifestasi dari pergolakan yang tak tertampung di kepala, lalu dia meleleh, meluber keluar, karena kepala merasa ini sudah bukan ranahnya.
Siang ini saya tiba-tiba berpikir, apa sekiranya yang membuat ras manusia ini sulit sekali dipunahkan? Apa yang membuat makhluk hidup ini menjadi pintar sekali sekali beradaptasi di segala kondisi. Apakah karena akalnya? Atau karena dia memiliki nurani, perasaan, sensitivitas, intuisi? Yang jelas, tentu bukan karena manusia makhluk paling sempurna, karena ternyata masih ada manusia yang (kelakuannya) lebih buruk dari gorila.
Gurita raksasa dari Afrika Utara konon adalah salah satu binatang paling cerdas tapi lambat-laun banyak dari mereka yang mati tak mampu bertahan dalam seleksi. Pemerintah Afrika juga sudah mulai keringatan pantat dengan isu kepunahan mereka yang sudah diambang mata. Wah, lalu apa yang membuat manusia dengan gagahnya bisa terus bertahan? Karena manusia (seharusnya) punya perasaan? Yah, tak tahu lah.
Setiap saya memberanikan diri membuat puisi, yang keluar adalah rentetan kalimat cheesy yang terdengar seperti soundtrack cerita yang dikemas oleh Raam Punjabi. Hih. Tapi, satu hal yang tiba-tiba saya mengerti, akal dan pikiran ternyata berbanding lurus dengan keleluasaan yang berujung pada keegoisan. Cuma karena merasa kepala kita bisa memuat banyak hal, kita menyamakan kebesaran alam semesta dengan alam pikiran. Seringkali kita terlalu sibuk berpikir, merumuskan, memberi arti, mendefinisi, mencoba mengerti, sehingga kita sudah lupa bagaimana caranya belajar menggunakan perasaan.
Ya, persis seperti yang saya lakukan sekarang.
...
![]() |
| Cipularang, 2012 |
"Biar cuma perasaan, tapi ini kan perasaan.." Kabut Sutra Ungu (Sjuman Djaya, 1979)
Monday, August 6, 2012
(bukan) tentang jerawat
Saya tidak pernah tahu apa yang benar-benar diinginkan oleh jerawat ini. Jerawat lain rasa-rasanya paling lama cuma dua minggu bertengger di pipi atau di dahi, jerawat yang satu ini benar-benar tidak bisa dikasih ampun. Sudah hampir satu bulan rasanya dia menghiasi pipi kanan saya. Terus saja dia disitu, setiap pagi sehabis bangun tidur saya langsung berkaca memperhatikan pergerakannya. Dia tidak pernah tumbuh menjadi matang lalu mengempis seperti normalnya jerawat-jerawat lain. Sungguh ini adalah jerawat terkonsisten yang pernah mampir di hidup saya.
Dilihat dari jenisnya, dia memang sepertinya berbeda dengan jerawat-jerawat yang sering hinggap. Mungkin ini yang namanya jerawat batu. Jerawat marjinal, yang terpinggirkan karena memang jenisnya cuma sedikit, mungkin, dan sering kalah pamor dengan jerawat-jerawat normal lainnya. Tapi hal itu lah yang membuat saya menaruh perhatian padanya lebih dari jerawat-jerawat yang lainnya. Sialan, kenapa ya dia bisa bertahan kekeuh disana tanpa ada perubahan yang signifikan?
Sesuai dengan namanya 'jerawat batu', sifatnya ternyata memang nyaris sama seperti batu. Ini jerawat yang paling sulit dikalahkan dalam adu argumentasi, apalagi meminta sedikit toleransi. Wah, seringkali saya keder dibuatnya. Menjengkelkan sekali. Sesuatu yang sulit sekali diatur memang selalu menarik perhatian saya, tapi lama-kelamaan kenapa rasanya jadi begitu memuakan?
Hari itu entah kenapa saya kesal sekali dibuatnya. Jerawat ini harus lenyap dari kehidupan saya. Saya pun bergegas mencari solusi penghilang jerawat batu yang benar-benar mujarab, konsultasi sana, konsultasi sini, tantangan berikutnya yang harus saya taklukan adalah menyingkirkan kamu dari kehidupan saya. Huh. Akhirnya ketemu, satu obat yang ampuh. Malam itu juga saya oleskan tebal-tebal pada jerawat batu sialan itu. Lihat saja nanti, besok pagi kamu sudah harus pergi dari tempat ini.
Selamat tinggal. Tempatmu sekarang di kolom obituary.
...
Subscribe to:
Posts (Atom)





































