Thursday, May 3, 2012

aduh, jonsi!

Kamu bisa menemui isi kepala saya disini.

catatan pendek: "Everything in its right place" segala sesuatu yang ideal dan tertata sempurna itu cuma bisa  terlaksana di dua tempat.  Di sekolah,  dimana segala sesuatunya mengacu kepada teori, literatur dan buku, serta di konser Sigur Ros. Demikian.



 
anyway.

Akal sehat saya nilainya sedang lima. Buruk. Butuh remedial atau rehabilitasi pikiran. Sekaligus, saya merasa sedang  mengalami degradasi moral dan selera. Tentunya saya akan bicara apa saja supaya orang lain tidak menganggap saya gila. Sudah hampir habis empat batang rokok dan saya belum bisa memutuskan saya akan kemana? Ya, memang betul memutuskan perkara ini tidak semudah mengunyah domba Afrika.

Ah sungguh sialan.

Lalu.. Entah kenapa punggung belakang saya merinding setiap dia terlintas di kepala saya. Jangan-jangan dia ada turunan laba-laba atau bapaknya ternyata pernah mengabdi kepada drakula dari Transylvania.

Setelah saya pikir, mungkin ini adalah hasil turbulensi yang tidak sempurna antara rindu, hasrat dan sistem pertemanan kita yang menyenangkan. Ya, mungkin. It's impractical, unacceptable, wrong, yet it feels so utterly right. Bagaimana bisa?

ps. kalau galau itu kecoak, pasti sudah mati gepeng disikat bakiak. Bazingan.

...

Monday, April 30, 2012

wisdom of the witless

I may be quiet. I may be stay in silence. I may be smile or laugh and all. I may be nice and kind. You may see that i dont give a shit about anything as long as it does not concern me. But just so you know, i always know what you dont think i would know. That which I endure from the rest of mankind merely disappoints me. My mind was a hurricane of all the wrong thoughts.


Just my favorite line, i hope this one does not written by human. 

And im calling you Lord, as i cant stand this afflicting human behavior. As i cant stand this idiocy forlornly. And I hope that my intelligence, my restless mind and my troubled soul will carry me to the maturity and perspicacious. And may this disillusionment gone like a dew soaked into the air.

I will redefine you, life.

...

Tuesday, April 24, 2012

suatu siang di perempatan mampang

Tidak merdu seperti suara seruling bambu, tidak juga bulat seperti gendang ditepak. 
Suaranya khas. Saya hapal sekali bunyinya. Seperti bunyi bola hoki yang mendarat tepat di tulang setelah dihantam sekuat tenaga oleh pemukulnya. 

BUGGGHHH!

Dari jarak 200 meter, telinga saya menangkap penuh kompresi gelombang suara yang merambat secepat kilat melalui udara pengap Jakarta. Sedetik kemudian terdengar teriakan kesakitan. Nyaring dan memilukan.

Suara khas siang itu berasal dari perpaduan antara sepatu lars pak polisi dan tulang rusuk pengemis berkaki buntung di perempatan Mampang. Pak polisi seketika menjelma menjadi babi yang buta. Membabi buta. 

Sembari membelalakan mata, ucapan Multatuli sekilas terlintas di kepala saya.

Katanya,  "Tugas manusia yang utama adalah menjadi manusia."

...

Sunday, April 15, 2012

di ruma gorga

Saya suka foto ini karena foto ini jelek. Hihi. Disini kami terlihat seperti pemandu lagu karaoke yang sedang beristirahat di lapo batak. Terlihat kotor dengan muka berkilau. Tonenya terlihat seperti hasil kamera Fuji Film Zipp atau Kodak 235. Hihi the good old fuckin' camera. :)

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

Foto ini diambil di ruma gorga, saat menghadiri resepsi pernikahan teman kami, Gloria Haraito dan Thomas, menggunakan Canon D10 yang mengecewakan setelah 6 bulan menginap di Datascript dan mengalami sedikit proses digital imaging.

...

Saturday, April 14, 2012

tulisan di pagi hari sebelum bertanding hoki

.Image and video hosting by TinyPic

Seorang teman memposting sebuah tweet, katanya "Happiness, where are you?" dan saya mengerutkan kening membacanya.

Setiap hari, jutaan manusia bekerja, berkomunikasi, berinteraksi, mengeksplor diri, melihat, mendengar, menangis, tertawa sembari mencari satu hal yang diterjemahkan dalam kata; rasa bahagia. Seakan bahagia adalah sebuah partikel tak bergerak yang letaknya tersembunyi sehingga perlu dicari kesana-kemari. Padahal, saya percaya sepenuhnya, bahagia adalah selalu kata kerja, tak pernah berwujud kata benda yang mati.

Seorang teman pernah berkata, "Saya pingin mati bahagia."
"Maksudmu, kau pingin mayatmu membeku dengan mulut tersenyum lebar dan gigimu menyembul keluar? Bukankah itu menakutkan?", kata saya.

Dia bilang saya gila. Padahal yang gila itu adalah Ahmad Dani yang bilang dalam lagunya, hadapi semua dengan senyuman. Kecuali dia kejepit syarafnya, tentu saja manusia tidak bisa terus-menerus tersenyum.

Lalu, apa sebenarnya definisi bahagia? Apakah sebatas perasaan senang dan puas?

Gandhi pernah bilang, happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony. Aristoteles mengatakan yang dimaksud kebahagiaan adalah suatu kesenangan yang dicapai oleh setiap orang sesuai dengan kehendaknya (bersifat relatif). Sedangkan Imam Al Ghazali mengatakan kebahagiaan itu adalah akar kata sa'ad atau su'ud yang berarti keberuntungan, mujur, dan tidak sial. Sa`adah berarti kebahagiaan yang dirasakan oleh manusia dalam hidupnya.

Atau lihatlah hasil pemikiran Bentham dan J.S. Mill, mereka menasbihkan paham utilitarianisme sebagai the greatest theory of happiness, paham etis yang berpendapat bahwa yang baik adalah yang berguna bagi orang lain, berfaedah dan menguntungkan. Lalu, seperti mengamini pernyataan J.S. Mill, the phenomenal Alexander Supertramp pun akhirnya menyimpulkan, happiness only real when shared.

Saya pernah merasakannya. Di Jatinangor, sendirian saja, kampus sangat sepi lalu pembimbing utama thesis saya menelpon, katanya "Kamu sudah bisa daftar sidang, thesis kamu sudah saya baca dan semua oke." Rasanya seperti memakan pelangi. Walaupun saya belum pernah makan pelangi, terus terang saya sudah tidak tahu lagi bagaimana menerjemahkan perasaan sangat bahagia ke dalam kata-kata saat itu. Ingin sekali salto, tapi takut keseleo. Setelah itu, saya tersenyum sendirian. Rasanya ingin memeluk seseorang atau berbicara kepada seseorang, tapi saya sendirian, and its sucks!

Seperti Aristoteles bilang, bahagia itu relatif, dan adalah benar, bahagia itu bersyarat. Bahagia bisa datang dari berbagai ide, berbagai konsep, even in our darkest despair, bahagia, saya pikir, selalu bisa mencari celah untuk datang selama syarat itu terpenuhi. Bahagia datang ketika kita bisa membaginya karena satu manusia ternyata tidak akan mampu menampung semua beban kebahagiaan itu sendiri.

Happiness is a state of mind.

Saya menerjemahkan quote yang sangat terkenal itu menjadi; kebahagiaan adalah permainan pikiran. Manusia tersusun dari beberapa elemen yang mengimbangi berbagai kapasitas atau fungsi lainnya. Kemampuan untuk berpikir merupakan kapasitas dan fungsi yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Akal pikiran manusia yang sangat complicated ini memang terkadang menyebalkan dan bagai penipu ulung, dia selalu bisa memanipulasi, melahirkan ilusi hormonal yang akhirnya mengakibatkan kesalahan persepsi perasaan. 9gagers akan menyebutnya, the scumbag brain. Hihi.

Plato memandang akal sebagai sarana untuk menangkap pengetahuan mengenai segala sesuatu idea dalam realitas, seperti ide kebaikan, ide kebahagiaan dan ide keadilan. Ide kebaikan tertinggi manusia adalah kebahagiaan sejati. Ini adalah salah satu contoh konsep lain, kebahagiaan bisa datang dari kebaikan. Menjadi orang baik? Apakah betul bisa mendatangkan kebahagiaan? Memberikan sesuatu, membuat orang lain tersenyum, menepati janji, bersikap sopan. Yah.. contoh praktis yang sederhana.

Saya sendiri akhirnya sampai pada kesimpulan, oh fuck theories! Ok, baiklah itu bohong, saya tidak bisa menyimpulkan tanpa pertimbangan teori. Menurut saya, kebahagiaan didapat dari pemenuhan tiga kebutuhan utama manusia, yakni; tidur, makan dan sex. Tidur yang nyenyak, makan yang enak dan ehm.. sex yang hebat. Ketika seorang manusia tidak bisa mendapatkan ketiga hal ini, maka dia sakit.

Ketiga hal ini memang terlihat sederhana, padahal sebenarnya sangat rumit dan tidak berhubungan dengan uang. Tidur nyenyak itu kemewahan tak terbeli. Pernah lihat gelandangan tidur nyenyak di kolong jembatan? Pemandangan menyenangkan di siang hari, bukan? Padahal banyak konglomerat sulit tidur di malam hari di atas tempat tidur mewahnya karena ketakutan hartanya diambil orang. Atau, tak perlu jauh-jauh lah, berapa banyak dari kita mengklaim terkena insomnia, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah sulit tidur karena sedang resah baru saja diputuskan pacar. Saya pernah tidak tidur dua hari dua malam karena resah perihal thesis yang kunjung kelar, mungkinkah ini rasanya menjadi Edward Cullen?

Makan enak juga tidak berhubungan dengan uang, walau seringnya memang kalau mau makan enak ya harus dibayar pake uang. Tapi sebenarnya ini lebih kepada persoalan menyederhanakan selera, ketika perut lapar bukankah apapun terasa enak? Nasi pun jadi terasa sangat manis dan kita baru sadar betapa nasi itu mengandung gula yang sangat tinggi dan berbahaya bagi orang yang menderita diabetes. Ok, mulai random.

Terakhir, sex. Ini bisa diterjemahkan secara luas. Mulai dari sekadar ciuman hangat atau permainan ranjang yang mematikan, alah. Haha. Whatever you decide, tidak bisa dipungkiri, every human being needs it. Kebahagiaan berada di ranah abstrak wilayah rasa, ketika semua kosakata bahkan sudah tak sanggup lagi menggambarkan dalam bahasa dan mungkin, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mencari seorang teman, atau pacar, atau keluarga, lalu memeluk dan berkata, "Halo.. bisa tolong saya sebentar? Saya sedang bahagia."

Yah, begitu saja.

Jadi, kalau dia bukan benda mati, makhluk semacam apakah itu bahagia?

...

Monday, April 2, 2012

pengalaman pertama memakai koyo

Sudah hampir dua bulan tinggal Jakarta dan bekerja jadi seorang editor yang seringnya nongkrong di depan komputer untuk menulis dan mengedit artikel membuat saya sering mengeluh tidak enak badan. Orang Sunda menyebutnya; sagala karasa. Dari dulu sejak memutuskan menjadi atlet, badan saya yang lumayan perkasa ini sudah sering disiksa macam-macam. Misalnya saja, squat dengan beban di atas 40 kilogram. Well, Im all good, baby! Duduk tegap ala paskibra selama hampir 12 jam di kereta api ekonomi dalam perjalanan ke Yogyakarta saja saya baik-baik saja, tidak kurang suatu apa pun.

Tapi.. duduk diam di belakang meja setiap hari selama hampir delapan jam membuat punggung saya seperti hendak terbelah menjadi dua. Beneran deh. Padahal saya suka menyempatkan stretching sendiri selama beberapa menit. Banyak minum air putih dan banyak omong juga. Yang terakhir ini mungkin memang bakat. Pokoknya segala resep melancarkan syaraf dan darah untuk pekerja kantoran yang seringnya duduk diam sudah saya laksanakan. Hasilnya: nihil. *muka meringis*

Mungkin penyebabnya adalah karena saya kurang olahraga juga akhir-akhir ini. Dulu saya terbiasa ngegym dan berenang minimal dua kali dalam seminggu. Disini? Yaa.. seminggu sekali. Itupun kadang saya tergiur ajakan nongkrong atau karaoke karena.. ahh i dont wanna lose my precious weekend! Ingin bersenang-senang!

So anyway, berhubung saya sedang deadline dan tidak sempat menyambangi tempat pijat terdekat untuk memperbaiki punggung saya yang tidak nyaman ini saya putuskan untuk mencari obat general yang ampuh dan mudah ditemukan. Teman saya, si Sharifa Ainie Goblog menganjurkan saya membeli Balsem Otot Geliga. Konon menurut dia ini ampuh. Tapi ternyata saya tidak menemukan balsem ini di Indomaret terdekat, yang ada malah KOYO. Well.. ok.

Saya belum pernah pakai koyo. Sontak saya langsung terbayang figur Basuki, weseweses-bablas-anginne yang ternyata salah... Itu iklan Antangin, bro. Tertulis jelas di pembungkus bagian depan. Pereda pegal & nyeri otot. Wah, cocok untuk saya. Ada dua jenis koyo keluaran Hansaplast. Yang berwarna kuning itu tertulis HANGAT, yang berwarna oranye tertulis PANAS. Saya ambil dua-duanya.

Read the manual.
Bersihkan bagian tubuh yang terasa sakit, lalu tempelkan Hansaplast koyo. Ganti koyo bila rasa hangat berkurang. Begitu katanya. Mudah, ya?

Saya bersihkan punggung saya dengan handuk basah. Seadanya saja, secara punggung itu susah banget bersihin pakai tangan sendiri. Saya tempelkan satu, lalu diam sebentar menghayati. Kok ga ada sensasi apa-apa ya? Dua menit kemudian, masih tidak terasa ada sensasi hangat/panas. Akhirnya saya buka koyo yang panas lalu saya tempelkan delapan biji sekaligus di punggung saya. Membentuk persegi panjang tidak beraturan. Pokoknya bagian punggung yang pegal. Biar cepat sembuh lah, pikir saya. Lima menit, sepuluh menit. Saya masih sempat bikin roti bakar lalu minum susu.

Tiga puluh menit kemudian... eh ini apa ya? Kok panas lalu gatel. Awalnya tidak terlalu terasa menganggu, lama kelamaan makin panas lalu makin gateeellllllll. Anjrit! Langsung saya tarik tiap koyo yang menempel di punggung saya sembari menggaruk macam monyet panuan. Punggung saya langsung memerah, seperti baru habis berjemur dengan garis-garis melintang hasil ukiran kuku saya yang menggaruk beringas. Sekarang keluhan saya bertambah, selain punggung yang rasanya mau terbelah dua, juga agak perih karena tadi menggaruk terlalu brutal. Oh ya, saya juga sukses meneteskan air mata malam ini, karena ternyata.. nyabutnya aja perih. Man, this is one hell of a killer drug!

Astaga. Obat macam apa ini?

Image and video hosting by TinyPic

ps : beneran deh kayanya gw tuh kurang kerjaan banget, segala rupa ditulis. Hikss..

...

Wednesday, March 28, 2012

menulis


“Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. Kan begitu Tuan Jenderal?" -Pramoedya AT

Malam ini twitter membawa saya pada satu blog yang sangat menarik. Saya suka sekali tulisannya. Menurut saya, membaca manusia itu lebih mudah dengan membaca karya tulisannya daripada mendengarkan dia bicara. Apakah tulisan itu misalnya memenuhi standar penulisan atau bahkan jurnalistik yang baik atau tidak, tak ada yang ambil pusing. Saya hanya ingin mengenalnya dan tercekat, wah, keren sekali dia. Dalam waktu 30 menit, saya habisi blognya, membaca detail setiap ceritanya, memahami setiap kosakatanya dan tersenyum setelahnya. :)

Menulis. Entah apa jadinya saya tanpa menulis. Mungkin saya adalah orang paling mati rasa di dunia. Tulisan saya sebenarnya tidak bagus-bagus amat, tapi bodo amat, siapa peduli? Menulis adalah salah satu alat bertahan hidup saya yang utama, setelahnya mungkin saya akan sisipkan main hockey, piano, gitar, menonton film dan tertawa. Alat-alat yang membuat kepala saya tetap waras dan selalu merasa punya teman bercerita.

Blog ini, entah kenapa saya tidak pernah merasa perlu untuk mempublishnya di jejaring sosial. Mungkin karena deep down inside, saya tahu kebanyakan isinya adalah sampah hahaha dan gengsi saya memang sepertinya cukup besar. Blog ini banyak menyimpan bagian lain dari saya, dengan kata lain, the cheesy part of me (alay) hahaha yang tidak perlu semua orang tahu. Dibalik tawa, tidak selalu tersimpan cerita bahagia. Tentang putus cinta, atau ketika sedang gundah gulana atau marah? Saya tuliskan semua disini. Rasanya selalu menyenangkan setelah menulis.

Setelah membaca blog si Mas yang saya sebutkan diatas, maaf kayanya saya ga perlu sebut nama orangnya, bisa-bisa nanti dia curiga macam-macam haha, saya jadi terpikir, adakah orang asing yang tak mengenal saya membaca tulisan-tulisan saya dan tersenyum setelah membacanya? Walaupun dia tidak sepenuhnya memahami saya, atau mungkin dia baru saja mengalami kejadian yang serupa dengan saya. Malam ini saya tertolong oleh blog si Mas, membacanya berulang-ulang dan jadi terinspirasi untuk kembali memposting sesuatu di blog saya.

Image and video hosting by TinyPic

setelah pulang malam sehabis bersenang-senang bersama teman-teman dan makan besar, saya masih sempatkan membaca blogmu lho.. dan menulis post ini. Thank you, whoever you are. :)

...


Tuesday, March 27, 2012

picnic in prison

Image and video hosting by TinyPic

It such a sunny windy morning when i get up at six and packed my camera bag. I have a very interesting place to go to today. I always had a very big curiosity with this place, wanted to enter and capturing every round of corner, perceiving every side of their daily life, sensing their hope, desire and anxiety. Very intriguing.

This prison was built in 1817 by the Netherland government. Designed by Wolff Schoemaker, this magnificent prison form in trapezoid shaped. It used to be a political prison when the Netherlands Government still in charge. This prison built in over six hectares of land. Four hectares are used for offices and residential rooms and divided into four blocks (West, East, North, and South) consists of two floors with 552 rooms, 37 rooms was no longer habitable and the rest are the isolation room.

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

Friday, March 23, 2012

terbangun di bandung


bertemu pak zulkifli dan ibu titien, bertemu nunung, bertemu keponakan, lalu teman lama, berenang di tempat langganan, pianoku tersayang, tempat tidurku yang extra besar, juice pisang dicampur buah naga, makaannn-makaan, oh sungguh merindu jalan tinju.

SENANG!


...

Wednesday, March 21, 2012

di teras portico

Jakarta sedang resah. Tiga belas menit kemudian dia basah.

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

Portico, Jakarta. Kala menunggu perhelatan busana yang membosankan. Oh, sungguh ingin sekali melemparkan sepatu tinggi ini jauh-jauh, kakiku pegal komandan!

...

Tuesday, March 20, 2012

simply delightful

Its kinda funny, how everytime i received a package of preview material for the magazine, instead of checkin' out their latest collection, i go through their backstage photos first. I always love everything that related to behind the scene documentary. All i can tell, backstage is where the real action is. Everything looks surprisingly chaotic. I think the backstage photos are so much more representative and beautiful than the show itself. Seems so much more real than the boring runway shots. Can you tell by looking all of these capt? This one is from Chanel Spring/Summer Collection 2012. Photos taken by Benoit Peverelli. This is what i called 'a beautiful mess'. The Italian would say, perfetto!
...

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPicImage and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

...

Monday, March 19, 2012

disini dan begini saja

Image and video hosting by TinyPic

kita hanya satu dari ribuan kemungkinan skenario yang bertautan tak beraturan.
Menggenapkannya secara sederhana, menyeluruhi makna yang tertinggal setengah.

Ah, capek ya?

Image and video hosting by TinyPic

...

seaorgasm


Saya bermimpi tentang pasir pantai lalu berenang di lautan. Menyelam sampai dasar, sunyi, hening, hanya melihat sebaris cahaya tanpa riuh rendah. Mencandai sekelompok ikan yang bersembunyi di balik terumbu karang hingga berhamburan berbalap-balapan. Lalu kembali ke darat dengan lelah dan punggung yang terbakar hebat. Sebatang rokok marlboro putih yang menyelip diantara bibir, sembari kerepotan membawa fins dan google, merapikannya dengan tergesa. Tak sabar ingin segera meminum es rumput laut dingin atau mungkin es kelapa muda yang dagingnya seperti ingus meler di bawah hidung bocah berusia lima tahun.

Berlama-lama di bawah hingga terasa sensasi asin memenuhi kerongkongan. Rindu membersihkan kulit kepala yang penuh dengan gumpalan pasir, jalinan rambut yang semakin memerah. Sungguh, saya tak pernah keberatan jadi gembel di lautan. Muka berwarna tomat meringis menahan pedih di paha yang berdarah tergurat karang yang kasar. Duduk disisi perahu paling depan, mencoba menyentuh air laut dengan ujung kaki yang kencang terbawa mesin yamaha 15dk.

Aahh... Seaorgasm. Kapan saya bisa menyentuhmu lagi? Menelanjangimu sampai hidung saya perih dan kehabisan nafas. Meniduri setiap bulir pasir yang berbekas kasar di tumit belakang. Menikmati matahari menjauh perlahan meninggalkan bekasnya yang hangat di perpaduan langit dan daratan.

Image and video hosting by TinyPic

sayup-sayup suara Bono meraung-raung membangunkan saya, katanya;

what you dont have you dont need it now!


Ok. Baiklah, Mas Bono.

...

Sunday, March 11, 2012

berganda

ada makhluk bermuka dua. mereka yang gemar bersilat suara. lalu lelaki hidung belang yang tak mengenal rupa. perempuan lemah yang haus romansa. kerlingan mata menggoda pembawa derita. air mata buaya. tetua yang pintar sekali mencari mangsa, menelannya bulat hingga menjadi kotak dan membiarkannya tergeletak. semua serba tak terduga. entah iba atau benar cinta. resah, kusut, terus-menerus bergejolak di kepala walau mulut hanya tertawa.

Ah manusia.. kamu adalah makhluk paling rumit yang hidup di dunia.

Tak heran Tuhan pun ternyata tak tahan hidup satu atap dengan Adam.

Lalu diusirnya keluar.

...

Friday, March 2, 2012

i like him

Image and video hosting by TinyPic

GODOD SUTEJO A PAINTER OF A QUITE WORLD
***
Labelled as the natural painter, trying to create a quiet and peaceful of serene heart. Reminiscent an array of Haiku, a beautiful traditional Japan poetry. “Emptiness could be so meaningful if that could lead to a space of strengthness. Emptiness has its own environment of encouragement that awakens a sense of magical power”, Godod says.

As we can see, Godod Sutejo’s painting presents a large part of emptiness. “Emptiness is not an absence. Emptiness does exist and real”, he added. Move through the obstacles of emptiness; fear of loneliness and to heal those armored secret places inside against his longing for expression.

Godod Sutejo was born on 12th January 1953 in Wonogiri Central Java and finished his bachelor of fine arts in Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI)/ASRI. He is married to Sugiarti and has four children; As Truni Ahingani, Gongsor Giriworo, Sanga Nawa Songo and Wra Isworo Nabastala. Through his paintings he tried to offer a terror of peacefulness as he had been fed up with violence prevails. Desolation, quite, alienated, estranged, being a form of another terror for disseminators of peace.

Apart from relying on technical skills he has developed for years, Godod also takes a spiritual path, praying and selecting the right time to start or finish a painting. Godod’s paintings have a peaceful, serene, calmness and cool nuances, convincing us further that compared to the greatness of universe, human beings are very small in the hand of God. "I want my paintings to serve more than just to comfort the collectors' eyes but also their hearts and souls”, he explains.

Since being active in Pasar Seni Jaya Acol from 1975 untill 2008, more than 100 times he was involved in a collective exhibition. Started with the collective exhibition with the Art Fair Taman Ganesa Bandung, he continued with other exhibitions in some cities in Indonesia, like Jakarta, Banda Aceh, Padang, Bali, Surabaya, Surakarta, Yogyakarta, etc. He has also hosted a solo exhibition in Japan and Switzerland.

...

Image and video hosting by TinyPic
anak krakatau

Image and video hosting by TinyPic
Masjid Agung Jogja

Image and video hosting by TinyPic
Pergi ke Pura

A piece of my writing as published in Registry Magazine.
Suddenly, i admire this humble painter.

...


Thursday, March 1, 2012

(belajar) menikmati hidup


hidup, dinikmati ya? oh maaf saya pikir selama ini saya harus berpikir keras untuk membuat segala sesuatunya berjalan sesuai rencana, dengan demikian, saya akan bahagia.

Dalam tawa saya yang selalu tergelak, teman saya menyindir. Mungkin dia hanya bercanda, atau mungkin serius, entah apa maksudnya. Yang jelas, otak saya menangkap penuh kalimatnya. "Hidup itu dinikmatin Gal, ga melulu harus dipikirin."

dan tawa saya menggantung mendengar kalimatnya..

Adalah Galuh yang selalu berpikir ini dan itu. Bagaimana kalau saya begini? Bagaimana kalau saya begitu? Apakah ini salah? Apakah ini benar? Seperti memainkan sebuah pertandingan yang harus selalu berstrategi dan terencana. Ya, ternyata hidup tak begitu. Dan yang namanya wasit, ternyata tak selalu ada. Tak selamanya yang salah mendapat hukuman, atau yang benar mendapat gelar juara.

Adalah dia yang selalu berpikir hidup itu tak perlu terlalu serius. Yang kerap menggoda saya. "Serius amat sih. Hidup itu cuma menunggu kematian. Santai saja.", katanya. Komentar-komentarnya yang selalu mengundang tawa saya. Sudut pandangnya yang absurd yang membuat saya mengernyitkan kening. Atau helaan kesal nafasnya setiap saya berpikir keras untuk membalas ciumannya atau tidak. Haha. "Lu terlalu serius", selalu saja keluar dari mulutnya.

Hari ini. Hari pertama di bulan Maret. Minggu ketiga di Jakarta. Saya memutuskan untuk berhenti berencana. Tentu saja, bukan berarti mimpi-mimpi itu hilang. Tapi saya akan mencoba berpikir lebih sederhana. Dijalani sembari dinikmati, mungkin akan terasa lebih mudah.

Dan oh ya.. Mr. 6 tahun saya memaafkanmu. Sudah. Kamu bisa panggil saya teman. Dan juga sebaliknya. Maaf, kalau saya terlalu lama menyimpan dendam. But i think it’s human nature to get attached when we’ve invested a lot of time in something.

Like a furry little kitten in the arms of a six year old kid, we.. sometimes hold too tight..

...

*sambil mendengarkan Katie Herzig - Lost and Found*

and i believe i would just survive


Wednesday, February 22, 2012

too perfect is not perfect

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

Image and video hosting by TinyPic

So, currently this is what i do for living. Haha. No, actually i'm not a photographer. This is just one time experience me as an editor and photographer at once since all of my photographers were busy attending an event. Its actually more interesting than just sitting on the desk, waiting for article and starring at the monitor.

This was my first time capturing the runway. Hence, i made a lot of mistakes. Haha! First of all, when the male models came along, i simply gazing at their ass, instead of taking their picture. Stupid hormones. >.<

Anyway, i learn that the gays is pretty much more likeable rather than the socialites bitches. You know those antagonist figures commonly we saw on tv? Apparently, they do exist. Haha. Scary. They look beautiful, from top to bottom, seamless, but they just too perfect. And id say; too perfect is not perfect.

Exceedingly beautiful, gorgeously cold.

Image and video hosting by TinyPic

ps : the one who made my neck in a truly severe pain, should i be fall in love with you?

...

Monday, February 20, 2012

i just havent met you yet


Sedang iseng melihat-lihat list tweet favorite saya, baru ngeh kalau saya pernah memfavoritkan tweet ini.

Hahahaa..
661 days ago. Wow hampir 2 tahun lalu saya pernah berencana ingin menikah disini. Tempatnya klasik dan menampung hanya 200 tamu, which is perfect, karena saya tidak terlalu suka sesuatu yang megah dan ramai. Jadi, hmmm kira-kira kapan ya? Haha.. Masih belum terjawab. Baiklah. Kembali ke... Nintendo.

i just havent met you yet, kalo kata Buble.


Kostan. 21.29 wib dengan milo dan sebatang rokok.

Wallaikum salam!
...

Thursday, February 9, 2012

all my bags are packed

sambil memandangi tumpukan kardus dan tas yang besar, sambil meminum milo panas dan sedikit sedih. Haha. Packing kali ini berbeda. Saya sudah ga bisa lagi pake tas karimor 30 liter andalan saya kalau travelling kemana-mana. Tidak bisa cukup bawa sendal jepit dan dive boots, tapi sepatu berhak 3 cm dan pantofel yang masuk di tas saya. Bukan juga dress-dress pantai, bikini atau alat snorkle, tapi kemeja resmi dan celana kain. Haha. Aneh rasanya.

Awal packing ibu saya sempat protes, lho kok bawaanya dikit amat? Melihat stock 'daleman' saya yang memang saya cuma bawa secukupnya saja. "Kamu itu mau pindah lho, bukan liburan!". Dan saya baru tersadar, oh iya ya? Haha. Yang biasanya saya sudah ahli sekali packing dalam 30 menit, sekarang saya sibuk memikirkan, apa saja ya yang perlu dibawa? Haha.

Maklum saja, saya belum pernah benar-benar keluar kandang. Walaupun jaman masih menjadi atlet dulu saya dikarantina di asrama, tetap saja kali ini berbeda. Saya tidak tahu pasti kapan saya akan kembali pulang ke kamar ini. Pulang dalam arti, menetap lagi. Hiks..

Mungkin benar apa yang dibilang teman saya, "Lu tuh ga bisa membiarkan segala sesuatu terjadi di luar kontrol lu, lu selalu pingin punya kendali." Untuk kali ini, saya tak punya kendali. Saya senang bepergian kemana-mana, mengunjungi tempat-tempat baru, yang jauh tak tersentuh dan menginap di kamar hostel murah berbau peju. Saya tak keberatan, asalkan saya tahu saya sudah punya tiket pulang. Saya selalu tahu kapan saya akan pulang dan kembali ke kamar saya.. yang nyaman.

Ya, sekarang saatnya Galuh manja yang ingin serba nyaman keluar kandang!
Get out get out, the world out there, turns out has a lot to offer!

Semangat! *sambil terkantuk-kantuk*

...

Wednesday, February 8, 2012

kembali ke februari

2010.2011.2012

Lalu februari lagi. bulan ini saya harus hijrah juga pada akhirnya, ke tempat yang tak terlalu saya suka. Tapi apa boleh buat, ya? Terus terngiang di kepala saya perkataan seorang teman, "Lu lemah." Saya tidak suka dibilang lemah, because im not. Ini sebenarnya salah satu pembuktian diri juga, saya bisa kok pindah dari zona nyaman yang selama ini saya bangun dan saya pasangi pagar tinggi-tinggi.

Lalu hmm.. kesepian. Saya tidak takut sendirian, saya cuma takut sekali kesepian. Haha. Entahlah apa yang akan terjadi di kota sana, dimana saya akan menghabiskan waktu di kamar kostan sendirian. Mudah-mudahan saya tak jadi busuk dan hilang kepekaan.

Pekerjaan saya tidak terlalu sulit, agak sedikit membosankan malahan. Ya sudah, ini saatnya meniti dari bawah, sebelum mendapat sesuatu yang benar-benar saya inginkan. Mudah-mudahan bisa lekas tercapai.

Jakarta, sekarang saya akan menganggapmu manusia.
Mari minum teh hangat bersama.

...