Thursday, October 18, 2012

so, run (for your life)

Saya suka lari, kamu? 

Kalau orang sering mengatakan istilah 'lari dari kenyataan', saya lah yang paling sering menerjemahkan (sekaligus mempraktikannya) secara harafiah. Setiap saya sedang kesal, bermasalah, sedih, saya lebih suka lari untuk melupakan masalah tersebut. Bisa di treadmill, di trek lari outdoor, atau di komplek perumahan saya, dimana saja lah yang penting pakai sepatu lari. Lari buat saya seperti memiliki sensasi tersendiri. Seperti hari ini, ketika saya sedang luar biasa kecewa pada diri saya sendiri. Hari ini seharusnya jadwal saya latihan, tapi saya tidak berminat memegang stick hockey, saya cuma kepingin lari. Lari. Lari. Titik. 

Maka berlarilah saya. Dua kali lipat lebih lama dari jarak yang biasa. Satu set, lalu dua set. Saya cuma pingin dengar suara itu. Cukup itu saja. Tapi sampai set kedua selesai, suara itu masih belum datang juga. Akhirnya saya putuskan memulai set ketiga. Putaran pertama, putaran kedua, mata ini mulai terasa berkunang-kunang. Saya kelelahan, tapi saya masih kepingin lari. Otot kaki saya mengencang, tapi saya bersikukuh, otot saya masih kuat. Nafas saya mulai memburu. Putaran keempat. Lalu putaran kelima. Saya semakin menambah kecepatan kaki saya. Sprint! 

Keringat menetes deras dari bagian atas dahi. Punggung saya basah, baju saya kuyup bersimbah. Telapak kaki saya terasa melayang di udara seiring setiap hentakan kaki saya di astro turf lapangan Senayan. Putaran kelima di set ketiga akhirnya saya berhenti. Menyerah. It's finish. Saya berjalan pelan. Merasakan aliran darah di kepala mengalir sangat deras, dada saya terasa sesak, nafas saya habis sudah. Lalu datanglah suara yang ditunggu, suara itu.

Dugdug, dugdug, dugdug. 

Suara jantung yang begitu kuat berdetak di dada saya yang sesak. Terasa menyenangkan sekaligus melegakan. Mengalahkan segala kelelahan. Denyut itu merajai seluruh tubuh, bergetar di sekujur pembuluh darah dan nadi saya, mulai dari telapak kaki hingga ujung kepala. Saya menengadah ke atas, mencari tambahan pasokan udara sembari menikmati bunyi yang semakin kuat dengan nafas megap-megap.

Tepat saat raga terasa melayang kelelahan, mengambang di titik yang terlemah, suara itu justru semakin bertenaga. Bunyinya seperti menyanyikan senandung resistan. Menolak melemah, mencekal kepala, memaksa mata kembali terbuka, betapa perkasa. Disanalah pusat semesta manusia yang sesungguhnya. Berhentilah sejenak, dengarlah ketukan sebuah pergolakan seiring segala letih dan lelah. Bahana lantunan pertahanan, tuturan kekuatan, afirmasi  sebuah denyut kehidupan. Bahwa di dalam diri setiap manusia, ada sebuah mesin penggerak yang lebih kuat dari sekadar perkiraan. And if we think about it, isn't that what really matter the most? 

You are alive. That's it.

 ...

Wednesday, October 10, 2012

fabula manusia kota

Apa yang sesungguhnya ditawarkan oleh maket-maket megah itu, Pak Menteri? Adakah sebuah cetakan biru, bangunan arsitektur yang begitu teratur dan terukur? Para manusia kota sudah bersorak ramai dari jarak dua meter. Mungkin mereka mencium bau uang, kau tahu? Sebagian lagi mengernyit, mencium bau hanyir ikan yang disembunyikan rapat dalam habung raksasa berlumur gabah.

Dalam dua puluh tahun ke depan, negeri ini akan menjalani operasi plastik besar-besaran. Mulai dari jembatan hingga pelabuhan, untuk sebuah wajah yang lebih cantik dari sekarang.  Demi sebuah kecantikan artifisial, padahal yang namanya artifisial tak pernah baik untuk kesehatan. Negeri ini akan didandani sesuai kehendak pasar atas nama investasi. Masyarakat girang, siapa yang tak suka dengan wajah yang lebih rupawan? Padahal kita sedang bersiap untuk melacurkan diri. Berharap naik pangkat dari tuna susila level kelas teri.

Sejak didorong dengan keras oleh seorang laki-laki di antrian TransJakarta, saya sudah tahu; mental dan moral ternyata tak datang dari tuhan, apalagi dari setan. Mereka datang dari pemahaman, sebuah proses saling pengertian, bahwa manusia lainnya ada, hidup, dan saling berpautan. Demokrasi, teknologi, percepatan informasi untuk masyarakat Indonesia layaknya sebuah kondom yang diberikan pada anak balita, bahkan penisnya saja belum bisa mengeluarkan sperma. Percuma. 

Lima ratus kilometer dari hiruk pikuk kota, sekelompok manusia desa bersenandung. Senang.  Tertawa. Di jalan yang tak kenal aspal mereka berjalan beriringan, sembahyang lalu bercengkerama. Semua ingin pergi ke kota. Di kota ada bahagia. Konon, masih konon. Mereka melihatnya di televisi, foto-foto, di bis-bis besar yang datang dengan membawa berjuta cerita. Program-program percepatan kemajuan desa terpampang angkuh dalam folder-folder hitam raksasa. Penanda masif senarai ketamakan manusia kota yang berbekal segudang pengalaman urban. Tingkat intelektualitas yang rendah harus diberantas, kata mereka. Betapa stereotipikal. 


Asal kau tahu, sebodoh-bodohnya orang desa, tetap saja mereka bahagia tanpa perlu mendengar ocehan Mario Teguh. Omong-omong, kalau kau masih perlu baca buku-buku motivasi itu, kemana kitab sucimu? Buat ganjel pintu?

...

Friday, October 5, 2012

to kill a mockingbird

Kembali ke Alabama 1930. Akhir-akhir ini saya merasa sedang bertransformasi menjadi Scout Finch. Menakar, mengamati, menganalisis, mencoba mengerti dari berbagai sudut persepsi. Media massa gempar, para jurnalis banjir bahan tulisan, seorang anak paruh baya membunuh dalam sebuah tawuran. Di jejaring sosial berlambang burung dara, batin saya termanggu. Sebuah percakapan terlintas di linimasa saya siang itu. "Dalam tawuran, there's no turning back, bro. Kalo sudah di depan, sikat semua!" Meski dia tak sedang orasi dengan pengeras suara, saya bisa merasakan aksaranya begitu membabi-buta. Lagaknya sudah seperti perdana menteri Netanyahu dengan jargon favoritnya; dibunuh atau membunuh! 

Istilah tawuran tak asing bagi saya. Peristiwa gerombolan putih abu yang berlari kalang kabut kesana kesini dan berkelahi sudah sering saya lihat di televisi. Tak ikut berkelahi artinya banci, dan banci -- lelaki yang ingin menjadi perempuan -- dianggap sebagai salah satu bentuk penghinaan kasta tertinggi terhadap harga diri lelaki. Tololnya, kategori banci justru dilabeli oleh manusia yang senang berkelahi secara kolektif, rame-rame, bareng-bareng. Haha. Orang yang aneh. Yang lebih mengherankan lagi (buat saya) adalah prosesi pembunuhannya. Gila, bukan sekedar tonjok-tonjokan, tapi si inisial D juga cukup bernyali untuk menghabisi nyawa seseorang.

Membunuh orang bukan perkara gampang. Ada sepasang tangan, mata, kaki, logika dan intuisi yang akan melawan. Setiap manusia punya gelombang naluri bertahan hidup yang tak mudah ditaklukan. Berlagak tuhan dan mengakhiri hidup seseorang butuh banyak keberanian. Anak ini bahkan usianya belum lagi menginjak 20. Seorang tentara konon harus dicuci otak supaya bisa berlaku sadis ketika menghadapi musuh. Lalu, dimana bocah ini bisa mengupgrade nyalinya jadi sedemikian besar sampai berani membunuh?

Miriam Budiarjo sekali waktu pernah menulis; dalam kelompok, seseorang akan cenderung kehilangan identitasnya. Dalam kelompok pula, opini akan dibentuk lalu munculah para pemain monopoli opini yang mau tak mau harus diikuti. Berani melanggar aturan? Hukumannya bully! Sudahlah, akui saja, mental bhinneka kita nol besar. Sama rata, sama rasa, sama kepala, atau diasingkan sebagai hadiahnya. Dalam kelompok, seorang individu akan mengalami masalah dalam mekanisme pengendalian moral yang berujung pada kerusakan tatanan sosial yang sifatnya ekstrem dan tidak rasional. 

Sadis, singkatnya. Mungkin perkara bunuh-membunuh hanya salah satu sub variabel dari ratusan sub-variabel sadis yang lain. Membeli tas seharga sepuluh juta, menurut saya juga sadis. Konspirasi Bakrie, juragan siaran televisi yang terus-terusan menyuguhi pemirsa dengan sinetron tak layak tayang untuk pembodohan mental dalam alam bawah sadar juga sadis.  Hmm, entahlah. Atau bully secara verbal di jejaring sosial? Yang jelas, orang-orang yang mengaku terheran-heran oleh perbuatan si inisial D di jejaring sosial adalah orang-orang yang sama pula yang menggugat pasukan alay, yang mengaku atheis lalu menertawakan mereka yang sembahyang, yang mengaku liberal lalu mengejek yang perawan. Seriously, have we lost our sensitivity? 

Saya kira kita semua sudah sepakat hidup dengan falsafah pancasila, nyatanya yang kita lakukan hanya mempraktekan hukum rimba dan membangun kerajaan binatang melata. Saya, satu dari sedikit yang masih saja percaya. Alangkah bodohnya.

Does this look familliar? Source: Setneg







  
"Shoot all the blue jays you want, if you can hit ‘em, but remember it is a sin to kill a mockingbird."

...

Wednesday, October 3, 2012

catatan harian nomor satu satu tiga

Butuh sebuah jeda panjang untuk memahami leluconmu. 

Kita semua tahu, sejak kau suruh Ibrahim menyembelih Ismail -- lalu dengan tiba-tiba kau menggantinya dengan seekor kambing -- terhenyak, kita semua sedang diperkenalkan dengan sifat aslimu, si maha melucu. Kepala ini kadang terasa benar bebal, memikirkan dimana sebetulnya letak kelucuanmu. Oh Tuhan, ayolah aku sedang tidak ingin bercanda. Sekeras apapun berpikir, ternyata memang kadar humor kita berentang terlalu panjang. Butuh dua kuintal kecerdasan untuk mengumpulkan logika dan berpikir dengan nalar yang matang. Mencoba menertawai leluconmu adalah sebuah proses pengalaman pemahaman. Sebuah reaksi parade perubahan yang dimaknai oleh para bedebah, bahwa kita, manusia, hanyalah sekumpulan neurosis rasa bersalah. Setahun yang lalu, hari yang penuh sumpah serapah, baru hari ini saya mampu tertawa, memahami unsur komedi dalam sebuah kisah yang pernah membuat kepala ini gelisah.

Matahari sedang asyik berdandan, bersiap melacurkan diri pada malam, bibirnya bergincu tebal. Dibawahnya, manusia yang tampak kerdil sedang makan beling. Nafasnya memburu, berbau sampah di Bantar Gebang. Kelaparan, kecapaian. Tamaknya letih, memuja, bersungut lalu berdoa. Mencoba menangkap senja dan menyembunyikannya dalam kotak kaca. Kenapa hidup terasa tak lucu lagi, padahal ini bukan jelang mentruasi? Semakin dewasa, nyatanya manusia malah semakin sering merasa merana. Kenapa, ya? Semua akan terasa lucu pada waktunya. Tertawalah, meski sedikit saja.

...

Monday, October 1, 2012

adalah keponakan kecil..

..yang suka sekali merusak bunga. Sampai koyak, lalu diinjak. 



Heeee, problem? 

...

Wednesday, September 26, 2012

mama, mari bernostalgia

Sebulan yang lalu teman saya melahirkan seorang bayi. Perempuan. Mungil. Cantik. Sewaktu mengunjunginya di rumah sakit, perut dan vaginanya masih nyeri sehabis dibombardir, didesak paksa kepala manusia yang ingin menghirup udara. Tapi wajahnya bersinar, sepertinya bahagia betul dia. Apa kau dulu juga begitu, Ma? Di kedua lingkar matanya terlihat gradasi hitam yang memudar, entah lelah atau insomnia, atau mungkin juga euforia, memikirkan nama yang paling cantik untuk si calon bayi. Apa kau juga begitu, Ma? Padahal belasan tahun berlalu si anak akan berkata, 'Namaku kok jelek banget sih, Ma, Galuh, ga ada nama yang lain apa?" 

Mungkin tak banyak yang tahu, melahirkan dan mengurus seorang anak tidak bisa digambarkan oleh warna pastel dan senyuman manis seperti di iklan popok bayi. Apa mereka tahu perihal darah yang mengalir di selangkanganmu itu, Ma? Mungkin bagian itu memang terlalu horror untuk dijadikan materi iklan di televisi. Seprai satin halus dan selimut beludru ungu itu sungguh tidak mampu menceritakan teriakan perihmu ketika mereka menjahit kembali vagina yang dikoyak dengan seenaknya. 

Seringkali kita terbuai, tertipu dengan jargon kelembutan kasih seorang ibu yang dikemas dengan suara dentingan piano klasik yang halus dan lembut dalam sebuah iklan susu. Padahal kalau dipikir-pikir, perjuanganmu lebih tepat diiringi dengan soundtrack musik rock progressive atau bahkan death metal. Coba kutanya, apa ada yang lebih hardcore dari cinta seorang ibu kepada anaknya? Lalu semua orang akan mengomentari betapa lucunya anakmu, betapa sehatnya. Mereka semua akan terpikat pada harumnya wangi bedak bayi dan sepasang mata bulat jernih itu. Tak banyak yang peduli pada huru-hara yang pernah terjadi di ruang panggulmu. 

Lendir  lalu darah. Pembuluh darahmu membuncah, syarafmu mengejang, anusmu menganga, air matamu membanjir keluar tanpa disengaja, kontraksi itu mama, yang membuat perutmu sakit setengah mati, bagaimana caranya kau bertahan, Ma? Beranjak dewasa, masih juga kau terima caci-maki dari si segumpal daging yang dulu kau beri plasenta. Setelah saya perhatikan, prosesi kelahiran ternyata jauh lebih rumit dan menyakitkan daripada prosesi kematian. Maka, meski ternyata kehidupan seringkali mengecewakan, betapapun mengesalkan, betapapun meragukan, tersenyumlah, berbahagialah, bertahanlah. Ya, setidaknya untuk dia -- perempuan yang vaginanya pernah kau siksa. 


Untuk Sharifa Ainie, selamat jadi Ibu. 

...

Tuesday, September 25, 2012

newborn priyayis

Yang kadang membuatku bergidik adalah kicauan para intelektual twitter yang terlalu riuh membahana. Seperti gelombang tsunami informasi yang entah mengalir dari laut atau kali. Keluh kesah, sumpah serapah, marah, meski belum jelas apakah betul atau salah, antara fakta atau karangan cerita, sebaris judul tanpa membaca isi berita. Debat politik murahan sembari melempar kelakar, tertawa, bercanda, serupa obrolan antar teman di warung kopi langganan. Di ujung sebelah sana, jauh datang dari sebuah kelana, sebuah laras panjang dengan sengaja menaruh telinganya. Diam dan mencerna. File, save as. 

Dor! Seketika suaranya menghilang di udara. 
Burung yang terus-menerus mencicit akan lebih mudah ditemukan sarangnya.

...

Saturday, September 22, 2012

intimidatif

Jakarta, Sabtu 11.42 kasur berseprai biru

Dia: Mau kemana nanti malam?
Saya: Got no plan
Dia: Kesini yuk, ada guestlist nih.
Saya: Kemana?
Dia: #Bluemotion at Portico Senayan City. "Paris Autumn Soiree with @benwestbeech (UK" bla bla bla..
Saya: Duh. Acara apaan tuh?
Dia: Don't bother the music. Just go out. Jangan stuck di kamar deh. Okaaay?

Triple A dalam 'Okaaay?' Intimidatif. 

Saya: Hmmm gitu ya.
Dia: Jam 8 ya udah siap, kita ke Sency!
Saya: Harus dandan ya..
Dia: Ga lah, smart casual aja kali *standar* Gimana?
Saya: Lagi males geser pantat nih.
Dia: Ya sekarang nyantai dulu aja, nanti malem siap-siap. Kongkow-kongkow aja, kali ketemu kenalan baru #eh

Apa pula maksudnya tanda pagar lalu 'eh'. Intimidatif. 

Saya: Wadaaw..
Dia: Aku tidak terima jawaban tidak! See ya! Ktxbye!
Saya: Apaan tuh ktxbye?
Dia: Akronim, Oke Thanks Bye! Hahaha, masa ga tau?
Saya: Buset
Dia: Hahaha Ya udah ya, nanti malem kita jalan. Jangan ngendon di kamar aja malem minggu, nanti galau.
Saya: Uhmm.. Aku lagi malas ketemu manusia nih. 
Dia: Cah ilah dia ansos lagi *emoticon menepuk jidat* 

***

Malam minggu kalau di kamar aja nanti galau. Semesta dan segala keharusannya sungguh intimidatif. 

Sunday, September 16, 2012

sumber hidangan


Kalau jalan-jalan ke Bandung, jangan lupa mampir ke sini, Sumber Hidangan d/h Het Snoephuis. Restoran ini sudah berdiri sejak 1929. Letaknya di Jalan Braga. Memang agak sulit mencari restoran ini, karena  tidak ada papan nama yang cukup besar dan terlihat agak kurang terawat dari depan. Dulunya tempat ini cuma menjual kue dan roti yang khas, semacam kue-kue buatan nenek; Bokkepoot, mocca truffel, chocolade rotajes atau ananastaart. Lama-kelamaan konsepnya berubah jadi restoran. Dulu saya pernah kesini, cuma untuk mencoba kue-kuenya dan minum kopinya. Rasanya kopinya sih menurut saya biasa aja, kue-kuenya juga terlalu manis buat saya. Semacam giyung begitu. Tapi mungkin buat yang suka penganan yang manis-manis, Sumber hidangan bisa jadi pilihan. Harganya juga tidak mahal, cocoklah di kantong anak kostan. 

Yang saya suka justru Wiener Schnitzelnya, bistik ala Austria yang banyak disajikan di restoran-restoran Jadul di Indonesia. Harganya kalau tidak salah Rp. 32.000,-  Pilihannya ada tiga; sapi, ayam, dan babi. Saya pilih sapi, teman saya pesan babi. Daging has terbungkus tepung panir dengan telur dadar di atasnya, dikelilingi sayuran segar yang dipotong agak besar. Hihihi. Enaknyaa. Kentangnya juga saya suka, kentang potong ala rumahan yang terasa lebih empuk di mulut. Porsinya cukup lumayan besar buat saya, dagingnya juga cukup tebal. 

Konon banyak orang yang menggemari roti tawar Sumber Hidangan, tapi saya sendiri belum pernah coba. Roti ini ternyata cepat sekali habisnya, kalau mau membeli roti Sumber Hidangan disarankan datang sekitar jam 9-10 pagi, saat rotinya baru keluar dari oven. Untuk roti manisnya, best seller Sumber Hidangan adalah roti kejunya. Dibanderol Rp. 4.000,- bentuknya memanjang dengan ukuran sedang. Kekuatan rotinya cuma dua hari, karena mereka tidak pakai pengawet ataupun bahan kimia di dalam adonan roti mereka, sehingga memang jadi cepat basi. Tapi lebih sehat, bukan? :)

Pelayan-pelayan di Sumber Hidangan itu semacam oma-oma dan bapak-bapak tua. Banyak orang bilang mereka kurang ramah, tapi kalau menurut saya sih biasa-biasa aja. Mereka memang belum menerapkan prinsip 'pembeli adalah raja', kayanya prinsip mereka adalah gabungan antara 'pembeli sama penjual sama-sama manusia' serta prinsip sejatinya anak pantai. Santaiii. Haha jadi ya perlakuan mereka juga biasa aja, ga lebay atau senyum berlebihan. Mu beli syukur, engga juga nggak apa-apa. :))



...

Saturday, September 15, 2012

catatan kehidupan nomor tiga puluh delapan

Seingat saya, Karl Marx pernah cerita begini: 

Alam tidak memberikan makanan kepada manusia seperti halnya binatang yang bisa langsung main sikat tanpa perlu mengolahnya atau -- memasaknya terlebih dahulu. Alam hanya memberikan bahan makanan yang harus diolah kembali oleh manusia, selanjutnya? Ya terserah anda. Dengan demikian tak berlebihanlah bila Marx menasbihkan manusia sebagai mahluk yang harus bekerja karena alam pun sudah mengaturnya demikian rupa.

Pada dasarnya, manusia memang harus bekerja, tujuannya ya untuk memenuhi kebutuhan dirinya, untuk mempertahankan hidupnya. Tapi bertahun-tahun kemudian uang diciptakan dan peradaban pun mengalami percepatan. Manusia kini bekerja bukan lagi untuk mendapatkan sejumlah nonimal uang yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhan dirinya, tapi juga mencakup kebutuhan pandangan orang lain akan dirinya (misalnya; membeli gengsi), untuk memenuhi tuntutan kelas sosial (yang bodohnya kelas tersebut juga diciptakan oleh dirinya sendiri) dan pandangan Tuhan tentang dirinya (misalnya; untuk biaya naik haji). Ya, kira-kira demikian yang bisa saya simpulkan.

***

Sudah hampir dua bulan saya bekerja di sebuah perusahaan software yang memproduksi tools untuk media filtering dan monitoring. Kebanyakan orang yang -ketika saya memberitahu pekerjaan saya- akan melontarkan pertanyaan kedua; "Apaan tuh?" Jadi mungkin saya akan jelaskan saja disini pekerjaan saya, sehingga teman-teman saya yang kebanyakan wartawan (dan sangat kepo sekali orang-orangnya) tidak perlu repot-repot lagi bertanya, "Apaan tuh?"

Intinya sih begini, saya bertugas untuk memonitor, menganalisis, membaca grafik dan data, lalu menyimpulkan, apa-apa saja yang ditulis oleh wartawan media anu, media ono, basically semua media sih, terutama yang sering sekali menuliskan berita dengan negative sentiment yang berlebihan untuk client saya. Berhubung sekarang sedang jelang pilpres 2014, maka client saya pun adalah orang-orang yang sedang melakukan pre-campaign untuk calon RI satu.

Saya tidak terlalu paham politik. Dari angka satu sampai sepuluh, mungkin saya dapat nilai tujuh. Itu berarti B yang hampir ke C, it's B minus, and i wanna get an A.  Itu salah satu alasan saya menerima pekerjaan ini. Saya ingin belajar. Di kantor baru ini saya bertemu dengan orang-orang yang paham sekali carut-marutnya dunia politik. Mereka yang memiliki analisis tajam membaca strategi propaganda dari perspektif media, dan saya belajar sangat banyak dari mereka. Middle boss saya adalah redaktur-redaktur majalah terkemuka yang sudah sangat berpengalaman. Sejujurnya saya senang bisa mengenal dan bekerja bersama mereka. 

Tapi setelah dua bulan berlalu, rasa itu datang lagi. Rasa yang sering hinggap ketika saya sedang menjalani sesuatu yang membutuhkan komitmen jangka panjang; rasa bosan. Rasa bosan ini memiliki variable pula, saya rindu jadi wartawan (alah). Sekitar dua minggu yang lalu, sebuah perusahaan grup media menghubungi saya, menawarkan pekerjaan sebagai wartawan untuk sebuah majalah. Grup media ini sebenarnya memang sudah saya incar sejak saya lulus kuliah satu tahun lalu. Oh sungguh bimbang hati anakmu ini, Mak. 

Hari kamis kalau saya tidak salah ingat, saya mendatangi juga kantor media tersebut. Jadwalnya hari ini adalah test tulis. Ini dia kantor yang sempat menjadi kantor impian saya dulu. Saya menunggu di lobby sampai resepsionis mempersilakan saya naik ke lantai empat, yang ternyata adalah ruang redaksi majalah tersebut. Lima detik setelah saya melangkah keluar dari lift, saya tergugu. Kantor ini penuh dengan monitor berkonde jaman megalitikum. Hehe. Saya jadi curiga pc mereka masih level pentium. Alamak. Terus-terang saja, saya langsung membandingkan dengan kantor saya yang serba Mac, serba canggih.

Lalu sesi selanjutnya, offering salary. Saya bertemu dengan pemimpin redaksi sekaligus vice president media grup tersebut. Sialnya, angka yang mereka tawarkan lebih rendah dari angka di kantor saya sekarang. Saya berusaha melobi mereka, mencoba menggugat angka yang lebih rendah itu, tapi mereka bersikukuh. Intinya, rate salary level di perusahaan mereka memang seperti itu. Hmmm.. 

Logikanya, seorang pekerja akan mencari angka yang lebih besar bukan ketika mereka harus berpindah kerja? Ya, saya paham itu. Tapi ditempat itu saya bisa jadi wartawan, bisa menulis, bisa mengeluarkan ide-ide di meja redaksi, ahh betapa menyenangkan. Tapi.. tapi.. ahh betapa banyak 'tapi' yang keluar di kepala saya siang itu sampai akhirnya saya memutuskan untuk mentraktir diri saya sendiri segelas kopi. 

***

Kembali ke cerita Marx, saat itu dia juga meramalkan bahwa ketika uang sudah menguasai peradaban, manusia akan melakukan apa saja demi uang. Mereka akan bekerja demi uang - bukan untuk memuaskan diri sendiri, bukan untuk aktualisasi diri, bukan pula untuk kebutuhan. Manusia - tak ada bedanya dengan robot pencari uang, yang bisa disetel sedemikian rupa untuk terus menghasilkan tanpa memerhatikan kebutuhan. Jadi, sekarang mana yang kau pilih? Uang atau kepuasan? Karena meski kerap disamakan atau dianggap saling bersinggungan, ternyata dua hal itu adalah hal yang sangat berbeda dan tidak memiliki korelasi antara satu dan yang lainnya.

Oke Marx, cukuplah kau berkicau. Kepala ini pening dibuatnya. 

***

Dia: Jadi mau pindah?
Saya: Belum tahu. Banyak pertimbangan, terutama soal salary. 
Dia: Tapi jadi wartawan itu kan kaya ilmu..
Saya: ... *tiba-tiba hening

Maka dengarkanlah ini sebentar; bila kau punya mimpi maka kejarlah. Sampai jatuh, sampai memar sikutmu, sampai biru dengkulmu, sampai lebam kepalamu, sampai mampus.

...

di petak sembilan bagian dua


Setelah tertunda sekian lama, akhirnya saya berhasil juga menyambangi kedai es kopi Tak Kie di Gang Gloria, Petak Sembilan. Menjajal Gang Gloria bagian pertama lihat disini ya. Saya cuma mencoba es kopinya. Teman saya, Sandri, memesan es lidah buaya, dan yang bikin saya penasaran sama tempat ini pun memang cuma kopinya. Walaupun begitu tempat ini menjual berbagai macam makanan, seperti bakmi, bubur, hingga nasi tim. Sayangnya, semua masakannya diolah pakai si binatang berkepala empat yang jalannya suka nunduk, jadi terpaksa saya skip deh. Hehe..

Mungkin karena saya terlalu bersemangat clingak-clinguk di kedainya sambil foto-foto, si pemilik Tak Kie, Koh Latief jadi ikut duduk di meja kami dan mengajak ngobrol panjang lebar. Orangnya baik dan suka curhat. Haha. Kami bicara tentang segala rupa, mulai dari curhatnya soal nama kedai kopinya yang tidak mau diganti pasca Soeharto naik jadi presiden, soal rasa kopi Starbucks yang menurut dia sangat 'berantakan', soal rasa kopi instan yang katanya memakai terlalu banyak beverage essence, soal pilkada Jakarta, sampai tips and trick cara membuat mie dari bambu, cara membersihkan daging babi supaya steril -__- hingga bagaimana cara memasak swike supaya dagingnya tidak hancur.

Saya suka kopinya, tidak terlalu manis, aroma dan rasanya juga sangat kuat. Segelas es kopi susu dibanderol Rp. 10.000,- "Sekarang sih enak yah, saya ga pernah pasang iklan, tapi banyak yang tahu Tak Kie dari internet," tuturnya. Biji kopinya diambil dari biji kopi Lampung, ramuannya didapatkan dari resep turun-temurun. "Tak kie itu artinya bijaksana dalam bahasa Mandarin," katanya. Usaha kedai kopi ini ternyata sudah berjalan sejak tahun 1927. Pasca G30S/PKI, plang kedai kopi Tak Kie sengaja disembunyikan, pokoknya dia bersikeras tidak mau nama kedai kopinya diubah menjadi bahasa Indonesia. Kalau ada ras di dunia yang sangat kuat identitasnya dan paling sulit dikenai doktrin asimilasi, ya ras Cina juaranya. Dibelahan dunia manapun, ketika ada ras Cina yang menetap, maka dia akan segera merapatkan barisan, membentuk lingkaran, dan lahirlah Pecinan. Haha.

 "Dulu Pak Bondan suruh saya suplai bakmi untuk warung kopinya, tapi saya ga mau. Soalnya dia mintanya ga pake babi, rasanya kan jadi ga enak," ceritanya panjang lebar. Selain mengurus kedainya, Koh Latief juga sibuk jadi suhu barongsai. "Saya ga suka sama pengamen barongsai, seenak-enaknya aja main-mainin barongsai buat cari uang," katanya sambil memperlihatkan fotonya semasa muda dan menjadi pemain barongsai. Hasil oceh-mengoceh dengan Koh Latief, kami jadi ditawari kue hasil bikinan dia, namanya kue Maco. Semacam onde-onde tapi dengan ukuran yang jauh lebih besar dan lembut, dalamnya berisi kacang. "Yang ini ga pake babi kok. Muslim kan? Assalamualikum.." katanya sambil tersenyum simpul. Hahaha. Kamsiah ya, Koh Latief.



...

Friday, September 14, 2012

perahu tempur

Ada yang ingin kugugat perihal watakmu yang lebih mirip pantat serdadu. Entah apa, entah bagaimana.  Jatuh cinta itu tak ada bedanya dengan invasi militer. Serangan tak terduga yang diluncurkan secara bertubi-tubi, begitu rumit, begitu pelik. Adrenalinku terasa benar menggerus habis seluruh persendian. Lemas. Tapi aku tak pernah kalah meski kapalmu sekokoh KRI Fatahillah. Perahu milikku hanya perahu karet, itu pun masih untung bentuknya bukan bebek. Kau menungguku tergelincir, lalu jatuh, dan kau ingin mengambil alih peranan menjadi tuan di kepalaku. Kepung Wei untuk mendapatkan Zhao. Kau tahu persis strategi selanjutnya setelah puas memperdaya samudra. Sekarang aku belajar, memenangkan pertempuran tanpa perlawanan adalah esensi seni perang. Palungku dalam dan berpagar, percuma saja menembusnya. Kecuali kau keringkan seluruh airnya, ingat ya, jangan pernah bermimpi untuk mendarat disana.

...

Thursday, September 13, 2012

sistem ekskresi manusia adalah sebuah keajaiban dunia*

Kadang sesuatu yang dinilai sangat menjijikan, yang sering disembunyikan, yang sering disingkirkan,  ternyata memegang peranan yang sangat vital dalam kehidupan. Misalnya, tahik. 

Kadang ada saatnya dunia terasa sangat membosankan, waktu terasa sangat lama, dan kehidupan pun terasa begitu-begitu saja. Lalu tidak ada yang perlu kamu lakukan selain diam sejenak, berkeluh, menengok kembali rencana, mereka-reka, mengevaluasi, berpikir, ya berpikir, dari sudut pandang yang lebih sederhana. Misalnya, dari sudut pandang seonggok tahik. Kenapa ya Tuhan tidak merasa perlu menciptakan sistem ekskresi di kepala manusia, sepertinya pikiran saya sudah terlalu banyak racun dan urea. Mungkin inilah sebuah petaka, kecelakaan, sebuah erosi kekaguman pada kehidupan. Lalu seperti biasa, manusia yang sedang merasa bosan akan memikirkan pertanyaan yang bukan-bukan; jadi sebenar-benarnya untuk apa aku dilahirkan ke dunia? Untuk apa aku ada?  Apa aku cukup berharga?

Jawabnya? berkacalah pada tahik. Dia saja ada fungsinya, masak kamu ga ada. 



"If you're lost and feel alone, circumnavigate the globe.."



*Ditulis saat sedang PMS. 


Monday, September 10, 2012

juju flabbergast

taken from  here

i seriously don't know what to say. holy-moley. 

...

Sunday, September 9, 2012

sampang

“Itulah sebabnya berduyun-duyun tamu asing datang berkunjung dari Jumbudwipa (India), Kamboja, Cina, Yamana, Campa, dan Goda, serta  Saim. Mereka mengarungi lautan bersama para pedagang, resi, dan pendeta, semua merasa puas, menatap dengan senang, hidup dengan tenang dalam keragaman. - Prapanca dalam Kakawin Nagarakertagama (1365)

Siwa di Timur, Budhha di Barat, Islam yang datang dari Timur dekat, lalu India, Cina, dan manusia Mongolia yang tersesat. Dari Semenanjung Melayu hingga Papua, Kalimantan Utara lalu Belanda, oh ya, asal jangan Amerika. Kali pertama Soekarno berkenalan dengan burung garuda, nasionalisme disematkan di deret pertama pijakan kakinya, lalu diakhiri dengan Ketuhanan yang maha esa di nomor lima. Nyatanya, urutan pijakan kaki memang harus kembali direvisi. Cinta berlebih adalah kejahatan manipulasi dari manusia yang paling keji. Hari ini, rasa-rasanya memang sudah saatnya kerajaan Majapahit dihidupkan kembali.  

Ini ode untuk mereka, primata yang paling sering bicara cinta, sebuah hasil tabularasa. Apa kau dengar? Betapa dangdutnya mitos bhinneka tunggal ika. 

...

Saturday, September 8, 2012

chapter 1


manis. kayak kamu. 
...

Wednesday, September 5, 2012

untuk si titik titik

Dunia, nyatanya, hanyalah sebuah bingkai dua dimensi untuk perempuan Indonesia. Seperti yang terlihat di depan etalase kaca, semacam fatamorgana. Berdecak memandangi bianglala tanpa pernah menungganginya. Sebuah mimpi indah yang tak berkesudah, resah, setengah, sekadar singgah. Kartini mungkin akan sakit hati bila dia hidup kembali. Tribhiwana Tunggadewi, atau Ratu Sima, atau Christina Martha Tiahahu, merekalah desing peluru. Yang menghidupkan, yang mematikan, layaknya Tuhan, tapi tentu saja bukan. Lalu, apalah emansipasi? Eskalasi harga diri? Insubordinasi? Demarkasi? Apa? Menjadi laki-laki? Mengapa mengebiri?  Bukankah kita semua berasal dari letupan yang sama? Dimensi yang sewarna? Pahatan yang serupa? Bisakah sejenak berhenti menyalak padaku? Atau maaf, terpaksa  kusarangkan sebutir peluru di ususmu.

"Jadi perempuan ga usah sekolah tinggi-tinggi, nanti susah cari suami," Kalimatmu yang ini akan selalu jadi catatan hati. 

...


Besakih, 2010

Monday, September 3, 2012

maximus decimus meridius

Di semburat neon putih, manusia-manusia berjubah biru mengelilingi tempat tidur besi yang lebih mirip laci. Hegel ternyata tidak sedang bercanda saat dia menyatakan postulatnya; sejarah hanyalah sebuah repetisi. Rumah sakit ini terasa seperti koloseum versi masa kini. Meski tampak rapuh, mereka yang datang sesungguhnya adalah petarung sejati. Manusia-manusia dalam balutan baja semangat gladiator yang bersiap untuk berlaga di arena dengan panglima elmaut  sebagai lawan duelnya. Lihatlah, rasakanlah, pelajarilah, mata mereka terpejam dengan kepala yang terus terjaga. Ada serangkaian prosesi sebuah pergulatan teriring setiap putaran roda tempat tidur besi. Batin yang berkoar, nalar yang mengeras, pasrah yang menderas, jiwa yang memekik, panik, konflik, gemetar-ciut-lalu-mundur-mengendur, tapi yang membuat ternganga adalah sekerjap senandung bahana bahaduri disana. Saya melihat sosok secutor hingga retiarius, dengan okrea dan trisula tajam dalam garis dahi mereka yang kencang meski sorot matanya tetap memijarkan kecemasan. 

Pilihannya cuma dua, bertahan hidup atau mati. Kita tahu, hari ini siapapun bisa lepas landas dari meja operasi. 

Sesudah kesulitan akan ada kemudahan. Janjimu di kitab suci. 

...

Thursday, August 30, 2012

two before thirty

Sudirman, F City. 

18.32 
Membereskan cubicle. Bergegas, berkemas, mengancingkan jaket yang terbuka setengah. Hari ini saya sudah janji akan datang sore hari. 

18.52
Gila-gilaan. Barat memang lebih sadis dari Selatan. Merayap padat di sepanjang Slipi dengan pikiran yang setengah melayang. Si makhluk liminal hari ini menyebalkan. Tapi ada satu hal yang membuat mata ini sedari tadi terasa nyalang. 

Pelataran Pusat Jantung Nasional, Harapan Kita

19.21
"Worst birthday, huh? Waiting at the hospital."
"Tidak juga. Saya cuma kepingin merokok."  
"Merokok saja. Tokh Bapakmu ga tahu. Asal jangan depan dia aja." 
"I made a promise. To myself."
"Lalu?" 
"Tidak ada lalu. Semacam self-respect-kind-of-thing. 
"Prett." 

19.45
"Bapakmu baik. Semua stabil. Tinggal tunggu besok, untuk tindakan lanjutan." 
"Baguslah." 
"Hari tanpa tembakau, day 1? Eh, selamat ulang tahun ya." 
"Pertama selalu terasa sangat berat. Puasa pertama, haid pertama.."
"Besok lebih mudah.."
"Atau lebih susah.."
"Puff!"

20.22
"Mau permen? Lumayan daripada asem."
"Ga. Makasih. Nanti jadi malah ketergantungan sama permen."
"Still, better than ciggie."
"Tahu kok. Tapi candu itu palsu." 
"Hahaha. Belum tentu." 

Tenang saja, semua akan mati rasa pada waktunya. 

Tenang tenang, tenanglah seperti karang. Sebab persoalan bagai gelombang. 
Tenanglah tenang tenanglah sayang.. 
(Iwan Fals - Lagu Satu)

...

Monday, August 27, 2012

cari jodoh

Perkenalkan, namanya Benny si landak mini. Umurnya lupa, yang jelas sudah cukup dewasa untuk beranak pinak. Benny sedang pusing, dia pingin kawin. Kalau ada betina yang tertarik untuk jadi istri Benny dan lokasinya di Jakarta, silakan tinggalkan pesan. Kalau berkenan, mungkin bisa jadi besan. :)