Monday, May 21, 2012

toko garasi

This used to be my baby, my kid, yang saya eksplorasi habis-habisan dan mengambil keuntungan darinya. Haha.

 
Hampir lima tahun lalu, tepatnya tahun 2007, saat saya sedang bosan dengan internet, lahirlah si toko garasi. Walaupun dijalankan sambil main-main, ternyata lumayan juga hasilnya. Bisa buat dipakai buat jajan chiki atau jalan-jalan ke luar negeri. Hihi. Hari ini saya membuka folder si toko garasi dan tertawa-tawa melihat hasil foto yang saya jepret sendiri. Mengorbankan dua orang teman yang saya dandani setiap saya mau 'gelar dagangan', photoshoot dengan mobil kecil saya yang isinya lebih mirip gudang. Membagi waktu antara main hoki (yang utama) dan kuliah yang membosankan haha. 



Ini ceritanya photo session pertama saya. Awal tahun 2008, saya mencoba untuk motret sendiri karena bosan dengan display foto yang sekadar digantung atau cuma pakai manequin. Backgroundnya hanya tembok kamar putih. Saya belum mahir photoshop, sekarang pun belum sih, tapi dulu lebih parah. Kamera saya waktu itu masih pakai Nikon D40 sebelum hilang dirampok orang. Dua teman yang jadi korban ini adalah Sharifa Ainie dan Debbei Delima, dua-duanya atlet hoki dan tidak pernah pakai sepatu hak tinggi. Berkat tipuan kamera dan sedikit pulasan, jadilah mereka mejeng di halaman ini. 

Ciri khas model toko garasi cuma ada dua: yang pertama selalu pakai kacamata. Yang kedua, mukanya sering nunduk. Kenapa? karena mukanya jelek, saya ga suka. haha becanda. Penyebabnya adalah karena diantara kami tidak ada yang bisa dandan. Sekadar pakai bedak tipis atau hiasan mata aja ngga bisa. Jadi supaya tidak mengurangi keindahan barang yang ditawarkan, dengan sangat terpaksa, kedua model ini harus seringkali nunduk, tidak boleh tertawa terlalu lebar, kalau bisa mingkem aja, senyum cukup sebaris, itupun kalau diperlukan. 



Beberapa kali photo session dengan background tembok putih lama-lama bikin bosan juga, akhirnya saya 'sok' kreatif. Saya beli alas meja plastik yang motifnya kotak-kotak hitam putih lalu saya tempel di dinding kamar. Yang ini menurut saya norak banget, udah gitu editannya alay pula. Orang Sunda akan menyebutnya; garila. Orang bule akan berkomentar; eeeewwww.
 

Photo session selanjutnya saya makin 'sok' kreatif. Pingin foto outdoor, lagipula saya lebih suka motret pake cahaya matahari daripada di dalam ruangan yang hambur flash. Kalau udah motret outdoor ini repotnya luar biasa, baik model maupun saya, semua harus kerja. haha. Angkut-angkut barang, itu yang utama. Ganti baju berkali-kali itu juga ternyata big effort lho. Belum abis itu saya suka marah-marah, si Ipeh giginya keliatan gede, atau Debbei mulutnya terlihat monyong. Kadang saya suka lupa diri kalau lagi motret. Sekali waktu di studio, saya motret Debbei dan teriak, "Ulang, muka lo jelek!" atau "Ipeh, jangan napas! Tahan perut, buncit tuh!" teman saya yang kebetulan waktu itu ikut nongkrong di studio langsung shock. Katanya saya jahat banget. Haha. 

 


Karena saya selalu pake dua model ini, buyer-buyer saya sampai hapal sekali sama mereka. Kadang kalau ada salah satu yang menggendut atau mengurus, suka dikomentarin. "Mbak, kayanya model yang itu kurusan ya? Atau gendutan, ya?" haha.





Ini saya yang rusuh setiap pemotretan. Jadi fashion stylist dadakan, fotografer dadakan, sekaligus kuli angkut dadakan. Cape juga lho.
Capek foto outdoor karena ternyata bener-bener harus full effort, selain kadang suka susah cari tempat ganti baju buat model-model ini (kadang saya suka aneh juga, misal motret di lapangan kuda, buat ganti baju aja model harus jalan kaki lumayan jauh, padahal baju yang mau difoto bisa lebih dari sepuluh pieces) belom pusing masalah perijinan, ngepack segitu banyak property dan barang. Capek bok. Akhirnya lama-kelamaan saya ganti haluan, yang gampang aja; foto di studio haha.

Dari dulu selera saya agak aneh, kalau kepala saya benar-benar ga tersentuh kenormalan, mungkin hasilnya bakal lebih aneh dari ini. Saya juga penggemar berat topi-topi aneh, walaupun jarang saya pake, karena kalo saya pake langsung suka dikomentarin aneh-aneh, saya ga suka. Haha. Akhirnya topi-topi itu bisa juga kepake buat property foto. Beberapa baju disini dijahit di penjahit super bernama Lica Triapalas. Kenapa saya bilang super? Karena terus terang saya ga bisa gambar, setiap gambar muka perempuan, yang tercetak di kertas adalah gurat-gurat wajah Christina Martha Tiahahu, pahlawan favorit saya sejak SD. Padahal di kepala saya ini banyak sekali design-design baju yang pengen saya wujudkan. Alhasil, setiap saya datang ke workshop Lica dia langsung sibuk gambar dan saya ngomong, menggambarkan apa yang ada di kepala saya dan dia yang menuangkan omongan saya jadi sketsa. Walaupun seringkali dia marah-marah, mengerutkan kening dan menggambar sambil ngomel karena omongan saya kadang suka ga jelas, ternyata bisa juga saya jadi designer modal ngemeng. Haha, canggih ya? :)



Sekarang si toko garasi sudah tamat riwayatnya, ehh belum tau sih, mungkin vakum, mungkin judulnya hibernasi dan mudah-mudahan bisa bangun lagi. Kadang kangen juga jualan, motret, hunting lalala lilili tapi terus terang aja saya mulai bosan dan sekarang sedang ada satu mimpi lagi yang harus dikejar, sampai dapat! Banyak memori di toko garasi, kegiatan menyenangkan sembari mengisi pundi-pundi, dan juga si dia yang dulu (pernah) setia menemani saya. Hihi.. Anyway, terima kasih toko garasi. :) 

...

Friday, May 18, 2012

jakarta, semasa muda

Does anyone sense a pleasant-vibration when looking at all these photos? 


In a world of adobe photoshop, cell phones with 10 megapixel digital cameras  and regular cameras that take pictures in such high resolutions that they look better than in real life, the film camera is a dying breed. I was browsing through internet on my work hour and accidentally found these. I always loved these kind of vintage photos printed from a film, personally love the portraits photos. I think it is just too good, the clothes, the pose,  they always have like some kind of signature smile, i don't know it's just bring an indescribable different kind of vibe. You guys really should check 'em out, a beautiful nostalgic form of art. :)


...

Sunday, May 13, 2012

waktu (itu ketika sedang) homesick

Untuk setiap malam-malam dingin yang membuat persendian kakiku ngilu. Perlahan menggradasi  warna kuku menjadi ungu. Dikotanya ini, kepalaku rasanya pincang, pikiranku hampir setengahnya terbuang.  Aku rindu kotaku. Tempat sederhana yang bisa dicintai tanpa banyak tanya. Rasa hangat ketika siangnya mendekap, terasa lengkap meski sepi menyesap.  

Dear Bandung.. entah kenapa kamu selalu menawan tanpa perlu berlagak metropolitan, rayumu menyentuh tanpa perlu jadi bajingan, magismu mengena tanpa perlu banyak mantra. Pagimu selalu suguhkan seloyang penuh ketenangan dan di setiap lapisannya..entah kenapa selalu terkecap setangkup rasa senang.  

Dua minggu ternyata sudah lebih dari cukup untuk mengumpul rindu. Minggu depan aku pulang.


Ah, tulisan ini kok rasanya terlalu melankoli.

maen gapleh dululah.
pake duit. 

...

Thursday, May 10, 2012

suddenly horny

Look what i found on my traffic desk this morning! A regular press release with Olympus name on it.
These are what's written in the press kit.

 image source: Olympus press kit

"The OM-1 was 35% smaller than comparable cameras from Nikon, Canon, Pentax and Minolta. It was also a bit smaller than a Leica M-series camera, and offered a larger, brighter viewfinder than competitive SLRs. Moreover, it was exceptionally quiet and vibration-free, thanks to a four ball bearing shutter mechanism and a newly developed lightweight curtain drum, which cut down on noise and acted as an air damper for the shutter and mirror mechanisms."


 image source: Olympus press kit

First thing that i love about this camera is it's sexy magnesium-alloy body that looks so vintage. Reminds me of the FM series from Nikon. It is more compact than a DSLR. The Olympus PEN is gaining popularity locally among those who want more than a point and shoot compact camera but don’t want to carry a DSLR. Since im longing for a smaller camera, this one is really catch my eyes, and it is also dust and splash proof! You dont need to worry about hiding your camera when it rains, I think it would be great for traveling and backpacking.

and so the press release continue..

"Underwater Case PT-E08. This is the genuine underwater case for exclusive use with the OLYMPUS OM-D. It makes it possible to create a professional-grade underwater photography system usable at depths up to 45 meters. The compact size and lightweight advantages of the camera body ensure comfortable underwater operation.
The PT-E08 employs a waterproof lens port that is bayonet-mounted and replaceable. The standard underwater lens port accepts the M.ZUIKO DIGITAL 14-42mm f3.5-5.6 II, M.ZUIKO DIGITAL 14-42mm f3.5-5.6 IIR and M.ZUIKO DIGITAL ED 9-18mm f4.0-5.6 lenses. When an optional port adapter is used, an underwater lens port compliant with the Four Thirds System standard can be attached on it. This design is expected to make the two lenses, the ZUIKO DIGITAL ED 8mm f3.5 Fisheye and ZUIKO DIGITAL ED 50mm f2.0 Macro, usable with the underwater case."


image source: Olympus press kit

i was so horny for a second there.. 

"Like the popular PEN Series models, the OLYMPUS OM-D features a compact, lightweight design that’s fully compliant with the Micro Four Thirds System standard. But whereas the PEN Series inherited the convenience, simplicity, and high image quality offered by the PEN Series in the film age, the OLYMPUS OM-D has inherited the tradition of a true system SLR from the OM Series. The OLYMPUS OM-D is designed for serious camera buffs who want to make full use of interchangeable lenses and shoot photographic masterpieces by looking into the viewfinder, without having to worry about the weather or environmental conditions. Sand, sun, sleet, or snow, the OLYMPUS OM-D is a camera that’s ready to go."

and these are the Olympus OM-D E-M5 specification in summarize:

    * 16MP MOS Four Thirds format sensor
    * Weather-sealed body
    * Twin control dials
    * New, '5-axis' image stabilization
    * Shoot at up to ISO 25,600
    * Up to 9fps shooting (4.2 fps with continuous AF)
    * 800x600 pixel (1.44M dot) LCD electronic viewfinder
    * VGA-equivalent 3" OLED touchscreen display - tilts 80° upwards and 50° downwards
    * Latest TruePic VI processor
    * Improved C-AF autofocus with 3D tracking
    * Flash sync speed up to 1/250th sec

An outstanding value for an average photo enthusiasts like me who just wanted a great little camera that took great little pictures. Anyway, i find myself wanting too much new gear but really ought to get out and take some more photos. Stupidity nowadays.Ok, now saving up, you idiot!

...

ngomel

kosong

 selalu deh kau asal jepret. tak pernah perduli shutter count. menekan tombol 'delete' memang mudah, tapi apa kau tidak takut optik kameramu kena? selama ada objek dan mau berpose, dengan gampang kau tekan tombol tanpa pikir panjang. sadar tidak sih? hasilnya buruk. kau selalu salah menentukan diafragma, kau selalu buta menangkap rentang antara kamera dengan objek foto untuk menghasilkan variasi ketajaman. kau tidak pernah becus mengatur exposure. kau bahkan tak pernah mau repot-repot mengecek light meter, modalmu cuma selera, yang kau klaim sebagai rasa. kau tak pernah mau gunakan flash, padahal objekmu gelap. nalarmu tak sejernih viewfindermu. kau tak pandai memilah strategi, kapan saatnya panning, blurring atau freezing. kau selalu zooming. kalau suatu saat nanti sudah tak ada lagi yang mau menjadi objek fotomu karena mereka tahu kau cuma asal tekan, jangan cari aku.. untuk tersenyum pada kameramu.

ps. untuk para pria yang tak pernah pikir panjang.

...

Wednesday, May 9, 2012

catatan random nomor tiga puluh empat


"Binatang itu bicara, makan -- tapi tak mengerti dirinya. Dan aku begitu juga.." - Pramoedya AT

Pada suatu hari di sebuah sekolah dasar, ibu guru berbicara lantang di depan kelas. "Jadi anak-anak, negara kita ini adalah negara agraris. Kenapa? Karena negara agraris adalah negara yang sebagian besar penduduknya mempunyai mata pencaharian sebagai petani",  begitu katanya. Seorang murid perempuan mengangguk-ngangguk tanda mengerti. Lalu sepulang sekolah dia menonton televisi dan melihat iklan rokok Bentoel. Digambarkan dalam iklan tersebut, hamparan sawah hijau yang menggugah mata, subur, makmur, oh ini dia yang dimaksud bu guru, pikirnya.

Diseberang komplek rumah si anak perempuan bodoh adalah hamparan sawah memanjang dipisahkan oleh sungai berwarna coklat. Si anak perempuan seringkali bermain kesitu walaupun sering dimarahi oleh orangtuanya. Apa pasal? Setiap si anak perempuan pulang sehabis bermain ke sawah, tubuhnya bau tahik kerbau. Tentu saja, karena si anak perempuan memang bergumul dengan tahik kerbau dan lumpur. Lempar-lemparan tahik kerbau dengan anak kampung adalah sesuatu yang seru dan menyenangkan buat si anak perempuan. Sesi menyenangkan selanjutnya adalah makan siang dari rantang petani dan minum teh pahit dari poci berbau khas.  Entah kenapa, nafsu makan si anak perempuan selalu bertambah setiap ikut makan bersama para petani di tengah sawah. Sejak saat itu setiap ibu guru bertanya tentang cita-cita pada murid-muridnya, di tengah jawaban dokter, pilot dan polisi, si anak perempuan selalu menjawab dengan pasti, "Saya mau jadi petani, bu!"

Tahun berlalu. Tiga  tahun kemudian barulah si anak perempuan menyadari, sawah di seberang komplek rumahnya sudah berubah jadi bangunan ruko. Lalu dia mengamati lagi, hamparan sawah di pinggiran kota pun sedikit demi sedikit mulai tertutup triplex, seperti hendak dibangun sesuatu. Entah apa. "Kemanakah para petani?" pikir si anak perempuan. Tapi kehidupan baru si anak perempuan terus berjalan dan dia menyenanginya. Dia mulai belajar bermain piano lalu berangan-angan, suatu saat nanti dia akan sekolah piano di Jerman, menjadi maestro dan bergabung dengan orkestra paling tenar sepanjang masa. Oleh karena itu dia pun tak suka lagi sekolah dan mengganti cita-citanya menjadi seorang pianist.

Setiap ke sekolah yang dibawanya adalah majalah Donal Bebek dan tabloid Fantasi berbagai macam edisi. Tak ada satu pun buku pelajaran di dalam tasnya. Terang saja gurunya berang. Tak pelak dipanggilnya orangtua si anak perempuan. Orangtuanya malu bukan kepalang. Habislah dimarahi si anak perempuan sesampainya di rumah. Selain sering berkelahi, di sekolah si anak perempuan juga tak pernah bawa buku pelajaran. Padahal tas ranselnya selalu penuh bak orang mau kemping ke gunung lima bulan.  Alasannya simple. "Kan bisa pinjam ke teman, Ma? Semua anak bawa buku yang sama, kalo tabloid Fantasi tak ada satu pun yang bawa." jawab si anak perempuan. Guru pun jadi kesal oleh kelakuan si anak perempuan, tak ada satu pun murid yang boleh duduk sebangku dengan dia, supaya tak bisa berbagi buku pelajaran.

Dua puluh tahun berlalu, si anak perempuan akhirnya bekerja menjadi seorang editor di sebuah majalah gaya hidup di ibukota. Si anak perempuan bodoh sekarang sering termanggu memikirkan pekerjaannya. Dia tak suka menulis berita pesanan. Dia tidak suka disuruh duduk diam seharian penuh hingga membuat kakinya kram. Si perempuan bodoh mulai tertekan. Anak jaman sekarang menyebutnya galau. Sekarang, bila ditanya oleh teman-temannya mau jadi apa, dia selalu menjawab singkat. "Ingin jadi isteri nelayan." dan semua orang.. entah kenapa menganggapnya bercanda. 

Bukan ritme kerja yang stagnan atau terlalu signifikan dan serbasibuk yang dicarinya. Si anak perempuan mulai kebingungan. Dia mau jadi apa? Dari sekian banyak profesi yang menggoda batinnya, tak ada satupun yang berhasil diraihnya. Jadi pesulap, pianist, penari balet, pesilat hingga yang paling lama bercokol di kepalanya, jadi petani. Anak perempuan lalu mengadu kepada ibunya. Ingin pulang dan berdiam diri dulu sebentar, tapi ibunya tak setuju. Diancamnya akan dinikahkan dengan lelaki pilihan ibunya. Si anak perempuan bergidik, ketakutan dan mengurungkan niat pulang ke kampung halaman.  

Ditengah pergolakan batinnya, si perempuan kian merasa nelangsa. Berdoa semoga mendapat jalan untuk pekerjaan yang lebih cocok dengan isi kepalanya. Sepanjang hari di kantornya, si anak perempuan terdiam memandangi deret tulisan yang tak mengena di hatinya. Oh, sungguh kasihan sekali nasib si anak perempuan. Dia berubah menjadi anak perempuan yang cengeng dan seringkali meratapi nasib, padahal kalau dipikir-pikir, sungguh nasibnya tak buruk-buruk amat. Yang jelas, satu hal yang masih sering hinggap di kepalanya, kalau sawah-sawah itu menghilang, kemana perginya para petani? Dimanakah mereka membuka rantangnya? Dan tahik kerbau itu.. apakah masih sama bunyinya ketika menemplok di punggung bagian belakang?

 Radio di bulan Mei selalu menggaungkan lagu sendu.
Mereduksi euforia, membuat hati ini mengkeret melayu.  

ps. cerita  diatas hanyalah fiksi belaka, jika ada kesamaan, baik tokoh dan kejadian semua adalah kesengajaan semata. :)

...

Sunday, May 6, 2012

while on duty



Tiga hari penuh meliput lawatan budaya bersama ibu-ibu pasukan sasak tinggi di Kuala Lumpur.

Well.. i never liked Malaysia. Tuh kan, seperti biasa, defensif. Hihi. But it's true. Ini kedua kalinya saya menginjakan kaki disana. Sebelumnya kalau tidak salah tujuh tahun lalu, hampir dua minggu saya bermukim di Bukit Jalil untuk urusan main hockey. Tak pernah betah! But anyway, Malaysia punya banyak sekali lapangan hockey yang bagus dan tersebar dimana-mana. Saya iri sekali. Olahraga hockey itu seperti bulutangkis atau sepakbola di Indonesia. Saya sempat juga bertanding di stadium hockey nasional mereka yang luar biasa megah, tentu saja hasilnya kami kalah, kalau tidak salah 12-0. Hahaha. Nggak lucu, sih.



Good thing that i'm traveling while doing my duty, saya ga perlu repot-repot urus hotel, cari makan, baca peta, atau menyusun itinerary dan menyamakan suara semua peserta. Tentunya saya ga bisa bebas exploring semau saya karena jadwalnya sudah ditentukan pihak panitia, tapi saya bisa focus on observing this place dan foto-foto tentunya. :)



First thing that catch my brain: bagaimana orang Malaysia begitu mencintai negaranya. Bahkan di area permukiman kumuh masih tertulis jelas di tembok rumah mereka. "Keranamu Malaysia". Ini saya pikir menarik. Membandingkan taraf kecintaan kita yang cuma naik setingkat ketika merasa hak milik kita dirampas, katakanlah wayang atau batik, baru deh ribut di media atau jejaring sosial. Nasionalisme kita rasa-rasanya hanya sebatas ketika final pertandingan bola. Selain Soekarno, saya rasa belum ada lagi presiden yang berhasil membuat rakyatnya mau repot-repot memajang foto dia di ruang tamu rumahnya dengan sukarela. I don't know who to blame.

Kedua, lawatan ini terselenggara atas undangan menteri komunikasi dan kebudayaan Malaysia. Saya bisa melihat perbedaan yang sangat kentara antara pemimpin rombongan kami, istri Jero Wacik dan istri menteri penerangan Malaysia, Datin Seri Masanah. Datin terlihat sangat humble, dia bahkan menghampiri meja saya hanya untuk menyapa dan menanyakan apakah makanannya enak? Sementara para katakanlah 'pejabat' Indonesia terlihat kaku dan menjaga jarak ditemani ajudan berseragam. Again, I really don't know who to blame.

a male dancer. with an eyeliner. do you know that's not sexy, at all?
this is keris they said, its from Malaysia they said.. 
Ketiga, Malaysia mungkin tak punya koleksi warisan budaya berlimpah, tapi dia adalah adopter yang sangat baik. Persembahan budaya dari pihak Malaysia adalah kombinasi dari berbagai macam kebudayaan mulai dari China, India hingga Eropa, uhm not to mention.. Indonesia. Dikemas dengan sangat apik dan dibawakan penari yang sangat profesional dengan sentuhan koreografi melayu. Belum ditambah dengan penempatan stage yang sangat strategis dan permainan lighting yang spektakuler. It's like they totally leave us in awe. That's the thing, packaging! Malaysia pintar sekali mengemas keterbatasan mereka menjadi sesuatu yang luar biasa. Bisa dimaklumi, mereka adalah pihak tuan rumah yang bisa mengatur segala-sesuatunya secermat mungkin, sementara kami.. ya begitulah. Hihi.


Everyday is sushi day! Saya tidak suka masakan Malaysia. Seperti ada satu bumbu rempah-rempah atau apalah yang selalu mereka masukan ke dalam masakan mereka dan membuat rasanya jadi aneh. Khas Malaysia banget. This is one of my lame habit, lidah dan perut saya sulit diajak kompromi setiap ke luar negeri. Alhasil, satu-satunya yang masih bisa masuk perut saya ya, masakan Jepang. Untungnya masakan jepang selalu tersedia di setiap resto yang kami datangi. Thanks for saving me, sashimi!

Kuala Lumpur sekarang sangat macet, kata pemandu kami. Oh, it's nothing, i said. (..compare to Jakarta, tambah saya dalam hati)

 

Foto ini diambil di Muzeum Kesenian Islam Malaysia. Saya membayangkan kalau Al-Quran bisa diterjemahkan ke dalam komik, mungkin saya dulu bakal lebih semangat belajar mengaji. Bukankah yang penting isinya bisa lebih mudah dipahami?

Alat untuk menulis Al-quran jaman dahulu. Dahulu kapan? Entahlah saya lupa.

dan ini.. aku! Haha.. finally i got myself caught on camera. Taken by Erin, thank you!
All in all, traveling kali ini cukup menyenangkan, walaupun terus terang saya merasa dibully secara halus. Sepulang dari sana, saya jadi sering memikirkan konsep nasionalisme yang salah, apakah cukup hanya dengan sistem kebangsaan atau harus digenapi dengan sistem kenegaraan yang strict? Apakah memang benar bangsa kita ini nasionalis? Atau sekadar tidak mau kalah dan egois? 

 “Karena kau lahir, tumbuh, hidup dan bekerja di sini –tanah airmu, kau juga makan dan minum dari tanah negerimu, dan kelak kau pun mungkin akan mati terbaring di tanah ini –tanah tumpah darahmu, maka itu sudah lebih dari cukup sebagai alasan untuk mencintai negerimu..” - Pramoedya Ananta Toer seperti ditulis oleh Pandasurya. 

...

Friday, May 4, 2012

galau tingkat dua

Entah kenapa kau suka sekali bermain kata-kata. Mempermainkan senja, menipu malam dan menawarkan pagi. Hidup itu ya realistis saja (seharusnya). Tanpa merasa perlu membaca skenario dan latihan berbulan-bulan, manusia terjun bebas ke panggung dan bermain sandiwara. Berlagak bahagia, memanipulasi kepala, tertawa tanpa rasa, seakan dia adalah artis serba bisa. Manusia, saya pikir, adalah spesies paling berbahaya karena ketidaksadaran mereka. Anatomi jiwa manusia yang lemah dan penuh komplikasi emosi  memang seakan dirancang untuk terus-menerus disakiti, mencari ancaman, menikmati kesedihan, mengadiksi pahit, menakuti kebahagiaan. Bodoh.

"Namun di detik pertama kita meluncur keluar dari rahim ibu, perjudian hidup dimulai. Taruhanmu adalah rasa percaya yang kau lego satu per satu demi sesuatu bernama cinta. Dan aku.. adalah penjudi yang buruk." - Partikel

Aku jadi sakit perut. 
Kayaknya diare.

...

Thursday, May 3, 2012

aduh, jonsi!

Kamu bisa menemui isi kepala saya disini.

catatan pendek: "Everything in its right place" segala sesuatu yang ideal dan tertata sempurna itu cuma bisa  terlaksana di dua tempat.  Di sekolah,  dimana segala sesuatunya mengacu kepada teori, literatur dan buku, serta di konser Sigur Ros. Demikian.



 
anyway.

Akal sehat saya nilainya sedang lima. Buruk. Butuh remedial atau rehabilitasi pikiran. Sekaligus, saya merasa sedang  mengalami degradasi moral dan selera. Tentunya saya akan bicara apa saja supaya orang lain tidak menganggap saya gila. Sudah hampir habis empat batang rokok dan saya belum bisa memutuskan saya akan kemana? Ya, memang betul memutuskan perkara ini tidak semudah mengunyah domba Afrika.

Ah sungguh sialan.

Lalu.. Entah kenapa punggung belakang saya merinding setiap dia terlintas di kepala saya. Jangan-jangan dia ada turunan laba-laba atau bapaknya ternyata pernah mengabdi kepada drakula dari Transylvania.

Setelah saya pikir, mungkin ini adalah hasil turbulensi yang tidak sempurna antara rindu, hasrat dan sistem pertemanan kita yang menyenangkan. Ya, mungkin. It's impractical, unacceptable, wrong, yet it feels so utterly right. Bagaimana bisa?

ps. kalau galau itu kecoak, pasti sudah mati gepeng disikat bakiak. Bazingan.

...

Monday, April 30, 2012

wisdom of the witless

I may be quiet. I may be stay in silence. I may be smile or laugh and all. I may be nice and kind. You may see that i dont give a shit about anything as long as it does not concern me. But just so you know, i always know what you dont think i would know. That which I endure from the rest of mankind merely disappoints me. My mind was a hurricane of all the wrong thoughts.


Just my favorite line, i hope this one does not written by human

And im calling you Lord, as i cant stand this afflicting human behavior. As i cant stand this idiocy forlornly. And I hope that my intelligence, my restless mind and my troubled soul will carry me to the maturity and perspicacious. And may this disillusionment gone like a dew soaked into the air.

I will redefine you, life.

...

Tuesday, April 24, 2012

suatu siang di perempatan mampang

Tidak merdu seperti suara seruling bambu, tidak juga bulat seperti gendang ditepak. 
Suaranya khas. Saya hapal sekali bunyinya. Seperti bunyi bola hoki yang mendarat tepat di tulang setelah dihantam sekuat tenaga oleh pemukulnya. 

BUGGGHHH!

Dari jarak 200 meter, telinga saya menangkap penuh kompresi gelombang suara yang merambat secepat kilat melalui udara pengap Jakarta. Sedetik kemudian terdengar teriakan kesakitan. Nyaring dan memilukan.

Suara khas siang itu berasal dari perpaduan antara sepatu lars pak polisi dan tulang rusuk pengemis berkaki buntung di perempatan Mampang. Pak polisi seketika menjelma menjadi babi yang buta. Membabi buta. 

Sembari membelalakan mata, ucapan Multatuli sekilas terlintas di kepala saya.

Katanya,  "Tugas manusia yang utama adalah menjadi manusia."

...

Sunday, April 15, 2012

di ruma gorga

Saya suka foto ini karena foto ini jelek. Hihi. Disini kami terlihat seperti pemandu lagu karaoke yang sedang beristirahat di lapo batak. Terlihat kotor dengan muka berkilau. Tonenya terlihat seperti hasil kamera Fuji Film Zipp atau Kodak 235. Hihi the good old fuckin' camera. :)

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic

Foto ini diambil di ruma gorga, saat menghadiri resepsi pernikahan teman kami, Gloria Haraito dan Thomas, menggunakan Canon D10 yang mengecewakan setelah 6 bulan menginap di Datascript dan mengalami sedikit proses digital imaging.

...

Saturday, April 14, 2012

tulisan di pagi hari sebelum bertanding hoki

.Image and video hosting by TinyPic

Seorang teman memposting sebuah tweet, katanya "Happiness, where are you?" dan saya mengerutkan kening membacanya.

Setiap hari, jutaan manusia bekerja, berkomunikasi, berinteraksi, mengeksplor diri, melihat, mendengar, menangis, tertawa sembari mencari satu hal yang diterjemahkan dalam kata; rasa bahagia. Seakan bahagia adalah sebuah partikel tak bergerak yang letaknya tersembunyi sehingga perlu dicari kesana-kemari. Padahal, saya percaya sepenuhnya, bahagia adalah selalu kata kerja, tak pernah berwujud kata benda yang mati.

Seorang teman pernah berkata, "Saya pingin mati bahagia."
"Maksudmu, kau pingin mayatmu membeku dengan mulut tersenyum lebar dan gigimu menyembul keluar? Bukankah itu menakutkan?", kata saya.

Dia bilang saya gila. Padahal yang gila itu adalah Ahmad Dani yang bilang dalam lagunya, hadapi semua dengan senyuman. Kecuali dia kejepit syarafnya, tentu saja manusia tidak bisa terus-menerus tersenyum.

Lalu, apa sebenarnya definisi bahagia? Apakah sebatas perasaan senang dan puas?

Gandhi pernah bilang, happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony. Aristoteles mengatakan yang dimaksud kebahagiaan adalah suatu kesenangan yang dicapai oleh setiap orang sesuai dengan kehendaknya (bersifat relatif). Sedangkan Imam Al Ghazali mengatakan kebahagiaan itu adalah akar kata sa'ad atau su'ud yang berarti keberuntungan, mujur, dan tidak sial. Sa`adah berarti kebahagiaan yang dirasakan oleh manusia dalam hidupnya.

Atau lihatlah hasil pemikiran Bentham dan J.S. Mill, mereka menasbihkan paham utilitarianisme sebagai the greatest theory of happiness, paham etis yang berpendapat bahwa yang baik adalah yang berguna bagi orang lain, berfaedah dan menguntungkan. Lalu, seperti mengamini pernyataan J.S. Mill, the phenomenal Alexander Supertramp pun akhirnya menyimpulkan, happiness only real when shared.

Saya pernah merasakannya. Di Jatinangor, sendirian saja, kampus sangat sepi lalu pembimbing utama thesis saya menelpon, katanya "Kamu sudah bisa daftar sidang, thesis kamu sudah saya baca dan semua oke." Rasanya seperti memakan pelangi. Walaupun saya belum pernah makan pelangi, terus terang saya sudah tidak tahu lagi bagaimana menerjemahkan perasaan sangat bahagia ke dalam kata-kata saat itu. Ingin sekali salto, tapi takut keseleo. Setelah itu, saya tersenyum sendirian. Rasanya ingin memeluk seseorang atau berbicara kepada seseorang, tapi saya sendirian, and its sucks!

Seperti Aristoteles bilang, bahagia itu relatif, dan adalah benar, bahagia itu bersyarat. Bahagia bisa datang dari berbagai ide, berbagai konsep, even in our darkest despair, bahagia, saya pikir, selalu bisa mencari celah untuk datang selama syarat itu terpenuhi. Bahagia datang ketika kita bisa membaginya karena satu manusia ternyata tidak akan mampu menampung semua beban kebahagiaan itu sendiri.

Happiness is a state of mind.

Saya menerjemahkan quote yang sangat terkenal itu menjadi; kebahagiaan adalah permainan pikiran. Manusia tersusun dari beberapa elemen yang mengimbangi berbagai kapasitas atau fungsi lainnya. Kemampuan untuk berpikir merupakan kapasitas dan fungsi yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Akal pikiran manusia yang sangat complicated ini memang terkadang menyebalkan dan bagai penipu ulung, dia selalu bisa memanipulasi, melahirkan ilusi hormonal yang akhirnya mengakibatkan kesalahan persepsi perasaan. 9gagers akan menyebutnya, the scumbag brain. Hihi.

Plato memandang akal sebagai sarana untuk menangkap pengetahuan mengenai segala sesuatu idea dalam realitas, seperti ide kebaikan, ide kebahagiaan dan ide keadilan. Ide kebaikan tertinggi manusia adalah kebahagiaan sejati. Ini adalah salah satu contoh konsep lain, kebahagiaan bisa datang dari kebaikan. Menjadi orang baik? Apakah betul bisa mendatangkan kebahagiaan? Memberikan sesuatu, membuat orang lain tersenyum, menepati janji, bersikap sopan. Yah.. contoh praktis yang sederhana.

Saya sendiri akhirnya sampai pada kesimpulan, oh fuck theories! Ok, baiklah itu bohong, saya tidak bisa menyimpulkan tanpa pertimbangan teori. Menurut saya, kebahagiaan didapat dari pemenuhan tiga kebutuhan utama manusia, yakni; tidur, makan dan sex. Tidur yang nyenyak, makan yang enak dan ehm.. sex yang hebat. Ketika seorang manusia tidak bisa mendapatkan ketiga hal ini, maka dia sakit.

Ketiga hal ini memang terlihat sederhana, padahal sebenarnya sangat rumit dan tidak berhubungan dengan uang. Tidur nyenyak itu kemewahan tak terbeli. Pernah lihat gelandangan tidur nyenyak di kolong jembatan? Pemandangan menyenangkan di siang hari, bukan? Padahal banyak konglomerat sulit tidur di malam hari di atas tempat tidur mewahnya karena ketakutan hartanya diambil orang. Atau, tak perlu jauh-jauh lah, berapa banyak dari kita mengklaim terkena insomnia, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah sulit tidur karena sedang resah baru saja diputuskan pacar. Saya pernah tidak tidur dua hari dua malam karena resah perihal thesis yang kunjung kelar, mungkinkah ini rasanya menjadi Edward Cullen?

Makan enak juga tidak berhubungan dengan uang, walau seringnya memang kalau mau makan enak ya harus dibayar pake uang. Tapi sebenarnya ini lebih kepada persoalan menyederhanakan selera, ketika perut lapar bukankah apapun terasa enak? Nasi pun jadi terasa sangat manis dan kita baru sadar betapa nasi itu mengandung gula yang sangat tinggi dan berbahaya bagi orang yang menderita diabetes. Ok, mulai random.

Terakhir, sex. Ini bisa diterjemahkan secara luas. Mulai dari sekadar ciuman hangat atau permainan ranjang yang mematikan, alah. Haha. Whatever you decide, tidak bisa dipungkiri, every human being needs it. Kebahagiaan berada di ranah abstrak wilayah rasa, ketika semua kosakata bahkan sudah tak sanggup lagi menggambarkan dalam bahasa dan mungkin, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mencari seorang teman, atau pacar, atau keluarga, lalu memeluk dan berkata, "Halo.. bisa tolong saya sebentar? Saya sedang bahagia."

Yah, begitu saja.

Jadi, kalau dia bukan benda mati, makhluk semacam apakah itu bahagia?

...

Monday, April 2, 2012

pengalaman pertama memakai koyo

Sudah hampir dua bulan tinggal Jakarta dan bekerja jadi seorang editor yang seringnya nongkrong di depan komputer untuk menulis dan mengedit artikel membuat saya sering mengeluh tidak enak badan. Orang Sunda menyebutnya; sagala karasa. Dari dulu sejak memutuskan menjadi atlet, badan saya yang lumayan perkasa ini sudah sering disiksa macam-macam. Misalnya saja, squat dengan beban di atas 40 kilogram. Well, Im all good, baby! Duduk tegap ala paskibra selama hampir 12 jam di kereta api ekonomi dalam perjalanan ke Yogyakarta saja saya baik-baik saja, tidak kurang suatu apa pun.

Tapi.. duduk diam di belakang meja setiap hari selama hampir delapan jam membuat punggung saya seperti hendak terbelah menjadi dua. Beneran deh. Padahal saya suka menyempatkan stretching sendiri selama beberapa menit. Banyak minum air putih dan banyak omong juga. Yang terakhir ini mungkin memang bakat. Pokoknya segala resep melancarkan syaraf dan darah untuk pekerja kantoran yang seringnya duduk diam sudah saya laksanakan. Hasilnya: nihil. *muka meringis*

Mungkin penyebabnya adalah karena saya kurang olahraga juga akhir-akhir ini. Dulu saya terbiasa ngegym dan berenang minimal dua kali dalam seminggu. Disini? Yaa.. seminggu sekali. Itupun kadang saya tergiur ajakan nongkrong atau karaoke karena.. ahh i dont wanna lose my precious weekend! Ingin bersenang-senang!

So anyway, berhubung saya sedang deadline dan tidak sempat menyambangi tempat pijat terdekat untuk memperbaiki punggung saya yang tidak nyaman ini saya putuskan untuk mencari obat general yang ampuh dan mudah ditemukan. Teman saya, si Sharifa Ainie Goblog menganjurkan saya membeli Balsem Otot Geliga. Konon menurut dia ini ampuh. Tapi ternyata saya tidak menemukan balsem ini di Indomaret terdekat, yang ada malah KOYO. Well.. ok.

Saya belum pernah pakai koyo. Sontak saya langsung terbayang figur Basuki, weseweses-bablas-anginne yang ternyata salah... Itu iklan Antangin, bro. Tertulis jelas di pembungkus bagian depan. Pereda pegal & nyeri otot. Wah, cocok untuk saya. Ada dua jenis koyo keluaran Hansaplast. Yang berwarna kuning itu tertulis HANGAT, yang berwarna oranye tertulis PANAS. Saya ambil dua-duanya.

Read the manual.
Bersihkan bagian tubuh yang terasa sakit, lalu tempelkan Hansaplast koyo. Ganti koyo bila rasa hangat berkurang. Begitu katanya. Mudah, ya?

Saya bersihkan punggung saya dengan handuk basah. Seadanya saja, secara punggung itu susah banget bersihin pakai tangan sendiri. Saya tempelkan satu, lalu diam sebentar menghayati. Kok ga ada sensasi apa-apa ya? Dua menit kemudian, masih tidak terasa ada sensasi hangat/panas. Akhirnya saya buka koyo yang panas lalu saya tempelkan delapan biji sekaligus di punggung saya. Membentuk persegi panjang tidak beraturan. Pokoknya bagian punggung yang pegal. Biar cepat sembuh lah, pikir saya. Lima menit, sepuluh menit. Saya masih sempat bikin roti bakar lalu minum susu.

Tiga puluh menit kemudian... eh ini apa ya? Kok panas lalu gatel. Awalnya tidak terlalu terasa menganggu, lama kelamaan makin panas lalu makin gateeellllllll. Anjrit! Langsung saya tarik tiap koyo yang menempel di punggung saya sembari menggaruk macam monyet panuan. Punggung saya langsung memerah, seperti baru habis berjemur dengan garis-garis melintang hasil ukiran kuku saya yang menggaruk beringas. Sekarang keluhan saya bertambah, selain punggung yang rasanya mau terbelah dua, juga agak perih karena tadi menggaruk terlalu brutal. Oh ya, saya juga sukses meneteskan air mata malam ini, karena ternyata.. nyabutnya aja perih. Man, this is one hell of a killer drug!

Astaga. Obat macam apa ini?

Image and video hosting by TinyPic

ps : beneran deh kayanya gw tuh kurang kerjaan banget, segala rupa ditulis. Hikss..

...

Wednesday, March 28, 2012

menulis


“Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. Kan begitu Tuan Jenderal?" -Pramoedya AT

Malam ini twitter membawa saya pada satu blog yang sangat menarik. Saya suka sekali tulisannya. Menurut saya, membaca manusia itu lebih mudah dengan membaca karya tulisannya daripada mendengarkan dia bicara. Apakah tulisan itu misalnya memenuhi standar penulisan atau bahkan jurnalistik yang baik atau tidak, tak ada yang ambil pusing. Saya hanya ingin mengenalnya dan tercekat, wah, keren sekali dia. Dalam waktu 30 menit, saya habisi blognya, membaca detail setiap ceritanya, memahami setiap kosakatanya dan tersenyum setelahnya. :)

Menulis. Entah apa jadinya saya tanpa menulis. Mungkin saya adalah orang paling mati rasa di dunia. Tulisan saya sebenarnya tidak bagus-bagus amat, tapi bodo amat, siapa peduli? Menulis adalah salah satu alat bertahan hidup saya yang utama, setelahnya mungkin saya akan sisipkan main hockey, piano, gitar, menonton film dan tertawa. Alat-alat yang membuat kepala saya tetap waras dan selalu merasa punya teman bercerita.

Blog ini, entah kenapa saya tidak pernah merasa perlu untuk mempublishnya di jejaring sosial. Mungkin karena deep down inside, saya tahu kebanyakan isinya adalah sampah hahaha dan gengsi saya memang sepertinya cukup besar. Blog ini banyak menyimpan bagian lain dari saya, dengan kata lain, the cheesy part of me (alay) hahaha yang tidak perlu semua orang tahu. Dibalik tawa, tidak selalu tersimpan cerita bahagia. Tentang putus cinta, atau ketika sedang gundah gulana atau marah? Saya tuliskan semua disini. Rasanya selalu menyenangkan setelah menulis.

Setelah membaca blog si Mas yang saya sebutkan diatas, maaf kayanya saya ga perlu sebut nama orangnya, bisa-bisa nanti dia curiga macam-macam haha, saya jadi terpikir, adakah orang asing yang tak mengenal saya membaca tulisan-tulisan saya dan tersenyum setelah membacanya? Walaupun dia tidak sepenuhnya memahami saya, atau mungkin dia baru saja mengalami kejadian yang serupa dengan saya. Malam ini saya tertolong oleh blog si Mas, membacanya berulang-ulang dan jadi terinspirasi untuk kembali memposting sesuatu di blog saya.

Image and video hosting by TinyPic

setelah pulang malam sehabis bersenang-senang bersama teman-teman dan makan besar, saya masih sempatkan membaca blogmu lho.. dan menulis post ini. Thank you, whoever you are. :)

...


Tuesday, March 27, 2012

picnic in prison

Image and video hosting by TinyPic

It such a sunny windy morning when i get up at six and packed my camera bag. I have a very interesting place to go to today. I always had a very big curiosity with this place, wanted to enter and capturing every round of corner, perceiving every side of their daily life, sensing their hope, desire and anxiety. Very intriguing.

This prison was built in 1817 by the Netherland government. Designed by Wolff Schoemaker, this magnificent prison form in trapezoid shaped. It used to be a political prison when the Netherlands Government still in charge. This prison built in over six hectares of land. Four hectares are used for offices and residential rooms and divided into four blocks (West, East, North, and South) consists of two floors with 552 rooms, 37 rooms was no longer habitable and the rest are the isolation room.

Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic
Image and video hosting by TinyPic