Saturday, August 4, 2012

pengakuan nomor dua belas delapan

Setiap bulan ramadhan saya sering merasa beribadah dengan cara dipaksakan.

Kopiah, jilbab, ketupat, sinetron religius, khotbah, hingga ring tone dan RBT yang serba muslimin dan muslimah, semua seperti mendadak Islamiyah. Sejak saya kecil dan belajar puasa, guru agama saya di sekolah kalo tidak salah pernah bilang "Bulan ramadhan ini ibarat big sale dari Alloh, ayo lebih rajin lagi sholatnya." Saya masih belum paham konsep big sale tersebut, apakah pahala jadi lebih murah, begitu? Karena terus terang saya tidak pernah berniat membeli pahala. Saya selalu percaya, konsep barang murah kalau bukan second pasti kualitasnya jelek. Oleh karena itu, tentu saya tidak mau dapat pahala setengah harga dengan kualitas nomor dua.

Kedua, konsep maaf-maafan yang (maaf) menurut saya basi dan dan tidak beresensi. Masak mau maaf-maafan aja harus nunggu lebaran? Kalau orangnya keburu meninggal, gimana? Kan kasihan. Semakin saya besar, saya semakin merasa bulan ramadhan ini maknanya sudah meluntur, lebih seperti festival religi besar-besaran yang dikonsumsi secara kolektif, bukan lagi sebuah ritual proses penyucian diri yang sifatnya ekslusif.

Ketiga, entah karena teknologi yang semakin mencirikan kebesaran ego manusia, atau hmm pencitraan diri? Saya semakin positif merasa bulan ramadhan tidak lagi memberikan saya suatu etape yang mampu menjadikan saya sebagai seorang pribadi yang semakin agamais, yang ada malah mereduksi keinginan saya untuk berlomba-lomba mencari pahala seperti yang diserukan oleh para alim ulama. Lagi pula konsep pahala itu apa dan bagaimana cara mendapatkannya juga masih belum jelas seperti apa.

Dua hari lalu saat saya mengunjungi tempat karaoke di bilangan Sarinah, saya mengamati si mbak-mbak yang biasanya memakai rok mini sekarang jadi memakai rok panjang serba tertutup. Ironi sekali. Ramadhan seperti jadi ajang lucu-lucuan, mungkin dianggapnya laki-laki Islam itu pria-pria mental tempe yang tidak boleh dikasih liat pemandangan bagus sedikit, atau puasanya bisa batal nanti. Kenapa ga sekalian aja pakai kostum onta dan jualan korma? Terus terang, untuk saya itu adalah sebuah penghinaan.

Keempat, seperti yang sudah saya sebut di atas, ramadhan di jaman modern adalah sebuah festival religi yang megah dengan kembang api yang meriah. Pusat perbelanjaan yang berlomba-lomba meraup keuntungan dari para muslimin dan muslimah yang berlomba-lomba pula membelanjakan uangnya. Lalu masyarakat yang rela membeli tiket seharga dua kali lipat dari harga aslinya hanya untuk pulang ke kampungnya di hari raya. Saya paham dan mengerti konsep puasa, yang saya tak paham, pembungkus edisi kegiatan manusia selama satu bulan yang dengan gamblangnya dilabeli 'edisi ramadhan'.

Salah satu akibatnya? Saya sering merasa tak enak hati ketika kelupaan shalat ashar akibat keasikan nonton film atau baca buku, akibat lagi, saya jadi sering shalat dengan setengah hati, bukan karena saya memang ingin shalat, tapi lebih karena, "Hey goblok ini bulan ramadhan." Lucu ya? Enggak juga sih. Seperti belum juga mendengar lagu baru peterpan di tengah lautan penggemar yang sibuk berdiskusi, saya jadi merasa kampungan sendiri. Karena semua orang melakukan dengan berlebihan, saya jadi merasa tidak enak kalau tidak ikut-ikutan. Intinya, saya jadi sering merasa tertekan kalau tidak beribadah lebih rajin di bulan suci yang konon ditunggu-tunggu seluruh umat Islam.

Hari lebaran buat saya bukan lagi sebuah hari kemenangan dimana saya seharusnya bertransformasi menjadi seseorang yang lebih baik, melainkan sekadar euforia romantisme berbasis memori, seperti suara takbir yang bersahut-sahutan (ya, ini cukup menggugah rasa keTuhanan), berbagai macam kue-kue dan masakan, letupan atmosfer rasa senang ketika bertemu dan berkumpul bersama sanak saudara, dan tentu tak lupa; dapat uang serta libur panjang.

Kemarin saya menguping pembicaraan dua teman kantor saya, entah apa pula yang mereka bicarakan, tiba-tiba teman saya nyeletuk, "Eh lagi bulan puasa ga boleh bohong lho!" dan saya langsung menimpali, "Kalau lagi ga puasa juga ga boleh bohong, tolol." Dia bilang saya kasar lalu saya sengaja tertawa, berusaha mengubah konteks percakapan menjadi bercanda sembari tetap merutuk dalam hati.

Rasa-rasanya tidak ada yang perlu dibesar-besarkan di bulan ramadhan, karena menurut saya bulan itu sendiri sudah memiliki makna yang sangat akbar. Seperti mendandani kayu jati, kayu kelas satu yang terkenal karena keawetan dan keindahannya, atau sederhananya, seperti memasok air ke dalam lautan.

Terasa palsu dan percuma.

...

sepatu

Perempuan gila sepatu itu biasa. 
 Tapi apa kau tahu? Kita, perempuan lah yang dipilih oleh sepatu.

Silakan pilih kelir acak corak, kata penjualnya. Selalu seperti itu. Pantofel, ankle boots, rain boots, flat, stiletto, ayo apa lagi? Perempuan, bisa jadi akan jatuh cinta berkali-kali pada banyak sepatu. Namun tetap saja, pada akhirnya sepatu lah yang memilih pasangan kakinya, yang paling sesuai ukurannya. 36, 37, 37.5 sampai hmmm 42? Sepatu mungkin cuma bisa berdiam diri menunggu dipilih, tapi dia memiliki hak prerogatifnya sendiri, menentukan ukuran kaki yang tepat dengan kapasitas yang dimiliki.

Kamu tidak akan pernah bisa memanipulasi ukuran kakimu sendiri. Tumitmu akan menjadi bagian yang protes paling keras ketika kamu mencoba menipu. Yang paling sesuai ukurannyalah yang bisa membuatnya nyaman dipakai. Salah sedikit kaki bisa jadi lecet, tidak enak dipakai, dan sepatu itu pun  akhirnya jadi terbuang percuma, teronggok di sudut lantai kamar. Modelnya cantik luar biasa, warnanya cocok sekali dengan dress yang baru dibeli di mangga dua, lalu bahannya? Kulit sapi asli yang sempurna. Ahh, sayang ukurannya tidak pas. Berapapun uang yang kamu punya, silakan pulang dengan hati meradang. 

Sama halnya seperti memilih pasangan. Ada yang ganteng, yang pintar, yang tajir, yang tajir beut, yang soleh, yang romantis, wow begitu banyak pilihan, katakanlah, kamu sangat jatuh cinta padanya. Namun pada akhirnya, cuma yang sesuai gelombangnya, yang sesuai unsur kimiawinya, yang sesuai porsinya yang membuat nyaman. Tidak lebih, tidak kurang. Memaksakan kehendak sama saja seperti memaksa memakai sepatu yang terlalu kecil ukurannya..  bikin hati lecet.

Oke, lagu Anang Ashanti nya bisa gak kalau diputar sekarang?

...


Friday, August 3, 2012

the art of living alone

Uluwatu, Bali 2011

Aristoteles pernah bilang, manusia yang bisa hidup sendiri itu kalau bukan malaikat ya berarti hewan. Kata terakhir memang terdengar sangat peyoratif, atau sebaliknya sangat amelioratif. Merujuk pada kontekstual kajian historis, Aristoteles saat itu mungkin sedang PMS, lalu mendadak nyinyir. Intinya dia menekankan, manusia adalah makhluk sosial, titik tidak bisa koma.

Tapi dalam Into The Wild, Alexander Supertramp memutuskan untuk meninggalkan kehidupan mapannya, meninggalkan keluarga, teman-teman, uang, lalu pergi ke utara Alaska, sendirian. Untuk menemukan dirinya, untuk menemukan kebahagiaan di tengah kesendiriannya.  Tapi di akhir proses perjalanan tersebut dia malah merumuskan, "Happiness only real when shared." Jiahh.

Di awal tahun 1990-an Jepang mulai ramai dilanda penyakit sosial; Hikikomori, semacam gejala autis yang dibikin sendiri. Dengan sengaja menarik diri dari lingkungan pergaulan, lalu tidak keluar rumah sampai berbulan-bulan. Di Jepang, Hikikomori bahkan bisa terjadi sampai sepuluh tahun lebih. Sinting? Bisa jadi. Tapi apa bukan berarti faktor kesintingan itu justru disebabkan karena terlalu banyak bergaul dengan manusia yang sinting-sinting?

 Buddha Shakyamuni konon memutuskan pergi mengembara seorang diri untuk mencari ketenangan batin.  Muhammad bin Abdullah juga sering digambarkan menyepi di gua hira sampai berhari-hari. Menyendiri, mungkin adalah kebutuhan fundamental dari setiap manusia untuk mencapai sesuatu yang sifatnya 'sejati'.

Sepanjang hidup saya, ada kalanya saya benar-benar merasa ingin sendiri. Saat sedang sangat lelah, atau marah, rasanya ingin bicara sendirian saja. Saya jadi ingat obsesi melakukan perjalanan seorang diri yang sampai saat ini belum terlaksana. Tapi dipikir-pikir, sekarang pun saya hidup sendiri. Melakukan perjalanan seorang diri, sahur sendiri, tidur sendiri, cuci sendiri, sakit urus sendiri, belanja sendiri, persis lirik lagu dangdut Caca Handika. Sekarang ini.. ya sendiri juga, nulis sendiri, ngomong sendiri. Haha.

Saya sendiri belum tahu apa yang saya cari dengan menjadi sendiri, tapi yang saya tahu, sendiri bisa jadi adalah proses pertama menemukan kemauan diri, mau kemana? mau bersama siapa? mau bagaimana? Mudah-mudahan tidak akan lama.

Wahai tua, tolong jangan datang dulu ya.

...

"Bebek berjalan berbondong-bondong, akan tetapi burung elang terbang sendirian." - Ir. Soekarno dalam Indonesia Menggugat. (asal jangan kesepian, ya)

can you really guarantee?


a piece of crap.

...

(hampir) setahun lalu

Aku percaya Muhammad dan kau percaya Isa. Hati kita bertaut pada dua konsep teologi yang berbeda. Lalu kita berdebat, memperkarakan sesuatu yang berbeda tahun produksinya. Dan di atas sana, Tuhan tersenyum, mungkin sedikit masam, mungkin sedikit gila.

Tuhan yang itu-itu juga.

untuk mantan pacar dan mantan pacarnya.
 ...

Wednesday, August 1, 2012

sekolah kartini


Bahagia ternyata mau juga mampir di pinggir rel kereta.




Ada yang aneh dari anak-anak ini, mereka tidak ada yang cengeng. Jangan bayangkan baby sitter ras melayu dengan kulit terbakar yang membawa tas sekolah serta botol air minum yang selalu siap sedia, berlagak manja tak ada jatahnya untuk mereka. Makan siang mereka cukup tempe dan telur yang dimasak bersama dalam kuali raksasa. Gadget mereka adalah pinsil dan buku yang harus mereka ulik terus-menerus, mampu membaca dan menulis adalah suatu terobosan besar yang membanggakan keluarga.

Gaya bercanda mereka adalah, 'bego lu' atau 'anjing lu' disusul bogem mentah yang mendarat manis di pinggul sebelah kiri. Ajaibnya, mereka tetap punya sorot mata yang sama, mata yang bersih dan sederhana, menatap lugas tanpa penuh prasangka, lalu ada tawa istimewa entah macam apa, saya tak mampu menerjemahkannya.  Esensi edukasi untuk mereka adalah berlatih mengasah nyali, memberanikan diri untuk tetap belajar bermimpi di sebuah koloni yang tak dianggap ada lagi. Di sudut utara ibukota yang terabai kepala mereka ditempa; ingat ya, kamu tidak boleh berhenti di nyaris saja.

Sekolah darurat; (noun) satu ruang pengap yang disesaki jutaan harap.

...

Thursday, July 26, 2012

ketika antri surat sehat

Apa yang lebih menyedihkan dari rumah sakit pemerintah? Tempat persinggahan sekumpulan orang sakit yang datang berbekal harap pada satu bundel berkas yang ujungnya sedikit keriting. Penanda mutlak surat kemiskinan yang telah ditandatangani para pejabat setempat untuk ditukar dengan obat. Ditemani anak saudara atau istri cukup dengan makan siang indomie,orang miskin memang tidak pernah cocok dengan rumah sakit. Sayangnya, mereka sering berjodoh, lalu apa boleh buat? 

Sial, aku sakit. Harus ke rumah sakit. Biaya makan satu bulan terpaksa harus diirit.
 Bangku setengah berkarat, riuh rendah pengeras suara, dan bau khas obat-obatan bercampur jadi satu dengan hela nafas menahan kesakitan. Toilet berbau pesing dengan pintu yang tidak bisa dikunci, alamaak sungguh higienis? Tangisan anak kecil memecah udara. Lalu di tengah lalu-lalang, para dokter muda berjalan, tenang, terlihat putih, bersih, dengan jas kebesaran. Sebuah antipoda yang menggambarkan simbiosis mutualisme yang menyedihkan. Para dokter bersulang, industri farmasi berseru-seru senang.
...

Setan-setan kapitalis mungkin sedang sibuk berpesta nasi kuning karena telah berhasil melahirkan budaya nalar untung-rugi. Setelah saya pikir-pikir, realita ini sungguh terasa tidak lucu lagi. Badan Pusat Statistik Maret 2012 menyatakan penduduk miskin Indonesia berkurang 890.000.

 Pertanyaannya, yang miskin itu jadi kaya atau pada mati?

Sunday, July 22, 2012

numpang tanya

Mungkin ada waktunya ketika kita sudah seharusnya melepaskan segala ilmu pengetahuan, mengindahkan segala konsep identitas dan jati diri, mengaburkan segala tata cara etika serta segala peraturan, lalu bertumpu pada akal pikiran dan segenap perasaan. Di satu titik yang seringkali tak terlampaui, saya tiba-tiba berpikir, apakah mungkin manusia seringkali bertindak tak adil karena terlalu banyak dijejali ilmu pengetahuan? Dengan demikian ilmu kesadaran seringkali terkalahkan. Ketika peran akal dan pikiran dikecilkan, bukankah sesungguhnya kalian sedang bertuhan kepada ilmu pengetahuan?

as the wise man, Solomon said: ..and that knowledge without conscience is simply the ruin of the soul.
...

Saturday, July 21, 2012

nostalgila di restoran miranda (d/h tan goei)

Restoran Miranda
 Saya sedang tergila-gila dengan salah satu restoran tempo dulu di Jakarta, namanya Restoran Miranda. Awalnya, restoran ini bernama Cokky, pada tahun 1960-an restoran ini berubah nama menjadi Tan Goei, gara-gara dulu almarhum Pak Soeharto phobia sama rasnya sendiri, yakni ras cina :p maka namanya diubah lagi jadi Restoran Miranda. Letaknya di Jalan Besuki Nomor 1A, Menteng Jakarta Pusat, area jajahan saya di Jakarta, makanya saya seneng banget nemu tempat ini disini. Hihi.

Menu yang jadi andalan restoran Miranda adalah steak lidah sapi. Steak ini disajikan dengan kentang goreng, wortel, buncis, dan bunga kol. Lidah sapinya empuk, dipotong berbentuk segi empat  disiram saus jamur agak kental cokelat dan ditata di sisi sayuran. Rasanya? Yummyyy, nikmat sekali! Coba juga menu wiener schnitzelnya, irisan tipis daging sapi yang dibalut tepung panir ini rasanya tak kalah mantap. Yang juga saya suka, potongan sayuran segar sebagai pendamping steak, bukan sekadar sayur olahan beku yang banyak ditemui di supermarket.

Point penting lainnya, restoran Miranda menyediakan ruangan merokok, letaknya di teras dan taman rumah. Saya perhatikan restoran ini juga mungkin kurang hype dibandingan dengan resto-resto modern, sehingga pengunjung yang datang pun kebanyakan oma-oma dan opa-opa haha, pelayannya pun kebanyakan bapak-bapak yang sudah tua dan ramah, remaja jakarta mungkin akan bosan datang ke tempat ini. Baguslah, ini memang yang saya cari, suasana sepi, tenang, dimana saya bisa menikmati makanan saya tanpa gelak tawa berlebihan dari meja sebelah.
 
Dalam rentang waktu satu minggu, malam ini akan jadi kali ketiga saya berkunjung ke Miranda, berniat untuk berbuka puasa di sana bersama teman saya. Hahaha. Sebagai seorang koleris yang tak terlalu sejati, sudah menjadi kewajiban saya untuk bersikap terlalu antusias ketika menemukan sesuatu yang baru. Hihihi. Biasanya saya memang cenderung terlalu bersemangat ketika menemukan restoran enak, sampai berkali-kali datang kesana, mencoba menu yang selalu sama pula.

Jenis masakan yang tertera di menu kebanyakan adalah masakan khas campuran Jawa, China, dan Belanda. Beberapa menu klasik yang ditawarkan adalah lontong cap gomeh, lumpia, fuyunghai, capcai, kue kastengel, dan kue lidah kucing. Juga tersedia aneka jajanan pasar semacam pisang goreng, risoles dll, pokonya cocok deh buat menu buka puasa, dari mulai icip-icip cemilan, main course, sampai ditutup dengan es krim dan pulang dengan perut sakit akibat terlalu kalap dan kekenyangan.

steak lidah sapi IDR 49.500,-
udang goreng tepung mayo, dua jempol! IDR 42.500,- (porsi besar)
wiener schnitzel IDR 44.500,-
risoles IDR 3.000,-
cumi asam manis IDR 42.500,- (porsi besar)
aneka kue

Friday, July 20, 2012

bibit.bebet.bobot

Adalah fakta, kita (tanpa disadari) seringkali memaknai seseorang berdasarkan data statistiknya. Tapi apakah betul angka tersebut yang benar-benar kita sesap saat tidur berdua dengannya sampai berpuluh-puluh tahun kemudian?
...

Thursday, July 19, 2012

pertanyaan yang itu-itu juga

Dua tahun lalu, pertengahan bulan maret, saya sedang merokok santai di ruangan merokok lantai dua sebuah penginapan yang sederhana di Singapura. Baru saja satu batang saya habiskan, seorang pria setengah baya asal Rumania datang. Hi, katanya, menyapa sembari mengeluarkan sebungkus rokok. A filipino? Dia melemparkan pertanyaan membuka obrolan. "Nope, Indonesian, and you are?" jawab saya.  Dia lalu memperkenalkan diri sembari bercerita bahwa dia sedang menemani istrinya yang sedang melakukan penelitian selama dua bulan di singapura. Entah penelitian apa, saya sudah lupa. 

Dia mengaku sudah dua minggu berada di singapura dan berniat untuk jalan-jalan mengunjungi negara-negara asia sementara istrinya sibuk bekerja. Curhatan hari pria ras kauskasia itu berakhir dengan pertanyaan yang membuat dahi saya sedikit berkeringat. "So, i think i might book a flight to jakarta, is there any good cultural attractions or any interesting places i should visit?" Saya menerawang, berpikir, mungkin hampir sepuluh detik, sampai si lawan bicara mengernyitkan mata. "Well uhm.. I dont know..," hampir terdengar seperti gumaman, saya menjawab. Merasa bodoh sekaligus bingung. Saya harus jawab apa? Beda urusan kalau dia ingin mengunjungi Bali atau Yogyakarta? I dont think anyone should go to jakarta if they were in search for a real nice holiday. 

Dua hari kemudian di tempat yang sama, seorang pria asal Yokohama merokok bersama saya. "So tell me something about Jakarta," kata dia, dengan bahasa Inggris patah-patah dan logat Jepang yang kental. "Hmm i can describe jakarta in a very short phrases," jawab saya. "It i the capital of Indonesia, one of the busiest cities, killer traffic, and crowded." Saya menjelaskan dengan lancar. "Oh, so it's pretty much similar like Tokyo! It is also the capital of japan," dia menimpali dengan mata sipit yang berbinar. 
"You know Galuh-san, Tokyo also very crowded. And the traffic jam.. Sucks."
"Still it's different, Jakarta is one polluted city and with all the humidity, it's totally different."
"Aah same as tokyo, it also polluted."
"Aaah, you know what? i think you should just come and see by yourself."
Lalu tepat dua hari lalu, kala tengah menikmati makan siang yang nikmat di sebuah restoran perancis yang manis, seorang jurnalis Vietnam bertanya pada saya, "One day, I would love to go visit Indonesia, maybe to Jakarta? Please tell me more about Jakarta." Oh hell, oke bumi, tolong telan aku sekarang juga! Why it's always another same damn question? E-very-time! Jurnalis Vietnam itu teras terang menganggu kenikmatan soup du jour yang seharusnya menjadi apetizer saya siang itu. Sialan. Lalu disebelahnya seorang jurnalis Thailand dan Singapura mengomentari. "Do you know that many of poor people in indonesia are incredibly creative?" Hmm oke what is that supposed to mean? Sendok sup saya menggantung di udara. "If you go through some street in Jakarta, you would see bunch of people standing in the side ofthe street, raising their hands like asking to get in the car." kata Joanne , sembari memeragakan dengan tangannya. Well, baiklah ternyata mereka sedang membicarakan joki 3-1. Alangkah lucunya. Saya ketawa pait dalam hati. 

Mungkin memang sudah saatnya saya mengeksplor habis-habisan kehebatan kota Jakarta. Lain waktu kalau bertemu dengan orang-orang asing yang ngebet sekali pingin diceritain soal jakarta, i could go blabbing like, "Yeah sir, you should come to Glodok. We have a set of cheap sound system that you would not find it anywhere in the world. Or would you like to take a tour by ojek? We don't have MRT but we have ojek, it is the fastest public transportation in Jakarta. It is fast, cheap and you could go blow drying your wet hair in a short minute. Or wait, this is good, "Come to Jakarta if you want a cheap nice cigarette, you wouldn't regret, sir!" Next time some stranger throwing a question about Jakarta, i really do hope he is a smoker.

And.. here it is, a few photos from Mary Mccartney photograph exhibition held in Singapore.





turkish proverb

diambil di sebuah cafe di bilangan cikini
 Jadi begini baginda, bagaimana kalau ternyata kematian adalah satuan aliran nafas yang semakin merapuh, perlahan terhenti karena kehabisan stimuli tak lagi mampu berevokasi. Dalam hitungan detik, jantung yang menjadi inisiator pun melambat, melemah lalu merepih tak lagi memiliki daya. Lalu cinta.. ternyata berwujud algojo bengis yang pintar sekali menikam dari sudut punggung belakang, sungguh terasa perih kala belatinya mengiris. Bagaimana kalau surga ternyata berwarna hitam pekat gelap bahkan nyaris tersembunyi dan siapa sangka neraka yang dianggap hitam ternyata penuh dihiasi warna pelangi? Bukankah seringkali kita terjebak dalam jendela imajinasi yang kita karang sendiri? 

ps. untuk mereka yang sering ribut dalam diskusi, tak lelahkah kalian memperkarakan asumsi?

...

catatan random nomor tiga puluh dua

Saya pikir, kita tak perlu berseteru di meja konferensi berbentuk persegi panjang untuk menyepakati bahwa kesepian adalah stigma yang mengerikan. Dia bisa muncul dimana saja, bahkan ketika kita sedang terbahak keras tenggelam dalam riuhnya sekumpulan kawan. Sepi, bisa jadi adalah salah satu situasi yang mengadiksi, tapi imbuhan ke- dan -an adalah awalan suatu epidemi  yang menakutkan. Belajar dari mereka yang bekerja keras mengodifikasi rasa dalam angka yang berbahasa matematika, atau mereka yang berlari bersembunyi, mencari ketenangan dalam rengkuhan dogma, saya lalu tersadar bahwa selamanya manusia tidak akan pernah menjadi individu-individu yang merdeka, bahkan bagian dari dirinya sendiri yang paling asasi pun tak mampu menghalau sepi, menyakiti diri sendiri selalu menimbulkan sensasi tersendiri. Betulkah? 

Namun serupa seperti iblis, kesepian tak pernah mudah ditepis. Lalu sampai dititik mana kita harus selalu berteduh dari riak gerimis? Walau derasnya hanya beberapa tetes yang tipis, gesekannya ternyata mampu merampakan satu bongkah batu besar masif yang akhirnya terkikis.  Apakah cukup dengan meneteskan beberapa air mata atau butuh berlembar-lembar arta yang meraja? Lebih baik berlari sampai kehabisan energi atau mengerahkan puluhan batalyon infanteri? Ditengah himpitan sunyi yang meradang, ketika jawaban dan pertanyaan tak lagi berpasangan, dan keseimbangan bukan lagi sebuah tujuan, akankah sepi meretas di setengah perjalanan?

sendiri. di bandara changi, july 2012

Dan tuhan bertanya: Kau mau apa? Mau kemana? Untuk apa kau kesana? 
Dasar bebal. 

...

Wednesday, July 18, 2012

minum kopi di alkateri

silakan dicatat alamatnya
Sudah pernah mampir di Alkateri? Bukan untuk transaksi perempuan yang bisa dipakai barang sehari dua hari hihi, tapi mencoba kopi aroma andalan racikan dari warung kopi purnama. Selain terkenal karena kopi, warung kopi purnama juga menyajikan menu roti panggang yang konon resep pembuatan adonannya adalah hasil warisan dari generasi turun temurun sebuah keluarga sejak tahun 1920. Siang itu yang saya pesan; kopi susu panas dan pisang keju, tapi saya kok jadi lapar dan akhirnya juga memesan soto betawi, rasanya enak, gurih khas soto betawinya pas sekali. 

Harga satu cangkir kopi susu panas IDR 10.000,- pisang keju IDR 16.000 lalu soto betawi IDR 30.000,-  Jangan lupa juga untuk pesan roti bakarnya. Yang menurut saya tidak terlalu enak, nasi goreng purnama, bumbunya agak aneh, dan pedas pula (saya memang ga terlalu suka pedas sih) sop buntutnya juga ga terlalu nendang, kalau mau coba sop buntut terenak di Bandung kamu bisa coba Sop Buntut Dahapati. Hehe.. Minum kopi arabica dari warung purnama sebenarnya akan lebih cocok disantap pagi hari sambil menghirup udara segar, mendengar kicau burung, sembari baca koran di teras sebuah rumah kecil yang  sederhana dan di dalam sana, suami yang ganteng sedang siap-siap berangkat kerja. #opoiki 

menu warung kopi purnama
kopi susu purnama, enak!
this one is so yummy!
Nasi Goreng Purnama IDR 25.000,- tidak terlalu enak
roti bakar telur mata sapi IDR 17.000,-
Oh ya, mohon dimaafkan kalau akhir-akhir ini saya sedang terkena gejala euphoria canon G12, akibatnya? Ya maaf, segala rupa saya foto. Selain masih mempelajari pakai kamera canon supaya lekas fasih, saya juga sedang meningkatkan gairah memotret yang akhir-akhir ini turun, mungkin karena kurang asupan sop kaki kambing, mungkin karena raul lemos makin jarang muncul di televisi, atau mungkin karena saya sedang berpikir untuk menikah siri. Entahlah.

Berikut adalah hal-hal yang akan kalian temui bila kalian menyusuri sepanjang jalan alkateri. :)

kue kesukaan bapak saya
tumpukan foto sby, supaya kita tidak lupa mukanya
piring-piring 
dedicated for a hardcore couple, wanna spend the night?

dan penjual guci antik